Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Purbaya Sudah Benar, Tidak Menaikkan Cukai Rokok Adalah Jalan Paling Tepat Memberantas Produk Ilegal dan Menjaga Ekonomi, sekalipun Itu Tidak Populer

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
1 Oktober 2025
A A
Purbaya Sudah Benar, Tidak Menaikkan Cukai Rokok Adalah Jalan Paling Tepat Memberantas Produk Ilegal dan Menjaga Ekonomi, sekalipun Itu Tidak Populer

Purbaya Sudah Benar, Tidak Menaikkan Cukai Rokok Adalah Jalan Paling Tepat Memberantas Produk Ilegal dan Menjaga Ekonomi, sekalipun Itu Tidak Populer

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keputusan untuk tidak menaikkan cukai rokok pada 2026 yang diketok oleh Menkeu Purbaya memantik banyak reaksi. Tentu, banyak yang kontra, sesuatu yang amat wajar mengingat keputusan ini tidak seperti sebelum-sebelumnya. Tiap tahun, cukai rokok naik terus, kali ini, tidak. Dan terus terang, untuk bagi saya sendiri, cukai tidak naik ini bakal punya imbas yang besar. Salah satunya, pada rokok ilegal.

Perokok, nyatanya, terus bertambah meski cukai naik makin ugal-ugalan. Padahal, salah satu dari fungsi kenaikan cukai ini ya untuk menekan laju perokok. Tapi kenapa jumlah perokok tetap naik? Sederhana, karena adanya rokok ilegal.

Efek paling kentara dari cukai justru adalah peralihan konsumsi ke rokok yang lebih murah, dan tak melulu rokok pabrikan yang resmi. Justru, banyak yang beralih ke rokok ilegal. Penjualnya makin banyak, dan berlipat ganda. Padahal kenaikan cukai sudah membunuh banyak industri resmi, tapi nyatanya, alih-alih menekan, nyatanya hanya mengalihkan konsumen ke produk yang ilegal.

Alasan Menkeu Purbaya untuk tidak menaikkan cukai, karena ingin melindungi industri dan tidak membiarkan produk ilegal makin hidup jadi amat masuk akal. Terserah Anda suka atau tidak, tapi inilah realitas. Ini lebih nyata ketimbang hal-hal ideal yang ada di kepalamu.

Logika sederhana

Kita bicara logika sederhana saja. Kalau memang mau menekan angka perokok aktif, artinya, peredarannya harus dibatasi, dan harganya dibikin mahal. Logika paling sederhana begitu harusnya.

Misalnya, hanya boleh merokok di tempat yang disediakan. Kalau mau beli rokok, harus menunjukkan identitas dan sejenisnya. Harus cukup umur, harus begini, harus begitu. Ini masuk akal. Tapi yang selama ini terjadi kan nggak masuk akal. Cukai naik, tapi aturan larangan dan sanksinya nggak bisa dibilang tegas. Di saat yang sama, rokok ilegal dibiarkan ada dan berlipat ganda.

Saya kira, ini yang Menkeu Purbaya coba sampaikan: bagaimana bisa, industri resminya ditekan terus-terusan, tapi yang ilegal bisa hidup begitu nyaman. Meski tak dijual terang-terangan, tapi produk ilegal ini bisa mudah ditemui. Kalau tidak, nggak mungkin penikmatnya bisa membelinya dengan mudah dong.

Sebenarnya ini sudah mengganggu saya dari dulu. Saya bukan lagi penikmat asap tradisional, saya ngevape. Alasannya amat personal. Cuma, tetap saja ini mengganggu saya. Kenapa bisa produk ilegal dibiarin, sedangkan yang resmi ditekan terus-terusan. Ini kan aneh. Industri resmi ini kan menyumbang pemasukan yang besar (udah, nggak usah denial), tapi kenapa seakan-akan karpet merahnya dikasih ke ilegal?

Langkah Purbaya sudah tepat!

Kalau kalian tidak suka dengan alasan Menkeu Purbaya yang kesannya hanya peduli sama industri, saya awalnya sama. Tapi nyatanya, ini tidak pernah tentang pabrikan besar semata. Justru IHT (industri hasil tembakau) ini urusannya sama banyak orang.

Berdasar dari press release Komunitas Kretek, Rizky Benang menyampaikan bahwa industri ini jadi andalan hidup sekitar 6 juta orang. Juru Bicara Komunitas Kretek, Rizky Benang, menyebut kebijakan Purbaya sudah tepat sasaran. Sebab, IHT nyatanya jadi penyambung hajat hidup negara dan masyarakat.

“Merujuk data Kemenprin, sekitar 6 juta orang menggantungkan hidupnya pada ekosistem IHT dari hulu ke hilir. Petani tembakau dan cengkeh, buruh pabrik, distributor, pedagang, dan lain-lain,” ujarnya di Rumah Kretek Indonesia, Rabu, 1 Oktober 2025.

Jadi ya, untuk saya pribadi, mendukung keputusan Menkeu Purbaya untuk tidak menaikkan cukai rokok ini ya make sense. Toh, misalnya naik pun, yang berpesta ya industri ilegal, yang entah dari dulu tidak pernah disikat secara serius dan kayak seremonial aja.

Mungkin kalian akan mendebat saya, atau bilang bahwa mendukung Purbaya sama saja tidak peduli dengan kesehatan. Tapi jujur saja, rasanya kalau memang pemerintah peduli betul dengan kesehatan, kayaknya nih, kayaknya, rokok ilegal nggak akan beredar begitu bebas merugikan negara hingga 97 triliun rupiah.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi

Iklan

BACA JUGA Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2025 oleh

Tags: cukai rokok tahun ke tahunkenaikan cukai rokokmenkeu purbayapemberantasan rokok ilegalrokok ilegal
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Purbaya Hendak Selamatkan Petani, tapi Malah Dijegal (Rokok Indonesia:Ekosaint)
Pojokan

Niat Mulia Purbaya Mencegah Kematian Industri Tembakau Malah Dihalangi, Sementara Aksi Premanisme Sri Mulyani Memeras Keringat Petani Dibela

1 Oktober 2025
Rokok Ilegal identik dengan Liga Inggris, yang Legal Liga Italia MOJOK.CO
Esai

Kenapa, ya, Rokok Legal Identik dengan klub Liga Italia, sementara Rokok Ilegal Lebih Dekat dengan klub Liga Inggris?

9 November 2024
pekerja pabrik rokok. kenaikan cukai, dan rokok ilegal mojok.co
Sosok

Buruh Pabrik Rokok di antara Kenaikan Cukai dan Rokok Ilegal

3 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.