Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pertemanan Biasa Saja dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
16 Februari 2026
A A
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai anak Jawa tulen, saya tidak punya banyak teman keturunan Cina. Jumlahnya bahkan bisa saya hitung pakai jari sebelah tangan. Dan kebanyakan dari jumlahnya yang sedikit itu saya jumpai ketika SMA. Salah satunya bernama Nikolas Bonny Triratna. Dari Bonny, saya lantas mengenal (salah satu) pecel lele paling enak di Jogja, yaitu Indra Rasa.

Saya bahkan tidak ingat kapan tepatnya Bonny memberi tahu soal pecel lele Indra Rasa kepada saya. Kami kuliah di kampus yang berbeda. Selepas SMA, kami bahkan tidak pernah ngobrol lagi. Saya sendiri secara sadar keluar dari grup alumni SMA Pangudi Luhur. Jadi, ya, benar-benar lost contact.

Satu-satunya kejadian yang mungkin menjadi penyambung silaturahmi kami adalah acara nonton bareng film-film Marvel di bioskop 21. Jadi, beberapa teman, via Facebook (kalau tidak salah), janjian untuk nonton bareng. Di sana, ada juga Bonny, yang celakanya saya tidak ingat apakah dia ikut atau tidak HAHAHA. Payah sekali ingatan saya.

Salah satu teman kami, yang juga saya tidak akrab, namanya Arief. Nah, saya malah ingat kalau dari Arief, saya kali pertama mendengar pecel lele Indra Rasa. Bonny dan Arief menyebutnya ngijem kependekan dari ngisor jembatan. Pecel lele Indra Rasa memang berada di bawah Jembatan Janti.

Baca juga: Saya Kaget Beli Pecel Lele di Bandar Lampung: Sambalnya Mentah, Lelenya Dua Ekor

Pertemanan biasa saja antara Jawa dan Cina

Saya tumbuh di lingkungan yang rada barbar. Sisa-sisa ujaran dan tindakan rasis kepada orang Cina masih terasa. Maklum, kebanyakan adalah para orang dewasa yang sebagian besar hidup mereka berada di bawah dinamika Orde Baru. Sebuah zaman di mana beberapa orang Jawa merasa “lebih benar” ketimbang orang Cina.

Bahkan eyang putri saya sering menggunakan kata “singkek” (sin khe). Singkek berasal dari Bahasa Hokkien, yaitu gabungan kata sin (‘baru’) dan khe (‘tamu’). 

Istilah ini secara harfiah berarti ‘pendatang baru’ atau ‘tamu baru’. Singkek merujuk pada etnis Tionghoa Totok yang merantau ke Nusantara, khususnya pada akhir abad ke-19 hingga awal ke-20. Berbeda dengan peranakan yang sudah lama menetap. Intinya, kata singkek meluncur dari mulut eyang putri saya dengan nada merendahkan.

Saya tidak tahu apakah kondisi ini yang membuat saya, orang Jawa, tidak punya banyak teman Cina. Yang pasti, saya bersyukur tidak terbawa arus rasis itu. Bapak dan ibu saya sangat sering mengingatkan perihal beberapa sikap dari generasi lama yang tidak perlu dilestarikan.

Oleh sebab itu, ketika mendapat teman Cina seperti Bonny, saya tidak merasakan ikatan yang kuat seperti kalau berteman dengan sesama Jawa. Pertemanan kami semasa SMA biasa saja. Tidak ada yang spesial. Apalagi Bonny kala itu adalah remaja yang lurus dan tertib sekolah. Sementara saya, ya begitulah, bandel pada umumnya.

Bonny tidak pernah mau saja ajak bolos sekolah untuk main PlayStation di dekat Keraton Jogja. Dia hanya akan tersenyum lebar sambil menolak. Kaca mata tebalnya menggantung di hidung, seakan-akan menarik Bonny untuk kembali membaca komik favoritnya di kantin sekolah.

Yang ingin saya katakan di sini adalah tentang rasa syukur. Saya bersyukur terhindar dari pelajaran untuk membenci orang Cina. Bayangkan kalau saya membenci Bonny hanya karena dia Cina dan saya Jawa. Jauh selepas SMA, saya tidak akan mendapatkan info ciamik bernama pecel lele Indra Jawa, eh, Jaya.

