Apa Masalahnya Kalau Cuma Ngerekam tapi Nggak Nolongin?

MOJOK.COKomentar, “cuma ngerekam tapi nggak nolongin”, pasti muncul di setiap konten rekaman kejadian yang terlihat dramatis. Ta, tapi, kan nggak apa-apa kalau mereka bisanya memang cuma ngerekam?

Dengan harga gadget yang semakin murah, saat ini hampir setiap orang sanggup mengantongi handphone dengan fitur kamera. Ternyata, hal ini pelan-pelan memberikan dampak pada setiap orang seolah bisa jadi ‘wartawan’. Tak perlu mengirimkannya ke media, cukup di akun pribadi dan video tersebar dengan mudahnya.

Tanpa kamera CCTV pun, rasa-rasanya hidup ini sudah dipenuhi kamera di mana-mana. Yang cukup bisa dijadikan kontrol tingkah kita. Bahkan, teman saya pernah menolak membonceng saya karena saya tidak pakai helm. Ia menolak bukan karena takut dicegat polisi, atau mengkhawatirkan saya. Tapi, dia takut menjadi viral kalau-kalau direkam netizen. Apalagi saat itu, dia menyadari knalpot motornya cukup menganggu pendengaran. Jadi, dia tidak ingin semakin menarik perhatian sorotan kamera, dengan membonceng saya tanpa helm.

Begitulah, dengan mudahnya akses menggunakan kamera dan upload media sosial. Maka kamera betul-betul mengintai hidup kita. Ia bisa merekam setiap kejadian. Baik pertengkaran dengan pacar di pinggir jalan, sebuah kecelakaan, bencana alam, maupun konflik-konflik yang sebetulnya menjadi privasi orang yang bersangkutan—tapi ndilalah, kok ya kebetulan ada yang ngerekam dan jadi viral.

Biasanya, setelah kejadian-kejadian semacam ini direkam atau difoto kemudian di-upload di media sosial dan ramai. Pasti adaaa saja yang berkomentar, “Kok cuma ngerekam tapi nggak nolongin?”

Seperti yang terjadi pada video yang sedang ramai, tentang seorang ibu-ibu yang mendorong paksa seorang anak berseragam SD turun untuk dari mobil. Ntah apa yang terjadi sebetulnya. Komentar mempertanyakan si kameramen yang, “cuma ngerekam tapi nggak nolongin” itu, juga muncul.

Padahal, apa salahnya yang ngerekam, sih? Tanpa video tersebut, kita-kita para netizen, kan jadi nggak tahu kalau ada kejadian yang sungguh tampak kejam seperti itu. Jika berita semacam ini nggak ada, kita jadi nggak tahu, kalau seorang perempuan—entah itu ibunya atau bukan—ternyata ada juga yang bisa sekasar itu dengan seorang anak kecil.

Bayangkan kalau nggak ada video itu, pasti berita di Lambe Turah, lagi-lagi masih bergulat soal Nikita Mirzani, Lucinta Luna, dan Syahrini. Nilai mendidiknya itu, di mana, loh!

Selain itu, coba kita pikirkan baik-baik. Memangnya gampang? Bisa mendapatkan momen kayak gitu? Saya aja—yang udah pegang gadget 12 tahun lamanya—belum pernah. Dan saya rasa, tidak semua orang dari njenengan sekalian punya pengalaman berhasil mengabadikan momen-momen semacam itu.

Kalau pun berkesempatan menemui momen yang jarang terjadi, kendala teknis bakal jadi tantangan selanjutnya. Mohon maaf, ya. Masalahnya, tidak semua handphone itu nggak nyendat-nyendat kalau digunakan. Layaknya handphone saya nih, biasanya kalau pengin memotret sesuatu cepet-cepet, malah jadi ngehang. Layarnya betul-betul nggak bisa dipencet apa-apa. Entah kenapa. Mungkin dia punya sisi psikologis yang nggak suka diburu-buru.

Oleh karenanya, alangkah lebih baik kalau kita semua menghargai mereka-mereka yang sudah merekam kejadian-kejadian tidak terduga semacam itu.

Mengenai alasan mereka tidak menolong, itu juga sangat bisa dipahami. Saya kira kita memang tidak terlalu suka terlibat dengan urusan orang lain. Ataupun sok ikut campur urusan orang lain. Bukannya nggak betul-betul nggak peduli, tapi takut salah langkah. Jadi, terkadang justru lebih suka memperhatikan dari jauh sambil direkam supaya tidak ketinggalan momennya.

Kalau memang nggak suka ikut campur, kenapa memperhatikan? Bukankah diri kita sebetulnya punya sisi yang menyukai drama? Lalu, bukankah kejadian tersebut menjadi sebuah drama in real life? Bukankah yang terjadi nyata di depan kita, itu justru lebih menarik?

Tidak perlu mengelak soal ini, kalau kita masih saja suka nontonin reality show, semacam Termehek-mehek, Katakan Putus, Rumah Uya, dan sebagainya. Yang kontennya seolah-olah betulan terjadi. Bikin kita ikut-ikutan simpati sama si klien, padahal mah, ya gitu.

Tak hanya itu. Memilih merekam dan tidak mbantuin, sebetulnya bisa dipahami dengan teori sosial, bystander effect. Jadi, ketika kita melihat ada orang yang membutuhkan bantuan. Kita berpikir, bahwa orang lain juga melihatnya, dan pasti akan membantu. Yang jadi masalahnya, kalau ternyata semua orang berpikiran seperti itu. Lantas, tak seorang pun membantu.

Perilaku bystander effect ini bisa muncul karena dua hal. Bisa dikarenakan terlalu banyak orang di tempat itu sehingga memunculkan ketidakjelasan tanggung jawab: siapa yang seharusnya menolong? Selain ketidakjelasan tanggung jawab, hal ini juga bisa terjadi karena perilaku kita sering kali menyesuaikan dengan perilaku masyarakat. Atau, kita lebih nyaman kalau melakukan hal yang sama dengan orang lain. Jadi, ketika melihat tidak ada orang yang bergerak untuk menolong. Maka kita berpikir, memang tidak ada respon yang perlu dilakukan. Daripada nanti malah salah.

Nah, si netizen yang katanya cuma ngerekam tapi nggak nolongin ini, dia adalah si orang yang bingung dengan tanggung jawabnya. Tapi setidaknya, telah berusaha melakukan sesuatu dengan caranya. Fyi aja, kekuatan “cuma ngerekam” ini sifatnya jangka panjang, loh.

Tidak jarang, video-video semacam ini justru menjadi bukti atau pengusutan lebih lanjut tentang sebuah peristiwa. Lebih jauh lagi, video semacam ini juga bisa jadi bahan obrolan di tongkrongan. Lalu, memunculkan perasaan menjadi manusia yang bermanfaat, yang bisa memberikan pembelajaran bagi yang lain. Apalagi punya bukti otentik dari kejadian yang diceritakan tadi. Jelas, nggak sekadar omong doang~

Tidak cukup sampai di situ, adanya ‘wartawan’ di mana-mana yang siap merekam setiap gerak-gerik kita—apalagi kalau tampak nggak sesuai dengan etika. Bisa mengerem kalau-kalau kita mau khilaf. Betul sih, kita sudah dijaga malaikat di kanan-kiri kita dan mencatat setiap perilaku kita. Tapi mohon maaf, nih. Bagi saya, keberadaan si hakim-hakim online ini, ternyata lebih kuat remnya.

Exit mobile version