Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kalau Harga Tiket Pesawat Naik karena Kampanye, Kenapa Kita yang Kecele?

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
13 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Harga tiket pesawat naik dipengaruhi dari banyaknya permintaan saat liburan. Namun, saat ini, tiket-yang-mahal disebabkan oleh hal lain: kampanye!

Sejak pagi tadi, lini masa saya dipenuhi sambatan kawan-kawan sesama perantau. Banyak dari mereka mengomentari soal harga tiket pesawat naik yang konon bikin kepala pusing dan hati bimbang. Bahkan, lebih dalam lagi, kenaikan harga tiket pesawat ini menyakiti sesuatu yang lebih vital: dompet!

Iklan

Saya jadi kepo. Makin saya ulik, makin saya paham pula kekagetan teman-teman perantau karena harga tiket pesawat naik, khususnya karena terjadi pada penerbangan domestik saja. Nah, menanggapi hal ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun meminta masyarakat agar tidak berlebihan dalam merespons. Malah, dengan legawa, ia mengajak kita semua untuk menerima hal tersebut dengan besar hati. Mungkin, Pak Budi ini sedang mendengarkan lagu Lapang Dada-nya Sheila on 7, jadi ke-trigger untuk ikhlas kali, ya?

Lebih lanjut, Budi Karya menegaskan bahwa harga tiket pesawat naik ini masih berada dalam batas wajar yang sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) nomor 14/2016. Jika masyarakat merasa harganya melambung, itu hanyalah efek dari perang harga antarmaskapai. Saat ini, perang sudah reda dan harga kembali normal. Nah, harga normal inilah yang kemudian menggambarkan harga tiket pesawat yang mendadak seperti sedang mengejar cita-cita—alias setinggi langit, alias mahal banget.

Agak berbeda, Sekretaris Umum Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan (Astindo) Pauline Suharno—sebagaimana dikutip dari Jawa Pos—mengatakan bahwa harga tiket pesawat naik dipengaruhi dari banyaknya permintaan saat liburan. Namun, saat ini, tiket-yang-mahal-meski-libur-telah-selesai disebabkan oleh hal lain: banyaknya permintaan partai politik untuk keperluan kampanye.

[!!!!!!11!!!1!!!!]

Sementara itu, kenapa penerbangan internasional terasa lebih murah pun dijelaskan pula alasannya: tersedianya banyak pilihan pesawat, mulai dari Full Service Carrier (FSC) hingga Low Cost Carrier (LCC), menjadikan maskapai mulai melakukan perang harga sehingga harga yang muncul jadi jauh lebih murah dibandingkan penerbangan domestik.

[!!!!!!11!!!1!!!!]

Duh, Bapak-Bapak sekalian, yang bener aja, deh—masa karena orang-orang kampanye saja dompet kami harus dikorbankan??? Apa kami perlu ikutan tanda tangan di petisi menolak harga tiket pesawat naik yang lagi viral itu??? Hmm???

Terkait harga penerbangan domestik yang menjulang tinggi seperti harapan bersama dirinya, Menteri Budi Karya bahkan telah menerima laporan soal isu warga Aceh yang ramai-ramai mengajukan pembuatan paspor hanya untuk terbang ke Jawa. Loh, loh, ngapain???

Usut punya usut, harga tiket Aceh ke Jawa melalui penerbangan langsung justru jauh lebih mahal dibandingkan dengan penerbangan yang mengharuskan penumpangnya untuk transit dulu ke Kuala Lumpur. Iya, saya ulangi sekali lagi: transit ke negara tetangga kita, Malaysia.

Gi-gimana ceritanya???

Pada kasus penerbangan dari Aceh, konon harga tiket ke Jawa (Jakarta atau Bandung) akan menjadi lebih murah jika melalui transit ke Kuala Lumpur, Malaysia. Nah, seberapa murahkah “lebih murah” itu?

