MOJOK.CO Gara-gara AADC, saya pernah minta ke Tuhan supaya diberi satu lagi Nicholas Saputra. Doa itu berubah ketika saya menonton Rano Karno di film lawas Gita Cinta dari SMA.

Saya menyesal baru akhir-akhir ini menonton film lawas Indonesia seperti Gita Cinta dari SMA. Jika saya menontonnya lebih dulu dari AADC, saya jelas akan berpikir bukan Nicholas Saputra satu-satunya cowok yang pantas digilai.

AADC (2002) memang film remaja Indonesia paling berkesan yang pernah saya tonton, walau nontonnya juga telat banget. Baru tahun 2013 saya menyaksikan lengkap film itu. Dan ya… seperti banyak perempuan lain, saya pusing banget nonton film ini. Pusing mikirin gimana caranya biar bisa seberuntung Cinta.

Karena sebab-sebab yang kurang jelas, pekan ini saya nyasar di YouTube yang berakhir dengan menonton rekaman Gita Cinta dari SMA (1979) berkualitas buruk. Karena saya tak menemukannya di kanal streaming legal, film berkualitas 240 progressive itu yang saya tonton sampai tamat. Hasilnya, hati saya remuk redam, selama seminggu penuh saya jadi kecanduan nonton film Indonesia lawas, tapi yang terutama: saya tiba-tiba jatuh cinta kepada Rano Karno. Hal yang bahkan tak terjadi ketika menyaksikan serial Rano paling legendaris, Si Doel Anak Sekolahan (Agus Mulyadi pernah menjelaskan mengapa Rano Karno di sinetron ini tak pantas dicintai).

Ya, cinta saya untuk Nicholas Saputra akhirnya terbelah. Terbelah karena aktor utama film remaja lain yang kini usianya sudah bangkotan.

Menonton Gita Cinta dari SMA juga membuat saya menyadari hal lain yang agak mengerikan. Tampak-tampaknya, ADDC mencuri banyak sekali dari Gita Cinta dari SMA.

***

Kita memang masih bisa maklum jika kisah cinta di dua film itu sama-sama melibatkan remaja SMA alih-alih anak STM, misalnya. Ya bagaimana, kalau latarnya STM, tentu yang dibikin Rangga bukan puisi melainkan senjata tawuran, mading Cinta bukan memuat puisi melainkan tips membersihkan karburator, dan acara perpisahan Galih dan Ratna bukan menampilkan tari-tarian melainkan pameran otomotif. Film cinta remaja berlatar seragam putih abu-abu toh nauzubillah banyaknya.

Masalahnya, kesamaan demi kesamaan tak berhenti di situ.

Ada Apa dengan Cinta? dibuka dengan pengumuman lomba penulisan puisi di SMA Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo). Cinta, alpha female pemimpin ekskul yang digadang-gadang jadi pemenangnya, terpaksa tersenyum kecut karena pemenang tahun ini justru seorang siswa bernama Rangga. Oya, sepanjang film kita tahunya nama Rangga ini Rangga doang karena ini sekolah aneh. Habis kepala sekolah kok ngumumin pemenang lomba nggak nyebut nama lengkap, rasanya sepanjang saya sekolah tidak pernah seperti itu deh. Tapi skip lah. Yang jelas, sejak bagian ini kita udah dibikin penasaran siapa Rangga ini karena ia tak hadir di upacara tersebut untuk menerima hadiah. Ya, Ini juga aneh sih. Di sekolah saya mana ada guru BK yang membiarkan muridnya absen upacara.

Dasarnya alpha female, Cinta menggunakan privilesenya sebagai pers sekolah untuk mendapatkan naskah puisi Rangga. Itulah puisi dengan kata-kata pecahkan saja gelasnya biar ramai itu. Puisi itu membuat Cinta keranjingan. Ia membacanya di mana pun dan kapan pun. Seolah-olah itu teka-teki Zodiac saja.

