Tragedi Listrik Keluarga yang Tak Pernah Saya Duga

listrik

Bapak saya adalah lelaki yang punya banyak ketertarikan, namun sayangnya, sekolah bukanlah salah satunya. Bapak saya sejak lama memang tak punya bakat untuk sekolah. Itulah kenapa, bapak tak pernah lulus SMP. Ia DO saat masih kelas 2.

Kendati demikian, bapak saya punya rasa cinta yang sungguh besar terhadap mata pelajaran elektronika. Oleh sebab itulah, kendati banyak nilai mata pelajaran sekolahnya yang tercatat merah berani di raport, namun khusus untuk pelajaran elektro, bapak tergolong cerdas.

Kecintaan bapak pada dunia listrik membuat dirinya tumbuh menjadi seorang kepala rumah tangga yang bisa diandalkan dalam urusan instalasi listrik. Bahkan, bukan hanya instalasi, untuk membetulkan radio, televisi, kipas angin, dan perangkat elektronik lainnya, asalkan kerusakannya bukan kerusakan mayor, bapak masih sanggup.

Lika-liku kehidupan kelistrikan inilah yang kemudian memunculkan banyak cerita lucu tentang listrik dalam keluarga saya.

Salah satu yang saya ingat betul adalah ketika bapak saya kesetrum baju. Ya, tersetrum baju.

Saya masih ingat dengan teriakannya kala itu.

“Bajangkreeeek!” umpat bapak dari arah dapur dekat kamar mandi.

Saya, demi mendengar teriakan umpatan yang sangat melodius tersebut tak urung langsung merangsek ke dapur dan menanyakan apa yang terjadi.

“Aku kesetrum baju, Gus!” jelasnya.

Saya tentu saja ngakak. Kesetrum kok baju, bagaimana bisa?

Bapak yang merasa diremehkan oleh tawa saya kemudian menjelaskan bahwa dirinya memang kesetrum baju.

Saya tentu saja ngeyel. Bagaimanapun, saya ini anak IPA. Saya tahu, bahan apa saja yang sifatnya menghantarkan listrik alias konduktif dan bahan apa saja yang tidak. Dan sepanjang penalaran saya, baju atau kain bukanlah termasuk konduktor yang mampu menghantarkan listrik yang baik.

“Kalau nggak percaya, ini pegang sendiri,” tantang bapak pada saya seraya menunjukkan satu stel baju hansip yang tergantung di gantungan dekat kamar mandi.

Saya pun tanpa ragu langsung menyentuh baju berwarna hijau tersebut. Dan….

“Asuuuuuuuuu!” umpat saya.

Ternyata benar apa kata bapak. Baju tersebut memang nyetrum. Kali ini, giliran bapak yang meledak tawanya.

“Modiaaaaar kowe, dibilangin orang tua ngeyel.”

Usut punya usut, ternyata baju hansip tersebut memang dalam keadaan basah, ia digantung menggunakan hanger yang terbuat dari besi, dan hanger tersebut digantung di ujung dudukan lampu, sehingga bagian besinya menyentuh bagian aluminium lampu dan ikut teraliri listrik.

Kejadian lain yang susah untuk saya lupakan tentu saja kejadian saat saya kecil, minggu pagi, saat saya menonton Dragon Ball.

Sudah menjadi kebiasaan bagi anak kecil tiap minggu pagi hingga tengah hari untuk selalu duduk di depan tivi dan menikmati sajian acara kartun yang memang disiarkan maraton oleh beberapa stasiun televisi.

Saat sedang asyik-asyiknya menonton pertarungan Son Goku, televisi di hadapan saya mendadak mati. Saya cek, ternyata mati listrik. Saya tanya tetangga depan rumah, katanya listrik di rumahnya hidup. Saya pun berkesimpulan bahwa itu bukan mati listrik karena pemadaman dari PLN, melainkan mati listrik karena anjlok. Kebetulan listrik rumah saya jadi satu dengan listrik rumah nenek saya yang memang berada di sebelah persis rumah saya. Jadi sudah biasa kalau listrik kami anjlok alias njeglek karena memang satu akun listrik dipakai dua rumah.

Saya pun langsung keluar dan menuju bagian depan rumah nenek saya untuk mengecek meteran listrik di sana.

Dan benar saja, saklar aliran listriknya memang off. Saya segera menghidupkan kembali saklar aliran di meteran tersebut dan langsung buru-buru berlari untuk menghidupkan kembali televisi dan menonton Son Goku.

Belum juga lima menit saya menonton, bapak saya langsung datang dengan tampang yang penuh aroma membunuh.

“Siapa yang menghidupkan listrik?” tanya Bapak.

“Aku, Pak!” Jawab saya dengan sedikit perasaan takut.

“Kenapa dihidupkan?”

“Lha kan anjlok, aku lagi nonton Dragon Ball. Jadi tak hidupin lagi,” jawab saya.

Bapak tampak muntab. Wajahnye memerah.

“Anjlok gundulmu, itu bukan anjlok. Tapi memang sengaja tak matikan karena aku sedang masang instalasi listrik di dapurnya mbah,” jelasnya. “Gara-gara kamu, bapakmu ini jadi kesetrum, untung ora modar” katanya dengan nada emosional.

Saya hanya diam tak bisa menjawab. Namun dalam hati, saya tertawa. Sebab, saya merasa, saya baru saja melakukan hal yang sangat konyol: menukar keselamatan bapak sendiri dengan tayangan Son Goku.

Exit mobile version