Stereotip aktivis itu penuh keringat dan daki, ngotot mau menang sendiri, selalu kekurangan uang, senantiasa bersedih, dan sejumlah hal lain yang mendekati hal itu, mestinya segera dibuang jauh. Dunia aktivis bisa kebalikan dari itu semua: wangi, necis, berdompet tebal, dan berhahahihi dengan kaum selebritas. Mojok Institute menggolongkan mereka yang serba ‘wah’ itu sebagai aktivis anti-mainstream. Setidaknya mereka dibagi menjadi lima golongan.

1. Aktivis Pramuka

Maksud aktivis Pramuka ini bukan aktivis yang memakai seragam coklat Praja Muda Karana itu. Melainkan diambil dari salah satu lagu Pramuka yang terkenal, yang dinyanyikan dari mulai golongan Siaga sampai Pandega: Di sini senang, di sana senang. Maksudnya, aktivis jenis ini adalah aktivis yang gaul. Bisa diterima semua kelompok, mau yang kiri mentok sampai kanan pol. Mulai dari yang minum lapen sampai minum wine. Mau ngumpul di sevel oke, di kafe mahal juga oye. Mereka ada di mana-mana asal di tengah situasi yang menggembirakan.

Di sini senang, di sana senang.

2. Aktivis Adalah

Aktivis jenis ini adalah aktivis yang menyembunyikan identitas sesungguhnya. Banyak orang tidak tahu di mana mereka tinggal, dari mana mendapat uang, dan pekerjaan sesungguhnya apa. Mobil mereka gonta-ganti, sering berada di berbagai kota, jam terbang tinggi.

Kalau ditanya, mereka bisnis apa, jawaban mereka selalu: “Adalah pokoknya…” atau “Adalah yang penting cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga…” atau “Adalah asal ada yang bisa disisihkan untuk organisasi…”. Begitulah yang sering terjadi, maka memang mereka layak disebut ‘Aktivis Adalah’.

3. Aktivis Impor

Aktivis impor ini maksudnya sekelompok aktivis Indonesia yang kerja atau tinggal atau kuliah di luar negeri. Biasanya aktivis model begini ini galaknya minta ampun. Semua yang terjadi di Indonesia salah, jelek, buruk, hancur, seakan tanpa masa depan. Mereka juga menganggap semua aktivis yang tinggal di Indonesia kalau tidak brengsek ya penakut, kalau tidak ya bodoh.

BACA JUGA:  Panduan Mudah untuk Menjatuhkan Jokowi

Ketika pulang ke Indonesia, mereka selalu membanding-bandingkan dengan negeri tempat tinggal sementara mereka yang aduhai, tertib, bersih, beradab, dan demokratis. Mereka menghujat semua hal yang terjadi di Indonesia lewat hape atau laptop sambil makan donat.

4. Aktivis Palugada

Palugada adalah akronim dari ‘apa lu mau, gua ada’, aktivis bergerak berdasarkan orderan isu. Kalau hari ini ada yang ngorder nyikat KPK, mereka akan dengan keras mengkritik KPK. Kalau besok dapat orderan sebaliknya, mereka segera berbalik membela KPK. Kalau dapat orderan menjelekkan Jokowi mereka akan melakukannya. Kalau orderan datang sebaliknya, mereka juga melakukannya. Tinggal soal ‘ketemu di angka berapa’.

Biasanya aktivis model ini punya banyak kartu nama.

5. Aktivis Jempol Perkasa

Ini jenis aktivis yang mengikuti semua isu. Semua hal seakan menjadi beres kalau mereka berkomentar lewat Facebook atau Twitter. Mereka tidak perlu berorganisasi, tidak butuh rapat, tidak mau turun di dunia nyata—mengorganisir, misalnya. Mereka hanya butuh tiga hal: sinyal, pulsa, dan kedua jempol yang makin perkasa.

Begitulah.

Sekarang pertanyaan saya: Anda kalau mau jadi aktivis anti-mainstream, pilih menjadi yang nomor berapa?

  • Abdel Malik

    Nambahin : 6) Aktivis ISIS : Ikut Sana Ikut Sini, yang penting eksis, bisa narsis dan dapet sosis #eh. Aktivis model ini, ikut banyak organisasi tanpa lihat ideologi dan garis politiknya. Dalam semasa dia bisa ikut organisasi radikal, liberal, kanan, kiri, agamis dan atheis sekaligus..

    • Dwi Purwanti

      Bukannya udah tercakup di nomor satu?

