Saya selalu membuka grup WhatsApp keluarga dengan perasaan waswas. Bukan karena saya membenci keluarga, melainkan karena saya tidak pernah tahu topik apa yang sedang menunggu di sana.
Pagi-pagi, grup itu bisa berisi foto sarapan keponakan. Lima menit kemudian, seseorang mengirim video tentang bahaya makan nasi dingin. Setelah itu, seorang paman membagikan kabar politik yang tidak jelas sumbernya. Menjelang siang, ibu saya bertanya apakah saya sudah makan. Sore harinya, sepupu mengirim undangan pernikahan.
Semuanya berlangsung dalam satu grup yang sama. Kabar keluarga, nasihat kesehatan, gosip tetangga, perdebatan politik, dan tagihan arisan bercampur seperti isi laci dapur.
Saya memang sering mengeluh tentang grup WhatsApp keluarga, tetapi saya tetap membukanya setiap hari. Bagaimanapun, grup itu menjadi jalur tercepat untuk mengetahui kabar orang-orang yang tinggal jauh dari saya.
Ketika nenek sakit, keluarga langsung mengabarkan kondisinya melalui grup. Ketika sepupu saya melahirkan, semua orang mengirim ucapan selamat di sana. Bahkan ketika kucing tante saya hilang, keluarga besar ikut mencari lewat pesan berantai.
Grup WhatsApp keluarga memang memudahkan saya untuk berkomunikasi
DataReportal yang dikutip Katadata mencatat bahwa 90,8% pengguna internet berusia 16 tahun ke atas di Indonesia menggunakan WhatsApp pada kuartal kedua 2025. Katadata menempatkan WhatsApp sebagai aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia.
Namun, kemudahan itu juga membawa masalah. Grup WhatsApp keluarga membuat semua orang merasa berhak mengetahui hidup orang lain.
Saya bisa makan sendiri tanpa laporan harian
Saudara saya pernah pulang kampung setelah beberapa bulan tidak bertemu keluarga. Saya pikir mereka akan menanyakan kabar pekerjaan atau kondisi kesehatan saudara saya tersebut. Dugaan saya salah.
Pertanyaan pertama yang dia terima justru, “Kapan menikah?”
Dia ikut tertawa untuk menutupi rasa tidak nyaman. Setelah itu, dia menjawab sekenanya. Namun, pertanyaan tersebut tidak berhenti.
Beberapa anggota keluarga ikut menimpali. Ada yang menyarankan dia memperbanyak pergaulan. Beberapa mengatakan usianya sudah cukup. Ada pula yang menceritakan anak tetangga yang menikah lebih muda.
Percakapan itu berlangsung di ruang tamu, tetapi rasanya seperti sidang terbuka. Dia duduk sendirian sebagai terdakwa, sementara anggota keluarga lain menyampaikan pendapat dari berbagai arah.
Sejak saat itu, saya sadar bahwa grup WhatsApp keluarga tidak hanya menjadi tempat berbagi kabar. Grup itu juga menjadi ruang untuk memantau kehidupan anggota keluarga. Saya tidak cukup hanya memberi tahu bahwa saya sehat. Saya juga perlu menjelaskan pekerjaan, penghasilan, pasangan, tempat tinggal, dan rencana masa depan.
Nggak balas chat dianggap marah
Kalau saya tidak membalas pesan, seseorang akan bertanya apakah saya marah. Kalau saya hanya membaca pesan, seseorang akan mengirim tanda tanya. Kalau saya keluar dari grup WhatsApp keluarga, keluarga akan menganggap saya sedang memiliki masalah.
Saya bahkan pernah merasa bersalah karena tidak membalas foto masakan tante. Padahal, saat itu saya sedang bekerja dan harus mengejar tenggat waktu.
Di mata keluarga, saya mungkin terlihat tidak peduli. Di kepala saya, saya hanya sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan sebelum atasan mengirim pesan kedua.
Nasihat di grup WhatsApp keluarga sering datang tanpa undangan
Masalah lain muncul ketika anggota keluarga mulai berbagi informasi kesehatan. Seseorang mengirim pesan bahwa air rebusan tertentu dapat menyembuhkan penyakit. Anggota lain membagikan video pendek yang menyebut vaksin sebagai penyebab berbagai masalah. Tidak ada sumber yang jelas, tetapi semua orang meneruskan pesan itu dengan penuh keyakinan.
Saya pernah mencoba meminta sumber berita. Saya mengira keluarga akan memeriksa ulang informasi tersebut. Ternyata, seseorang justru menuduh saya terlalu percaya internet dan tidak menghormati orang tua.
Kementerian Komunikasi dan Informatika pernah mencatat 733 aduan konten hoaks yang tersebar melalui grup WhatsApp keluarga sepanjang 2018. Pemerintah juga pernah mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan meneruskan informasi. Siaran pers Kominfo mencatat persoalan tersebut.
Memang, angka itu berasal dari beberapa tahun lalu. Namun, kebiasaan meneruskan pesan tanpa memeriksa sumber masih sering saya temukan sampai sekarang. Perbedaannya hanya terletak pada topik. Dulu keluarga saya membahas obat herbal. Sekarang mereka membahas investasi, politik, subsidi, dan penipuan digital.
Saya tidak ingin memusuhi keluarga karena masalah itu. Saya hanya ingin mereka memahami bahwa pesan yang masuk ke grup tidak otomatis berubah menjadi kebenaran.
Grup keluarga tetap saya butuhkan
Walaupun sering membuat kesal, saya tidak ingin keluar dari grup WhatsApp keluarga. Saya masih membutuhkan grup itu ketika keluarga ingin membicarakan rencana mudik, pembagian biaya pengobatan, atau kabar anggota keluarga yang tinggal di luar kota.
Sebuah laporan yang dikutip Kompas menyebutkan bahwa interaksi melalui WhatsApp dapat membantu orang merasa lebih dekat dengan teman dan keluarga. Penelitian dari Edge Hill University juga menemukan hubungan antara penggunaan WhatsApp dan meningkatnya rasa terhubung dengan orang terdekat. Kompas merangkum temuan tersebut.
Jadi, masalahnya bukan terletak pada aplikasinya. Masalahnya terletak pada cara anggota keluarga menggunakan WhatsApp.
Saya ingin grup WhatsApp keluarga menjadi tempat berbagi kabar, bukan tempat membandingkan kehidupan. Kadang saya berharap anggota keluarga bertanya dengan tulus, bukan menyelipkan tuntutan di balik pertanyaan. Saya ingin orang mengirim berita setelah memeriksa sumber, bukan setelah melihat judul yang cocok dengan pendapatnya.
Jangan jadi ruang sidang
Kini, saya mencoba membaca grup itu dengan lebih tenang. Saya tidak lagi merasa wajib membalas semua pesan. Saya juga tidak selalu berdebat ketika seseorang mengirim informasi yang meragukan. Jika saya memiliki tenaga, saya mengirim sumber pembanding. Jika tidak, saya cukup mengarsipkan percakapan tersebut.
Saya tetap menyayangi keluarga, tetapi saya tidak ingin menyerahkan seluruh ruang pribadi kepada mereka. Saya bisa mencintai keluarga tanpa memberi laporan harian tentang hidup saya.
Pada akhirnya, grup WhatsApp keluarga seharusnya membantu anggota keluarga merasa dekat. Jangan sampai grup itu berubah menjadi ruang sidang yang membuat setiap orang merasa harus mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Dosa Orang yang Sering Nyampah di Grup WA, Memang Pantas Di-kick atau kisah menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
