Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Emangnya Bener Perempuan dan Lelaki Bisa Setara Setelah Menikah?

Audian Laili oleh Audian Laili
21 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Walau merasa telah setara dengan lelaki, ternyata perempuan yang telah menikah dan bekerja, masih punya beban stereotip peran gender yang telah melekat di masyarakat.

Sebetulnya tanggung jawab sebuah komitmen pernikahan, tidak hanya dibebankan pada lelaki saja. Namun, juga pada perempuan—sebagai pasangannya. Setelah menikah, ada beberapa kebebasan yang sama-sama tidak lagi dirasakan oleh kedua belah pihak, karena tanggung jawab untuk bisa saling membahagiakan satu sama lain juga semakin besar. Tidak jarang keduanya pun jadi lebih sulit untuk menjadi diri sendiri. Pasalnya setelah menikah, ada kewajiban yang membuat seseorang tidak lagi hanya fokus dengan diri sendiri namun juga kepada orang lain yang telah mendampingi.

Saat ini, tidak sedikit pasangan yang berusaha membagi tanggung jawab sebuah pernikahan dengan setara. Misalnya, banyak perempuan yang memutuskan untuk tetap bekerja meskipun telah menikah. Meski pola ini memang menjadi salah satu hal yang dapat menunjukkan kesetaraan peran perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga. Nyatanya budaya kita, masih menjadikan perempuan yang telah meluangkan waktu panjangnya untuk bekerja—untuk membantu keuangan keluarga, tetap harus memikirkan tugas rumah tangganya.

Meski rumah tangga tersebut telah dibangun dengan pola egaliter atau setara tentang gender, baik mengenai pembagian tugas rumah tangga, pendapatan yang merata, maupun pola komunikasi yang tidak lagi menimbulkan sungkan-sungkanan. Ternyata, konsep tersebut terlalu mudah luruh dengan stereotip peran gender yang telah begitu lama melekat dalam hidup masyarakat: bahwa urusan mencari nafkah adalah tanggung jawab laki-laki sementara urusan mengurus rumah tangga adalah tanggung jawab perempuan.

Hal ini tak lepas dari stereotip, bahwa laki-laki pantas menjadi pemimpin dan kepala keluarga karena ia rasional. Laki-laki memiliki tenaga yang lebih kuat sehingga dialah yang wajib menafkahi keluarganya. Sementara perempuan, karena dianggap lebih memiliki kelembutan dan kesabaran, maka ia dirasa lebih cocok untuk mengasuh anak. Apalagi perempuan juga memiliki fungsi biologis untuk melahirkan. Dengan ini, seolah-olah tugas mengasuh anak menjadi tanggung jawabnya.

Tentu saja, keadaan yang kepalang tanggung ini, menjadikan perempuan berada dalam posisi yang serba ribet dan sangat sibuk. Pasalnya, dia telah mengambil peran yang sama seperti suaminya untuk mencari nafkah. Namun, dalam keadaan tersebut, ternyata dia juga membawa beban stereotip peran gender untuk mengurus rumah. Maka, tidak jarang dengan keadaan ini, perempuan menjadi kesulitan untuk mendapatkan me time-nya, dan pelan-pelan kesulitan untuk membahagiakan diri sendiri.

Gimana? Perlu contoh?

Contoh yang sederhana, tidak sedikit perempuan yang sudah menikah dan memutuskan untuk tetap bekerja. Bisa dikatakan, ia melakukan itu untuk ikut membantu keuangan keluarga, maupun untuk kemandirian ekonominya sendiri. Jadi, kalau pengin apa-apa, nggak perlu minta-minta ke suami. Meski waktunya sudah begitu lama dihabiskan untuk bekerja—kira-kira 9 jam per hari ditambah hilir mudik perjalanannya, eh, mereka juga yang turut memikirkan urusan printilan di rumah tangga. Semisal, nanti malam makan apa, ya? Anak-anak nanti pulang sekolahnya dijemput siapa, ya? Dan lain sebagainya.

Selanjutnya, contoh hal yang lebih besar lainnya mengenai keterikatan stereotip gender ini. Ketika si suami mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri dari kantornya, biasanya ia tidak akan berpikir panjang. Langsung senang dan menyetujuinya begitu saja. Sebaliknya, jika hal tersebut dialami oleh si istri, maka dia bakal lebih mempertimbangkan banyak hal. Misalnya, kalau dia menerima beasiswa tersebut, siapa yang nantinya bakal ngurus anaknya, ngurus suaminya? Bagaimana kalau mereka nanti ditinggal? Apa lebih baik mereka ikut saja ke luar negeri? Tapi kalau ikut, nanti biayanya bagaimana? Dan seterusnya.

Demikian pula dengan seorang perempuan yang sukses dalam kariernya, tidak jarang ia pula yang cenderung dipersalahkan jika kehidupan perkawinannya tersebut tidak harmonis. Lihat saja beberapa waktu yang lalu, ketika Hengky Kurniawan memutuskan membuat program Sekolah Ibu untuk meminimalisir angka perceraian. Lagi-lagi, perempuan yang diminta bertanggung jawab jika keadaan rumah tangga tersebut tidak baik-baik saja. Padahal, tidak sedikit kasus perceraian yang terjadi karena sikap suami yang memang tidak layak untuk dipertahankan, dan bukankah…

…pernikahan adalah tanggung jawab bersama?

Dari sini semakin menyakinkan, bahwa sesukses apa pun karier perempuan, ia masih dilekatkan dengan perannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Lebih jauh lagi, perempuan yang sukses seolah-olah bukanlah dilihat dari prestasi gemilangnya dalam karier maupun kegiatan sosial. Namun, sebatas bagaimana dia berhasil mengelola kehidupan rumah tangganya supaya terlihat baik-baik saja.

Sungguh menyesakkan, jika beban stereotip peran gender yang tidak diinginkan ini, terus menerus mengikuti kehidupan kita. Apalagi stereotip tersebut melekat dalam masyarakat dan sungguh sulit disangkal. Menjadikan tanggung jawab urusan rumah tangga masih ada di tangan perempuan, meski ia telah menyelesaikan tanggung jawab lainnya.

Tetapi, jika mengharapkan stereotip peran gender tersebut lenyap dan kesetaraan betul-betul nyata adanya dalam waktu dekat? Ehmmm~

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: menikahperan genderperempuanstereotip gender
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO
Esai

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.