Libur panjang sudah di depan mata. Jogja sebagai daerah wisata diprediksi akan kedatangan 8,2 juta orang secara berharap. Jumlah yang tidak sedikit.
Di tengah momentum tersebut, saya memprediksi dua hal. Pertama, jalanan Jogja akan macet. Itu mengapa saya sebagai orang yang tinggal di Jogja akan memilih di rumah saja. Kedua, pasti ada saja wisatawan viral di saat libur panjang seperti ini.
Tentu kalian masih ingat kejadian saat libur Natal dan Tahun Baru belum lama ini. Ada wisatawan yang merasa tertipu karena makan 3 porsi gudeg dan es teh seharga Rp85.000. Kejadian ini mengundang banyak komentar dari banyak orang, tidak terkecuali warga lokal (warlok). Warlok merasa, Rp85.000 adalah harga yang wajar untuk 3 porsi gudeg Jogja dan minumnya, terlebih penjualnya berada di kawasan wisata Malioboro.
Saya bersama warlok yang yang merasa harga tersebut wajar. Orang-orang mungkin masih terjebak romantisme bahwa Jogja itu kota yang murah. Memang, beberapa makanan dan minuman Jogja masih sangat ramah di kantong, tapi soal gudeg lain cerita.
Bisa saya bilang makanan ini tergolong mahal, itu mengapa saya yang warlok pun jarang menyantapnya. Akan tetapi, sebagai warlok saya memahami kenapa kuliner Jogja yang begitu ikonik itu bisa menguras kantong.
Bahan dan proses membuat gudeg Jogja yang tidak mudah
Saat kejadian gudeg Rp85 ribu viral, ada satu komentar senada yang saya dengar dari netizen dan kawan-kawan yang asli Jogja. Mereka memaklumi harga gudeg mahal karena bahan dasarnya yang tidak murah. Salah satunya, ayam kampung yang harganya lebih tinggi dibanding harga pada umumnya. Mereka menyayangkan para wisatawan yang tidak memahami hal ini. Padahal, sebagai orang yang berwisata, menelusuri makanan yang hendak disantap jadi hal penting dan mudah dilakukan. Apalagi di tengah era teknologi seperti sekarang ini. Singkatnya, teman-teman saya berkomentar, “Mbok riset sik!”
Selain ayam kampung, kunci keunikan gudeg Jogja adalah menggunakan nangka muda atau gori. Tidak bisa tidak. Apabila menggunakan buah nangka yang terlalu matang, rasa gudeg terasa seperti manis buah-buahan pada umumnya. Teksturnya pun jadi aneh.
Nah, ternyata, cari nangka muda di Jogja itu tidak mudah. Salah satu liputan Mojok pernah menuliskannya dengan apik dalam Ironi Jogja, Kota Gudeg yang Kekurangan Bahan Baku Gudeg. Berdasar catatan, permintaan nangka muda bisa mencapai 10 ton tiap harinya. Saking tingginya permintaan nangka muda, bahan baku ini sempat menjadi salah satu penyebab inflasi Jogja.
Keunikan lain tentang gudeg adalah proses memasaknya yang lama. Agar rasa pada gori meresap dan empuk, nangka muda harus dimasak cukup lama. Setidaknya perlu waktu 4-6 jam. Jadi, setelah dikupas dan dipotong kecil-kecil, nangka muda direbus terlebih dahulu agar empuk. Barulah potongan nangka tadi dimasak dengan santan dan rempah-rempah selama berjam-jam.
Itu baru memasak gudegnya ya. Penjual juga harus memasak lauknya seperti ayam, telur, tahu, tempe, krecek. Aduh, pokoknya banyak sekali persiapan yang diperlukan agar seporsi gudeg di hadapan kalian bisa tersaji.
Mendapat celaan dari pembeli
Membaca dan menuliskan kembali proses membuat gudeg Jogja membuat saya sadar betapa repot memasak makanan khas satu ini. Bahan-bahannya sulit dan mahal, proses memasaknya memakan waktu berjam-jam. Belum lagi persaingan yang tinggi. Asal tahu saja, setidaknya ada ratusan UKM gudeg di Jogja.
Ya namanya juga jualan, pasti ada saja tantangannya. Namun, untuk penjual gudeg, tantangannya tambah satu lagi, pembeli yang menyebalkan. Masih banyak orang yang mengira gudeg itu makanan murah sehingga harganya kerap diprotes pembeli. Selain itu, cita rasa gudeg yang manis juga sering tidak sesuai dengan lidah banyak orang. Kemudian, makanan ini mendapat celaan bertubi-tubi, sudah mahal rasanya nggak enak lagi.
Padahal, itu bukan karena ketidakbecusan penjual dalam menyajikan gudeg. Semua itu perkara selera dan daya beli. Yang mana, semuanya bisa diketahui kalau wisatawan mau sedikit saja effort riset di internet sebelum kulineran.
Jadi, ketika nanti kalian jajan gudeg Jogja, pastikan kalian sudah riset kecil-kecilan lebih dahulu soal makanan satu ini, termasuk harga dan cita rasanya. Apabila perlu, tanya warlok rekomendasi gudeg yang pas dengan kantong dan cita rasa kalian. Jangan tiba-tiba asal hantam dengan narasi gudeg Jogja nggak enak dan mahal. Di balik seporsi gudeg yang tersaji di hadapan kalian ada bahan-bahan berkualitas dan sulit didapat, serta proses memasak yang tidak sebentar.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA an catatan menarik lainnya di rubrik POJOKASate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