Dari puisi, Cinta mulai mencari siapa Rangga ini. Ia lalu menemuinya untuk minta diajarin nulis wawancara buat mading. Di sini konflik dimulai karena ternyata Rangga songong abis. Misalnya, dia nggak mau diwawancarai karena nggak merasa memenangkan lomba. Lho kok? Soalnya bukan dia sendiri yang yang ngirim puisinya ke lomba, melainkan OB sekolah bernama Pak Wardiman yang jadi satu-satunya sohib Rangga di sekolah. Yah, sejujurnya alasan tersebut tidak bisa saya terima, tapi mudah memaafkannya karena Rangga ternyata gantengnya keterlaluan.

Obrolan tersebut berakhir dengan pertengkaran Cinta dan Rangga. Tapi Cinta belum puas, ia masih ingin ngamuk-ngamuk. Maka ia mengirim surat berisi, mungkin, caci maki atau apalah ke Rangga. Begitu surat itu dibaca Rangga, gantian Rangga yang ngamuk dan mencarinya ke basecamp anak mading. Lanjutan pertengkaran ini diselingi buku Rangga terjatuh.

Baca juga:  Angkat Gelasmu Kawan, Mari Kita Rayakan Hari Berpisah dengan Cita-Cita Nasional

Ini buku yang selalu Rangga bawa di mana pun dan kapan pun. Bukan, itu bukan buku berisi teka-teki Zodiac. Buku itu berjudul Aku, biografi penyair Chairil Anwar yang ditulis sutradara Sjuman Djaya (saya pusing kenapa namanya “Djaya” bukan “Djaja”).

Cinta diam-diam mengambil buku tersebut. Sejak itu, membacainya di mana pun dan kapan pun sebelum memutuskan mengembalikannya kepada Rangga. Kembalinya buku Aku menjadi momen perdamaian keduanya. Rangga sangat berterima kasih sehingga sikapnya ke Cinta berubah 180 derajat. Mereka kemudian janjian ke toko buku loak selepas pulang sekolah.

Kencan itu mestinya berjalan manis. Masalahnya, Cinta tiba-tiba ingat ia punya janji nonton konser Pas Band di jam yang sama. Ia buru-buru cabut dari toko buku, membuat Rangga yang sepertinya punya problem pengendalian emosi kesal dan berkata kasar. Alhasil, Cinta pergi dalam keadaan keki berat. Tapi Rangga memang asu, bukannya minta maaf, dia malah diam saja. “Kau perhatiin ya, kalau sampai dia menengok kemari, itu berarti dia mengharap kau mengejarnya,” kata Limbong (Gito Rollies) yang mendesak Rangga mengejar Cinta tapi nggak ngefek.

Besoknya, di sekolah, barulah Rangga menyamper Cinta untuk minta maaf (ini momen “Salah gue? Salah temen-temen gue?” itu). Obrolan keduanya dipantau oleh Borne, lelaki berbakat mafia yang sedang berusaha menggebet Cinta. Borne yang tak suka melihat kedekatan Cinta dan Rangga (padahal isinya berantem doang), mengirim anak buah untuk menghajar Rangga.

Dari sin jalan cerita bisa dipercepat. Rangga nggak masuk sekolah beberapa hari karena mukanya bonyok. Cinta nyariin. Cinta nanya ke Pak Wardiman. Cinta nyamper ke rumah Rangga. Mereka baikan. Mereka main masak-masakan sambil dengerin lagu. Cinta suka sama lagunya. Rangga ngajak Cinta nonton live music penyanyi lagu itu. Mereka ke kafe. Setelah penyanyinya kelar, Cinta ditodong nyanyi. Bukannya nyanyi, Cinta malah bawain musikalisasi puisi Rangga yang menang. Rangga kayak, wow, ge-er nih gua. Mereka pulang. Rangga nendang pohon biar Cinta kena air yang jatuh. Saya senyam-senyum nggak jelas nonton adegan romantis itu. Mereka sampai depan rumah Cinta. Cinta kasih kode minta dicium. Rangga deketin mulut tapi malah nggak jadi nyium. Cinta masuk rumah. Ternyata Alya masuk rumah sakit gara-gara nggak ditemenin Cinta yang milih ngebucin. Cinta dikucilkan teman-temannya. Cinta nyalahin hubungannya sama Rangga. Cinta menjauhi Rangga. Rangga kesal karena Cinta nggak rasional. Cinta akhirnya tahu anak buah Borne yang mukulin Rangga. Cinta jadi lesu dan muram karena nggak bisa ngebucin lagi. Teman-teman Cinta menginterogasi. Cinta nangis lalu ngaku sayang Rangga. Mereka nyari Rangga. Kata Pak Wardiman Rangga pindah sekolah ke New York. Cinta lari-lari di bandara. Rangga ngasih puisi. Film ditutup janji Rangga mau nyamper Cinta setelah satu purnama yang pada akhirnya kita tahu itu bullshit.

