Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pasangan yang Butuh Privasi Bukan Berarti Nggak Sayang, Woy!

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
11 Maret 2020
A A
privasi pasangan ngintilan buka hape kerahasiaan suami istri posesif me time pasangan rumah tangga harmonis mojok.co

privasi pasangan ngintilan buka hape kerahasiaan suami istri posesif me time pasangan rumah tangga harmonis mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Berkali-kali saya pikir ulang, pasangan yang ngintilan dan pegang semua password medsos itu seharusnya layak dicerahkan. Kita semua butuh privasi. Bahkan ketika statusnya sudah suami istri.

Ponsel adalah privasi seseorang. Pacar kalian sama sekali tidak berhak tahu kata sandi medsos kalian bahkan ngubek-ubek pesan WhatsApp dari kawan-kawan kalian dan melakukan pemindaian pada direct message Instagram. Huft, hubungan seperti ini pasti melelahkan.

Iklan

Kita semua kemudian mengenal gejala ribet ini dengan sebutan posesif. Di mana pasangan udah kayak malaikat Rokib dan Atid yang selalu memberikan penilaian atas apa yang kita perbuat.

Oke, soal privasi yang menyangkut penguasaan ponsel ini, kita harusnya nggak beda pendapat lagi. Kebangetan dong kalau masih pacaran aja udah saling mengikatkan diri begini, negaranya demokrasi tapi hubungannya otoriter. Haaash!

Khusus bagi kalian yang pasangannya belum tersadarkan alias masih posesif, cobalah mulai pikirkan skema penyelesaian atau hubungan kalian yang selesai saking toxicnya.

Setelah menikah, membuka ponsel satu sama lain bisa terasa lebih wajar. Karena pada dasarnya dalam hal keuangan, pasangan suami istri saja sudah rela untuk berbagi. Tidak ada yang salah dengan dua insan yang sedang mencoba menaklukan dunia ini.

Taaapi….

Kalian tetap nggak bisa mengklaim bahwa pasangan suami istri itu nggak boleh lagi punya privasi. Betul bahwa membuka ponsel suami itu nggak masalah, ibu saya sering melakukannya. Benar bahwa log in pakai medsos istri juga nggak masalah Mas Agus Mulyadi sering melakukannya. Tapi kalau bicara privasi, kita nggak bisa memperkecilnya dalam skala akses ponsel semata.

Saya menemukan sebuah cuitan ini tanpa sengaja dan merenungkannya dalam otak saya yang kadang njebluk mikirin Omnibus Law. Cuitan ini berisi sebuah opini, pendapat yang sah saja disampaikan. Saya rasa jika saya nggak setuju pun nggak masalah juga.

Unpopular Opinion.

Kalau udah berpasangan Privasi itu udah hilang. Baik laki atau perempuan. Sehingga tiap pasangan berhak untuk mengecek HP pasanganya.

kalau dilihat ga mau berarti ada yang disembunyikan. kalau main rahasia-rahasiaan mending ngedarin sabu aja.

— Ariaflutter ? (@ariafluttera) March 10, 2020

Saya bisa menyangkal cuitan ini dengan satu kalimat yang lumayan edgy.

Privacy is not secrecy, Baby.

Privasi secara singkat adalah sebuah kebebasan dan keleluasaan pribadi yang mana wujudnya nggak cuma saling lihat ponsel. Privasi seharusnya baik-baik saja jika diterapkan dalam kehidupan pernikahan, tapi kerahasiaan tidak.

Bayangkan saja jika suami menyembunyikan rahasia bahwa dia sebenarnya sudah kawin lagi. Lha kebacut! Informasi yang memengaruhi keberlangsungan hubungan seharusnya disampaikan, kalau nggak ya makin kayak api dalam sekam.

Iklan

Jadi sebenarnya kepo ponsel pasangan sah kalian itu boleh kok, asal diizinkan. Kalau nggak diizinkan, tanyakan alasannya kenapa. Kalau jawabannya terbata-bata aa-eee-aa-eee, baru patut curiga. Rahasia apa yang dia siampan? Hmmm.

Privasi yang dibutuhkan orang yang sudah menikah minimal berupa menghabiskan waktunya sendiri tanpa suami atau istri. Hidup bakal menempatkan kita di berbagai permasalahan hidup yang mungkin bakal lebih kacau andai melibatkan keluarga.

Maka pasangan yang sudah menikah tapi tetap ngintilan itu harusnya mulai mawas diri dong. Pasangan kalian butuh yang privasi berupa kongkow sama kawan lama, sama squadnya di masa muda. Pasangan kalian butuh berorganisasi dan mingle biar makin banyak dapat koneksi. Dan ini jelaaas dia ingin pergi sendiri tanpa diikuti.

Tidak berbagi dalam pandangan politik juga termasuk dalam kebutuhan privasi. Sifatnya individual dan posisi suami istri dalam hal ini sama-sama warga negara. Setiap warga negara punya hak merahasiakan siapa yang jadi pilihan politiknya, harusnya pasangan nggak usah bertengkar mengenai hal ini dan lebih menghargai kalau satu sama lain nggak ingin ngomogin politik. Mumet, Lur!

Begini, rasanya membahas privasi dan mengklaim kalau kita semua butuh akan hal itu memang terdengar kejam. Tapi kalian perlu tahu bahwa pasangan yang sedang meminta sedikit keleluasaan bukan berarti nggak sayang.

Bapak saya contohnya, tidak pernah melarang ibu saya buat berangkat PKK, jadi aktivis bank sampah, ngurusin agenda ziarah ibu-ibu Muslimat. Begitu pula ibu saya yang nggak pernah melarang ayah saya reunian ke luar kota sendirian. Tapi mereka nggak pernah saling curiga soal perasaan sayang. Gayeng to?

Privasi pasangan bukan isu yang seharusnya dibikin ribet. Asal saling menyepakati dan paham betul bahwa instrumen privasi itu sesekali dibutuhkan, maka kehidupan pernikahan bakal lebih membahagiakan. Akad nikah kan bukan ikrar kepemilikan kayak zaman perbudakan.

BACA JUGA Merdeka dari Patah Hati dengan Potong Rambut atau artikel lainnya di POJOKAN. 

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2020 oleh

Tags: hubungankehidupan pernikahanprivasi pasangan
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6
Video

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
ilustrasi 5 Cara Mencegah Pertengkaran yang Terjadi Akibat Salah Baca Google Maps mojok.co
Pojokan

5 Cara Mencegah Pertengkaran yang Terjadi Akibat Salah Baca Google Maps

28 September 2021
ilustrasi Ada Anggapan bahwa di Aplikasi Kencan, Cowok Bule Lebih Sopan ketimbang Cowok Lokal mojok.co
Pojokan

Ada Anggapan bahwa di Aplikasi Kencan, Cowok Bule Lebih Sopan ketimbang Cowok Lokal

21 Agustus 2021
kakak-adik
Pojokan

Memahami Hubungan Aneh Kakak-Adik: Saling Menyayangi Namun Tetap Penuh Persaingan, Perseteruan, dan Perdebatan

20 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026
Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.