McJesus dan Yesus Bungee Jumping: Bukti Katolik Indonesia Lebih Santai

Katolik MOJOK.CO

MOJOK.CO – Karena pada intinya bukan penistaan agama, buat Katolik, semua hal di dunia ini sangat sederhana, yaitu perkara hukum paling tinggi: Hukum Cinta Kasih.

Suatu ketika saya pernah mengobrol satu meja dengan dua stand-up comedian asal Jogja. Keduanya bersepakat bahwa akan berpikir berjuta kali ketika hendak membawakan materi soal agama. Bahkan ketika off air, apalagi ketika live di depan kamera televisi. Peristiwa penistaan agama Tretan Muslim dan Coki Pardede menjadi pelajaran yang berharga buat mereka.

Apakah kita memang tak akan bisa bikin materi bercanda soal agama selamanya? Padahal, bercanda soal agama memberikan kita banyak perspektif baru.

Tentu ketika kita bisa menggunakan akal sehat dan jalan logika yang jernih. Bagi saya, seorang Katolik, bercanda soal agama bukan perkara yang rumit. Bahkan, bisa saya bilang sepele saja. Entah saya yang terlalu radikal, atau memang menggunakan agama sebagai set up sekaligus punchline itu sudah nggak mungkin lagi dilakukan.

Keprihatinan saya akan kondisi “darurat bercanda agama” di Indonesia sebenarnya sudah cukup tinggi. Jadi, selama menjadi redaktur di Mojok yang terkadang kudu menulis dengan tema agama, sebisa mungkin saya tidak menyinggung pihak-pihak tertentu. Takutnya, bukan hanya saya yang kena dampaknya, melainkan kantor dan teman-teman di dalamnya.

Namun, ternyata, separah-parahnya netizen di Indonesia, wabil khusus pemeluk Katolik, masih lebih mendingan ketimbang di Israel sana. Dan mungkin juga para pemeluk Katolik di negeri lain yang masih sulit bersikap luwes terhadap bercanda. Nah ini baru soal bercanda, bagaimana kalau tema agama itu dimasukkan ke dalam sebuah karya seni?

Jadi, Haifa Museum of Art di Israel punya gawe. Mereka membuat sebuah pameran seni dengan tajuk “Sacred Goods”. Salah satu artis yang ikut di pameran tersebut bernama Jani Leinonen. Jani berasal dari Finlandia dan juga pemeluk Kristen. Ia membuat sebuah karya seni yang diberi judul “McJesus”.

Karya tersebut berupa sebuah salib dengan boneka Ronald McDonald, maskot waralaba McDonald sebagai pengganti Yesus. Sontak, kalangan minoritas Kristen Arab di Israel marah. Mereka menuntut karya seni itu dicopot dari pameran. Kenapa? Kok ya masih perlu tanya alasannya.

Juru bicara museum sendiri mengungkapkan bahwa pameran “Sacred Good” bertemakan agama dan keyakinan dalam budaya konsumerisme. Pameran sendiri sudah digelar sejak Agustus 2018, tetapi baru Januari 2019 protes terjadi. Ngapain aja selama ini kok nggak segera protes? Sibuk mendiamkan penderitaan rakyat Palestina dan Yaman? #ehh

Kalau protes saja sih lumrah terjadi. Nah, beberapa orang bahkan menyerang musem menggunakan bom molotov. Karya seni “McJesus” dianggap sangat tidak pantas. Kalau bahasa netizen Indonesia yang serba yoi disebut “penistaan agama”.

Padahal, seiring pengetahuan saya soal interpretasi seni yang sangat dangkal ini, Jani Leinonen, sang artis ingin menyampaikan sebuah pesan yang menarik. Budaya konsumerisme, bagi banyak orang, bahkan sudah lebih didahulukan ketimbang agama. Buka olshop, niatnya lihat-lihat, berakhir dengan belanja barang-barang yang tidak perlu. Ngaku, siapa yang sering begitu?

