Persyaratan Naik Kereta Api Ekonomi: Yang Penting Harus Berani Protes demi Ketahanan Konten

Persyaratan naik kereta api yang utama adalah nyinyir yang konsisten. Nggak masalah bikin konten lagi dan lagi soal kursi ekonomi yang super tidak nyaman.

Persyaratan Naik Kereta Api Ekonomi MOJOK.CO

Ilustrasi Persyaratan Naik Kereta Api Ekonomi. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COPersyaratan naik kereta api adalah berani mengingatkan lagi dan lagi meski disindir, atau mungkin, sampai kena rujak netizen budiman.

Beberapa bulan yang lalu, konten protes ke PT KAI terkait kursi kereta ekonomi sempat viral. Apalagi alasannya selain banyak yang merasa relate dengan fenomena itu. Saya sih nggak ikut komentar. Namun, dalam hati, saya ikut mengamini. Gimana ya, menurut saya, persyaratan naik kereta api paling penting itu berani protes.

Iya, bukan punya tiket. Persyaratan naik kereta api itu berani protes. Ingat, kita membayarkan sejumlah uang untuk salah satu layanan transportasi andalan. Sudah sepantas, kalau ada yang terasa kurang atau sudah tidak zamannya, ya perusahaan milik negara sebaiknya memperbaiki diri.

Ini bukan soal kufur nikmat atau sebaiknya membeli tiket kereta bisnis atau eksekutif. Ini soal kesehatan punggung dan, yang paling penting, kenyamanan pengguna. Menurut saya, mau penumpang eksekutif atau ekonomi, kenyamanan pengguna tetap harus diperhatikan.

Memang, tingkat kenyamanan yang didapat dari perbedaan kelas itu wajib ada. Namanya saja ada harga ada rupa. Namun, saya berbicara di konteks yang lebih universal, yaitu siapa saja yang sudah mengeluarkan kewajibannya, sepantasnya mendapatkan kenyamanan yang pantas.

Sudah tidak nyaman sejak dulu kala

Tahukah kamu, kursi kelas ekonomi, kursi tegak yang bisa bikin punggung kayak papan cuci itu sudah ada sejak eyang putri saya masih remaja. Iya, sejak zaman dulu banget, kursi kelas ekonomi tidak pernah berubah. Seakan-akan, persyaratan naik kereta api itu yang utama adalah punya ilmu kebal… kebal sama encok!

Eyang putri pernah bercerita. Dulu, kalau mau naik kereta, harus gesit dan punya sikap bodo amat. Kita tahu, kursi kelas ekonomi kan saling berhadapan. Sudah begitu sangat sempit. Makanya, kita akan sangat sulit untuk duduk manis dengan nyaman. Oleh sebab itu, kamu harus gesit.

Maksud saya, kamu harus gesit menggelar koran bekas yang dulu bisa dibeli dari tukang asongan yang akrab dengan kereta ekonomi. Gelar saja dua atau tiga lembar di antara dua kursi yang saling berhadapan. Setelah itu, masih dengan kegesitan yang luar biasa, eyang putri akan tidur beralaskan lembaran koran itu.

Kalau ada yang mengeluh atau protes tipis-tipis, eyang putri akan balik memarahi. “Opo koe! Ora trimo? Kualat koe karo wong tuwo.”

Berani bersikap bodo amat

Ya begitulah almarhum eyang putri saya yang galak tapi penyayang. Beliau menggunakan privilege sudah hidup lebih lama ketimbang penumpang lain. Cara yang pasti sukses membuat penumpang lain menyesali sudah memulai adu mulut sama eyang. Saya kadang merasa nggak enak sama penumpang itu.

Eyang juga tidak segan-segan menunjukkan sikap bodo amatnya ketika kakinya yang terjulur ketika tidur tidak sengaja tertendang oleh tukang asongan. “Bajingan! Lagi enak turu. Weh, mripati, lho!” Yah, begitulah, lidah eyang putri saya memang lincah kalau mengumbar makian. Kala itu, persyaratan naik kereta api yang paling utama adalah berani.

Yah, kalau agak memaksa melihat dari sudut pandang yang berbeda, sikap eyang putri, dan mungkin banyak penumpang lawas, ada benarnya. Beliau menekan rasa malu untuk tidur di bawah kursi karena kondisi. Kursi kelas ekonomi itu terlalu menyiksa untuk punggungnya yang sudah renta.

Mungkin, penumpang lain yang kena damprat eyang saya memakluminya. Punggung tua kena kursi tegak kayak cagak bendera begitu tentu sangat menyiksa. Yah, mungkin juga tidak maklum sama sikap eyang saya. Mungkin cuma malas saja adu mulut sama nenek tua yang lidahnya bisa setajam silet.

Demi ketahanan konten

Oleh sebab itu, kalau dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan, ya nggak ada salahnya netizen itu ngonten soal kursi kereta ekonomi. Iya, PT KAI sendiri memang membalas konten itu dengan komentar sejuk. Bahwa mereka menerima kritikan dan berjanji bahwa ke depannya penumpang akan mendapatkan kenyamanan yang pantas.

Yah, tapi kan janji itu pada tingkat tersendiri sekadar omongan saja. Makanya, persyaratan naik kereta api yang utama adalah nyinyir yang konsisten. Nggak masalah bikin konten lagi dan lagi soal kursi ekonomi yang super tidak nyaman. Ketahanan konten itu nggak bisa disalahkan akan dinyinyirin sedemikian rupa. Lha wong kebebasan berpendapat kan dijamin Undang-Undang.

Terakhir, kalau dari hasil ketahan konten itu kursi ekonomi akhirnya diubah, yang akan menikmati kan semua penumpang. Mungkin, termasuk mereka yang menyindir sama yang namanya ketahan konten. Oleh sebab itu, persyaratan naik kereta api adalah berani mengingatkan lagi dan lagi meski disindir, atau mungkin, sampai kena rujak netizen budiman yang tiada punya dosa itu.

Hayo, yang nggak punya dosa dan kelak akan ikut merasakan nyamannya duduk di kursi kereta ekonomi maju semua. Kita catat nama-namanya biar besok kena malunya.

BACA JUGA Kereta Cepat Jakarta Bandung Sumber Petaka Masa Depan: Indonesia Dicaplok, Cina Menang Banyak dan analisis menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version