Honda Scoopy yang Katanya Motor Busuk tapi Laris karena Modal Tampang Bikin Konsumen Setia Honda Merasa Sangat Kecewa

Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Saya tergelitik setelah membaca tulisan dari Mas Marselinus Eligius Kurniawan Dua di Terminal Mojok. Katanya Marsel, Honda Scoopy itu motor bobrok. Penjualan motor ini terbilang tinggi semata karena Honda punya seni menjual yang mumpuni. Sebagai pengguna Scoopy, saya jadi bimbang.

Jadi, sudah agak lama saya menggunakan Honda Scoopy berganti-gantian dengan Honda Vario 160. Kalau sekarang, istri saya yang lebih sering menggunakan Scoopy. Saya sendiri menggunakan motor yang memang rada aneh ini di jalanan Jogja dan Surabaya. Selama itu pula, sebetulnya saya merasakan kegelisahan Mas Marsel.

Honda Scoopy itu lincah, tapi tenaga loyo

Saya tidak punya kriteria khusus kalau soal memilih motor. Sejak dulu, intinya irit dan perawatannya mudah. Semua itu semata supaya bisa hemat saja. Nah, saya sendiri merasa Honda Scoopy sudah memenuhi dua kriteria tersebut.

Namun, setelah berganti ke Vario 160, saya mengamini kegelisahan Mas Marsel. Scoopy menggunakan mesin 110 cc eSP. Mesin eSP memang membuat motor retro ini jadi irit bensin. Sudah begitu, mempertimbangkan bodinya yang kecil-ramping, ia jadi enak untuk manuver.

Sayangnya, mesin 110 eSp membuat Honda Scoopy jadi loyo. Akselerasinya lamban dan tarikan bawah terasa berat. Bahkan, respons gas sering membuat saya harus sangat sabar. Ini belum kalau menghadapi tanjakan. Maklum, di daerah Nanggulan, Kulon Progo, tanjakan sudah menjadi pemandangan biasa.

Kalau mau menjelajahi Nanggulan, saya harus ganti pakai Vario 160. Karena kalau memaksa pakai Scoopy, mesinnya pasti meraung dan menderita. Padahal, jalan santai pakai motor retro ini enak. Sayang, ia sangat loyo.

Honda menjadikan konsumen sebagai objek

Saya meminjam sub-judul di atas dari tulisan Mas Marsel. Dia menulis begini:

“Masalah terbesar Honda Scoopy bukan pada satu-dua kekurangan teknis. Melainkan pada filosofi produknya. Honda seolah menganggap konsumen Indonesia tidak butuh motor yang benar-benar mumpuni. Honda hanya menganggap bahwa cukup motor yang terlihat bagus dan “Honda”.”

Lalu, dia menulis lagi begini:

“Scoopy adalah bukti bahwa Honda terlalu percaya diri dengan nama besar mereka. Mereka tahu motor ini akan tetap laku meski spesifikasinya medioker. Akibatnya, inovasi berhenti, kualitas stagnan, dan konsumen dipaksa puas dengan standar rendah.”

Saya agak setuju dengan opini Mas Marsel. Tapi saya berkaca dari peristiwa yang menimpa Vario 160 generasi awal. Tak lain dan tak bukan, adalah soal rangka enhanced Smart Architecture Frame (eSAF). Banyak kasus terjadi, rangka Honda patah dan berkarat. Jujur saja, sebagai konsumen setia Honda, saya kecewa.

Keluarga saya adalah keluarga Honda. Kami setia sejak Honda C-70 atau Honda Pitung, Honda CB, Astrea, Astrea Grand, Supra X, Supra X 125, Vario 110, Vario 125, Honda Scoopy, dan terakhir Vario 160. Argumen Mas Marcel jadi benar karena konsumen jadi semata objek.

Kami akan tetap membeli karena label “Honda”. Dan jujur saja, kenyataan itu menyedihkan.

Honda Scoopy sebagai kemenangan sebuah branding

Honda Scoopy yang sekarang mewarnai jalanan Indonesia tampil dengan warna yang menyenangkan. Kalem di mata dengan desain unik. Namun, ternyata itu semua tidak dibarengi dengan kemampuan mesin yang seharusnya menjadi nyawa sebuah kendaraan.

Hal itu terjadi karena kemenangan sebuah branding. Sejak zaman dulu, orang kalau bicara roda dua, merujuk ke “Honda”, padahal beli motor Yamaha. Sama seperti kalau ngomong pasta gigi, menyebutnya “Pepsodent”.

Sekarang, seperti kata Mas Marsel, pabrikan asal Jepang itu mau melempar motor yang “kayak apa terserah mereka” pasti tetap laku. Asal, memasang tampilan yang memukau dengan iklan-iklan menarik. Orang Indonesia, pada kenyataannya, memang banyak yang masih mementingkan tampilan.

Oleh sebab itu, Honda Scoopy akan terus bertahan. Beda perkara dengan Suzuki, misalnya. Ia tidak mementingkan tampilan, tapi mesin. Makanya, banyak bengkel resmi Suzuki yang tutup karena nggak laku. Motor mereka saja jarang rusak. Meski memang, banyak yang meledek Suzuki yang gagal bikin kendaraan tampan sesuai selera pasar.

Pada akhirnya, Honda Scoopy dan generasi selanjutnya akan terus laku. Masih banyak yang gemar memasang foto di media sosial sekadar untuk pamer. Kepemilikan roda dua tidak untuk manfaatnya sebagai alat transportasi. Ya nggak papa, sih. Cuma, sebagai konsumen setia Honda, kok rasanya sedih, ya.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menyiksa Honda Scoopy di Jalanan Jogja dan Surabaya dan pengalaman menyiksa lainnya di rubrik POJOKAN

Exit mobile version