Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Iklim WhatsApp Story Jauh Lebih Gayeng ketimbang Instagram Story yang Isinya Pamer-pamer

Membandingkan WhatsApp Stories vs Instagram Stories

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
16 September 2021
A A
ilustrasi Iklim WhatsApp Story Jauh Lebih Gayeng ketimbang Instagram Story yang Isinya Pamer-pamer mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tiba-tiba melihat WhatsApp Story abang galon sedang makan pecel, satpam kompleks juga lagi tugas itu hal lumrah. Iklimnya memang jauh lebih menyenangkan ketimbang Story aplikasi tetangga.

Pada awal kemunculannya, WhatsApp Story memang diprotes habis-habisan oleh netizen. Umumnya orang-orang nyinyir karena aplikasi pesan yang seharusnya bersifat lebih privat ini, bakal menghadirkan iklim kayak Instagram Story yang isinya pamer pencapaian dan liburan. Sebagian yang lain juga nggak pengin WhatsApp jadi aplikasi pesan yang bekerja layaknya media sosial, penuh dengan drama, dan sedikit demi sedikit disisipi iklan. Ah, bukankah ini sama sekali nggak menyenangkan?

Iklan

Sebagai pengguna Instagram tulen, saya memang nggak sreg dengan konsep WhatsApp Story yang kelihatan maksa itu. Status audio visual yang bisa hilang sendiri dalam 24 jam adalah konsep original dari Snapchat, yang kemudian dengan brutal ditiru Instagram dan setelah sukses lalu dinukil WhatsApp usai lord Mark Zuck mengakuisisi semuanya. Ide ini memang awalnya aneh.

Saya ingat betul salah satu kawan saya yang nggak akrab sama medsos mempertanyakan konsep Instagram Story yang hilang dalam 24 jam, ia mengisyaratkan ini adalah sebuah hal konyol. 

“Ya ngapain lu posting kalau itu bakalan hilang? Aneh.”

Masalahnya gini, Sis, unggahan yang hilang dalam 24 jam itu mempersilakan kita posting hal sampah sehari-hari yang nggak bakal mengganggu estetika feeds. Kita juga terbebas dari image caper yang suka dinyinyir dengan celetukan “ah gitu aja kok di-posting.” Sans, bro, unggahannya hilang dalam 24 jam inih.

Konsep ini sebenarnya sepele, tapi brilian. Nggak mengherankan muncullah kolega-kolega “story” lainnya seperti WhatsApp Story, Facebook Story, dan YouTube Story. Twitter juga sempat punya Fleet, namun hilang karena konsepnya nggak mashok buat pengguna mereka.

Di antara story-story lainnya, WhatsApp Story adalah yang punya iklim paling dem dan apa adanya. Dibandingkan Instagram Story yang kian hari kian jadi ajang pamer pencapaian, foto-foto nikah, sampai wadah kegiatan mamah muda, WA Story jauh beda. Sering kali kita menjumpai bapak-bapak yang ngasih tebakan garing, emak-emak yang bikin kata mutiara, sampai kegiatan warga desa yang ditampilkan tanpa tedeng aling-aling.

Ada banyak nomor kontak terkait pekerjaan atau profesi seseorang yang juga kita simpan. Secara tidak langsung, walau nggak kenal-kenal amat, kita jadi bisa tahu seperti apa keseharian mereka. Ada abang galon yang yang update lagi makan pecel, ada mamang mi ayam yang sudah siap keliling, sampai mbak-mbak olshop yang banjir orderan.

Sekali waktu, saya pernah menyimpan nomor WhatsApp satpam kompleks perumahan di mana saya tinggal indekos. Saya memang jarang mengikuti kegiatan warga, tapi saya jadi tahu ibu di ujung jalan pindah ke rumah anaknya kemudian rumahnya sekarang dijual. Saya pun tahu kos eksklusif paling mewah di kompleks kami itu dalamnya kayak apa. Bahkan ketika tetangga kena tegur saking ramenya house kitchen dan menciptakan antrean ojol, saya pun tahu detail kasusnya. Semua ini berkat WhatsApp Story dari satpam kompleks seorang, sebuah informasi ring satu, ditampilkan dengan lugas dan apa adanya.

Whatsapp story is such a funny concept you really be going there watching the lives of people that are not your friends or colleagues like wah lagi jalan-jalan nih bapak mandor yang waktu itu??? atau ooh begini kehidupan sehari-hari mas-mas cp konfirmasi donasi lombok

— ivana (@avatarkucing) September 14, 2021

Banyak pengalaman lucu dan menarik yang bisa dilihat sebagai sebuah relief kehidupan melalui WhatsApp Story. Ketimbang mantengin kawanmu yang lagi-lagi liburan ke Bali di Instagram Story, mendingan kita kepoin apakah mamang cilok sore ini jualan seperti biasa atau keliling ke tempat lain. Tidak semua kontak WhatsApp yang kita punya itu kawan dekat, saudara, atau sahabat. Tapi, kontak itu adalah nomor yang memang kita butuhkan, nomor yang pernah dan masih sesekali kita hubungi. Lucu ketika tahu bahwa mereka yang tidak seakrab kawan-kawan Instagram justru memberikan informasi yang jauh lebih adem dan membahagiakan.

Lagi pula, WhatsApp Story bisa jadi jalur yang tepat untuk UMKM dan orang-orang yang sedang merintis usaha. Sudah banyak banget orang yang berdagang dan terbantu promosi jalur WhatsApp Story. Sebab, jualan lewat sini cenderung lebih mudah dan nggak membingungkan. Tertarik dengan barangnya, tinggal komentarin unggahan dan chat langsung ke penjual. Pembeli cepat dapat respons, penjual pun laris manis. Semua senang.

BACA JUGA Saya Membisukan Story WA Semua Orang dan Saya Tidak Menyesal dan artikel AJENG RIZKA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 16 September 2021 oleh

Tags: aplikasi pesaninstagram storyInstastorykontak whatsappmedia sosialnetizensnapchatsocial mediawhatsapp story
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto
Sehari-hari

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Brain Rot karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok.MOJOK.CO
Fragmen

Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Pembusukan Otak karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok

3 Juli 2025
Self Abuse yang Tidak Aku Sadari Setelah Melihat Media Sosial MOJOK.CO
Kilas

Self Abuse yang Tidak Aku Sadari Setelah Melihat Media Sosial

9 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.