Seminggu belakangan ini saya capek mendengar kalian terus-menerus mengejek-ejek LGBT. Tak perlu kalap mengatakan kaum LGBT juga menuntut dibolehkan kawin di Indonesia. Boro-boro kawin, tidak dilecehkan saja sudah syukur.

Bagi LGBT di tanah air, ada skala prioritas. Yang terpenting, cukup dihargai dan diterima sebagai manusia. Perkara selebrasi pelangi-pelangi, itu adalah ruap kegembiraan di medsos semata, sebab di seberang sana, Amerika telah mengesahkan hak pernikahan untuk semua, termasuk insan LGBT. Selebihnya, kami tetap menjejak di bumi, mengakui bahwa di negeri ini kami tetap harus berkubang dengan stigma, diskriminasi, dan pelecehan.

Tapi semua komentar tentang pernikahan gay yang tak boleh, dan superioritas perkawinan hetero itu bener-bener bikin empet. Jadi saya tuliskan saja mengapa pernikahan homo bisa lebih unggul dari berbagai sisi. Emang lo aja yang bisa pamer? Hih.

Pasangan Hetero Membuang-buang Uang dan Waktu

Tahukah Anda, separuh perkawinan hetero  itu berakhir di perceraian? Betapa mubazirnya! Betapa sia-sianya waktu dan uang. Bayangkan semua duit yang habis saat pacaran, uang panaik alias mahar, ongkos rumah tangga, belum lagi derita batin jomblo saat mencari pasangan. Nah soal mahar atau uang panaik, pasangan homo tak kenal itu. Ngapain pakai mahar kalau dua-duanya sama mau? Pacaran pun saling traktir. Nggak melulu yang laki yang harus bayar. Lha dua-duanya laki. Pasangan lesbi ya sama, tak ada laki-laki di antara mereka.

Kami Tak Berkembang Biak Begitu Saja

Anda menganggapnya sebagai kenistaan. Kawin kok nggak bisa bikin anak? Baiklah, jika kami tak diizinkan adopsi. Tapi kalian, wahai hetero, mesti bertanggung jawab sepenuhnya atas dunia yang semakin padat ini. Meski dunia tidak kecil-kecil amat, tapi kalian berkembang biak tanpa kendali. Jutaan anak telantar dan kelaparan. Kami? Kami siap membantu, mengambil tanggung jawab kalian, wahai para produsen anak. Kami mengadopsi anak, dengan tanggung jawab penuh. Sebab di negara-negara yang mengizinkan adopsi anak, kami harus menunjukkan bahwa kami mampu lahir-batin mengasuh anak. Kami diwawancara, slip gaji diperiksa, rumah diperiksa. Sementara kalian bebas menghasilkan anak, kadang tanpa rencana, entah karena iseng, ikut-ikutan, kecelakaan, tekanan sosial, dan sebagainya. Kami, syukurnya, tak bisa seperti itu.

KDRT? Haram!

Tahukah Anda bahwa KDRT menimpa banyak rumah tangga dan merupakan salah satu kejahatan yang paling jarang dilaporkan? Nah, kami tidak menyelesaikan masalah dengan KDRT. Jika ada masalah kami adu panco. Atau berlomba nyanyi di bilik karaoke. Atau  berlomba tata rias wajah dan gunting rambut. Yang kalah ya kalah. Situ? Ah, paling yang laki membentak, nampar, atau minta ditaati karena merasa jadi imam. Ih, pengecut sangat. Bayangkan Ayu Azhari dalam Noktah Merah Perkawinan:  “Tampar aku lagi, Mas! Tampar!” Nah, kami tidak seperti itu.

Mertua Mencintai Kami

Kami tak bermasalah dengan mertua. Ibu mertua masak? Kami bantu. Kami berbagi resep. Kalau perlu kami yang merias dan menyanggul jika ibu mertua harus kondangan. Kami bisa menggambar alis yang simetris-sempurna. Kami tahu selusin tutorial berjilbab dan berkerudung. Kami tahu beda antara eyeliner, eyeshadow dan mascara. Situ? Bisakah kalian bikin  New York cheesecake ala Gordon Ramsay? Bisakah kalian membedakan antara lipstick, lip gloss, lip liner, lip plumper, lip balm, lip conditioner, lip primer dan lip boosters? Nggak, kan? Menemani ibu mertua belanja saja kalian ogah-ogahan.

Dengan bapak mertua kami juga okeh. Kami bisa main bulutangkis bareng, main voli bareng, berangkat jumatan bareng, berkebun bareng, ngeronda bareng-bareng. Pendek kata, kami paket all in one; kami toko alcada (apa lo cari gue ada). Mau contoh? Tontonlah Arisan! Cari adegan waktu Nino aka Surya Saputra ngobrol tentang hibiscus dengan (calon) ibu mertuanya. Satu hal, ini contoh saja. Tentu saja  tak semua kami secakep Nino. Tapi itu masalah lain.

