MOJOK.COKemarin JURU BICARA PRESIDEN RI Fadjroel Rachman membuat twit paling bodoh yang bisa dibikin di tengah situasi banjir Jakarta. Jangan sampai salah tulis ya, JURU BICARA PRESIDEN RI harus kapital semua.

Banjir Jakarta kemarin membuat Indonesia kembali terasa hanya seluas Jakarta. Semua media menulis tentang banjir. Media sosial isinya banjir. Pokoknya banjir, banjir, banjir.

Mungkin efeknya juga terasa ke influencer. Mereka harus bikin konten soal banjir Jakarta. Dan itulah yang dilakukan JURU BICARA PRESIDEN RI Fadjroel Rachman. Ngetwit soal banjir. Tapi twit itu sekarang sudah dihapus, walau saya sebenarnya mau bilang ke dia, “Gunanya apa sih hapus twit kalau fitur skrinsut masih tersedia di hape dan laptop?”

Twit yang menurut saya cuma bisa dilabeli dengan kata “goblok” itu berbunyi begini:

“bahagia itu sederhana… anak-anak berenang di jalan raya…,” disertai video jalanan yang banjir serta anak kecil yang sedang main air. Jika caption-nya pantas disebut luar biasa (bodohnya), video yang menyertainya lebih dahsyat. Video itu direkam dari dalam mobil. Alhamdulillah saya jadi tahu, Fadjroel ini selain jadi jubir dan influencer, ternyata nyambi sebagai bintang iklan Meikarta.

Walau goblok, jujur saja twit Fadjroel Rachman ini membuat saya bahagia. Bayangkan, ketika banjir Jakarta kemarin sudah makan dua korban meninggal, halaman istana kepresidenan sampai tergenang, kantor BMKG pusat yang bertugas memprediksi cuaca bahkan juga kebanjiran, RSCM terendam dan alat-alat radiologinya rusak, jalanan tak bisa diakses, belum lagi kantor, sekolah, dan aktivitas ekonomi terhambat, jubir presiden kita malah sibuk mencari hikmah dari bencana ini huahahaha.

Baca juga:  Tantangan untuk Para Selebtwit: Tinggalkan Twitter, Hijrahlah ke Facebook

Generasi milenial secara ekonomi telah divonis oleh berbagai penelitian hidup penuh tantangan. Saya termasuk di dalamnya, tapi kini lebih optimistis. Kemarin-kemarinnya lagi, sebelum baca twit Fadjroel, saya kira saya ini medioker, terancam bermasa depan suram, akan miskin selamanya. Tapi ternyata tidak. Dan semua itu berkat Fadjroel Rachman.

Saya kini yakin: jika orang seperti Fadjroel Rachman saja bisa jadi jubir presiden, mestinya saya tak perlu jeri bermimpi jadi sekjen PBB.

Inilah kabar berita yang akan saya sampaikan ke orang tua saya nanti ketika mudik besok. Pak, Bu, kesejahteraan sekarang tidak dijanjikan pada pekerjaan PNS atau tentara. Sekarang, Pak, Bu, kalau mau jadi orang sukses bin kaya raya, jalannya harus dirintis dengan jadi influencer.

Lalu saya akan tunjukkan twit Fadjroel Rachman yang sudah dihapus itu, tentu sambil tersenyum berseri-seri.

Saya juga sudah bersiap dengan argumen selanjutnya apabila orang tua saya malah mengerutkan kening dan berkata, “Nak, kamu gila ya. Jubir presiden sampai nulis status seperti ini, pasti sebentar lagi akan dipecat presidennya. Ini blunder.”

Saya tak akan mengoreksi diksi “status” karena maklum, orang tua saya cuma kenal media sosial Facebook. Saya akan tetap fokus dengan pertanyaan mereka dan kemudian menjawab dengan tenang.

“Ya, nggak mungkin dong dia dipecat, Pak, Bu. Presiden kita sangat menghargai influencer lho. Influencer itu artinya artis, tapi di media sosial. Terkenal, banyak temannya. Lha itu Presiden Jokowi, pas bahas negara, bahas reshuffle, yang diajak ketemu ya influencer dan artis, bukan menteri, staf ahli, atau Dewan Pertimbangan Presiden. Bapak kan sebentar lagi pensiun, mbok mainan Twitter aja, Pak. Nanti Bapak bakal tahu, kalau di Twitter itu, yang penting ngetwit dulu, istilah ‘bikin konten’. Yang penting rame dan viral. Kalau salah, twitnya bisa dihapus.”

Baca juga:  Fenomena Askmenfess: Apakah Kita Se-desperate Itu Cari Lawan Bicara?

Saya lalu akan sedikit mendongengi orang tua saya bahwa pemerintah sekarang seperti mengulang Orde Baru, ada Harmoko-nya. Ada orang yang berkeliling menjelaskan maksud presiden, membela kebijakan-kebijakan pemerintah. Tapi Harmoko-nya sekarang banyak, namanya macam-macam, kayak Denny Siregar, Eko Kunthadi, atau Fadjroel Rachman. Mereka bertiga ini ya spesies yang sama, dalam arti sama-sama pernah nyebar hoaks. Denny Siregar, dulu itu nyebar kabar soal ambulans pembawa batu. Eko Kunthadi baru kemarin ini kena OTT (Operasi Tangkap Twithoaks, kalau kata Bilven Sandalista) karena menyebar info hoaks rumah sakit kebanjiran. Padahal sehari sebelumnya Eko habis ngetwit nyalahin KPK sebagai penyebab investor asing nggak mau menanam modal di Indonesia. Ibu sudah tahu omnibus law? Eko tuh cuma mau membela RUU usulan pemerintah itu saja sebenarnya. Harmoko banget ya kan, Pak, Bu?

Saya berharap penjelasan itu cukup. Semoga sejak saat itu, orang tua saya tak lagi menyimpan mimpi anaknya jadi PNS. Masa saat ini memang mengulang Orde Baru, tapi PNS-nya sekarang bukan PNS, melainkan influencer.

Jika rencana saya berhasil, orang yang harus saya beri terima kasih tentu hanya dan hanya satu: JURU BICARA PRESIDEN RI Fadjroel Rachman. Bang, jangan sampai tutup akun ya, follower saya nanti kurang satu.

BACA JUGA 5 Keunggulan Bangsa Indonesia yang Tidak Dimiliki Bangsa Lainnya dan artikel pedas lain di POJOKAN.