Nggak bisa slow living di Jogja itu cuma menggambarkan satu hal. Bahwa dia itu lemah dan suka mencari alasan atas kegagalan diri sendiri. Karena dia sadar yang salah diri sendiri, lalu menyalahkan Jogja itu bla bla bla. Halah, tipikal.
Saya membaca cerita Ilham di kanal Liputan Mojok. Dia memutuskan pulang ke Pandaan-Prigen setelah 8 tahun merantau di kota saya. Saya menghormati pilihannya.
Saya juga percaya dia menemukan hidup yang lebih nyaman di sana. Tapi saya keberatan pada satu kesimpulan yang diam-diam menyelinap dari cerita semacam itu. Bahwa slow living di Jogja nggak mungkin dan bahwa siapa saja yang mencoba hidup pelan di sini sedang menipu diri sendiri.
Saya menolak kesimpulan itu. Bukan karena saya membela kota saya secara membabi buta, tapi karena saya menjalani slow living di Jogja setiap hari. Saya tahu harga untuk memenuhi standar hidup sudah melambung tinggi, Jalan Kaliurang semakin macet, kafe-kafe penuh sesak orang bekerja. Tapi, itu semua tidak seharusnya menjadi masalah tunggal.
Orang salah paham soal slow living sejak awal
Saya menduga banyak orang memahami slow living sebagai “hidup murah di tempat sepi dengan udara dingin”. Kalau kayak gitu, slow living Jogja jadinya cuma mitos.
Carl Honore, yang mempopulerkan gagasan ini lewat In Praise of Slow, tidak pernah menyuruh kamu melambat total. Dia menyebut istilah tempo giusto atau kecepatan yang tepat.
Intinya simpel banget. kita memilih ritme yang cocok untuk setiap aktivitas, bukan menyeret semua hal ke kecepatan minimum.
Saya mengetik cepat ketika deadline mengejar. Makan pelan ketika duduk di angkringan. Dua-duanya slow living, karena saya yang memegang kendali atas kecepatannya, bukan kota yang mendikte saya.
Slow living juga menuntut kita hadir penuh pada momen yang sedang kita jalani. Bukan pindah tempat, tapi pindah perhatian.
Saya bisa duduk di teras rumah selama 20 menit sambil mendengar suara burung tetangga dan merasa hidup saya utuh. Tetangga saya bisa duduk di teras yang sama sambil scroll Instagram, membandingkan hidupnya dengan orang lain, lalu berdiri dengan perasaan tertinggal. Kami menghirup udara yang sama. Bedanya ada di kepala.
Jadi ketika seseorang bilang “Slow living di Jogja itu omong kosong”, saya ingin bertanya balik. Siapa yang menyibukkan Anda? Jogja tidak pernah menelepon Anda pukul 11 malam. Kota ini tidak memaksa Anda ikut tiga tongkrongan dalam semalam.
Anda yang memilih. Lalu, Anda menyalahkan kota. Iya, semua pilihan itu bisa kamu tentukan sendiri.
Harga mahal itu masalah ekonomi, bukan semata slow living Jogja itu mitos
Saya tidak akan berpura-pura buta. Harga tanah di Jogja memang gila. UMP kami memang menyedihkan kalau orang membandingkannya dengan biaya hidup. Saya marah soal itu, dan saya rasa semua orang Jogja marah soal itu.
Tapi saya menolak orang mencampuradukkan dua hal yang berbeda. Ketimpangan upah dan harga properti adalah persoalan struktural. Slow living di Jogja adalah cara kita mengelola perhatian, waktu, dan keinginan.
Kalau harga mahal otomatis membunuh slow living, maka orang Kopenhagen dan Kyoto, dua kota yang jauh lebih mahal daripada Jogja, tidak akan pernah menikmati hidup pelan. Kenyataannya mereka menikmatinya, karena mereka membangun kebiasaan, bukan membeli suasana.
