Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bahagianya Jadi Kafir, Bisa “Menyatukan” NU dan Muhammadiyah

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
4 Maret 2019
A A
Kafir menyatukan NU dan Muhammadiyah MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Rasanya bangga juga, sebagai pemeluk Katolik, sebagai kafir, seakan-akan bisa “menyatukan” NU dan Muhammadiyah, dua arus besar di dalam agama Islam.

Belum lama ini, Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang digelar di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, memberi beberapa rekomendasi. Salah satunya adalah jangan lagi menggunakan istilah kafir. NU, lewat Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, menyarankan kita semua menggunakan istilah non-muslim, alih-alih kafir,

Said Aqil mengatakan istilah kafir tidak dikenal dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara dan bangsa. Maka setiap warga negara memiliki hak yang sama di mata konstitusi. Karena itu yang ada adalah non-muslim, bukan kafir.

Said Aqil mengisahkan, istilah kafir berlaku ketika Nabi Muhammad di Mekah, untuk menyebut orang yang menyembah berhala, tidak memiliki kitab suci, dan agama yang benar. “Tapi Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, tidak ada istilah kafir bagi warga Madinah. Ada tiga suku non-muslim di madinah, di sana disebut non-muslim, tidak disebut kafir,” kata Said menjelaskan.

Sebagai pemeluk Katolik, sekaligus sepenuhnya “kafir”, rekomendasi ini sungguh terasa sejuk. Kata “kafir” memang sudah mengalami pembelokan makna sedemikian rupa. Yang dahulu berkaitan dengan sebuah budaya, digeser begitu paripurna menjadi sebuah pandangan di dalam agama. Ini penuturan seorang ustaz muda, lho. Bukan murni pendapat saya pribadi. Jangan dimarah-marahi ya. Takut saya.

Rekomendasi NU sudah sangat baik. Nah, sebagai yang menyandang istilah kafir, izinkan saya mengajukan rekomendasi saya sendiri. Istilah non-muslim sudah baik, tapi hendaknya dibuat lebih spesifik dan ringkas. Sebuat saja mereka yang tidak memeluk Islam dengan identitas nama agama. Misalnya, “Dia Katolik”, “Dia Hindu” dan lain sebagainya.

Selain lebih ringkas, merujuk langsung ke agama masing-masing juga sebagai bentuk apresiasi akan keberadaan. Dimulai dari mengakui keberadaan masing-masing, toleransi akan perbedaan akan lebih mudah dibangun. Dipikir gampang saja. Seperti kata Gus Dur suatu kali: “Gitu aja kok repot.”

Selain saya, pemeluk Katolik dan kafir, ahh maksud saya, non-muslim, rekomendasi NU juga didukung oleh Muhammadiyah. Wah, ini sesuatu yang “langka” terjadi. Saya dengar, NU dan Muhammadiyah sering berseberangan ide.

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto alias Cak Nanto sepakat dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang melarang perilaku mengkafirkan orang lain karena perbedaan keyakinan. Asal sikap tersebut tidak dilembagakan. “Ini kan urusan kultur dan nilai. Semakin dibirokrasikan, (kelompok yang gemar mengkafirkan kelompok lain) akan semakin mengeras, nanti dianggap pertarungan,” ujarnya kepada Tirto.

Menurutnya, organisasi-organisasi semacam Muhammadiyah dan NU hanya perlu mengedepankan dialog dengan kelompok-kelompok yang masih gemar mengkafirkan yang lain. “Saya kira itu jalan terbaik yang harus dilakukan,” tutur Cak Nanto. Ciee, sejuk sekali membaca pernyataan yang berisi nuansa kesejukan dan persatuan.

Sebelumnya, saya mendengar kalau NU dan Muhammadiyah begitu berseberangan. Bahkan, sampai begitu gengsi untuk menikahkan anaknya dengan sesama muslim yang berbeda pandangan. Orang tua NU enggan menikahkan anaknya dengan anak Muhamadiyah. Begitu pula sebaliknya. Repot juga ya.

Anak-anak NU yang jago bikin cerita lucu bahkan sampai bikin sebuah punch line yang keras, tapi nisbi lucu. Begini bunyinya: “Alhamdulilah di daerah kami semua atau mayoritas penduduk memeluk agama Islam, hanya sedikit saja yang Muhammadiyah.”

Sumanto Al Qurtuby, dosen Antropologi Budaya dan Direktur Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore, dalam kolomnya di Deutsche Welle memberikan sedikit penjelasan soal perbedaan NU dan Muhammadiyah yang saya yakin kamu semua sudah khatam.

Nah, supaya jelas, saya kutipkan secara utuh saja. Silakan dibaca pelan-pelan:

Iklan

“Ada sejumlah faktor sosial-kultural-keagamaan dan kepolitikan dalam sejarah relasi NU-Muhammadiyah yang sangat akut sehingga menyulitkan kedua belah pihak untuk pulih dan damai.”

“Dalam sejarahnya, Muhammadiyah (selain Persis) adalah ormas Islam yang paling gencar menyerang tradisi, budaya, amalan, dan praktik-praktik ritual-keagamaan lokal yang dilakukan warga NU. Muhammadiyah memerangi semua itu karena dianggap bisa “menyekutukan Allah” alias menggelincirkan umat Islam ke praktik syirik, selain diyakini bisa menodai kemurnian Islam dan keaslian akidah Islam.”

“Karena dipandang sebagai bagian dari “penyakit TBC” itulah, Muhammadiyah selama berpuluh-puluh tahun dengan derasnya mengkritik dan menyerang berbagai praktik ritual-keagamaan yang dipraktikkan dan dilestarikan warga NU seperti tahlilan, sedekahan, kenduren, berjanjen (barzanji), dzibaan, dalailan, manaqiban, shalawatan, muludan, ziarah kubur, syuronan, qunut, sufisme, sebutan “sayyid” untuk Nabi Muhammad, dan masih banyak lagi. Belakangan saja, ada sejumlah warga Muhammadiyah yang bersedia tahlilan, shalawatan, atau ziarah kubur.”

Sudah cukup jelas, ya. Sudah cukup mendapatkan gambaran tentang perbedaan keduanya. Nah, akhir-akhir ini, keduanya memang sudah lebih akur. Perbedaan di antara keduanya sudah melunak ketika “musuh bersama” mulai berusaha lebih keras menancapkan kukunya di Indonesia, yaitu wahabi.

Nah, momen rekomendasi penggunaan istilah “non-muslim” untuk mengganti “kafir” ini bakal semakin mendekatkan NU dan Muhammadiyah. Siapa tahu, jika kita berimajinasi secara radikal, ada anak NU yang diizinkan kawin dengan anak Muhammadiyah. Toh keduanya bagus dan baik.

Oleh sebab itu, melihat keduanya semakin intim, melihat imajinasi radikal soal perkawinan NU dan Muhammadiyah, saya bangga sudah jadi bagian kafir. Seakan-akan, kami bisa “menyatukan” dua arus besar di dalam Islam yang selama ini “menjaga jarak”. Menjadi pemersatu seperti Gus Dur, siapa yang tidak bangga coba.

Tabik!

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2019 oleh

Tags: KafirMuhammadiyahnon-muslimnuWahabi
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

26 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Kelalaian sopir truk DLH Kota Semarang bikin sampah tumpah berserakan di jalan. Langsung ditegur karena bikin masyarakat tidak nyaman MOJOK.CO

Kelalaian Sopir Truk DLH Kota Semarang bikin Sampah Tumpah Berceceran di Jalan, Langsung Terima Teguran demi Kenyamanan

26 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.