Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Tips Membangun Percakapan untuk Lelaki Pemalu

Redaksi oleh Redaksi
6 Juni 2020
A A
kesehatan mental dan stigma odgj mojok.co

Ilustrasi kesehatan mental. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Dear, Gus Mul.

Perkenalkan, Gus. Nama saya Yudi. Saya adalah mahasiswa di salah satu kampus negeri di Surabaya. Usia saya saat ini 23 tahun.

Begini, Gus. Sejak kecil, saya ini sudah disetting default untuk menjadi lelaki yang pemalu. Nah, settingan pemalu ini praktis membuat saya menjadi sosok yang tak mudah bergaul dengan lawan jenis.

Sampai saat ini, saya tercatat hanya sempat pacaran satu kali. Itu pun dulu pas SMA. Itu pun saya yang ditembak. Itu pun hanya bertahan dua bulan. Itu pun saya yang diputusin.

Nah, saya ingin sekali bisa kembali merasakan pacaran. Kebetulan, saya saat ini suka dengan kawan saya satu fakultas, sebut saja namanya Indah. Saya sudah merasa suka kepadanya sejak lama, tepatnya setahun terakhir ini. Namun, yah, namanya juga pemalu, boro-boro pedekate, sekadar ngobrol dekat saja saya nggak terlalu berani.

Sungguh, ini membuat saya begitu tersiksa. Saya pernah ngechat Indah suatu ketika, dia cukup responsif membalas chat saya. Namun saya yang justru kurang gesit, sebab saya bingung bagaimana cara membangun percakapan yang baik.

Hal tersebut sedikit banyak membuat saya ngeri. Lha gimana, bahkan sekadar ngobrol via chat saja saya bingung mencari bahan obrolan, apalagi kalau saya harus ngobrol tatap muka langsung. Pastilah saya mati kutu dibuatnya.

Nah, Gus Mul. Sebagai seorang penulis buku Lambe Akrobat, saya memohon saran atau masukan dari Sampeyan untuk mengatasi masalah saya yang rumit ini.

Matur suwun, Gus Mul.

~Yudi

Jawab

Dear, Yudi.

Begini. Rasa malu itu tak ubahnya seperti ketidakmampuan kita untuk berenang. Ia bisa dihilangkan dengan cara memberanikan diri untuk menepisnya.

Yakinlah, kita, para lelaki, sejatinya punya bakat untuk menjadi tidak tahu malu. Kita hanya perlu lingkungan yang tepat untuk menumbuhsuburkannya.

Komunikasi itu sejatinya adalah permasalahan kebiasaan. Saya bisa ngomong begitu karena dulu saya mengalaminya. Pertama kali menjadi pemateri untuk bedah buku saya yang pertama. Pesertanya hanya lima orang. Sekali lagi, hanya lima orang. Dan saya ndredeg nggak karuan.

Iklan

Seiring berjalannya waktu, peserta bedah buku saya semakin banyak, kendati demikian, saya masih tetap ndredeg, walau tentu saja tidak sedahsyat bedah buku pertama.

Waktu berjalan, rasa ndredeg itu semakin hilang. Saya mulai percaya diri dan merasa nyaman ngobrol di depan banyak orang. Butuh waktu tidak sebentar untuk mencapai titik itu.

Saya pikir, begitu pula dengan urusan ngobrol dengan perempuan. Adalah wajar bagi seorang pemalu begitu susah untuk ngobrol dengan perempuan. Langkah penting yang harus dilakukan ya memberanikan diri.

Cobalah untuk memulai pembicaraan dengan Indah. Obrolan yang singkat dan sederhana saja. Bisa ngobrol soal tugas kuliah, atau tentang event kampus, atau hal-hal kecil di lingkungan kalian. Persiapkan materi obrolan singkat sebagai jaga-jaga kalau-kalau Sampeyan ngeblank.

Ulangi hal tersebut di lain waktu. Ulangi terus. Biarkan kebiasaan dan jam terbang itu membangun kepercayaan diri Sampeyan untuk ngobrol.

Di samping itu, sesekali berkumpullah dengan kawan-kawan yang menurut Sampeyan nyablak, lucu, dan banyak omong. Pelajari pola bagaimana ia membangun komunikasi dan menimpali sesuatu.

Humor dan cerewet itu bisa menular. Kalau Sampeyan terbiasa bergaul dengan kawan yang lucu menyenangkan dalam hal obrolan, niscaya Sampeyan bisa mengikuti jejaknya.

Cobalah menonton video-video wawancara Soleh Solihun, pelajari bagaimana ia bisa menanggapi dan membalas narasumbernya dengan pertanyaan-pertanyaan menarik dan personal yang seakan seperti rentetan peluru yang berlesatan dari dalam magasin tanpa henti.

Ingat, lelaki pemalu, sampai modar pun akan tetap pemalu kalau ia tak berusaha untuk menembus batas “kemaluannya”. Sama seperti orang yang tak bisa berenang dan akan terus begitu selama ia tak pernah mau menceburkan diri ke dalam air.

~Agus Mulyadi

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2020 oleh

Tags: lelakipemalu
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pojokan

Menilai Penilaian

25 Juli 2019
Esai

Ki Joko Bodo Nggak Lagi Gondrong Bukan karena Hijrah, tapi karena Lambemu!

21 Mei 2019
List

5 Tantangan Hidup Orang Pendiam yang Dikit-Dikit Dikira Marah

27 Desember 2018
keberanian lelaki
Pojokan

Arti Sesungguhnya Keberanian Lelaki

18 Desember 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pertemanan di usia 30.MOJOK.CO

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.