Saat saya membaca artikel rumah subsidi milik Fauzia Solicha, saya manggut-manggut dan setuju dengan isinya. Apa yang beliau ceritakan persis dengan realitas yang saya lihat langsung dan hampir saya alami. Memang begitulah akar rumput, ia nyata, dan benar-benar ada.
Saya sempat bilang hampir, karena awal menikah, saya hampir deal rumah subsidi di dekat rumah saya sekarang. Pikir saya, saat itu, penting punya rumah sendiri. Jelek atau tidak, pikiran saat itu, saya tak peduli. Lagi-lagi, penting punya rumah sendiri, aset sendiri.
Apalagi saat dikasih tahu cicilannya sangat murah. Saat itu, katanya per bulan 1 juta. Wah, itu nggak ada sepertiga gaji. Tapi untung saya nggak buru-buru, dan untungnya lagi, bapak saya lupa ngambil duit. Jadi kesepakatan terburu-buru yang hampir terjadi di sore itu akhirnya batal terjadi.
Selang beberapa bulan setelah ngecek perumahan subsidi itu, saya dikabari kalau ada rumah dijual dengan harga yang hampir mirip dengan rumah subsidi tersebut. Tak pikir panjang, saya cek, dan dari sekilas saja, sudah terlihat kalau rumah ini jauh lebih mendingan meski bedanya sekitar 40 juta.
Kini, rumah itu sudah saya tempati hampir lima tahun. Ya ada masalah sana-sini, tapi kondisinya jauh lebih baik ketimbang rumah yang sempat hampir saya beli itu. Jauh. Jauh banget.
BACA JUGA: Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Menempati Rumah Subsidi
Memang baiknya jangan beli rumah subsidi
Rumah subsidi memang murah di awal, tapi ujungnya nggak jadi murah. Kamu harus renov sana-sini, keluar biaya lagi. dan bisa jadi, biayanya malah jauh lebih mahal ketimbang kamu beli rumah yang lebih proper.
Misalnya gini, pake kasus saya ya. Ini limited kasus saya aja biar lebih enak jelasinnya. Dulu, rumah subsidi yang mau saya beli harganya 150 juta. Nah, rumah itu belum ada carport, pager, dan sejenisnya. Otomatis, saya harus beli dong?
Anggap saja carportmu itu habisnya 2 juta wis. Kamu bikin pager, anggep aja 2 juta. Terus beli pintu pagar sliding kayak gitu harganya 1 juta. Itu yang minimalis. Kamu nambah 5 juta. Oke masih murah. Tapi kan kamu masih harus pasang keramik di teras, anggap aja 500 wis. Tapi itu belum biaya tukang, semen, dan lain-lain.
Okelah kita taruh, 10 juta total hanya untuk teras (kata temen aing mah, lebih). Artinya harga rumahmu jadi 160 juta.
Sedangkan rumah yang saya tempati harganya 190 juta. Memang jauh lebih mahal. Tapi, temboknya tebal, sudah ada carport, kamar mandi proper, dapur ada, kamar proper, teras sudah berkeramik.
Kalau dipikir-pikir, rumah saya basically harga subsidi, tapi setelah direnovasi. Well, saya nggak perlu renov sih karena semua udah ada. Cuma instalasi listriknya aja sih yang konyol, kabelnya kecil semua. Developer taek, pedot kabeh kae lho cuk!
BACA JUGA: Rumah Subsidi Akan Berubah Jadi Penjara Jika Kalian Terjebak Bujuk Rayu Pengembang
Rumah lain jauh lebih worth it
Saya memang punya privilege pekerjaan yang memberi saya gaji yang layak. Maka, saya bisa punya pilihan yang orang lain mungkin tak punya. Cuma, jujur saja, bagaimanapun juga, kalau masih bisa diusahakan, beneran jangan ambil rumah subsidi.
Seperti yang saya jelaskan di atas, kalau pinter nyarinya dan beruntung, akan nemu rumah yang kualitasnya jauh lebih bagus, tapi harganya mirip. Sekalipun nggak mirip, misalnya lebih mahal 100 juta sekalipun, saya pikir ya mending diambil ketimbang subsidi. Kenapa?
Karena biaya perbaikan itu mahal. Ini bukan ngomongin renovasi biar estetik, nggak. Ini sekadar perbaikan aja. Misalnya, tembok. Tembok subsidi itu tipis banget. Kamu tendang sekali aja, bisa jadi itu bolong. Nek tembok bolong atau jebol, ya nggak mudah perbaikannya.
Dari banyak kasus yang saya temui, emang rumah subsidi itu ujungnya boncos. Renovasinya kelewat banyak hanya untuk terlihat proper. Padahal kalau beli rumah nonsubsidi, bisa saja dapat harga yang bagus, dan nggak perlu renovasi.
Tapi lagi-lagi, tak semua bisa dapat privilese ini. Dan saya pun hidup di Wonogiri, kabupaten yang harga rumahnya jelas jauh lebih masuk akal ketimbang Jogjakarta, misal. Kalau di kota besar, ya sulit.
Jadi buat kalian yang mau berumah tangga, mending beneran pikir-pikir lagi kalau mau ambil rumah subsidi. Kalau tak punya dana renovasi, baiknya sih berpikir ulang. Tapi kalau sudah telanjur, nggak apa-apa. Toh lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Bukankah begitu?
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Yang Perlu Dipahami sebelum Mengajukan KPR Subsidi (dan Menyesal) dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN
