Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
30 Maret 2026
A A
Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?)

Peaky Blinders: The Immortal Man Adalah Film yang Seharusnya Tidak Ada (?) (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Peaky Blinders: The Immortal Man adalah film yang seharusnya tidak ada.

Itu kata-kata orang, bukan saya. Silakan ketik Peaky Blinders di kolom pencarian media sosial, dan saya yakin kalian akan menemukan sumpah serapah akan film ini. Akhir yang tidak kolosal, film yang aneh, Duke yang lebih mirip bocah tantrum ketimbang the next Rom Baro, atau Tommy Shelby yang amat tidak Tommy Shelby, jadi beberapa penilaian yang kerap muncul tentang film ini.

Saya pikir wajar jika orang-orang mengutuk film ini, mengingat ekspektasi mereka yang kelewat tinggi. Maklum, jika kamu menghabiskan waktumu untuk menonton 6 season Peaky Blinders yang penuh ketegangan dan kecerdasan Thomas, pasti ekspektasimu akan setinggi langit. I mean, akhir dari sebuah cerita megah harusnya megah, kan?

Harusnya begitu. Tapi hidup, seringnya, berkata lain.

Tommy mati, caranya ya, begitulah. Erasmus “Duke” Shelby berakhir jadi Rom Baro. Karavan dengan foto Polly, lalu trio Tom-Arthur-John, Grace, Ada, menyala. The original Peaky Blinders sudah tiada. Yang masih tertinggal hanya suara serapah kenapa akhirnya begitu hambar, tak ada yang bikin kita ternganga.

Tak ada plot twist macam bagaimana Tommy mengakali Luca Changretta, atau bagaimana Billy Kimber dihabisi dengan begitu tenang. Film ini, singkatnya, buruk. Cuma, buruknya seberapa?

BACA JUGA: Seandainya Tommy Shelby, Tokoh Serial ‘Peaky Blinders’, Berkarier di Solo

Sekilas tentang Peaky Blinders: The Immortal Man

Film ini berkisah tentang usaha Nazi menghancurkan perekonomian Inggris di masa Perang Dunia II dengan menyebarkan ratusan juta poundsterling uang palsu. Dengan cara itu, inflasi besar-besaran bisa melumpuhkan Inggris, dan perang jadi hal yang amat bodoh untuk dilakukan.

John Beckett (Tim Roth), bekerja sama dengan Duke Shelby (Barry Keoghan), akan menyebarkan uang ini. Duke, sebagai pemimpin Peaky Blinders (entah ini official atau tidak, peduli setan), bertugas memuluskan upaya ini dengan operasi yang ia pimpin. Singkatnya, filmnya tentang itu.

Tapi kalau mau menganggap film ini tentang Tommy Shelby dan masalahnya, ya nggak ada salahnya. Karena ya, memang itu yang terasa. Cerita tentang Nazi ini kayak, ya biar ada aja. Tidak didalami seperti serialnya. Ya memang sulit, karena hanya jadi satu film.

Lewat premisnya, sebenernya film ini udah bagus. Tapi eksekusinya, ya bisa dibilang buruk. Film ini seperti nggak punya pegangan yang jelas, fokusnya ke siapa, dan kudu gimana. Udah gitu, penyelesaian konfliknya amat nanggung. Nggak megah, nggak seru seperti series-nya. Anggota Nazi yang ada di film ini pun nggak memberi kesan yang wah.

Kalau dibandingkan dengan The Billy Boys, yang muncul di Peaky Blinders season 5 (kalau tidak salah), njomplang banget. The Billy Boys datang membawa pesan dan kesan, saat mendatangi Aberama Gold. Nazi? Meh.

Berharap para Nazi, atau setidaknya John Beckett punya aura dan kharisma seperti Hans Landa di Inglorious Basterds memang berlebihan sih. Tapi, ya, benchmarknya beliau. Kenapa tidak berusaha lebih keren, sih?

Seharusnya tak pernah ada (?)

Untuk bilang film ini seharusnya tak pernah ada, saya kurang setuju. Iya, film ini buruk, tak sesuai dengan ekspektasi, tapi sebenarnya, film ini masih bisa dinikmati.

Iklan

Secara pribadi, saya merasa film ini secara kualitas masih oke. Saya masih bisa menikmatinya hingga akhir meski sambil menahan diri untuk tidak misuh. Saya melihat film ini sesederhana Tommy akhirnya bisa mendapat apa yang selama ini dia inginkan: mati. Yang terjadi di Somme tak lagi menghantui pikirannya, darah Grace tak lagi membekas di tangannya, dan dia bisa bersatu dengan Ruby.

Mungkin itulah yang bikin saya merasa film ini oke-oke saja, meski greget pengin misuh.