Entah kebetulan apa gimana, Gita Cinta dari SMA mengisahkan kedatangan anak baru di sekolah Galih bernama Ratna Sumirat Sastrowardoyo (Yessy Gusman) (alhamdulillah dikasih tahu nama lengkapnya). Ratna ini seorang cewek yang sadar dirinya cakep. Preteks inilah yang membuat Ratna, sejak hari pertama sekolah, terheran-heran kenapa ada satu cowok bernama Galih Rakasiwi (Rano Karno) yang cuek banget kepadanya. Ratna tuh kayak, hellaw, Galih, lo nggak liat cowok-cowok lain rebutan buat kenalan sama gua?

Sekilas tentang Galih. Ia siswa dari kelas ekonomi biasa, bisa dilihat dari kendaraannya ke sekolah cuma sepeda sementara anak lain pakai vespa dan mobil, juga di rumah ia masih nimba dari sumur. Tapi Galih adalah anak singkong, eh, pintar. Ia berprestasi secara akademis, pun punya sederet modal dasar buat jadi anak populer seangkatan, seperti suka main basket, bisa gitaran, serta pandai penyanyi.

Baca juga:  Love for Sale

Galih yang ganteng dan cuek bikin Nana, panggilan Ratna, penasaran. Nana jadi ngeliatin Galih mulu. Hal itu diperhatikan Erlin, teman sebangku Nana. Erlin lalu berinisiatif bikin Galih dan Nana ngobrol. Tapi Nana punya jurus tersendiri buat deketan sama Galih. Ia meminjam buku catatan Galih dengan dalih mau nyatet pelajaran. Di buku itu, Nana membaca puisi buatan Galih yang bikin hatinya makin lumer.

Makin hari Nana dan Galih makin dekat walau kegiatan PDKT cuma berkisar di Nana nebeng pulang.

Suatu malam, sekolah mengadakan acara pertunjukan kesenian yang teramat meriah. Nana lalu diantar pulang oleh Galih. Tapi saat akan kembali ke rumah, di jalan Galih dipukuli orang suruhan teman sekolah mereka bernama Christian. Rupanya Christian tidak suka Galih dekat Nana.

Insiden tersebut tak berefek pada hubungan mereka. Bahkan, dalam suatu pesta anak-anak kelas Nana dan Galih, keduanya diresmikan sebagai pasangan oleh teman-teman mereka. Di acara itu Nana ditodong mengisi pertunjukan. Nana memilih membaca puisi dan itu puisi Galih yang sudah ia hafal. Sontak Galih kayak, wow, ge-er nih abdi (kan Galih orang Sunda).

Kegiatan demi kegiatan membuat hubungan Galih dan Ratna semakin mesra. Sayangnya, bapak Ratna nggak setuju. Menurut teori ibunya Nana, itu karena bapak Ratna yang orang Jawa pernah trauma sama cewek Sunda. Sejak itu bapak Ratna jadi rasis dan ogah anaknya pacarana sama orang Sunda.