Saya juga curiga banyak orang mengeluh mahal bukan karena kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi, melainkan karena mereka mengejar versi Jogja yang muncul di feed orang lain. Kopi manual brew seharga Rp38 ribu setiap pagi. Brunch di kafe dengan interior beton ekspos. Staycation setiap kali ada waktu. Lalu mereka menyimpulkan Jogja mahal dan slow living mustahil.
Sampai beberapa bulan yang lalu, saya masih bisa makan gudeg enak Rp10 ribu, minum kopi tubruk di kantor, jalan sore kalau sempat. Dan saya masih bisa menabung.
Konsumsi yang saya tekan justru membuat ritme melambat. Iya, saya tidak perlu mengejar pemasukan tambahan untuk membiayai gaya hidup yang tidak saya butuhkan. Slow living di Jogja menghemat uang saya, bukan menghabiskannya.
Slow living di Jogja itu pilihan, bukan takdir
Orang luar melihat Malioboro, melihat antrean Jalan Solo pukul lima sore, lalu menyimpulkan Jogja sudah kehilangan ketenangannya. Saya paham kesan itu. Tapi saya hidup di sini, dan saya tahu kota ini punya lipatan-lipatan yang tetap pelan.
Saya belanja di pasar dekat rumah pagi-pagi dan penjual sayur masih mengajak saya ngobrol soal cucunya. Saya lewat jalan kampung dan bapak-bapak masih duduk di pos ronda sambil menyeruput teh.
Saya ikut kerja bakti RT tiap bulan dan tidak ada satu orang saja yang memburu-buru pekerjaan itu selesai. Ritme lambat Jogja masih hidup. Hanya saja, ritme itu tidak nongkrong di kafe yang Anda datangi.
Saya juga mengatur hidup saya secara sadar. Rumah dan kantor saya jauh. Namun, saya menyadari itu sebagai pilihan. Karena saya memilih pindah dari kota dan memilih tinggal di desa.
Saya bisa saja tinggal di rumah sendiri di pusat Kota Jogja. Tapi, saya MEMILIH hidup tenang. Secara sadar, saya tidak lagi, atau minimal mengurangi, membahas pekerjaan selepas pukul 6 sore. Keputusan-keputusan kecil itu membentuk hidup saya jauh lebih kuat daripada kode pos saya.
Kalau seseorang pindah ke desa sambil membawa kebiasaan lama, misalnya memeriksa ponsel tiap lima menit, membandingkan diri dengan teman seangkatan, menumpuk pekerjaan sampai larut, maka dia hanya memindahkan kegelisahannya ke tempat yang lebih dingin. Udara sejuk tidak menyembuhkan kepala yang berisik.
Bukan lambat total, tapi sadar
Saya ingin menutup dengan hal yang paling sering orang salah paham. Slow living di Jogja tidak menyuruh saya berhenti berambisi. Saya bekerja, mengejar target bersama tim, dan menutup kebutuhan dengan semua daya dan upaya.
Bedanya, saya memilih apa yang layak saya kejar dan apa yang saya lepas. Saya menolak lebih banyak hal daripada yang saya terima, dan penolakan itulah yang menciptakan ruang kosong dalam hari-hari saya. Ruang kosong itu yang orang sebut slow living di Jogja.
Jadi silakan pulang ke Pasuruan. Monggo saja cari mata air dan udara dingin. Saya benar-benar mendoakan Anda bahagia di sana. Tapi tolong jangan pulang sambil menyisakan slow living di Jogja itu cuma mitos.
Saya orang Jogja. Saya tinggal di kota yang katanya makin ramai dan makin mahal ini. Dan siang ini, setelah saya menutup laptop, saya akan duduk di teras, menyeduh teh, dan tidak melakukan apa-apa selama setengah jam.
Kalau itu bukan slow living, saya tidak tahu lagi orang mau menyebutnya apa.
BACA JUGA Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini dan artikel bermanfaat lainnya di rubrik POJOKAN.
