Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Dari C-70 hingga Supra X 125, keluarga saya setia dan puas kepada Honda. Tapi semua itu berubah ketika Honda Scoopy hadir….

Saat itu 2005, bapak saya berhasil membantu temannya untuk menjual sebidang tanah. Saat negosiasi bonus sebagai makelar, bapak saya meminta motor saja, yaitu Supra X 125. Permintaan itu mendapat persetujuan dan dua hari kemudian, X 125 klasik tromol warna biru dan putih, sampai di depan rumah.

Tahun 2005 adalah tahun di mana saya juga mulai kuliah. Saat itu, saya mengendarai Honda Supra lama. Kadang masih pakai Honda C-70 atau terkenal dengan nama Pitung. Bapak menyuruh saya untuk memakai Supra X 125. Tentu saja saya mau. Dan sejak saat itu, motor yang irit bensin tersebut menjadi teman saya sampai lulus kuliah.

Kalau saya ingat-ingat lagi, Supra X 125 juga menjadi motor yang paling lama saya pakai. Dari 2005, hingga lulus di 2010, lalu bekerja PP Jogja-Klaten, kerja tetap di Jogja, dan seterusnya. Saya juga ingat motor ini tidak pernah membawa masalah. Justru matik dari Honda yang lebih banyak mengecewakan, salah satunya Honda Scoopy.

Keluarga Honda adalah keluarga saya

Secara agak serampangan, saya akan mendaku keluarga saya sebagai “keluarga Honda”. Sejak zaman bapak saya muda, sampai sekarang sudah punya 3 cucu, kalau terlibat dalam obrolan beli motor, pasti merek Honda yang menjadi rujukan beliau.

Saya nggak tahu sejarah di balik hubungan mesra antara bapak dan Honda. Namun, apa-apa selalu Honda. Saya dan kakak, sih, nggak pernah mempermasalahkan preferensi ini. Hingga Honda Scoopy yang membuat kecewa itu. 

Jadi, kesetiaan kami kepada pabrikan dari Jepang ini dimulai dari Honda C-70 atau Pitung. Lalu, menyusul kemudian bapak membeli Honda CB dan ini menjadi motor favorit kami. Kami juga keeps up with the trend. Salah satunya dengan membeli seri Astrea lalu Astrea Grand. Dua motor ini paling enak untuk modifikasi.

Setelah itu, muncul seri Supra. Awalnya Honda Supra lawas, lalu menyusul Supra X 125. Untuk matik, pernah punya Vario 110, Vario 125, Honda Scoopy, dan terakhir Vario 160.

Kakak saya sendiri setia memakai seri Beat sejak awal kemunculannya. Hingga yang tahun 2025 kemarin, dia juga masih sempat membeli. 

Nah, bagi saya pribadi, Supra X 125 menempati tempat khusus di hati. Ia seperti wujud visi dan misi dari pabrikan asal Jepang tersebut. 

Visi utama Honda adalah menjadi perusahaan yang diinginkan masyarakat, memimpin dalam mobilitas bersih/aman, dan mewujudkan impian melalui inovasi global. Misinya berfokus menyediakan produk berkualitas tertinggi dengan harga wajar, menciptakan kegembiraan pelanggan, serta berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat.

Honda Scoopy yang “aneh sendiri”

Nggak tau, deh, desainer dan manajemen Honda mungkin lagi mimpi buruk ketika merancang Honda Scoopy. Sejak dulu, saya percaya betul bahwa Honda nggak akan main-main sama mesin. Makanya, ketika Supra X 125 terkenal dengan suara “gredek” pada batok lampu, saya maklum. Mengatasinya gampang, tinggal pakai kabel tis.

Desain, batok, stripping, warna, atau apa saja namanya itu, tidak pernah menjadi ukuran bagi cinta keluarga kami kepada Honda. Intinya, mesin yang oke itu segalanya. Memang, kalau soal mesin, Suzuki masih rajanya. Saking awet motor mereka, bengkel resmi Suzuki saja sampai tutup karena nggak ada yang mau servis.

Beda dengan Honda Scoopy. Bahkan beda banget. Motor ini datang dengan berbagai warna dan desain yang memukau sekaligus memanjakan mata. Begitu Honda Scoopy terbaru rilis, saya sempat tergoda untuk menjual Vario 160 dan membeli Scoopy. Namun, untung saja, saya masih berkepala dingin.

Saya tidak terburu-buru membeli Honda Scoopy karena ternyata motor ini aneh sendiri. Supra X 125 boleh bermasalah di desain dan gredek batok lampu. Namun, dari sisi mesin, ia masih oke. Namun, Honda Scoopy bagus secara visual, tapi loyo dari sisi mesin. Malah kebalikan.

Supra X 125 dan Honda Scoopy sama-sama nyaman

Salah satu teman kuliah saya pernah meledek saya. Katanya, pakai motor 125 cc tapi nggak pernah ngebut. Buat apa cc besar kalau cuma jalan “gitu-gitu aja”.

Saya, sih, nggak peduli dengan omongan itu. Bagi saya, justru sangat rugi kalau punya Supra X 125 cuma buat ngebut saja. Motor ini memang punya cc besar di kelasnya. Namun, bagi saya, motor ini malah lebih enak kalau kita memakainya di kecepatan antara 30 sampai 60 kilometer per jam.

Nah, di aspek ini, Honda Scoopy juga menawarkan keunggulan yang sama. Motor ini enak banget untuk jalan santai. Makanya, istri saya pun masih setia memakai Scoopy untuk bekerja dan berkegiatan sehari-hari. Untuk jalan pelan atau santai, motor ini salah satu yang terbaik.

Nah, Supra X 125 sendiri pernah punya masalah loyo. Ada banyak users yang komplain. Namun, entah kenapa, saya tidak merasakan kelemahan tersebut. Jalan gigi 1 saja, motor ini sudah bisa lari. Yang saya tahu, versi injeksi yang membawa masalah itu.

Honda Scoopy sendiri belum kelar dengan masalah keloyoan ini. Kamu nggak akan bisa membawa motor ini naik ke pegunungan kalau mesinnya nggak benar-benar waras. Dan, kamu bawa motornya sendirian.

Begitulah, Supra X 125 dan Honda Scoopy ini seperti berkebalikan. Bagus di mesin tapi payah di desain dan suara gradak. Satunya bagus di visual saja, tapi jelek di mesin. Kenapa ya desainer dan teknisi Honda sampai kepikiran bikin yang berkebalikan kayak gini. Ah, ada-ada saja.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

Exit mobile version