Hubungan Ratna dan Galih yang makin dekat membuat bapak Ratna turun tangan. Ia melarang Ratna sekolah jika Galih tidak mengirim surat putus. Erlin dan Mimi, teman sekelas yang part time sebagai mak comblang mereka, menyuruh Galih mengirim surat pura-pura. Ratna lalu diizinkan sekolah lagi. Tapi bapak Ratna pintar juga, ia meminta direktur sekolah (kepala sekolah? Entahlah) memindahan Galih ke kelas lain.

Kini Galih dan Ratna tahu cinta mereka tak mungkin berlanjut. Sebab, kelulusan sebentar lagi dan Ratna sudah dipastikan akan disuruh kuliah di UGM. Bapak Ratna juga sudah menjodohkan anaknya ini dengan seorang mahasiswa Kedokteran UGM.

Keputusan demi keputusan ortu bangke itu membuat perpisahan sekolah jadi momen menyedihkan. Ratna dan Galih memang diumumkan sebagai siswa dengan nilai ujian tertinggi. Tapi selepas ini mereka tak bisa lagi bersama. Ini juga bagian yang bikin saya ngambilik tisu mulu. Terutama ketika Galih diminta maju untuk menghibur penonton (soalnya sekolah tahu Galih berbakat menyanyi). Galih lalu menyanyikan lagu ciptaannya berjudul “Gita Cinta dari SMA” yang ya Allah kok sedih betul….

Puncak perpisahan Galih dan Ratna terjadi pada malam menjelang keberangkatan Nana ke Jogja. Keduanya bertemu di belakang rumah Nana, menghabiskan malam hingga subuh dengan saling bercerita. Walau sadar nggak akan bisa bersatu, keduanya berjanji bahwa “cinta mereka tetap utuh”.

***

Berbagai kesamaan di Gita Cinta dan AADC begitu mencolok mata. Puisi, misalnya, jadi elemen penting penyatuan hati. Jika Cinta membawakan puisi Rangga di kafe, Ratna membacakannya di depan teman-teman mereka. Jika Cinta menyanyikan puisi Rangga dengan suaranya sendiri, Galih juga melantunkan “Gita Cinta dari SMA”. Sayang, tak ada rekaman di YouTube khusus bagian Rano Karno bernyanyi itu, padahal menurut saya itulah bagian yang sediiih banget.

Baik AADC dan Gita Cinta dari SMA, keduanya sama-sama berporos pada perempuan agresif dan laki-laki dingin yang bikin penasaran, walau diam-diam mereka demen juga. Si gadis pun sama-sama digambarkan jadi bintang sekolah yang dikejar-kejar pria lain. Akibatnya, tokoh pria harus dipukulin orang ketiga dulu buat menerbitkan simpati penonton.

Di sekeliling para tokoh perempuan pun selalu ada teman-teman yang jadi support system. Yah, walau di AADC konfliknya juga gara-gara teman sehingga Cinta sempat nggak bisa bersatu dengan Rangga. Sementara Ratna dibantu oleh Erlin dan Mimi agar bisa berjumpa dengan Galih.

Kisah dua pasang kekasih yang tak bisa bersama tersebut dibalut dengan lagu-lagu yang enak. Bahkan ketika saya belum menonton AADC, soundtrack-nya yang dibikinkan Melly Goeslaw sudah jadi tembang kesayangan. Di Gita Cinta, lagu “Galih dan ratna” tentu sudah jadi lagu abadi, walau saya ngerasanya sih lagu “Gita Cinta” lebih bagus gara-gara faktor Rano Karno nyanyi tadi.

Baca juga:  Tips Lapor SPT Pajak Tahunan Online Anti Ribet Ribet Club

Kedua film ini emang memberi porsi musik yang lumayan dan kemudian jadi ikon sendiri. Di AADC berupa pertunjukan Pas Band dan lagu-lagu Melly di AADC. Di Gita Cinta berupa dua kali pertunjukan Swara Mahardhika-nya Guruh Soekarnoputra dan lagu-lagu Chrisye.