Tidak Sesuai Kitab

Kalian menyebut Sodom dan Gomora dari kitab. Saya males menanggapi kalau perdebatan sudah mulai masuk ranah agama. Biasanya cuma berakhir dengan: tapi Tuhan saya memerintahkan bla bla bla dan saya patuh seratus persen. Mau bilang apa lagi, coba?

Tapi okelah. Mari melihat kitab. Asal kalian tahu, semua ketidaknyamanan di dunia yang fana ini asal muasalnya dari pasangan hetero. Kalau saja Adam dan Hawa tak punya konflik rumah tangga soal buah, dan Adam nggak jiper sama Hawa yang iseng minta buah, kita nggak bakalan terusir dari surga. Kita bakal abadi selamanya di surga, tanpa problema,  tanpa embel-embel masalah Jokowi yang melempem, rupiah yang terus menerus jongkok dan THR yang tak pernah cukup. Ada yang menyebutnya dosa warisan. Saya menyebutnya: Masalah-rumah-tangga-satu-pasangan-hetero-tapi-yang-kena-getahnya-kita-semua.

Kami Lebih Santai

Kami tak terlalu cemburuan. Lha selera sama ngapain juga cemburu? Semisal nih, kalian jarang bareng, terus si suami ngelirik cewek seksi yang kebetulan lewat. Si Istri marah, blingsatan, nyubit: ngapain lirik-lirik?! Salah-salah suami ditabok. Kami? Nggak menjamin semuanya seperti ini sih, tapi kami malah sering cuci mata. Karena selera sama, alih-alih cemburu, kami malah membahas.

Jika ada barang bagus lewat macam Mas Ken dan Mas Bana, lalu pasangan saya melirik terus bekomentar: “Cakep ya?”, maka saya cukup menoleh, mengamati, lalu berkomentar: “Iya, cakep sekali. Bulu hidungnya rapih.” No problemo. Tentu saja poin-poin di atas setengah serius setengah main-main. Pasangan gay juga mengalami KDRT, pasangan gay pun cemburuan, pasangan gay bisa bentrok dengan mertua.

Poin saya: pernikahan hetero bukan pencapaian maha suci. Berhentilah membanggakan keheteroan kalian. Lha jadi hetero juga bukan usaha kalian, kok. Kalian tak pernah minta dan memilih jadi hetero, kalian lahir dan tumbuh sebagai hetero, sebab kalian memang hetero. Jadi stop menganggapnya sebagai suatu pencapaian. Itu bukan titel sarjana, tak ada yang namanya sarjana dan ijazah hetero. Di belahan dunia lain, orang-orang bersuka cita sebab negara membolehkan mereka berkumpul dan bersatu dengan orang-orang yang mereka cintai.

Kami, kaum LGBT dan mereka yang peduli di tanah air, juga turut bergembira, seraya membatin: Nun di sana, mereka sudah sampai di garis itu, tapi di sini,  pengakuan, perlindungan dan penghormatan pun masih sulit didapatkan.

Semoga bisa dimengerti, Tuan dan Puan hetero yang mulia.

  • TheLedger

    Keren abis tulisannya.

  • Adinegoro Choliq

    Ketawa banget ini.. hahahaha..

  • Tetuko Susilo

    Bottom ya cyn?

  • Barack Aziz Malinggi

    Bulu hidungnya rapih 🙂

  • Yudhi Setiaji

    Ngakak guling guling Ciin

  • ayatayatadit

  • mar’attus solihah

    aku ngebanyangin (mas) rahmat ini kayak ruben atau dimas di novelnya dewi dee..cakep boo..tulisannyah 🙂

  • ophaque

    ” Kami bisa menggambar alis yang simetris-sempurna.” teach me how to do this!!!!! Haha… Keren sangat, mas Rahmat! 😀

  • bulu hidung sangat berpengaruh pada penampilan 😀

  • PW

    Niatnya bagus
    tapi tulisannya ra mutu, terlalu dibikin bikin
    malah jadi ga simpatik..

    • OjoDumeh

      iya bener.. ra mutu blass!! ngeles dg maksa.. ya udah kawin aja lu Mat.. semoga bahagia dunia akhirat.. 🙂

      • rizky

        Situ yakin bakal bahagia di akhirat..sarat masuk surga ga hanya jadi hetero aja loh :)))

        • OjoDumeh

          bagi yg gak meyakini agamanya ya gak akan pernah yakin.. kuncinya kan jelas: menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.

          • rizky

            Gimana mau yakin kalo Tuhan bilang kok masuk neraka atau enggak entar ditentukannya..ga ada yg pasti mas itu yg harus anda yakini jangan2 temen2 gay yg bakal masuk surga anda ga pernah tau :p

          • OjoDumeh

            makanya saya doain.. lagian saya gak sebut kalian masuk neraka kok..

            urusan yakin gak yakin ya terserah situ.. yakin masuk surga ya silakan.. gak yakin ya silakan.. saya sih konsen ke menjalankan apa yg diperintahkan dan menjauhi laranganNya. kalau kalian gak taat pada ajaran agama, ngesex sana sini, gonta ganti pasangan ya silakan.. gak ada masalah itu.. resiko masing2 🙂

          • rizky

            Yaudah sampai ketemu di pengadilan Tuhan aja yah mas…biar beliau aja yg nentuin 🙂

          • Bambang Tedja

            Loh sdh pasti. Makanya baca kitab Allah.. Sdh tertulis sejarahnya dlm Alquran.

