Hari Buruh Juga Milik Orang Lembur di Hari Libur, dan yang Anxiety Karena Revisi

MOJOK.COMerayakan hari buruh bukan cuman bisa dilakukan buruh pabrik, buruh tani, buruh migran atau buruh bangunan. Tapi juga kita pekerja media, admin, dokter, dosen, mahasiswa—dan semua profesi lain yang harus tetap lembur di hari libur, ngumpulin uang dulu baru bisa berlibur, dan harus kerja sekuat tenaga supaya tidak menganggur.

Sebagai seorang anak yang tinggal di dekat pabrik-pabrik garmen, setiap hari saya melihat bagaimana orang-orang di sekitar saya hidup sebagai seorang buruh. Laki-laki, perempuan dari usia 15 tahun hingga 40 tahun giat bekerja, bangun pagi lalu pulang malam sekali demi mengejar target produksi.

Saking biasanya pekerjaan buruh di sana, kamu bahkan bisa dengan mudah menemukan anak-anak kecil yang punya cita-tica bekerja di pabrik Feng tay (yang memproduksi sepatu brand Nik*) tidak banyak yang punya cita-cita jadi dokter, insinyur, atau arsitek.

Di tempat saya, sekolah tinggi adalah anomali. Ya wajar sih universitas memang mahal sekali. Jadinya, lulus sekolah mending langsung bekerja, menikah, dan menjalani kehidupan seperti orang-orang biasa di sana.

Dari apa yang saya dengar, kehidupan buruh pabrik itu keras sekali. Mereka harus bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore hanya dengan istirahat 45 menit untuk makan siang dan beribadah (itu pun kamu harus memilih salah satu. Musholla pabrik tempatnya kecil sekali, kamu harus mengantri cukup lama supaya bisa sholat, lalu gara-gara itu, kamu akan kehilangan waktu makan siangmu).

Buruh pabrik juga punya target produksi yang tinggi. Yang kalau tidak tercapai, mereka harus siap dicaci maki dan diperlakukan tidak manusiawi.

Berapa gaji yang mereka terima? “hanya” tiga juta. Lalu uang itu akan habis begitu saja untuk membayar berbagai cicilan, listrik, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi saya itu semua terdengar tidak adil. Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Tidak banyak yang berani bersuara. Di hari buruh seperti ini, hanya sedikit yang berani untuk membuat aksi. Kabar yang beredar, kalau kamu ketahuan mendemo perusahaan, siap-siap saja langsung kena pecat. Jadinya buruh-buruh pabrik di tempat saya adem ayem saja. Pantes para pemodal di sana kelihatan kaya-kaya dan bahagia karena tidak menerima tuntutan apa-apa hhe hhe hhe 🙁

Ketika saya sudah mahasiswa, dan punya kerja seperti sekarang, saya melihat mulai banyak yang merayakan hari buruh. Tapi, alih-alih mendapat dukungan karena sudah punya keberanian buat ngelawan, ini kok banyaknya malah yang nyinyir dan nggak suka ya sama aksi yang dilakukan serikat buruh di kota-kota?

Saya lihat ada banyak sekali orang yang mengeluh tentang perayaan hari buruh ini. Tentang bagaimana buruh-buruh—mereka bilang—begitu manja. Minta ini itu semua harus dituruti, minta UMR dinaikan—yang jelas-jelas dampaknya adalah membuat perusahaan jadi harus menaikan harga karena naiknya ongkos produksi jika tuntutan ini dipenuhi.

Juga mengeluh tentang hari buruh karena tidak suka ruang public dikuasai massa, bikin macet. Ngeganggu orang lain aja, katanya.

Juga mengeluh tentang hari buruh karena berpikir kalau hidup susah yang dimiliki buruh adalah salah mereka sendiri yang malas bekerja keras dan sekolah tinggi supaya bisa punya skill dan bisa melamar pekerjaan yang lebih menjamin kesejahteraan.

Setelah saya amati, keluhan-keluhan ini, kocaknya muncul dari sesama pekerja.