      • Abdel Malik

        nomor satu itu cuma kongkow. mereka macam jurnalis. yang bisa masuk ke kalangan pejabat hingga keparat. ke kalangan kiyai, priyayi sampe pengasuh bayi.. kalao nomer enam jadi bagian kelompok mana pun, identitasnya macam bunglon. 😀

  • Komang Armada

    Satu lagi, aktivis Bidara alias bimbang dan ragu. Ceritanya begini : melalui e-mail, suatu kali saya disodori petisi ‘Penolakan Pembangunan Pabrik Semen di Rembang’ buat ditandatangani. Saya, yang berdomisili di Bali dan ngga paham amat tujuan serta dampak baik buruk pembangunan pabrik yang dimaksud, sampai hari ini belum saya tandatangani. Intinya, aktivis jenis ini adalah aktivis yang kurang info, dan akhirnya tidak melakukan apapun.

  • Tambahan : Aktifis Don Juan : Mereka yang berseringai-ria dibibir panggung demonstrasi untuk memutahirkan marwah maskulinitas, berapi-api di depan forum, setelah membuang tetek bengek hajat revolusi di depan massa aksi biasanya mereka langsung konsolidasi dengan mawar-mawar yang tersaring di atas panggung tadi, setelah itu membombardir mereka dengan ke-Aku-an Chairil dengan mencomot puisi-puisian lewat pengalaman empirik coba-gagal-dan-kandas dalam percintaan. Siklus ini terus mereka ulang sebelum mereka menemukan sosok yang pas untuk dibawa kondangan atau dikenalkan kepada ibunda di teras rumahnya depan warung untuk memesan kopi yang lagi hits masakini sekaligus melunasi bon bulan sebelumnya. Setelah beres merudapaksa ketika bunda sedang diajak arisan oleh tetangga sebelah, mahluk jenis ini pun seakan tak punya naluri untuk membereskan seprai yang koyak dihantam tsunami hasrat dadakan yang memorable tersebut. Mukanya polos bak anak SD. Ibunda dengan kasih tiada tara tentu tidak bisa diam melihat lingkungan rumah yang tiba-tiba porak poranda ; makanan penganan, gelas kopi hits masakini yang tadi di pesan, dan kemeja yang mewangi dengan semburat parfum refil dan bercak noda yang tak dapat teridentifikasi kecuali dibawa ke Puslabfor. “Oh, itu tadi bekas kena oli di bengkel, Bun. Montirnya lagi galau sampe ngisi ulang oli muncrat-muncrat.” Ibunda yang tulus tak dapat membiarkan hal aib seperti ini, rumah yang resik adalah representasi iman sebuah keluarga ujarnya. Jadi, dari bangun tidur, pulang demo, memporakporandakan seprai kamar, gelas kotor, piring bau, sampai meminjam dana moneter ke warung depan rumah untuk insentif kopi dan rokok tetaplah menjadi urusan Sang Bunda, atau jika mujur mawar-mawar baru yang terkesiap dapat menjadi pahlawan krisis moneter (nyaris) permanen tipe aktifis donju ini. Sementara perut semakin buncit, karet pengaman selalu menipis, dan senyum ibu warung yang menyimpul bak teror panoptikon akibat ekses menjadi nasabah deposit warung, tipe seperti ini nampaknya susah move on dari zona-basah-nyaman-dan-mengenyangkan.

    • Abdel Malik

      DOn Juan ini, yang punya motto: TOA, Cinta dan hura-hura yaa..

  • Muh. Nur Abdurrahman

    aktivis idealis,… suka bertanya: idealnya berapa, ketika menegosiasikan gerakannya,…

  • Roim sang proletar

    aktivis almamater abadi ” mereka biasa berkumpul di sekertariat sekertariat pergerakan kadang merangkap jadi coac dede dede mahasiswa baru untuk demo walau wajah dah keriput tak pantas disebut mahasiswa soal demo selalu didepan sudah jarang ngampus tampak lusuh dan suram mungkin terlalu berat memikirkan keadaan negara mandi ee makan dihabiskan di sekertariat

    • nggapleki….,, wkwkwkkk….,,

  • Wah, nomor 3 itu lho, Bikin deg-degan

  • Warsono Hadisubroto

    Nomor 5-lah. Modal jempol doang.

  • opq maulana

    Aktivis “Katanya”…aktivis ini berada dibawah naungan LIPI (Lembaga Intrik Pengembangan Isu). Cara berfikir kritis mereka belajar dari acara infotaiment dan produser sinetron indonesia. Ketika hasilnya di kritisi mereka selalu menjawab “Katanya begini…Katanya begitu…Katanya si anu….Katanya…Katanya…Katanya”

No more articles