MOJOK.CO Malam kian larut dan dingin, tapi aku sendiri ketakutan mau ke kamar mandi. Di bak air, ada rambut-rambut misterius yang mengerikan.

Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu, tapi kengeriannya masih bisa kubayangkan. Saat itu, aku sedang menghabiskan waktu luangku dengan berkumpul di ruang sekretariat UKM yang aku ikuti.

Namaku Nino, mahasiswa tahun akhir di sebuah kampus swasta di Surabaya. Ruang UKM kami, UKM Bela Diri, terletak di Students Center (SC) kampus yang sudah tua (kini tidak lagi digunakan). Ada banyak mahasiswa yang kerap berkumpul di sini setiap harinya—pilihan menyenangkan saat kamu sedang lelah menghadapi dosen yang menyebalkan.

Hari itu, aku seharian menggeletak di ruang UKM. Tidak ada latihan, tidak ada pula jadwal kuliah. Hidupku hari itu rasanya hanya diabadikan pada rasa mager tak berkesudahan. Sungguh nikmat.

Siang berganti sore. Teman-teman di ruang sekre kampus makin lama makin menipis. Kebanyakan pamit ingin pergi mengerjakan tugas.

“Kamu nggak pulang, No? Bukannya besok kamu katanya mau ada kuis?”

Aku menjawab asal-asalan, “Iya. Nanti saja rada malam. Masih pewe.

Menjelang waktu magrib, hanya ada 3 orang di ruang sekre kami. Semuanya pria: aku, Fadli, dan Ilham. Suasana malam kian dingin dan gelap, memberi kesan sedikit mencekap mengingat bangunan SC kami cukup mblosok.

Kalau sudah dingin seperti ini, ‘penyakit’-ku pun muncul: ingin buang air kecil sekaligus buang air besar. Sialnya, aku lupa kalau kamar mandi di SC kami cukup mengerikan. Bukan berarti di temboknya ada gambar-gambar monster dan hewan ajaib seperti di film Fantastic Beasts, sih, tapi lebih karena pencahayaannya yang kurang dan letaknya yang lebih mblosok.

Yah, udah mah SC-nya mblosok, kamar mandinya mblosok, pula.

Kadang-kadang, aku merasa sedikit iri sama cewek-cewek. Kalau mereka merasa takut ke kamar mandi, tidak akan ada yang memandang mereka aneh saat mereka minta ditemani ke kamar mandi tersebut. Coba kalau aku—atau laki-laki lain—yang melakukannya: bisa-bisa kami dikira mau ngapa-ngapain di sana!

“Kamu kenapa, No?” tanya Fadli, keheranan melihat aku yang tiba-tiba diam.

Aku menggeleng dan mencoba mengumpulkan keberanian, “Nggak apa-apa, cuma kebelet aja.”

“Jorok banget! Sana ke WC!” tendang Ilham sambil terkekeh. Aku balas tertawa sambil keluar dari ruang sekre kampus.

Sial, suasana SC benar-benar sepi saat itu. Langit sudah kian gelap, orang-orang di SC—entah kenapa—memang lebih sepi dibandingkan hari-hari kemarin.

Aku memilih sebuah bilik kamar mandi yang agak jauh dari ruang sekre kampus. Di sana, aku tuntaskan keperluanku membuang hajat. Segalanya berjalan normal dengan sebuah keran air terbuka di atas bak mandi di sebelahku.

Selesai melepaskan ‘ampas’, aku berniat membasuh dengan air. Dengan sigap, aku mengambil air dengan gayung. Airnya dingin.

Anehnya, aku sedikit merasa ada sentuhan di tanganku saat menciduk air dengan gayung.

Aku mengambil air sekali lagi. Kali ini, aku yakin ada sesuatu menyentuh tanganku. Sedikit geli, seperti…

rambut?

Aku mencoba melirik kali ini. Memang benar, di bak mandi seperti ada rambut-rambut—ini apa, ya? Apakah ada orang yang masuk ke kamar mandi ini, tapi rambutnya rontok dan masuk bak?

Penasaran, aku mencoba mengayunkan gayungku lagi, kali ini ke arah rambut-rambut misterius itu.

Betapa terkejutnya aku, waktu tahu bahwa yang terciduk adalah…

…kepala manusia.

Tanpa ba-bi-bu, aku langsung mengancing celanaku, lalu pergi ke luar kamar mandi. Bodo amat dengan urusan bersih-bersih. Aku takut!

Loading...



No more articles