Yang mengeluhkan harga pakaian dan sepatu mereka naik karena ongkos produksi adalah orang-orang yang memakai pakaian dan sepatu fancy yang harus menjaga gaya mereka tetap trendy agar bisa terlihat menarik dan representative di depan klien supaya proyek mereka bisa disetujui.

Yang mengeluhkan jalanan macet karena aksi adalah orang-orang yang terburu-buru untuk sampai ke tempat kerja meskipun di kalender, hari ini jelas tanggal merah.

Dan terakhir, orang yang mengeluh tentang betapa malasnya buruh karena kurang bekerja keras adalah orang yang menghabiskan hidupnya mengejar ambisi diri semata, menjilat sana sini supaya bisa memanjat jabatan tinggi tanpa perduli orang-orang di sekitarnya.

Halo, halo Bung dan Nona (biar kayak anak kiri manggilnya Bung dan Nona) se-fancy, sepenting, atau sekeren apa pun pekerjaan kalian, sadarkah kalian kalau sebenarnya kalian itu buruh juga?

Betul~ Buruh itu bukan cuman buruh pabrik, buruh tani, buruh migran atau buruh bangunan. Tapi juga kalian orang-orang yang tetap harus lembur di hari libur, ngumpulin uang dulu baru bisa berlibur, dan yang berusaha sekuat tenaga melakukan apa yang dikatakan bos biar nggak menganggur.

Halo Bung dan Nona, tidak peduli apakah Anda anak media, bisnisman, sales, dokter, dosen, peneliti, aktivis, atau anak ahensi, selama Anda bukan Lord Luhut atau crazy rich Indonesia dan pemilik modal yang menguasa setengah kekayaan warga negara lainnya, anda sama saja nasibnya dengan para buruh yang kalian nyinyiri itu.

Betul~ gaji kalian bisa jadi lebih tinggi. Asuransi dan tunjangan sudah ada di tangan. Tapi yang namanya pekerjaan, apa pun itu, yang kalian lakukan dengan keikhlasan atau paksaan, pasti penuh penuh dengan tekanan dan melelahkan.

Di satu sisi kamu bisa jadi harus menjual kewarasaanmu hanya demi menyelesaikan tanggungan pekerjaan. Dan kamu haru tahu kalau itu adalah sebuah bentuk ketidakadilan dan eksploitasi yang harus dilawan.

Pekerjaan kalian, sekeren apa pun itu, kalau bisa diwakilkan dengan kata-kata Seno gumira yang ini “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Artinya kalian sama saja dengan para buruh. Kerja kerja kerja tapi tidak kaya-kaya~

Atau bisa jadi kamu kaya, tapi tidak bahagia karena pekerjaanmu itu, selalu masuk ke dalam alam bawah sadarmu bahkan ketika kamu hendak tidur dan sedang berlibur. Mungkin kamu belum merasa kalau sebenarnya, kapitalisma sudah memporak-porandakan isi otakmu hingga bikin kamu mikir kalau istirahat dari kerja adalah hal yang sia-sia. Setiap hari, hidupmu diisi dengan anxiety karena mikirin beban revisi wqwq mamam.

Makanya, momen hari buruh sebenarnya hari raya untuk kita semua (kecuali Lord Luhut dan pemilik modal tentu saja) untuk melawan dan menekan.

Untuk memaksa orang-orang yang berwenang membuat sistem kerja yang lebih baik. Yang lebih seimbang. Bukan hanya kerja kerja kerja, tapi juga bisa piknik, bercinta, dan bertemu keluarga. Dan ekosistem seperti ini tentu harus dibentuk. Dan kita sendiri sebagai pekerja yang harus “memaksa” orang-orang yang punya wewenang, nggak bisa cuman berharap kebaikan dari mereka.

Kalau nggak ngomong dan nggak menjelaskan apa yang kita alami, kita rasakan, orang lain ya mana ngerti. Di hari buruh inilah, Bung dan Nona, mari kita bersuara. Karena hidup sejahtera dan bahagia adalah hak kita semua.

Exit mobile version