Pecel lele dan jejak “pelarian” orang Jawa yang “nggak enakan”

Ketika mengenal pecel lele Indra Jaya, saya sudah lulus kuliah dan bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku. Saat itu, saya berada dalam momen yang rasanya naik dan turun. Nah, salah satu kesalahan saya adalah enggan menceritakan masalah yang menumpuk di hati. Maka, pelampiasan saya adalah makan.

Pacar saya, yang kelak menjadi istri, tidak tahu kondisi hati saya. Bahkan sampai saya menulis ini, dia juga belum tahu. Dulu, saat saya mengajak dia makan di pecel lele Indra Jaya, dia senang-senang saja. Mungkin, dia berpikir saya memang suka makan di sana. Karena “obsesi” saya dengan pecel lele Indra Jaya saat itu rada kurang sehat.

Iklan

Dalam satu minggu, saya bisa makan di sana sampai tiga kali. Bahkan lebih ketika tekanan di dalam hati ini rasanya tak tertahankan. Istri saya saja tidak tahu, apalagi Bonny, bocah Cina yang baik hati itu.

Dulu, semasa kuliah, saya punya obsesi dengan mie ayam sebagai “penjaga kewarasan”. Saat sudah bekerja, saya menemukan pecel lele Indra Jaya sebagai pelengkap mie ayam. Lucunya, saya tidak merasakan “sensasi melegakan” ketika makan di warung pecel lele lainnya.

Kenapa saya melampiaskan tekanan ke makanan? Mungkin, saya terlalu kuat menahan sifat “nggak enakan” khas orang Jawa. Saya takut orang lain menghakimi saya. Makanya, ketika melampiaskan ke pecel lele Indra Jaya, saya bisa merasa lega. Semata karena pecel lele nggak bisa mengkritik kita sebagai manusia yang menikmatinya.

Terima kasih untuk Bonny, anak Cina yang baik hatinya

Kepada Bonny (dan Arief), di Imlek 2026 ini, saya ingin mengucapkan terima kasih. Pertemanan kita memang biasa saja, tapi memberi kesan mendalam untuk saya. Orang Jawa, yang secara tidak langsung, diselamatkan mentalnya oleh orang Cina dengan seporsi pecel lele Indra Jaya dan sambalnya yang surgawi itu.

Sekarang, kalau saya pikirkan ulang, hanya Bonny, satu-satunya orang Cina yang “punya tema obrolan” dengan saya. Selain pecel lele Indra Jaya, beberapa kali kami ngobrol soal moba Mobile Legends. Kebetulan juga dia jualan diamond MLBB dan saya belum pernah beli dari dia HAHAHA.

Begitulah. Saya rasa, pertemanan yang baik bukan hanya soal durasi. Yang saya rasakan dan anggap penting adalah keberadaan dan hal-hal menyenangkan yang muncul dari “pertemanan biasa saja”. Berkat orang Cina, mental orang Jawa terjaga dan lumayan sehat sampai sekarang.

Kelak, kalau ada waktu senggang, saya ingin mengajak Bonny menghabiskan sambal di pecel lele Indra Jaya. Semata sebagai bentuk terima kasih.

Panjang umur dan panjang rezeki, Bonny.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Asal Mula Banyak Orang Lamongan Jualan Pecel Lele dan kisah menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2026 oleh

Tags: cinaimlekimlek 2026jawaJogjaorang cinaorang jawapecel lelepecel lele indra jayasma pangudi luhur jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO
Urban

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO
Lipsus

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co
Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

14 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seni Merasa Bodoh sebagai WNI: Saat Coretax Gagal Mengenali Anak Istri Saya, Negara Malah Menyuruh Clear Cache MOJOK.CO

Seni Merasa Pintar sebagai WNI: Menaklukkan Coretax Cukup dengan Clear Cache dan Incognito Window

13 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
s2, kicau mania mojok.co

Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur

10 Februari 2026
OAOT, gerakan menanam pohon di lereng Gunung Muria, Kudus. MOJOK.CO

Pelajaran dari Lereng Muria: Menanam Pohon Memang Seharusnya Menjadi Hal Wajar, Bukan Kelangkaan

15 Februari 2026
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan

12 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.