          • Bambang Tedja

            Loh sdh jelas kok. Bacalah quran. Kebenaran dan kebathilan terang benderang di sana.

  • Bambang Tedja

    ‘Nggak cemburuan’ yakin lo? Pembunuhan super sadis banyak dilakukan kaum homo hanya krn cemburu. Contoh: ryan.. Yg namanya mental disorder ya kudu disembuhin bukan dirayain.

    • Ricky Fajar Sidabutar

      bacanya sampe abis bang

    • Ditto Reÿza

      iya bener, pembunuhan super sadis karena kecemburuan itu musti di tindak lanjuti, apalagi kalau pembunuhan terkait mental disorder.
      tapi logikamu yang agak geser, cemburu yang akhirnya pembunuhan itu ga ada hubungannya sama seksualitas. kalo pake logikamu, itu mah sama aja kayak “Semua muslim itu teroris karena adanya teroris yang mengatas namakan islam” .

      and anyways, sejak tahun 1993 di Indonesia melalui Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), Homoseksual bukan gangguan jiwa. Please educate yourself before you give hatred comment.

      • Bambang Tedja

        i just dont agree with ppdgj. homosexuality is more nurture than nature..so it’s never normal. i can understand them more if they are generated from genes. but in fact they are not..gay never comes from genes..that’s just people who are lazy, tired of, sick of, been hurted of, or give up being normal, cause being normal is more difficult. to love different gender is never easy…menjelek2kan hetero juga menimbulkan kebencian.

        • Sava

          ga setuju sama PPDGJ? anda dokter? eh maaf..anda spesialis? anda ahli? yakin paham? punya dasarnya? lebih pinter dari mereka yg rilis pedoman? u said it’s never normal,,,? yg diomongin disitu adalah gangguan jiwa,,bukan normal atau engga,,yang normal tu seperti apa? yang sewajarnya? standar dari siapa? menurut anda >>> that’s just people who are lazy, tired of, sick of, been hurted of, or
          give up being normal, cause being normal is more difficult <<< ya kali idup lo aja yang susah,, ada banyak orang yang emang gay karena it happens just like that,,siapa yang mau disalahin? buat apa nyalahin? lalu kalau dari gen kamu akan terima dan memahami? "ya udah sih itu kan dari gen,,kita terima aja..!" ?? kalo emang ga tergenerate dari gen lalu menjadi salahkah? dan apakah bisa dibilang salah? apakah anda bisa menentukan salah dan benar? atau dr common sense? salah dan benar bukan menurut anda bung! bukan pula menurut saya! kenapa tidak anda biarkan saja tanpa perlu menghakimi atau membenci! lalu anda bicara masalah pembunuhan sadis.. berapa banyak pula pembunuhan sadis yang hetero? coba di compare! itu kalau anda tidak hanya berat sebelah dan kemudian satu dua kasus anda jadikan referensi compare to many other case! mental disorder kudu disembuhin??? cara pandang dan kebencian andalah yang harus disembuhkan!!

          • Bambang Tedja

            bukankah seperti itu adanya.. banyak alasan mjd homo krn give up being normal? tidak semua sih. iya toh?

          • rizky

            Tujuannya buat apa dulu…yg menentukan penis itu di vagina siapa?terus yang bilang gay itu selalu anal sex siapa??banyak orang gay dia ga anal dan ga mau anal..masnya tau ga???????????

          • Bambang Tedja

            laah dimana lagi coba? di jepitan pintu?? ya gapapa coba aja..halah ga mau kan awal-awalnya, lama2 liat dubur tegang juga…witing tresno jalaran soko kulino..

          • rizky

            Masnya sok tau..makanya banyak gaul sama temen2 LGBT tanya bagaimana mereka mendapatkan pleasure dalam berhubungan sex..biar komentar mas ga sekedar asumsi. Makasih 🙂

          • Bambang Tedja

            klo pun tak sepenuhnya benar. mosok ya sepenuhnya salah?

          • Raizel

            Ya sudah biarkan saja Mas Bambang ini, mau dengan alasan apapun doi bakal tetep keukeuh. Simply because you don’t walk in their shoe, Mas. Makanya bisa ngomong seenaknya mentang mentang hetero.

