Teman dari teman saya mengirim lokasi di WhatsApp, lalu menambah satu pesan: “Sebelum perempatan Tanjung, belok kanan setelah gang yang berwarung jamu.” Dia orang Purwokerto. Namun, dia hafal kota ini lewat patokan, bukan lewat nama jalan resmi. Perempatan Tanjung, Grendeng, Kebondalem, underpass, bank, warung jamu.
Papan nama jalan berdiri di banyak tikungan, tetapi matanya lebih dulu mencari bangunan. Saya berani bertaruh, bukan cuma dia yang bersikap begitu. Warga kota ini menyusun peta dari cerita dan bangunan, sementara pemerintah menyusun peta dari angka dan surat keputusan.
Lalu, suatu sore, saat kami duduk di sebuah kedai kopi slow bar sambil menyeruput kopi, dia bertanya. Lebih kepada diri sendiri, sih. “Nama-nama kampung yang saya sebut setiap hari ini sebenarnya bercerita tentang apa?”
Purwokerto yang bermain kata
Ambil contoh nama kotanya. Sejumlah catatan sejarah menunjuk dua kata yang bergabung di dalam kata “Purwokerto”: Purwacarita, nama yang lekat dengan tepi Sungai Serayu dan bermakna “permulaan”, plus Kertawibawa, pusat Kadipaten Pasir yang bermakna “kesejahteraan”. Gabungan keduanya berarti permulaan kesejahteraan.
Doa itu mulia sekali untuk sebuah kota kecil yang pada 1830 masih kalah ramai ketimbang Sokaraja dan Ajibarang. Catatan lain menunjuk batu di Arcawinangun dan seorang tokoh yang warga sebut Mbah Karta. Sejarah lisan memang suka bersikeras pada banyak versi sekaligus, dan saya tidak berniat memilih satu pemenang.
Yang jelas, kota ini lahir di tepi air. Pusat pemerintahannya dahulu mengalir di sekitar Sungai Pelus, dekat Peguwon.
Sejumlah kelurahan lahir dari surat, bukan legenda
Ini bagian yang jarang kita sadari. Pada 1982, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1982 tentang Pembentukan Kota Administratif Purwokerto. Setahun kemudian, keputusan itu meresmikan sejumlah kelurahan, antara lain Bancarkembar. Lalu pada 17 Januari 2001, Bupati Banyumas melantik para pejabat baru, dan sejak hari itu Kota Administratif Purwokerto berhenti berumah.
Artinya, kalau kita mencari makna kuno di balik nama-nama seperti Bancarkembar atau Kranji, kita mungkin mengejar sesuatu yang memang tidak pernah ada. Sebagian nama kelurahan muncul sebagai keputusan tata pemerintahan, bukan sebagai warisan nenek moyang. Kota ini menata ulang dirinya di atas kertas, lalu warganya menyesuaikan lidah.
Bandingkan nama-nama lama dengan nama resmi yang kita pakai kini. Kota ini membagi wilayahnya menjadi empat kecamatan dan 27 kelurahan, dan sejumlah kelurahan memakai arah mata angin: Purwokerto Lor, Kidul, Wetan, dan Kulon.
Nama seperti itu berguna untuk urusan administrasi. Namun, lihatlah apa yang ia lakukan pada cerita. Ia mengubah kampung yang punya nama sendiri menjadi sekadar utara, selatan, timur, dan barat.
Kosakata lama yang masih menempel di mulut kita
Meski begitu, banyak nama lain menyimpan bahasa tua. Orang Jawa memakai kata karang untuk pekarangan atau tanah kering, dan kita punya Karangpucung, Karangklesem, Karangjambu, sampai Karanganyar.
Mereka memakai kedung untuk lubang dalam di sungai, dan kita mengenal Kedungwuluh. Mereka memakai kebon untuk kebun, dan di sini berdiri Kebondalem. Kata pucung bahkan menunjuk satu tembang dalam khazanah sastra Jawa.