Cuma, saya setuju kalau film ini jeblok banget. Ada banyak cacat yang bikin saya emosi. Salah satunya, paling utama, adalah saat adegan di bar, di mana ada orang nyacatin Tommy di Garrison, dan berkata “Who the fuck is Tommy Shelby?”

Dude, you’re in Garrison, Birmingham, basically Peaky Blinders turf, and you don’t know Tommy Shelby OBE is? The man, the myth, the legend? Fuck.

Bahwa memang pub tersebut isinya generasi baru, saya paham, tapi justru yang saya pahami, anak muda amat tertarik dengan legenda. Dan Tommy Shelby, basically, adalah legenda. Semua orang Birmingham harusnya kenal dengan Tommy. Dan ada NPC yang ngomong who the fuck is Tommy Shelby? Man. Really.

Ini yang benar-benar bikin saya emosi dengan film ini. Tokoh utama dengan kharisma luar biasa tiba-tiba direduksi jadi semacam minion demi membuat aura misteriusnya keluar. Usaha ini malah jadi konyol. Coba Anda sore-sore datang ke lapangan bola, tanya anak-anak kecil, tau nggak siapa Messi, jawabannya sudah bisa Anda tebak.

Nah, Tommy, ya ibaratnya Messi di Birmingham. Dan adegan itu, meski berakhir begitu epic, tetap bikin kepala saya berdenyut. Kok iso lho, kok iso.

Tapi, ada satu yang benar-benar saya apresiasi: Tommy menulis buku. At the end of the day, meski kamu kepala geng paling kejam sekalipun, kamu akan terjun ke dunia literasi, dan belajar dari bawah. Kalian-kalian yang pengin jadi penulis tapi modal prompt AI modar wae. Wis modal prompt, hasile elek meneh. Ra isin a?

BACA JUGA: Preman Pensiun: Sinetron yang Berpotensi Jadi Peaky Blinders versi Indonesia

Masihkah layak ditonton?

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Peaky Blinders: The Immortal Man masih layak tonton?

Jawaban saya ada dua, iya dan tidak. Iya, jika kalian kehabisan tontonan, kangen Cillian Murphy, dan nostalgia dengan serial ikonik tersebut. Tidak, jika kalian berharap bahwa kalian akan dapat suguhan yang megah, fenomenal, dan at least, seru.

Cuma, dengan banyaknya serial baru yang rilis, kayaknya skip film ini nggak apa-apa deh. Saya yakin, yang kalian nontonnya pas rilis, pas lebaran, ya karena emang kelewat banyak film sampah yang rilis pas saat-saat itu. Lihat deretan film horor yang rilis di Netflix mendekati lebaran, bajingan betul kualitasnya. Kalau dibandingin film Kuncen, ya Peaky Blinders: The Immortal Man jauh lebih layak ditonton.

Tapi jika kalian invest betul ke Tommy, dan memahami bahwa dirinya memang broken, sepertinya film ini memang buat kalian. Saya secara pribadi merasa begitu emosional di akhir film, karena merasa, Tommy ini manusia yang sebenarnya beruntung. Dia masih mendapat akhir yang dia mau, dan keinginannya terwujud. Jujur saja, saya sempat merasa kosong dan terbawa saat karavan tersebut akhirnya dibakar.

Hanya saja, berpuluh-puluh menit sebelumnya, saya merasa Tommy, memang baiknya ketemu psikolog. Maybe dia akan selamat. Maybe Arthur masih hidup. Dan mungkin, dia tak perlu mengasingkan diri dan kembali jadi orang biasa, yang tentu saja tidak mungkin bisa.

Kayak siapa itu yang bilang akan kembali ke kampungnya untuk jadi orang biasa?

Peaky Blinders: The Immortal Man masih bisa kalian tonton di Netflix. Silakan langganan, nggak usah bajakan, tapi bebas ding. Duit-duitmu. Meski ya, kalian kalau langganan, bisa liat film lain yang sekiranya lebih bagus. Hindari film horor Indonesia tapi, serius. Sayangilah otak kalian.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Membayangkan Jika Serial TV Peaky Blinders Berlatar Tempat di Cikarang dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: peaky blinderspeaky blinders: the immortal manserial netflixtommy shelby
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

drama korea netflix mojok.co
Hiburan

5 Drama Korea Netflix Bertema Hukum yang Memecahkan Kasus Seru

25 Juli 2022
dian sastro dan putri marino mojok.co
Hiburan

Dian Sastrowardoyo dan Putri Marino Bintangi ‘Gadis Kretek’, Serial Terbaru dari Netflix

14 Juli 2022
spin off stranger things
Hiburan

Netflix Siapkan Serial Spin-off Stranger Things

7 Juli 2022
money heist korea mojok.co
Hiburan

Money Heist Korea Diluncurkan, Ini 3 Hal yang Membedakan dengan Film Aslinya

24 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Tabungan soft saving ala gen Z

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja Mojok.co

3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja

26 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026

Video Terbaru

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.