          • Emka Shofa

            Memang guy sudah ada sejak dulu. selamatkanlah kami dan keturunan kami dari genesis kaum luth

          • rizky

            Guy???hahahhahahhahahahhaahhahahahhahahahhahahahahahahahahahhahahahhahahahhahahhahahahahhahahhahahahhahahah

          • OjoDumeh

            iya mas mmng benar.. gak semuanya anal.. biasanya karena ambeien.. periiih.. ツ

          • Gelas Kosong

            Kamu hebat… Lanjutkan

        • Ditto Reÿza

          “menjelek2kan hetero juga menimbulkan kebencian”.
          well i couldn’t agree more with you about this. menjelek-jelekan suatu kaum memang perbuatan yang tidak baik.

          I can tell if you don’t believe in PPDGJ due to your comment.

          Nurture, huh? what about i tell you that heterosexuality is a nurture product as well? Frankly, I don’t believe either that sexuality (any sexuality) is linked to the genes. Kapan sih kamu mulai tertarik sama lawan jenis (if you are a hetero though)? was it since you were born on this earth or was it when you already have your own mind and imitating your environment? yah, tapi emang sih aku sendiri masih ga tau kenapa bisa orang bisa tertarik dengan sesama jenis ketika mereka dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan hetero environmental and vice versa. I do believe that the way of parents teach and environment need to be highlighted.

          BUT

          “cause being normal is more difficult. To love different gender is never easy”… was that for real? i couldn’t believe what i just read. Kenapa juga orang mau jadi homoseksual, nota bene banyak orang yang despise, ain’t nobody got time for that. plus being a homosexual doesn’t mean that you can hook up easier. duh.

          anyways, you can keep your thoughts. and sometimes, some thoughts better to be keep in your own when it’s a thought filled with hatred. Calling somebody has a mental disorder, while the scientists were agreed it’s not, is so fucked up.

        • BlackOut

          hahaha… mas kalo ga setuju dengan scientific guideline ya silaken. Tapi mbok ya di-counter dengan scientific data juga. Silakan tidak setuju dgn ppdgj, tetapi ya gitu deh… ketidaksetujuan anda tidak bermakna apapun…

          • Bambang Tedja

            klo tak bermakna anda tak mungkin komen toh?

          • BlackOut

            bungkus dah… 🙂

    • Elijah

      Dipikir ga banyak juga pembunuh hetero yg sama dan lebih sadis ? And please do your research first on LGBT people before you actually say something about them. Jgn kaya kebanyakan org Indonesia yg nge-sok ngomong bener tentang LGBT tapi isinya kosong melompong

      • rizky

        Mas bambang ini emang sok.tau kok…yg dia tau cuma agamanya itupun dalam tafsiran yg dia baca saja. Kasian sempit pikirannya

      • Bambang Tedja

        lah sy kan membantah tulisan di atas kakak.. katanya kaum homo ga cemburuan..trus sy kan ga bilang semua homo begitu..

    • Jusup J. Rianto

      he Bambang Ryan membunuh bukan masalah homonya tapi masalah utang piutang yang cerdas sedikit aja gitu lho

      • Bambang Tedja

        cuplikan kasus ryan: “….Carlo menjelaskan, awalnya Heri datang ke apartemen Ryan dengan mobil Zuzuki APV hitam, B-8986-CR, pukul 20.00, Jum’at (11/7). Di apartemen, Heri melihat foto Noval, kekasih Feriansyah yang akrab dipanggil Ryan. Heri jatuh hati pada Noval, dan menyampaikan hal itu pada Ryan. Heri lalu menawarkan sejumlah uang kepada Ryan agar Noval bisa berhubungan intim dengan Heri. Ryan tersinggung dan marah. Terjadi cekcok mulut. Menawarkan kekasih untuk berhubungan intim dengan imbalan sejumlah uang adalah hal yang umum dikalangan kaum gay alias homoseksual.

        Tersinggung kekasih prianya ditawar, tersangka Ryan (pria, 30) membunuh dan memotong-motong Heri Santoso (40). Harta korban dijarah buat memanjakan kekasih pria, Noval (28). Ryan dicurigai tidak sekali ini melakukan mutilasi. Oleh karena itu, polisi masih memeriksa intensif Ryan…………….” (psikologi abnormal by psidirham)

  • Nur Rochman

    lucu tapi ngga mutu

    • BlackOut

      komen anda ga lucu dan ga mutu mas… hehe

    • ElektRo

      Komen anda lucu sekali dan sangat super dupet bermutu bro

  • Ardi Supardi

    Aneh,,,,

  • smurfin

    yup…hetero, menikah dan punya anak itu bukan pencapaian….jadi stop b.tanya kapan kawin ??? ups curcol

  • BlackOut

    Mungkin waktu Tuhan menciptakan para LGBT, ops… bumbu heteroseksualnya kurang sesendok… :p

    • Robby Ocktavian

      Iya mungkin gitu, seandainya LGBT ga diciptakan manusia.

  • chantiks

    tulisannya ringan tapi nyelekit, hahaha

  • Arik

    Semoga kamu abadi di nerakaNya

    • Elijah

      Apakah anda lebih tidak berdosa daripada yg nulis ? Sudah yakin menjalani hidup bersih dari dosa ?