Lalu ada Bobosan, Berkoh, Grendeng, Pabuwaran, dan Sumampir. Coba berhenti dan tanya lima orang Purwokerto soal artinya. Saya berani bertaruh jawaban mereka akan berbeda-beda, dan tidak ada satu pun yang berani memastikan. Justru di situlah enaknya. Nama-nama ini masih menyimpan rahasia, dan rahasia itu masih menunggu orang yang mau mendengarkan.
Nama jalan di Purwokerto datang dari zaman yang berbeda
Nama jalan di Purwokerto juga berlapis. Catatan sejarah lokal menyebut Jalan Sekolah, Jalan Kejawar, Jalan Ragasemangsang, dan Jalan Kebondalem sebagai jalan yang sudah ada sejak pertengahan abad ke-20. Zaman berganti, dan kota mulai menamai jalan menurut jasa: Jenderal Soedirman, Ahmad Yani, Pemuda, dan Suprapto.
Dekade 2020-an menambah lapisan paling baru. Jalan Soekarno-Hatta, Menara Teratai, Danau Retensi, sampai Madhang Maning Park.
Nama paling baru itu mengaduk Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris dalam tiga kata sekaligus, dan jujur saja, lidah saya masih mengganjal setiap kali menyebutnya. Kata-kata itu keluar dari mulut saya seperti orang yang sedang belajar pidato.
Sekarang, pengembang yang memegang pena
Dulu pemerintah menamai jalan, dan nama pahlawan masuk ke peta. Sekarang pengembang perumahan memegang pena. Nama yang muncul kemudian berbunyi Griya, Residence, Cluster, dan Village, bersama blok serta nomor rumah. Warga lantas menulis alamat dengan nama yang pengembang jual, bukan nama kampung yang sudah puluhan tahun menampung mereka.
Padahal nama kampung menyimpan pekerjaan, tanaman, dan kejadian yang pernah ramai di sana. Begitu nama itu pindah ke papan jualan, sejarah mikro ikut pindah, dan kita menggantinya dengan slogan pemasaran yang bunyinya sama di seluruh Indonesia.
Arsip Purwokerto yang hidup di mulut orang tua
Setiap kota menyimpan arsip. Purwokerto menaruh sebagian arsipnya bukan di kantor, melainkan di mulut orang-orang tua yang masih memanggil sebuah tempat dengan nama lamanya: Kebondalem, Grendeng, Tanjung, bank, dan warung jamu.
Ada lagi kebiasaan yang justru saya sukai. Warga Purwokerto menamai tempat dengan bangunan yang berdiri di dekatnya. Sebuah warung soto legendaris di kota ini bahkan menyandang nama “Jalan Bank”, bukan nama pemiliknya. Bank, underpass, jamu, perempatan: benda-benda itu membentuk kamus resmi kota versi warga.
Kita masih bisa menolong arsip itu hidup. Caranya sederhana dan tidak menuntut anggaran. Tanyakan nama kampung kita kepada orang tua, lalu catat.
Tanyakan kenapa orang dulu memakai nama itu, lalu bandingkan dengan jawaban tetangga. Kalau jawaban mereka berbeda-beda, jangan buru-buru kecewa. Di Purwokerto, yang bahkan masih berselisih soal gelar kota atau kecamatan, perbedaan jawaban justru bahan paling jujur untuk menulis sejarah.
Saya baru sadar satu hal malam itu, waktu akhirnya menemukan gang berwarung jamu di dekat perempatan Tanjung. Nama-nama yang saya sebut setiap hari itu bukan sekadar patokan menuju rumah orang. Ia sisa percakapan panjang antara kota ini dan orang-orang yang membangunnya. Kita tinggal menyimak, sebelum papan nama perumahan menyelesaikan percakapan itu tanpa kita.
BACA JUGA Purwokerto Adalah Daerah Paling Aneh karena Bukan Kota, Kurang Pas Disebut Kabupaten, Apalagi Menjadi Kecamatan. Maunya Apa, sih? dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.