Berdasarkan pengakuan seorang warga Aceh, harga tiket ini bisa tereduksi hingga 70%. Jika tiket Aceh-Bandung harus dibayar dengan biaya lebih dari 3 juta rupiah, tiket transit Malaysia hanya memberi harga 900 ribu rupiah. Konsekuensinya, penumpang harus merelakan waktu hingga sekian jam di bandara di Kuala Lumpur.

Iklan

Duh! Tapi, yaaaa, bodo amatlah! Yang penting, kan, lebih murah! Bisa update di Instagram Story sambil tag lokasi di luar negeri, pula!

Selain memilih penerbangan transit demi ke kota tujuan, cara lain turut viral di media sosial. Konon, cara ini disebut sebagai hidden city ticketing, di mana seorang penumpang mengambil tiket penerbangan dari kota A ke kota C, dengan transit ke kota B. Namun, berbeda dengan strategi warga Aceh, kota tujuan sebenarnya penumpang adalah kota B, bukan kota C. Jika diaplikasikan, contohnya begini:

Kamu ingin pergi dari Jayapura ke Jakarta, tapi harga tiketnya mencapai 6 juta rupiah. Sementara itu, tiket Jayapura ke Kuala Lumpur hanya sebesar 4 juta, plus transit di Jakarta—kota tujuanmu sebenarnya. Maka, kamu memilih pergi dengan tiket Jayapura-Kuala Lumpur, lalu bersiap-siap ‘kabur’ di Jakarta saat pesawat sedang transit.

Tapi, tapi, tapi—tunggu dulu: dilansir dari berbagai sumber, hidden city ticketing justru bisa berbahaya. Meski terkesan menguntungkan karena harganya yang lebih murah, cara ini justru membuat kita (hah, kita???) merugikan penumpang lain yang benar-benar ingin pergi kita tujuan akhir. Kok bisa?

Ya, monmaap, nih: situ pernah nggak, sih, pergi pakai penerbangan yang panjang dan melelahkan??? Pernah nggak situ merasa badan udah pegel-pegel di kursi, tapi pesawat nggak terbang-terbang juga dan harus delay hanya karena menunggu pihak maskapai memanggil nama-nama orang yang belum boarding ke pesawat, padahal mereka bisa saja sebenarnya sudah kabur saat transit dan sedang mengaplikasikan trik hidden city ticketing???

Lagi pula, FYI aja nih, kalau kamu membawa barang bawaan di bagasi (bukan kabin), secara otomatis pihak maskapai akan membawa barang bawaanmu ke pesawat lanjutan untuk mencapai kota tujuan terakhir—bukan kota transit. Ribet, nggak, sih kalau kamu harus laporan dan memohon-mohon berhenti di kota transit sambil menciptakan seribu satu alasan, persis kayak mantanmu pas ketahuan selingkuh sama temanmu sendiri???

Udahlah, daripada mikirin trik-trik yang berisiko gara-gara harga tiket pesawat naik, mending kita ikhlas saja—seperti kata Pak Budi Karya. Apalagi, ini semua kan terjadi karena permintaan tinggi dari partai politik yang lagi kampanye—seperti kata Bu Pauline Suharno.

Yaaah, kalau nggak ada kampanye, nanti kita nggak bisa lihat kompetisi seru antara Cebong dan Kampret, kan?

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: Budi Karya Sumadiharga tiket pesawat naikinternasionalMenteri Perhubunganpenerbangan domestik
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

budi karya sumadi mojok.co
Kilas

Berhasil Merajut Transportasi Nusantara, Menhub Dianugerahi Gelar Doktor Hc dari UGM

23 Mei 2022
tiket pesawat mahal Harga Tes PCR Terbaru Rp275 Ribu, Kenapa Nggak dari Kemarin-kemarin? mojok.co
Celengan

Kita Memang Harus Protes Sama Harga Tiket Pesawat Mahal

16 Mei 2019
Pojokan

Mudik Naik Pesawat tapi Bilang Macet, Habiburokhman Bikin Satire Terdahsyat Mudik Lebaran

20 Juni 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.