  • azhar ika nugroho

    kok elek

  • hde226868

    pokoknya TOPGBT, legalkan pernikahan sesama jones m/.

  • “Uang Panaik”

    Hm….

  • Riyo Ariyono

    Joss gandoss!!!
    Bahasanya renyah dan nendang!!

  • Dimas Pandu Danardono

    Ma’ap saya bukan mau kotbah, cuma pengen nyampah:

    Orang Indonesia ini terlalu serius hidupnya.. Terlalu gengsi buat ngetawain kenyataan idup yg ada.. Tapi doyan gembar gemborin keyakinan sendiri agar terlihat baik & menghakimi orientasi seks org lain agar dirinya terlihat tetap baik & yang berbeda itu udah pasti salah.. Gay apa bukan kita semua pasti mati.. So, selama idup jangan serius2 amatlah.. Kalau ini semua ternyata cuma selera humor Sang Maha Pencipta yg begitu tinggi, apa yang akan kalian perbuat? Untuk kawan2 yg lempeng, selalu serius & religius.. Kalo kalian pada takut dampak yang buruk buat keturunan umat manusia & generasi kedepan, ya jagain aja anak2 lo.. Arahin yang bener.. Didik dengan penjelasan yang baik.. Gak akan cukup dengan lo ceritain dongeng ini & itu.. Gak boleh ini & itu tanpa ada penjelasan yang baik.. Semakin lo takutin anak2 lo, kelak ketika mereka tau ternyata orang tuanya cuma nakut2in doang, lo pasti tau sendiri anak2 lo bakal jd apa.. Anak2 lo cuma bakal jadi pengecut.. Sama kayak orang tua & guru2nya dulu 🙂

    Gw gak mau debat, kalo ada yang mau debat, ajak Tuhan kalian masing2 untuk berdebat: “Kenapa manusia dengan berbagai macam perbedaannya ini Engkau ciptakan?”

    • Bambang Tedja

      ga berani debat ya?

    • lala

      selamat, anda sukses nyampah sesampah-sampahnya

    • Manaka

      Ya bener sih, didikan orang tua keras itu akan membuat anaknya semakin bengkok

  • Reynard Putra Imawan

    Menurut saya homosexual itu bukan natural/alami tp desire/hasrat,gak usah pake hukum agama,kita pake hukum dunia yang simple aja,makhluk hidup untuk berkembang biak,mempertahankan eksistensinya di dunia,bedanya untuk jenis manusia diberi pikiran dan emosi yang kadang menjadi salah,

    Saya tidak membenci/menghujat kaum homosexual tp saya juga gak mendukung,mereka tetap manusia.Kl soal agama atau ke-Tuhan-an,saya rasa semua mendapatkan “cobaan” masing2,contoh: BDSM penyimpangan?Ya trus dia salahin Tuhan karena itu?Kleptomania penyimpangan?Ya trus dia salahin Tuhan karena itu?Kita dikasih otak dan perasaan untuk men-denie mana yang salah,beberapa “menjustifikasi” gw lahir begini,woy ente yang memutuskan ente mau jadi apa dan mati gmn.

    • rizky

      Pertanyaannya disire itu emang bukan natural?emang dateng dari mana?di buat di pabrik??

      • Reynard Putra Imawan

        Saya kan bahas dari awal manusia itu lahir,desire ada karena pemicu tertentu dan bisa salah bs benar,hasrat untuk menghabisi orang contohnya,kita bs denie kan?Natural?Ngga,karena ada pemicunya.

        Gak ada orang homosexual yang dari awal lahir homosexual sama seperti gak ada orang bodoh yang dari awal lahir bodoh (bukan down sindrom ya) dan gak ada orang gagal yang dari awal lahir gagal.

        • rizky

          Terus emang anak dari kecil sudah tau dia bakal jadi hetero?udah punya bisa bedain bahwa syahwat laki2 itu pada perempuan saja??ada argumen ga selain argumen agama yang kira2 masuk akal…soal orientasi ini

          • Reynard Putra Imawan

            Menurut saya iya,natural manusia bereproduksi (bukan hasrat), sudah tau kl mereka hetero kecuali anak laki2 itu didandanin perempuan (pemicu yang saya bilang), cm untuk kasus homo pasti ada pemicunya. Ini mah sekedar pendapat, saya jg bukan pakar psikologi, pemicu utama biasanya orang tua, figur yang tidak sempurna.

            Tambahan, saya tidak pernah membahas sisi agama secara mendalam cm di dalamnya ada pilar yang sama dengan pilar hukum dunia dan hukum sosial (jgn membunuh, mencuri, memperkosa, dll) itu batasan kita tentang pengetahuan mana yang baik dan yang tidak baik dan benteng kita untuk mendenie “kayaknya gw gak harus kayak gn deh/kayaknya gw gak harus lakukan ini” tp kembali lagi kekuatan benteng ada pada pribadi masing2.

