Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Baru saja saya membaca berita CNN Indonesia berjudul “Malaysia Kian Dekat Jadi Negara Maju”. Baru baca judul aja bikin saya prihatin, tapi kok ya nggak heran kalau terjadi.

Berita itu menyebutkan, pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Malaysia pada 2025 telah mencapai RM57.200 atau sekitar US$13.351, dan kini hanya berjarak 7,1% dari ambang batas negara berpendapatan tinggi versi Bank Dunia yang sebesar US$14.375. 

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menyampaikan angka itu dengan nada tenang dalam peluncuran laporan OECD Economic Surveys: Malaysia 2026.

Jadi, pertumbuhan ekonomi Negeri Jiran mencapai 5,8% pada kuartal II 2026, inflasi terkendali di 1,9%, dan tingkat pengangguran hanya 3%. Sebagai warga negara Indonesia, saya membaca semuanya dengan perasaan campur aduk. Salut pada tetangga, tetapi prihatin pada diri sendiri.

Iri sama Malaysia yang mau jadi negara maju itu wajar dong 

Saya lalu membuka data pembanding. Menurut Bank Dunia, GNI per kapita Indonesia pada 2023 masih di angka US$4.870, kurang dari separuh angka Malaysia. 

Pemerintah sendiri menargetkan GNI per kapita sekitar US$5.410 pada 2025 dan US$8.000 pada 2029, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. 

Artinya, bahkan dalam skenario yang paling optimistis, pada 2029 pun kita masih berada di bawah posisi Malaysia saat ini. 

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal II 2026 diproyeksikan berkisar 5,2 sampai 5,4%, lebih rendah dari 5,8% Malaysia yang justru tumbuh lebih cepat padahal pendapatannya hampir tiga kali lipat kita.

Jadi, wajar dong kalau iri sama Malaysia yang sebentar lagi masuk daftar negara maju. Sementara itu, melihat kondisi Indonesia, saya takut mau berkomentar. Takut diserang buzzer dan dikata nggak nasionalis.

Yang paling menusuk adalah soal lapangan kerja

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka Indonesia per Februari 2026 tercatat 4,68%, atau 7,24 juta orang dari 154,91 juta angkatan kerja. 

Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS, menyampaikan bahwa pengangguran usia muda 15 sampai 24 tahun bahkan menembus 16,36%, dan lulusan SMK menjadi penyumbang terbesar. 

Lebih dari separuh pekerja, sekitar 59,42%, masih bekerja di sektor informal, sementara rata-rata upah buruh nasional baru Rp3,29 juta per bulan. 

Bandingkan dengan Malaysia yang tingkat penganggurannya hanya 3% dan kini justru berfokus menciptakan pekerjaan bernilai tinggi di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, dan pusat data. Negara maju ya memang kudu kayak gini.

Saya teringat pernyataan ekonom senior Indef, Didin S. Damanhuri. Pada 1970-an, pendapatan per kapita Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan hampir sama, sekitar US$70. 

Kini, Malaysia kira-kira tiga kali lipat kita, dan Korea Selatan melesat 10 kali lipat. Menurut Didin, penyebab utamanya sederhana. Pemerintah Indonesia tidak konsisten menjalankan strategi industrialisasi. 

Ekonom senior lain, Faisal Basri, juga berkali-kali memperingatkan gejala deindustrialisasi dini. Kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menyusut dari puncaknya sekitar 29% pada awal 2000-an menjadi sekitar 18%. 

Dia bahkan mencatat ekspor manufaktur Indonesia baru 44,9% dari total ekspor pada 2021, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 68,1%.

Malaysia belum akan berhenti berkembang, Indonesia kok mengenaskan ya

Yang membuat saya semakin prihatin, dalam laporan OECD itu Malaysia justru tidak berpuas diri. Pemerintahnya mengakui 35,6% pekerja berpendidikan tinggi masih bekerja di bawah tingkat keterampilannya. 

Karena itu, Rancangan Malaysia ke-13 (2026-2030) memperkuat pendidikan vokasi, pelatihan semikonduktor dan kecerdasan buatan, serta penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri. Ini gambaran sebuah negara maju yang akan semakin maju.

Di sisi fiskal, defisit anggaran Malaysia menyempit dari 5,5% PDB pada 2022 menjadi 3,7% pada 2025, dan ditargetkan di bawah 3% pada 2030, sambil tetap melindungi kelompok rentan. 

Kita tentu berhak bertanya. Di mana posisi kita dalam konsolidasi semacam itu? Jangan-jangan kita justru masih sibuk mengelola gejala, sementara fondasi produktivitas yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah utama negara Indonesia jarang disentuh.

Apakah Indonesia bisa menjadi negara maju?

Saya menulis ini bukan untuk merendahkan Indonesia, apalagi memuja Malaysia. Saya hanya ingin jujur pada kenyataan. 

Ketertinggalan itu bukan sekadar angka di atas kertas. Ia hadir dalam keseharian: saudara-saudara kita yang memilih bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di Malaysia demi upah yang lebih layak, lulusan SMK yang menganggur karena keterampilannya tidak terserap industri, serta kelas menengah yang makin terjepit karena produktivitas tidak kunjung tumbuh. 

Saya sendiri punya teman masa kecil yang kini bekerja di Kuala Lumpur. Setiap pulang, dia bercerita tentang gaji yang hampir 2 kali lipat dan fasilitas kerja yang tidak pernah dia rasakan di negerinya sendiri. 

Kenyataan itu membuat saya bertanya. Mengapa anak-anak negeri ini harus pergi jauh untuk sekadar hidup layak? Selama ekonomi kita masih ditopang ekspor komoditas mentah dan lapangan kerja informal, sementara Malaysia berpacu di sektor teknologi bernilai tambah tinggi, jarak itu akan terus menganga.

Sebagai warga biasa, saya tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah arah kebijakan. Namun, saya yakin setiap anak bangsa masih punya hak untuk bertanya dan menuntut konsistensi menuju cita-cita Indonesia emas atau menjadi negara maju.

Kapan target pertumbuhan 8% dan pendapatan per kapita US$8.000 pada 2029 benar-benar diikuti oleh kebijakan yang terarah, bukan sekadar angka dalam dokumen? 

Kita memiliki SDA, bonus demografi, dan pasar domestik yang tidak dimiliki Malaysia. Yang selama ini kurang bukan potensi, melainkan kesungguhan menjalankan pembangunan secara berkelanjutan.

Semoga suatu hari nanti, berita tentang Indonesia yang kian dekat ke gerbang negara maju tidak lagi terasa seperti mimpi di siang bolong. Negeri ini tidak harus menjadi Malaysia, tetapi kita wajib berhenti tertinggal dari zaman.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Hal di Malaysia Ini Membuat Saya Ingin Jadi The Next Susanti! dan pandangan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version