Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Terapi Sujok dan Bias Kelas Rezim Medis Masyarakat Kita

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
14 Agustus 2019
A A
sujok
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Istilah “sujok” mendadak ramai karena seorang ibu memposting sebuah foto jempol tangan dan kaki anaknya yang berwarna biru kayak tinta Pemilu.

Netizen Indonesia baru saja mendapat bahan baku ghibah yang baru. Jika beberapa bulan kemarin kita asyik ribut soal politik, sekarang ada bahan baru berupa pengobatan alternatif berupa sujok. Sebuah terapi dengan memanfaatkan warna untuk meredakan penyakit.

Istilah “sujok” mendadak ramai karena seorang ibu memposting sebuah foto jempol tangan dan kaki anaknya yang berwarna biru kayak tinta Pemilu. Postingannya sendiri memang agak kontroversial, karena diklaim bisa menurunkan panas anak tidak sampai 15 menit.

Terang saja, netizen yang sangat rasional dalam berpikir menghina-hina kepercayaan terapi sujok yang dianggap mampu meredakan penyakit. Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nalar, tentu saja terapi sujok dianggap tak masuk akal dan tak pelak jadi bahan lucu-lucuan. Bahkan komentar-komentar di postingan tersebut ada yang sudah masuk kategori menghina.

Barangkali postingan ini memang tidak komplet menjelaskan soal terapi sujok. Padahal sebenarnya terapi ini secara konsep sudah dikenal lama. Paling tidak National Geographic Indonesia pernah memuat laporan tentang terapi pengobatan memanfaatkan jenis warna.

Pada laporan itu disebutkan kalau terapi warna semacam ini sudah dikenal sejak zaman Mesir kuno. Sebagai bangsa yang punya ketergantungan besar terhadap matahari—sampai disembah—orang Mesir kuno percaya kalau efek warna punya efek fisiologis terhadap tubuh.

Malah disebutkan pula kalau pemikir Islam bernama Avicenna atau Ibnu Sina, pada abad ke-11 memperkenalkan pentingnya warna untuk menggambarkan kondisi tubuh manusia. Penggunaan warna ini juga dipercaya penting untuk menstimulasi aspek fisik dan psikis manusia dalam proses penyembuhan.

Masalahnya, pengobatan alternatif suljok ini memang masih dianggap kontroversial sampai sekarang. Belum ada penelitian medis yang membenarkan apakah terapi sujok benar-benar efisien secara fisiologis. Kalau secara psikologis sih bisa saja—toh pada kenyataannya, ibu-ibu yang posting tadi mengklaim anaknya benar-benar sembuh dari panas.

Akan tetapi, bukan itu sebenarnya yang jadi masalah dari terapi sujok. Masalah terbesar ya ada di kita karena sering meremehkan hal-hal yang belum bisa dipahami oleh sebuah rezim pemikiran. Dalam medis, ya rezim ini namanya rezim medis. Selama tidak bisa dijelaskan oleh medis, maka apapun itu akan dianggap takhayul dan gaib. Meski pada kenyataannya ada juga orang-orang yang bisa disembuhkan dengan cara tersebut—meski ada juga yang tidak.

Sikap ini sebenarnya menunjukkan betapa bias kelasnya kita sebagai masyarakat sosial. Seperti menciptakan fasis-fasis kecil. Kalau nggak sepemikiran ya berarti salah total. Melihat ada terapi sujok lalu diklaim bisa menyembuhkan saja bawaannya pingin ngata-ngatain goblok. Lihat orang antre panjang banget di tempat pengobatan alternatif bilang kalau orang-orang itu belum tercerahkan.

Padahal, keberadaaan pengobatan alternatif tidak melulu buruk. Bahkan ketika terapinya terkesan belum masuk akal.

Saya ambil contoh ketika fenomena “batu Ponari” booming di Jombang beberapa tahun silam, misalnya. Ratusan orang sampai rela antre berjam-jam (bahkan berhari-hari) agar bisa sembuh pakai sentuhan batu Ponari. Apakah mereka goblok? Ya nggak, mereka cuma nggak mampu bayar biaya dokter mahal kayak kamu aja. Hanya dengan membayar uang parkir dan tarif seikhlasnya, mereka jadi punya harapan bisa sembuh. Dan hal seperti itu jauh lebih baik ketimbang komentar kita yang ngata-ngatain mereka tolol.

Oke baiklah, saat ini mungkin kita sudah terfasilitasi dengan adanya BPJS Kesehatan, tapi asal kamu tahu, tak semua daerah di Indonesia punya akses BPJS Kesehatan yang baik layaknya kota-kota besar di Jawa. Ada juga daerah yang pelayanan kesehatannya tidak sebaik yang dimiliki oleh orang-orang dengan nalar sebaik kamu. Apakah harapan mereka sembuh dengan cara yang tidak bisa kamu pahami lantas membuatmu layak merasa lebih baik?

Iklan

Mau sekontroversial apapun sebuah terapi penyembuhan, ada baiknya tak segampang itu mendiskriminasi apalagi sampai menghina. Kalau memang kamu merasa lebih tercerahkan dan lebih menjunjung nalar tinggi, kenapa kamu nggak sumbang saja sedikit rezekimu untuk bawa pasien-pasien terapi suljok (selain yang di postingan tadi) ke dokter spesialis.

Lantas ketika kamu ditanya, apa ada jaminan 100 persen kalau dibawa ke dokter spesialis pasti hilang penyakitnya? Kalau lebih bisa dijelasin sih memang iya karena ada teorinya, lha kalau sembuh? Berani jamin? Jawab, Markonaaah… Jawaaab.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2019 oleh

Tags: sujokterapi sujokviral
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Kisah Perempuan Menikah dengan Bapak Kosnya Sendiri, Usia terpaut 20 tahun
Video

Kisah Perempuan Menikah dengan Bapak Kosnya Sendiri, Usia terpaut 20 tahun

30 Agustus 2023
ibu negara dihina mojok.co
Hukum

Ini Respon Gibran Saat Ibu Negara Dihina

19 November 2022
komikus penghina ibu negara mojok.co
Hukum

Komikus yang Hina Ibu Negara Diduga Kerap Bermasalah

19 November 2022
Mengenal agen asuransi yang lagi viral Mojok.co
Ekonomi

Viral Agen Asuransi Punya Penghasilan Miliaran

17 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.