          • rizky

            Pertanyaan saya lagi…bagaimana LGBT bisa disama kan dengan perkosaan atau pencurian yang jelas2 kejahatan dan merugian..LGBT kejahatannya apa yah?merugikan bagi anda aada ga?melahirkan lewat pantat?itu komentar paling rendah yg pernah saya dengar.. Maaf yah 🙂

          • Reynard Putra Imawan

            Hahahahaha,saya tidak mengatakan kaum homo lahir dari pantat ya,saya bilang itu cacian yang akan didengar “anak yang diadopsi kaum homo” dan akan menjatuhkan mental anak tersebut.

            Tau gak yang lebih rendah apa?Berargumen “kira2 masuk akal”,”komentar paling rendah”,”gak berbobot” tp anda sendiri tidak membawa data yang valid dalam argumen ini,kalau memang anda bertanya tidak akan keluar statement seperti itu +kl emang anda proud to be gay,why hide yourself?Anda sendiri tidak berani menunjukan identitas anda ketika memperjuangkan “HAK” anda dan kaum anda. Anda cm pendemo barisan belakang yang bersiap2 untuk lari duluan kl anda kalah.

            Itu baru namanya RENDAH dan TIDAK BERBOBOT

          • Reynard Putra Imawan

            Satu2nya kaum gay yang rendah dan tidak berbobot cm anda saja,setidaknya temen saya yang gay lbh terhormat dan berpendidikan lbh daripada anda. Menghakimi saya rendah, tidak berbobot, tidak masuk akal, anda saja pengecut. Mau diakui tapi gak mau jadi martir?Suruh teman gay anda yang maju duluan?Jagoan keyboard ternyata..

          • rizky

            Jadi pendapat anda asumsi semua.nih…bicara agama juga ha pakek ayat bicara ilmu penhetahuan juga tanpa dasar yg jelas. Semua asumsi. Yah sudahlah kita sudahi diskusi ini ga berbobot

          • Reynard Putra Imawan

            Lalu dasar anda yang jelas yang mengatakan homo itu bukan disorder apa?Siapa yang riset?Saya minta literatur resmi dan jurnalnya,kasih aja saya linknya.Atau jgn2 asumsi anda saja kalau gay natural?

          • rizky

            WHO sudah menentukan kalo homoseksual bukan penyimpangan atau gangguan mental dari 1990 dan di Indonesia sudahh tercantum dalam PPDGJ III tahun 1993…data lengkapnya?cari sendiri mas yah :)..btw maaf yah kalokalo sikap saya aga gimana gitu sama mas maaf yah :)..kalo soal identitas itu urusan saya kali mas itu hak toh..makaaih 🙂

          • Reynard Putra Imawan

            Hahahahahaha,jadi cuma segini kualitasnya, hak anda menyembunyikan identitas?Kl buat zakat gpp tp kalo buat berargumen anda cm seorang pengecut yah walaupun memang hak seseorang untuk jadi pengecut cm lucu saja, ingin mendapatkan pengakuan tp anonimus.

            Semoga saudara/saudari lain yang homoseksual tidak seperti dia, memancing untuk beragumen tp dia sendiri malu menunjukan jati dirinya, khusus untuk orang satu ini, saya pusing dengan kejantannya mungkin sebenernya “Transgender”.Tp gpp saya maafkan.

          • Reynard Putra Imawan

            Tambahan lagi untuk beberapa komen yang bilang (intinya) bahwa hetero tidak bertanggung jawab terhadap anak dan kaum homo siap bertanggung jawab mengadopsi, saya bilang mending jgn, kasian anaknya (mau dikatain lahir dari pantat?mau dikatain ibunya/bapaknya mana kok kelaminnya sama?) budaya kita belum sanggup, hanya akan menghancurkan psikis anak saja (toh kalian sudah merasakannya kan waktu kecil :))

  • Aldianan

    Laaah kenapa bawa2 Pak Jokowi…??? Kalian mau LBGT urusan kalian .. gak ada urusannya dg Rupiah … mending urusan diri kalian masing2

  • rizky

    Ringan tapi asik banget tulisannya…ini banyak yg komentar tapi yakin ga ampe abis bacanya.kasian banget.

    • Bernadeta dian

      Saya udah baca smpe abis.. Lebih pada pembelaan diri sih isinya. Silahkan yg mau jd penyuka sesama jenis. Hiduplah dg duniamu, tp apa g sedih kalian dg org tua kalian masing”liat anaknya pada begitu.

      • rizky

        Ga sedih kok..kenapa sedih??

        • Bernadeta dian

          🙂 kasihan sekali…

          • rizky

            Emang situ yakin hidup situ lebih baik dari hidup saya atau teman2 lgbt yg lain?? Jangan sempit2 lah mbak pikirannya..sekali-kali cari temen biar tercerahkan……..