Banyak orang, Katolik, menuhankan uang, bukan lagi pelayanan dan cinta kasih. Yesus, seperti tidak lagi mendapatkan tempat di hati masing-masing. Digantikan uang dan kepemilikan barang. Oleh sebab itu, Jani Leinonen mengganti posisi Yesus dengan Ronald McDonald, simbol konsumerisme dan kapitalisme kuliner. Tsaahh…tiba-tiba kepala saya pening. Bahasanya ketinggian.

Ini masih untung Jani Leinonen itu memeluk Kristen. Bayangkan kalau beliau itu muslim. Ehh maaf, nggak usah jadi dibayangkan. Saya ngeri sendiri.

Penolakan karya seni Jani Leinonen berjudul “McJesus” itu bikin saya teringat dengan viralnya sebuah foto yang diberi tajuk “Yesus Bungee Jumping”. Digambarkan sebuah salib, di mana Yesus-nya hampir lepas dari salib sehingga menyerupai seseorang yang sedang bungee jumping.

Banyak yang marah. Katanya itu penistaan agama Katolik. Lho, padahal Yesus kan memang melakukan bungee jumping. Doi turun dari surga, menebus dosa manusia di bumi, lalu mental lagi naik ke surga. Kalau nggak bungee jumping, apa namanya?

Banyak yang marah. Tapi ya sebatas marah saja, lalu lupa. Ingat lagi dengan kebutuhan cuci mata lihat-lihat olshop. #ehh

Jadi, tweet dari akun bernama @maurianusadi pada tanggal 1 Desember 2018 itu betul-betul menggoncang. Menggoncang perut saya karena tertawa. Wording tweet yang berbunyi “Saya Katolik aliran extreme sport” sukses mengocok perut.

Sebagai orang Katolik, salib dengan Yesus yang terpaku adalah simbol yang penuh makna. Apakah itu sebuah penistaan agama? Saya, dan kebanyakan orang yang membalas tweet tersebut justru bisa bersenang-senang dengan materi komedi yang menyenangkan.

Misalnya ketika salah satu akun bernama Yudha Adiasmara membalas dengan tweet: “Gak safety, pake helm dong. Mentang juru selamat, kenal orang dalem, lantas kayak gitu mainnya. Shoombonk amad!”

Kalau kalian paham dengan konteksnya, kalimat balasan itu sungguh lucu. Jadi, bagi kami Katolik, Yesus adalah juru selamat, yang diutus Allah Bapa ke bumi untuk menebus dosa umat manusia. Bagian “kenal orang dalem” merujuk ke Allah Bapa. Lho, bukannya Yesus itu Allah juga? Sudah, sudah. Jangan diteruskan. Nanti masuk ke konsep Trinitas malah repot.

Balasan tweet yang paling kena lucunya adalah dari akun bernama Josua Manurung. Ia menulis: “Talinya lepas, jadi Protestan”. Dark humor ini berkaitan dengan perbedaan simbol salib Katolik dan Kristen. Jika salib Katolik terdapat Yesus di dalamnya, berbeda dengan salib Kristen yang polos. Yesus yang “sedang bungee jumping”, kalau talinya putus, langsung jadi Kristen. Luar biasa dark, namun lucu.

Bagi saya, di tengah situasi yang serba panas seperti sekarang ini, menjadi tertuduh penistaan agama itu sangat mudah terjadi. Yang sulit dilakukan adalah berpikir seribu kali tentang tindakan seseorang, hingga sampai pada kesimpulan bahwa yang mereka lakukan adalah sedang melucu atau dalam konteks “McJesus” sedang berkesenian.

Tentu ini konsep yang serba sempurna, katarsis, karena bisa jadi seseorang itu sedang melakukan penistaan agama betulan. Nah, ketika kita bisa berdiam diri, mengunyah sebuah peristiwa secara tuntas sebelum menelannya, lalu memaafkan ketika terjadi penistaan, adalah cara Katolik belajar bercanda tentang agama yang kami anut.

Karena pada intinya, buat Katolik, semua hal di dunia ini sangat sederhana, yaitu perkara hukum paling tinggi: Hukum Cinta Kasih.

Itulah bukti Katolik di Indonesia lebih santai, tidak sampai lempar-lempar molotov. Lebih baik lempar senyum, biar lebih adem hatimu masing-masing.

Exit mobile version