Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota (commons.wikimedia.org)

Terima kasih Rawa Belong sudah bikin betah hidup di Jakarta.

Bagi saya, Jakarta tidak menakutkan seperti yang banyak orang bilang. Awal merantau dari Sleman ke Ibu Kota untuk bekerja, jujur saja rasa takut itu ada. Wajar, saya belum pernah pergi dari kampung halaman sebelumnya, perasaan deg-degan pun menghantui. Tapi, lama kelamaan, Jakarta terasa biasa saja dan tidak menakutkan. 

Selain teman-teman yang memudahkan adaptasi, saya sangat terbantu dengan lokasi ngekos pertama kali yakni di Rawa Belong, Jakarta Barat. Di sana semua serba ada, harga berbagai kebutuhan kos relatif terjangkau, dan lokasinya strategis. Setelah tinggal beberapa saat, saya menyadari daerah ini sangat cocok untuk mereka yang baru pertama kali merantau ke Jakarta.

Bagi yang belum tahu, Rawa Belong adalah kawasan yang terletak di Jakarta Barat yang sebagian besar wilayahnya masuk Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk. Orang-orang biasanya mengenali Rawa Belong karena pasar bunga di sana jadi pusat perdagangan bunga di Jakarta, bahkan Pulau Jawa. Sebagian lain mengenalnya sebagai daerah yang Betawi banget karena disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Si Pitung.

Begitulah Rawa Belong, kawasan yang berkarakter dan punya cerita panjang. Dan, selama hampir 4 tahun saya tinggal di sana. 

Kawasan “humble” yang bikin pengalaman merantau jadi lebih mudah

Meminjam istilah gaul di kalangan anak muda zaman sekarang, humble adalah kata yang pas untuk Rawa Belong. Humble di sini berarti Rawa Belong punya banyak hal, tapi tidak sombong atau tidak tampil berlebihan agar dikenal banyak orang. 

Rawa Belong memang punya segalanya. Selain cerita panjang Si Pitung dan pasar bunga, daerah ini jadi penghubung titik-titik penting di Jakarta Barat seperti Palmerah dan Kemanggisan. Di dua daerah itu berdiri berbagai kantor media, perguruan tinggi, sekolah, dan masih banyak lagi. 

Tidak heran kalau Rawa Belong berkembang jadi daerah padat yang jalanannya selalu ramai. Bagi warlok, sisi perkembangan ini mungkin mengesalkan. Namun, bagi perantau, kawasan yang ramai adalah anugerah. Artinya, saya jadi punya banyak pilihan tempat tinggal, makanan, dan berbagai kebutuhan ngekos lain dengan harga terjangkau. 

Biaya hidup di Rawa Belong lebih mending daripada daerah lain

Dibandingkan daerah-daerah Jakarta yang lain, biaya hidup di Rawa Belong jauh lebih terjangkau. Setidaknya memungkinkan untuk diakali. Kalian masih bisa  menemukan kos-kosan dengan berbagai fasilitas dan harga di sana. Begitu pula dengan makanan. Nah, tugas para perantau tinggal memilih tempat tinggal dan makanan yang sesuai budget.

Biaya hidup makin bisa “diakali” karena kehadiran transportasi umum. Ada banyak angkot mengaspal di jalanandi Rawa Belong. Kalau ingin bepergian agak jauh, kalian bisa memanfaatkan KRL, Transjakarta, atau MRT yang semua stasiun atau haltenya bisa dijangkau dengan angkot. Bagi perantau yang tidak membawa kendaraan pribadi seperti saya, kehadiran transportasi umum yang mudah dan murah itu penyelamat. 

Hal lain yang bikin saya senang tinggal di Rawa Belong adalah lokasinya yang strategis. Ke mana-mana mudah sehingga nggak capek di Jalan. Mau ikut demo di depan DPR, olahraga di GBK, hingga nongkrong di tempat kalcer Blok M semuanya bisa dijangkau nggak sampai 30 menit perjalanan. Enak kan? 

Dekat dengan bakmi Jawa enak

Alasan yang terakhir ini agak personal. Saya senang tinggal di Rawa Belong karena dekat dengan Bakmi Jawa Jogja Mas Kus. Dari segi rasa, bakmi satu ini mendekati dengan warung-warung yang ada di Jogja. Walau memang, dari segi harga, saya perlu menyiapkan budget lebih sih. 

Bakmi Jawa Jogja Mas Kus selalu berhasil mengobati rasa kangen akan rumah. Selain rasanya yang enak, suasana warungnya Jogja banget. Kadang, sambil menyeruput bakmi Jawa godog ekstra kulit dan swiwi (sayap ayam), sayup-sayup terdengar meja sebelah ngobrol dalam Bahasa Jawa. Seketika saya merasa tidak seperti di pusatnya Betawi. Suasananya lebih mirip seperti warung bakmi Jawa langganan di dekat rumah. 

Setiap pulang dari tempat ini, tidak hanya perut yang kenyang, hati juga terasa penuh. Rasa kangen yang tadinya memenuhi sudut-sudut hati tergantikan dengan kehangatan bakmi Jawa dan suasana Jogja. Mungkin di kuping kalian ini terdengar berlebihan, tapi begitulah adanya. Bakmi Jawa Jogja Mas Kus jadi salah satu siasat saya bisa bertahan hampir 4 tahun di Ibu Kota. 

Kini saya sudah kembali tinggal di Sleman, tapi Rawa Belong selalu punya tempat di hati dan memori. Bahkan, saya selalu sempatkan mampir ke sana kalau ke Jakarta. Terakhir ke sana, Rawa Belong masih sama saja dengan gang-gangnya yang sempit, rumah-rumah berdempetan, dan kabel-kabel yang semrawut. Tapi, anehnya, semua itu malah bikin kangen dan nggak bikin kapok. 

Begitulah Rawa Belong. Ia berhasil membuat orang kabupaten yang nggak pernah merantau ini nggak takut akan hidup Ibu Kota.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version