          • Bernadeta dian

            🙂 tentu hidup saya baik karena saya menghargai, menerima dan menyadari bahwa saya seorg wanita. Saya merawat tubuh dan harga diri saya sbg wanita yg selayaknya menyayangi dan mencintai lawan jenisnya, saya adalah tulang rusuk. Hidup saya baik karena saya dbesarkan dilingkungan yg mengajarkan saya berbuat baik serta berteman dengan org”yg baik. Yg utama adalah sya memahami dan mengerti perasaan org tua saya serta menghormati mereka….

          • rizky

            Yaudah kalo merasa hidup mbak baik..jangan usil sama hidup orang. Masuk neraka juga ga ajak situ…ga usah sok berempati padahal cuma usil ngerti?apa perlu pakek bahasa kalbu biar situ ngerti??

          • Bernadeta dian

            🙂 saya g kasihan dg mu, karena km tidak merasa prlu dikasihani. Sya hanya menyayangkan bgmn perasaan org tua. Tak perlu dg pisau, tanpa sdar menorehkan luka batin pada hati kedua org tuamu sanggup membunuh mereka…

          • rizky

            Sok tau..dasar usil.

          • Bernadeta dian

            🙂 doakan org tuamu…

  • Hiduplah dengan tenang Mas.

  • Lib Flow

    Um.. yang terakhir aga ngarang. Ga terlalu cemburuan? Yea, rite..

  • marbot masjid

    Anal seks > anus jadi luka dan rusak > tempat luka bs jadi lorong tempat masuk virus, bakteri, jamur, parasit dll > tubuh jadi muncul gejala/keluhan krn infeksi sudah menyebar di dlm darah > orang penyakitan (rata2 sih berat penyakitnya)

    Struktur jaringan dan sel yg membentuk anus berbeda dengan vagina, anus mudah terluka jika terjadi aktivitas seks disana, krn memang dibuat bukan utk itu, berbeda dengan vagina yg struktur jaringan pembentuknya lebih kuat dan memang difungsikan utk aktivitas seksual.. (mau lebih dalem lagi infonya? Tinggal buka buku histologi organ reproduksi)

    Mudah2an bisa memberikan pencerahan walopun sedikit..
    Oiya, resiko luka makin besar bagi yang ambeiyen-an..
    Waspadalah!. Waspadalah!.. :))

    • Bambang Tedja

      bukan cuma anus.. kasian penisnya. gw ngebayangin penis campur kotoran dlm anus aja udah eneg..

    • Meilandra

      Tau ‘safe sex’? Sebelum anal lubang anus dibersihkan, lalu sebelum kopulasi dilakukan dulu perenggangan, serta memberikan lubrikasi agar anus tidak terluka. Penis juga menggunakan kondom agar tidak terkena ‘kotoran’ yang masih tertinggal. Stay safe and fun,dude! Kenyataannya tidak hanya kaum gay yang mempraktekan anal sex, kaum hetero juga banyak kok. Yang terpenting adalah keamanannya, mau gay, mau hetero, asal ‘bersih’ tidak menjadi masalah.

      • Bambang Tedja

        awalnya2 nya safe.. lama2 masa tahan? dikit2 nyobain ga pake kondom dll.. kayak ga tahu aja yg namanya nafsu syaiton.. paling2 klo udah horny main sosor aja.

      • Emka Shofa

        memang kaum guy tidak merasa jijik bila memasukkan penis ke anus? kalau enggak Ooo…berarti guy-nya yang menjijikkan.

  • anton46

    Penulis lupa jika dirinya terlahir dari seorang wanita, which is hasil dari hubungan hetero.

  • Amrih

    Hahaha

    • Jusup J. Rianto

      Tapi Allah juga menciptakan Adan dan Sukirman, PAHAM GAK?

    • Bernadeta dian

      ahahhaaaha… Njelehi..

