MOJOK.CO – Menyapih anak itu susah-susah gampang. Dibilang gampang kok susah, dibilang susah kok gampang. Btw, ini kalimat pembuka apa sih kok diulang-ulang begini?

Tahapan yang harus dilalui oleh semua orang tua (terutama ibu) adalah menyapih anak yang sudah berusia lebih dari 2 tahun. Secara sekilas menyapih anak merupakan kegiatan yang gampang. Padahal mah, ya nggak segampang itu. Beberapa orang tua mungkin ngaku gampang saja, sedangkan orang tua lain ngaku sulit.

Apalagi jika si anak sudah hampir masuk usia ke-3. Wah, bagi orang tua yang masih belum berhasil menyapih anaknya, situasi kayak begini malah bisa jadi bahan obrolan tetangga. Lha gimana? Tiap malam terdengar suara tangisan yang mengganggu lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, perlu cara-cara khusus agar si anak mau melepas nenen ibunya. Tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak mungkin. Yang jelas, satu anak dengan anak yang lain membutuhkan cara yang beda-beda. Tidak elok kalau dibandingkan-bandingkan. Apalagi sampai bilang, “Idih, pakai cara gini lho, Jeng. Kamu sih, nggak mau pakai cara begini bla-bla-bla.”

Ada anak yang langsung berhenti begitu disapih cuma modal dikasih tahu, ada juga anak yang nggak paham lalu menangis tiap malam. Bikin nangisnya kuenceng sampai pita suara mau pecah. Situasi yang bisa dimaklumi bikin si orang tua jadi nggak tega.

Untuk ini, kamu perlu tahu beberapa tips yang bisa kamu pakai untuk menyapih anak terutama buat orang tua yang nggak tegaan.

Ajak bicara baik-baik

Baiklah. Anakmu mungkin belum begitu lancar bicara. Kata-kata yang keluar pun baru seputar “buk” atau “mimik” (yaiyalah, masa ada anak 2 tahun bilang “Pilih Prabowo ya, Bu?”) tapi ada baiknya tahap awal menyapih anak adalah mengajak bicara. Usia 2 tahun lebih merupakan usia di mana anak sudah paham dengan penjelasan-penjelasan sederhana.

Beri penjelasan kalau usianya yang sekarang udah terlalu besar untuk nenen ibunya. Apa tidak malu kalau udah segede itu kok masih mau nenen sama ibunya terus?

Baca juga:  Kalau Ibu-Ibu Gemuk Dinilai Kurang Salehah, Lalu Surga Ada di Telapak Kakinya Siapa?

Barangkali kamu pikir anakmu nggak peduli atau bahkan menangis ketika paham sedang berada pada tahap disapih, tapi jangan khawatir, si anak tetap tahu kok. Ia mengerti. Meski bersikeras menolak, di dalam bayangannya ia paham. Paling tidak si anak sudah tahu kalau dirinya nggak segampang dulu lagi kalau minta nenen ibunya.

Pada tahap ini, ada sih anak-anak yang langsung mau berhenti. Paham bahwa dirinya sudah gede, jadi akan sungkan meminta nenen ibunya. Di sisi lain ada juga anak yang tetap nggak mau mengerti. Berontak, nangis, ngamuk jadi super saiya ketika merasa ingin nenen.

Kunci utama adalah orang tua harus mau konsisten bicarakan soal menyapih anak ini tiap hari. Jangan sampai luput. Tiap saat harus diingatkan. Perkara si anak tetap minta nenen dan dikasih, ya tidak apa-apa. Tapi tetap diwanti-wanti, “Udah gede lho. Masa mau nenen terus. Hayo?”

Hal ini penting agar si anak secara psikolgis mulai merasa sungkan untuk minta ke depannya. Meski tentu cara ini bakal berjalan cukup lama dan menuntut kesabaran orang tua.

Perah ASI ibu untuk diminum pakai gelas biasa

Kadang-kadang ada juga anak yang tidak begitu suka dengan susu formula. Mau seenak atau semahal apapun susu yang dibeli, tetap tidak akan mampu menggantikan aroma dan rasa ASI. Oleh karena itu, mungkin kamu perlu mencoba untuk memerah ASI, lalu disajikan dalam gelas biasa.

Hal ini bisa kamu lakukan pada malam hari sebelum tidur. Periode ketika anak biasanya mulai rewel minta nenen ibunya. Perah ASI-mu lalu berikannya sebanyak yang anak mau.

Beri hadiah kalau si anak berhasil tidur tanpa perlu nenen ibunya

Tahap paling sulit dalam menyapih anak adalah ketika malam hari. Ketika si anak sudah merasa mengantuk, tapi tetap ingin nenen ibunya agar bisa tidur. Kadang ada hari di mana kamu berhasil, kadang ada juga hari yang kamu gagal karena si anak nangis berjam-jam tanpa henti.

Baca juga:  Kuliah Capek-Capek Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Lha Emang Kenapa?

Agar si anak merasa dihargai, kasih hadiah-hadiah spesial kalau anakmu bisa tidur tanpa perlu nenen. Misalnya dengan membelikannya cokelat atau mainan baru. Lalu saat memberikan hadiah itu, kamu kasih tahu, kalau ia berhak mendapatkan hadiah itu karena sudah besar. Dan anak yang udah besar biasanya nggak nenen ibunya ketika mau tidur.

Jangan paksakan jika anak benar-benar belum mau

Hal yang sering dinasihatkan ketika menyapih anak adalah harus memiliki perasaan tega. Beberapa cara klasik bisa dilakukan. Seperti memberi brotowali atau memberi minyak kayu putih pada puting ibunya. Sebenarnya cara ini tak cukup baik untuk tumbuh kembang anak. Karena malah terkesan “menyakiti” si anak.

Apalagi kalau si anak tetap ngeyel dan tidak mau tidur kalau belum nenen. Sampai teriak-teriak misalnya. Ada baiknya untuk anak seperti ini, cara lembut yang dipilih. Ya secara sederhana, kalau cara kasar diladeni dengan cara kasar, takutnya si anak malah belajar sesuatu yang kasar-kasar pula.

Tak mengapa gunakan botol dot

Beberapa orang mungkin mewanti-wanti ketika menyapih anak sebaiknya jangan dialihkan ke botol dot. Takutnya, ketika bisa selesai pada tahap menyapih anak, si orang tua harus menyapih anak lagi dari botol dot.

Padahal, cara melepas botol dot dengan menyapih anak dari nenen ibunya dua hal yang berbeda. Cara-caranya pun jelas berbeda. Sebab, menyapih anak dari botol dot dilakukan ketika anak sudah mulai gede, udah bisa diajak diskusi kecil, nggak seperti anak yang disapih dari nenen ibunya.

Selain itu, Mojok kan nanti bisa bikin artikel 5 tips ampuh untuk menyapih anak dari botol dot yang perlu kamu baca lagi besok.



Loading...



No more articles