Kesamaan terakhir adalah perkara ciuman. Saya sempat sangat kesal karena sampai akhir Galih dan Ratna selalu gagal ciuman. Terakhir, Galih ngasih telunjuk ke bibir Ratna hadeeeh. Dan kalau kamu ingat, naruh telunjuk di bibir ini juga keluar di AADC tho. Bedanya, setelah percobaan yang gagal, AADC tetap ngasih ciuman panas Nicholas Saputra dan Dian Sastro, yang bikin remaja 2000-an merinding di bioskop itu.

Kesamaan demi kesamaan itulah yang membuat saya berani bilang di awal tadi, tampaknya AADC mencuri banyak hal dari Gita Cinta. Bahkan tepat sehabis menonton Gita Cinta, saya sempat khilaf memvonis AADC sekadar epigon.

Tapi rupanya tidak juga, pikir saya usai menonton ulang AADC. Garis besarnya emang sama, printilan di sana-sini persis, tapi keduanya tetap berbeda. Bagaimanapun, masing-masing film itu membingkai semangat zamannya (buset dah) masing-masing. Dan mereka sukses lho. Menurut saya sih, kalau ada daftar film cinta remaja terbaik Indonesia sepanjang masa, ya mereka aja yang rebutan di posisi satu dan dua.

Tengok deh konflik utama di kedua film tersebut. Dalam Gita Cinta, problem cinta ya khas masanya: terhalang kehendak absolut orang tua, problem sukuisme, maupun derajat sosial. Problemnya tuh eksternal gitu. Sedangkan di AADC, analisisnya bukan threat (dari luar), tapi weakness (dari dalam) (anak SWOT banget nih). Itu kayak Cinta yang gengsi bilang ke teman-temannya (kelompok populer, mainstream) bahwa ia jatuh cinta sama anak indie pemurung. Kalau aja Cinta orangnya nggak neko-neko, dijamin AADC nggak bakal ada konfliknya.

Dari sego penokohan, karena saya fokusnya ke tokoh cowok, saya juga ngerasa Galih dan Rangga itu beda banget. Galih itu anak baik yang PPKn banget. Pintar, rajin salat, suka membantu orang tua, nggak neko-neko, jago olahraga, dan bisa bermusik. Segala dari Galih membuat kita simpati. Dan simpati itu bertambah-tambah ketika kisah cintanya berakhir tragis. Duh, Galih, sini nangis di dada saya aja….

Rangga, di lain pihak, jelas nggak bisa disamain dengan Galih. Dia nyebelin, SJW, blak-blakan, get iritated easily, nggak suka bersosialisasi, dan udah punya kesadaran politis. Tapi justru itu yang bikin penonton tergila-gila. Menurut survei yang saya bikin sendiri, cowok ganteng kalau misterius itu level gantengnya naik 3467348 persen.

Dua pribadi berbeda itulah yang sekarang bikin saya termehek-mehek. Udah seminggu sejak saya nonton Gita Cinta dari SMA, tapi sensasi patah hatinya Galih (dan Ratna, dikit) masih aja kerasa. Dulu saya kira saya cuma bisa jatuh cinta sama satu aktor Indonesia, yaitu Nicholas Saputra. Selepas menonton akting Rano Karno di Galih dan Ratna, cinta itu mendua. Saya kira saya jatuh cinta sama Rano Karno.

Gara-gara itu seminggu terakhir, tiap malam saya menonton film-film Rano Karno yang sebelumnya tak pernah saya pedulikan. Benar-benar tiap malam. Menangis bersama Doel yang meratap di depan jualannya yang dirusak Sapi’i dalam Si Doel Anak Betawi. Bersama Marlina yang dengan besar hati merelakan Galih kembali kepada Ratna dalam Puspa Indah Taman Hati, lanjutan dari Gita Cinta.

Aneh memang, cinta bisa dimulai dari nangis bareng.

BACA JUGA Kenapa Si Doel Bisa Diperebutkan Cewek-cewek Cakep Padahal Dia Nggak Ganteng-ganteng Amat? dan esai Prima Sulistya lainnya.