MOJOK.CONggak ganteng tapi bisa cewek klepek-klepek dan mengejar-ngejar dia. Apa sih rahasia Si Doel di sinetron Si Doel Anak Sekolahan itu?

Sejak lama saya menganggap bahwa sosok Si Doel adalah sosok yang nggak ganteng. Kalaupun memaksa untuk disebut ganteng, levelnya sekadar ganteng rendahan. Bukan ganteng yang istimewa. Setidaknya bukan jenis ganteng yang sampai membuatnya diperebutkan oleh dua perempuan yang sama-sama punya kecantikan luar biasa.

Pertanyaan “Kok bisa ya Si Doel yang wajahnya nggak ganteng itu bisa jadi rebutan cewek-cewek?” hampir selalu bersemayam dalam pikiran saya tiap kali saya menonton serial Si Doel Anak Sekolahan.

Ketidakgantengan Doel itu terus membikin saya gelisah dalam waktu yang cukup lama. Kelak, melalui media sosial, saya dibikin girang setengah mampus karena mengetahui bahwa ternyata kegelisahan yang saya rasakan tentang sosok Doel itu ternyata juga dirasakan oleh banyak orang.

Di Twitter, saya mencatat ada banyak sekali komentar yang mempermasalahkan ketidakgantengan Si Doel. Cobalah tulis di kotak pencarian Twiter “Si Doel ganteng”, niscaya kalian akan menemukan apa yang saya maksud.

“Si Doel perasaan nggak ganteng banget, pinter banget juga nggak. Kalau diajak ngobrol juga merengut terus. Kok bisa digilai cewek-cewek? Si Jenab ampe sakit, Sarah pernah nangis. Ckckck,” begitu komentar kawan saya di akun Twitter miliknya @fayarboutz.

Komentar dari sudut pandang perempuan yang sudah beristri pun banyak yang senada. “Pillow talk sama suami malam ini disponsori oleh Si Doel. Mikir keras kenapa orang kayak Doel bisa direbutin dua cewek cantik. Padahal ganteng banget juga nggak, kerja serabutan, jadi laki juga nggak ada teges-tegesnya, dieemmm mulu, nggak peka pula,” tulis pemilik akun @aikusumaningrum.

Komentar dari penulis kesohor Ika Natassa soal sosok Doel pun juga demikian. “Ini si Doel ya sampe umur segini masih kerja mocok-mocok, plintat plintut, ganteng banget juga nggak, direbutin dua perempuan luar biasa sampai bertahun-tahun.”

Baca juga:  Bermusuhan dengan Ideal Seperti Mandra dan Mas Karyo

Untuk meyakinkan kegelisahan saya, saya mencoba membikin sebuah polling sederhana tentang wajah lelaki bernama asli Kasdoellah itu.

Polling singkat tersebut berhasil menjaring 787 responden yang memberikan pendapat mereka tentang kategori wajah Doel. Hasil polling tersebut semakin membikin saya girang sebab banyak orang punya pendapat yang sama dengan saya.

Dari 787 responden itu, sekitar 60 persen menjawab bahwa wajah Si Doel biasa saja. 20,8 persen menjawab cenderung jelek. 16 persen menjawab ganteng. Dan hanya 3,2 persen yang menjawab ganteng banget.

Suara mayoritas yang jumlahnya 60 persen itu saya pikir sudah cukup untuk memberikan gambaran yang objektif bahwa Si Doel memang nggak ganteng.

“Si Doel itu ganteng pada masanya,” begitu jawaban yang hampir selalu mampir untuk meng-counter argumen ketidakgantengan Doel.

Jawaban tersebut bisa jadi benar. Namun kalau melihat titi mangsanya, jawaban itu sebenarnya debatable juga. Mari kita coba pakai parameter Si Doel Anak Sekolahan musim 4, musim yang kerap disebut sebagai puncak konflik batin antara Doel, Sarah, dan Zaenab.

Musim 4 ini tayang tahun 1998. Nah, di tahun-tahun itu, banyak sekali sinetron dengan aktor utama yang menurut pandangan subjektif saya kegantengannya punya level di atas Si Doel. Ada Ari Wibowo dengan Tersanjung, Primus Yustisio dengan Panji Manusia Milenium, Jeremy Thomas dengan Dewi Fortuna, atau Anjasmara dengan Romi dan Yuli.

Rano Karno pemeran Doel sebenarnya bisa disebut ganteng, tapi tidak di masa itu. Rano Karno itu gantengnya tahun ’80-an, bukan ’90-an, apalagi ’90-an akhir. Di masa itu, usianya sudah hampir 40 tahun. Sudah mulai menua. Sudah nggak ganteng.

Nah, dengan fakta itu, lantas kenapa Si Doel bisa diperebutkan oleh dua cewek cakep idaman sekaligus?

Baca juga:  Cukup Cintamu Saja yang Palsu, Ijazah Mah Jangan!

Bekerja sama dengan lembaga Mojok Institute, saya berhasil mengurai 3 sebab kenapa Si Doel diperebutkan oleh dua perempuan cantik walau dirinya nggak ganteng. Apa saja? Ini dia.

Berpendidikan

Sebagai seorang pemuda, Si Doel adalah sosok yang langka. Dalam serialnya itu, Si Doel digambarkan sebagai satu dari sangat sedikit sekali pemuda desa di Betawi yang berhasil menjadi seorang sarjana.

Hal ini tentu menjadi sebuah keistimewaan dan kelangkaan tersendiri. Dan sesuatu yang langka serta istimewa, selalu layak untuk dikejar dan diperebutkan.

Selain itu, ia juga kalem, tidak banyak omong. Di lingkungan pergaulan Betawi yang nyablak dan blak-blakan, orang yang tak banyak omong seperti Si Doel memang memancing rasa penasaran.

Tak heran jika ia dikejar-kejar walau level kegantengannya agak kurang.

Berada di lingkungan yang tepat

Si Doel memang nggak ganteng. Namun di lingkungannya, banyak orang-orang yang jauh lebih nggak ganteng. Lha bayangkan, untuk bersaing mendapatkan Sarah, satu-satunya saingan yang harus ia kalahkan hanyalah Roy (Djoni Irawan). Dan kita semua tahu, senecis dan sekaya apa pun Roy, ia tentu saja masih kalah good looking kalau dibandingin sama Doel.

Di level kampung dalam kontestasinya merebut Zaenab pun demikian. Kalau diperhatikan, di kampungnya Si Doel, hampir nggak ada pemuda yang jauh lebih mendingan tampangnya ketimbang Doel. Saingan Si Doel dalam mendapatkan Zaenab pun hanya Jaja (Jaja Miharja) dan Koh Ahong (Salman Alfarizi).

Mau sejelek apa pun Doel, secara tampilan, ia masih lebih meyakinkan dan lebih mendingan ketimbang Jaja atau Ahong.

Dalam posisi inilah Si Doel berhasil menerapkan ilmu perbandingan: “Kalau kamu ingin tampak ganteng, berkumpullah dengan orang-orang yang lebih jelek dari kamu.”

Rajin sembahyang dan mengaji

Kalau yang ini tak bisa dibahas. Ini murni urusan antara Si Doel dengan Tuhan.