  • Novi Hamid

    Tulisan yang (cukup) bagus, menggambarkan uneg2 yang cukup komplit. Walau tidak terlalu rinci penjelasannya, namun poin-poin yang diangkat cukup mewakili pertanyaan2 (mungkin sebagian besar orang) bagaimana LGBT dianggap ‘beda’ dengan yang lain.
    Saya sudah terlalu lama mempelajari jender dan seksualitas, namun saya masih sangat kecewa dengan diri saya sendiri mengapa hingga saat ini masih belum bisa mengerti sepenuhnya proses terjadinya dikotomi hetero-homo. Tapi tak apa lah, namanya juga belajar tidak selalu harus bisa dan harus tahu 😉
    Anyway, menurut saya (ini menurut saya lho!!) yang tidak terlalu pinter ini, menjadi ‘hteroseksual’ dan homoseksual’ merupakan ‘pilihan’ hidup yang keputusannya didasarkan (lebih) pada logika dengan “push and pull factors” yang mempengaruhi keputusan tersebut.
    Memang, mungkin ada yang mengatakan bahwa ada faktor genetika yang ‘mengarahkan’ kecenderungan kepada homoseksualitas, namun saya belum terlalu yakin jika semua (SEMUA) teman2 gay dan lesbian memiliki gen homo yang dimaksud (analogi sederhananya: setiap manusia memiliki mata, tentu setiap mereka memiliki gen yang ‘membentuk’ mata). If I may ask you, apakah penulis (maaf, jika gay) telah memeriksakan DNA dan menemukan bahwa anda memiliki ‘gay gene’ yang secara signifikan membuat anda memiliki kecenderungan orientasi homoseksual? Dan bagi yang hetero, apakah juga memiliki ‘straight gene’ yang membuat anda memiliki kecenderungan (seksualitas) kepada lawan jenis? Sudahkan anda2 memeriksakan DNA anda dan menemukan gen2 yang dimaksud?
    Selama belum ada hasil resmi (ilmiah) yang berbicara tentang gen2 tersebut dan menunjukkan kepastian (sepenuhnya!!) bahwa yang menentukan orientasi seksualitas seseorang adalah genetik, saya (menurut saya lho!!) berpendapat bahwa orientasi adalah pilihan hidup (PILIHAN HIDUP) dan hal tersebut adalah hak. Mengenai anda ingin semua orang tahu atau merayakan ‘kemenangan tertentu’ ATAU menyembunyikan untuk diri anda sendiri; itu urusan anda, pilihan anda. Dan setiap ‘pilihan’ tentu mengandung konsekuensi tersendiri, termasuk memilih menjadi hetero atauy homoseksual. Just it!!
    Ohya, mengenai ledakan penduduk yang ‘kata’ penulis adalah akibat ulah kelompok ‘hetero’, saya pernah bertanya kepada para mahasiswa saya di kelas (terutama yang origin-nya Mainland China): Apakah One Child Policy di China bisa diganti dengan menggerakkan ‘homosexual marriage’ mengingat jumlah kelahiran di negara tersebut masih saja tinggi? Dan semua mahasiswa saya menjawab NO 🙂 haha…guys, please don’t count this, it’s just an intermezzo 😉
    Finally, saya mengerti (mungkin) tulisan di atas tidak dimaksudkan untuk ‘men-judge’ kelompok yang berseberangan, (mungkin saja) melainkan sebagai ungkapan pemikiran yang selama ini dimiliki penulis dan perlu dicurahkan. Namun, mungkin (dan tentu saja) juga tidak semua apa yang diungkapkan penulis bisa diterima oleh orang lain… yah wajar lah namanya juga manusia, punya ukuran masing-masing dalam menilai sesuatu. Dimaklumi saja lah… dan perlu juga dimaklumi jika ada yang men-debat atau men-arguing pendapat penulis dari perspektif yang berbeda.
    Yah…saya cuma mau nulis itu saja. Thanks dan enjoy your days!!

  • wah wah ribut semuanya tohh,,saya cukup dengerin aja santai Mass

  • Gelas Kosong

    Gay ni keluar dari rahim kan ya? *nanya*

    • Bernadeta dian

      ahahah….dari mana ya?

  • lala

    tulisan yang jijay membahanay baday

  • hensan

    kenapa ya image nya lgbt itu yg dipikir cuma masalah kawin sama sejenis? saya pernah tau kok pasangan homo yang tidak saling menyentuh. mereka saling membantu satu sama lain, saling membangun hal2 positif, samalah kyk org lain, bedanya mereka lebih prefer pasangan hidupnya cewe.

    apa org2 yg straight itu klo punya pasangan, yang dipikirkan cuma kawin aja??

  • Bernadeta dian

    Ahahah… Perang terus lah tiap malam 😀

  • Genduk

    gw pengen tepuk tangan bacanya. my 5 minute well spent. good job!

  • Panggah Muhammad Ridwan

    Intinya itu kelainan bisa disembuhkan, asalkan ada kesadaran, bukan malah dibiarkan. Apa jadinya sang anak kalau tau orangtua mereka itu gay atau lesbi. Jumlah laki dan perempuan itu 1:6, jadinya nggak ada alasan untuk tidak menjalin hubungan dengan perempuan. Toh juga laki laki dan perempuan itu diciptakan agar bisa saling melengkapi.

  • Udah cukup banyak teman saya lancarnya mengucapkan “Ah, Ih. Eh. dia homo. ntar kamu dideketin lagi. Jauh-jauhlah.” Salah satu bukti penakutnya orang indon. Takut dipengaruhi. Takut terkena sesuatu yang sangat mustahil menular kalau saya katakan. Merasa dirinya dibawah tekanan untuk gampang ikut-ikutan. Walaupun pikiran tersebut merupakan salah satu insting manusia untuk menghindari sesuatu yang dapat “merugikan” dirinya.

    Sebenarnya ini hanya masalah keyakinan diri masing-masing. Kalau anda yakin anda masih lurus anda pasti takkan mencoba jadi gay. Dan atas prinsip tersebut harusnya manusia indon sadar kalu hal tersebut tidak memberikan hak untuk merendahkan kaum LGBT.

    Dan saya 100% straight.

No more articles