Sebagai anak Jawa tulen, saya tidak punya banyak teman keturunan Cina. Jumlahnya bahkan bisa saya hitung pakai jari sebelah tangan. Dan kebanyakan dari jumlahnya yang sedikit itu saya jumpai ketika SMA. Salah satunya bernama Nikolas Bonny Triratna. Dari Bonny, saya lantas mengenal (salah satu) pecel lele paling enak di Jogja, yaitu Indra Rasa.
Saya bahkan tidak ingat kapan tepatnya Bonny memberi tahu soal pecel lele Indra Rasa kepada saya. Kami kuliah di kampus yang berbeda. Selepas SMA, kami bahkan tidak pernah ngobrol lagi. Saya sendiri secara sadar keluar dari grup alumni SMA Pangudi Luhur. Jadi, ya, benar-benar lost contact.
Satu-satunya kejadian yang mungkin menjadi penyambung silaturahmi kami adalah acara nonton bareng film-film Marvel di bioskop 21. Jadi, beberapa teman, via Facebook (kalau tidak salah), janjian untuk nonton bareng. Di sana, ada juga Bonny, yang celakanya saya tidak ingat apakah dia ikut atau tidak HAHAHA. Payah sekali ingatan saya.
Salah satu teman kami, yang juga saya tidak akrab, namanya Arief. Nah, saya malah ingat kalau dari Arief, saya kali pertama mendengar pecel lele Indra Rasa. Bonny dan Arief menyebutnya ngijem kependekan dari ngisor jembatan. Pecel lele Indra Rasa memang berada di bawah Jembatan Janti.
Baca juga: Saya Kaget Beli Pecel Lele di Bandar Lampung: Sambalnya Mentah, Lelenya Dua Ekor
Pertemanan biasa saja antara Jawa dan Cina
Saya tumbuh di lingkungan yang rada barbar. Sisa-sisa ujaran dan tindakan rasis kepada orang Cina masih terasa. Maklum, kebanyakan adalah para orang dewasa yang sebagian besar hidup mereka berada di bawah dinamika Orde Baru. Sebuah zaman di mana beberapa orang Jawa merasa “lebih benar” ketimbang orang Cina.
Bahkan eyang putri saya sering menggunakan kata “singkek” (sin khe). Singkek berasal dari Bahasa Hokkien, yaitu gabungan kata sin (‘baru’) dan khe (‘tamu’).
Istilah ini secara harfiah berarti ‘pendatang baru’ atau ‘tamu baru’. Singkek merujuk pada etnis Tionghoa Totok yang merantau ke Nusantara, khususnya pada akhir abad ke-19 hingga awal ke-20. Berbeda dengan peranakan yang sudah lama menetap. Intinya, kata singkek meluncur dari mulut eyang putri saya dengan nada merendahkan.
Saya tidak tahu apakah kondisi ini yang membuat saya, orang Jawa, tidak punya banyak teman Cina. Yang pasti, saya bersyukur tidak terbawa arus rasis itu. Bapak dan ibu saya sangat sering mengingatkan perihal beberapa sikap dari generasi lama yang tidak perlu dilestarikan.
Oleh sebab itu, ketika mendapat teman Cina seperti Bonny, saya tidak merasakan ikatan yang kuat seperti kalau berteman dengan sesama Jawa. Pertemanan kami semasa SMA biasa saja. Tidak ada yang spesial. Apalagi Bonny kala itu adalah remaja yang lurus dan tertib sekolah. Sementara saya, ya begitulah, bandel pada umumnya.
Bonny tidak pernah mau saja ajak bolos sekolah untuk main PlayStation di dekat Keraton Jogja. Dia hanya akan tersenyum lebar sambil menolak. Kaca mata tebalnya menggantung di hidung, seakan-akan menarik Bonny untuk kembali membaca komik favoritnya di kantin sekolah.
Yang ingin saya katakan di sini adalah tentang rasa syukur. Saya bersyukur terhindar dari pelajaran untuk membenci orang Cina. Bayangkan kalau saya membenci Bonny hanya karena dia Cina dan saya Jawa. Jauh selepas SMA, saya tidak akan mendapatkan info ciamik bernama pecel lele Indra Jawa, eh, Jaya.
Pecel lele dan jejak “pelarian” orang Jawa yang “nggak enakan”
Ketika mengenal pecel lele Indra Jaya, saya sudah lulus kuliah dan bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku. Saat itu, saya berada dalam momen yang rasanya naik dan turun. Nah, salah satu kesalahan saya adalah enggan menceritakan masalah yang menumpuk di hati. Maka, pelampiasan saya adalah makan.
Pacar saya, yang kelak menjadi istri, tidak tahu kondisi hati saya. Bahkan sampai saya menulis ini, dia juga belum tahu. Dulu, saat saya mengajak dia makan di pecel lele Indra Jaya, dia senang-senang saja. Mungkin, dia berpikir saya memang suka makan di sana. Karena “obsesi” saya dengan pecel lele Indra Jaya saat itu rada kurang sehat.
Dalam satu minggu, saya bisa makan di sana sampai tiga kali. Bahkan lebih ketika tekanan di dalam hati ini rasanya tak tertahankan. Istri saya saja tidak tahu, apalagi Bonny, bocah Cina yang baik hati itu.
Dulu, semasa kuliah, saya punya obsesi dengan mie ayam sebagai “penjaga kewarasan”. Saat sudah bekerja, saya menemukan pecel lele Indra Jaya sebagai pelengkap mie ayam. Lucunya, saya tidak merasakan “sensasi melegakan” ketika makan di warung pecel lele lainnya.
Kenapa saya melampiaskan tekanan ke makanan? Mungkin, saya terlalu kuat menahan sifat “nggak enakan” khas orang Jawa. Saya takut orang lain menghakimi saya. Makanya, ketika melampiaskan ke pecel lele Indra Jaya, saya bisa merasa lega. Semata karena pecel lele nggak bisa mengkritik kita sebagai manusia yang menikmatinya.
Terima kasih untuk Bonny, anak Cina yang baik hatinya
Kepada Bonny (dan Arief), di Imlek 2026 ini, saya ingin mengucapkan terima kasih. Pertemanan kita memang biasa saja, tapi memberi kesan mendalam untuk saya. Orang Jawa, yang secara tidak langsung, diselamatkan mentalnya oleh orang Cina dengan seporsi pecel lele Indra Jaya dan sambalnya yang surgawi itu.
Sekarang, kalau saya pikirkan ulang, hanya Bonny, satu-satunya orang Cina yang “punya tema obrolan” dengan saya. Selain pecel lele Indra Jaya, beberapa kali kami ngobrol soal moba Mobile Legends. Kebetulan juga dia jualan diamond MLBB dan saya belum pernah beli dari dia HAHAHA.
Begitulah. Saya rasa, pertemanan yang baik bukan hanya soal durasi. Yang saya rasakan dan anggap penting adalah keberadaan dan hal-hal menyenangkan yang muncul dari “pertemanan biasa saja”. Berkat orang Cina, mental orang Jawa terjaga dan lumayan sehat sampai sekarang.
Kelak, kalau ada waktu senggang, saya ingin mengajak Bonny menghabiskan sambal di pecel lele Indra Jaya. Semata sebagai bentuk terima kasih.
Panjang umur dan panjang rezeki, Bonny.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Asal Mula Banyak Orang Lamongan Jualan Pecel Lele dan kisah menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
