Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Belajar Dialek Bahasa Jawa yang Jogja Banget pakai Ilmu Tajwid

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
19 Juli 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada banyak dialek bahasa Jawa khas Jogja. Hal yang bikin kerasa Jogja banget terutama kalau ngucapin pakai ilmu tajwid yang benar.

Sepanjang hidup di Jogja sejak lahir ceprot, sebenarnya saya malah kurang ngeh kalau ada perbedaan-perbedaan dialek bahasa Jawa di Jogja dengan daerah sekitarnya. Perbedaan itu jebul cukup besar, terutama karena saya pernah lama tinggal di Solo.

Seperti kalau di Solo dan sekitarnya, saya dulu kerap terbiasa menyematkan kata “jal” dalam beberapa kalimat tanya. “Jal” ini akronim dari kata “jajal” (artinya: coba).

Hal ini baru saya sadari ketika boyong lagi ke Jogja dan ngobrol dengan teman-teman saya yang asli Sleman.

Kata mereka, “Kamu kok sekarang Jawa-nya Solo banget?”

Lah?

Itu terjadi karena saya kerap mengumbar kata, “Piye jal?” (Gimana coba?”). Sebuah ungkapan yang jarang ditemui dari anak-anak Jogja, sehingga ketika saya pakai kalimat itu, saya langsung dituduh sudah kehilangan akar Jogja saya.

Dari tuduhan itu, ditambah karena saya blasteran Solo-Jogja, saya jadi memahami bahwa di Jogja sendiri ada banyak sekali dialek bahasa Jawa yang sangat khas. Ungkapan-ungkapan kecil yang sedikit menunjukkan bagaimana itu bahasa Jogja.

Bahkan, dialek Bahasa Jawa khas Jogja sendiri sebenarnya punya ciri khas yang berbeda di tiap daerahnya. Sepanjang 30-an tahun saya hidup di sini, setidaknya saya bisa bikin klasifikasi perbedaan dialek bahasa Jawa yang—saya sebut—Jogja banget.

Tentu saja, ini bukan bahasa Jawa yang masuk klasifikasi krama inggil atau krama alus, melainkan bahasa Jawa dalam keseharian. Bahasa Jawa pasaran lah, sebut saja begitu.

Dan ini beberapa yang saya tahu dengan sedikit pemaparan soal hukum bacaan alias ilmu tajwid dalam pengucapannya. Semata-mata supaya kalau kamu mau belajar dialek bahasa Jawa khas Jogja, kamu bisa menuturkannya secara fasyeeeh.

Penggunaan “jeh” di Bantul, dan “e” di Sleman

Ungkapan akhiran “jeh” kerap muncul bahkan ketika orang Jogja memakainya dalam percakapan bahasa Indonesia (maaf, saya belum menemukan itu ketika orang Jogja memakai bahasa Inggris).

“Lah gimana, kamu itu orangnya nggapleki jeh.”

Tak ada definisi pasti apa arti “jeh” ini bagi penutur bahasa Jawa di Jogja. Satu suku kata yang sangat kental ini pun diucapkan dengan penuh penekanan. Kalau dalam beberapa konteks, penggunaannya seperti kata “sih” dalam bahasa Indonesia.

Iklan

Kalau dalam ilmu tajwid, pengucapan “jeh” itu pakai hukum idzhar: dibaca jelas.

Persis kayak kamu mengucapkan kata “jajan” dalam bahasa Indonesia. Jadi meski cuma sempilan kecil, pengucapannya begitu tebal, kental, tapi tidak kenyal dan tidak mantul.

Meski begitu, itu ungkapan yang baru kamu temukan kalau kamu ngobrol sama orang Jogja daerah Selatan. Daerah Bantul dan sekitarnya.

Di Utara, seperti di Sleman tempat saya tinggal, penggunaan kata “jeh” cukup jarang. Kami kerap menggunakan kata “e”.

Misalnya, “Lah emang asline bayare piro-e?” (Emang aslinya bayar berapa sih?)

Fungsi fonem itu sama saja sih. Sebagai ungkapan penekanan saja.

Nggak ada artinya secara harfiah juga. Bedanya, kalau dalam ilmu tajwid, kalau “jeh” itu idzhar, maka penggunaan “e” ini lebih kayak samar-samar gitu alias dalam kategori ilmu Tajwid masuk ke penjelasan hukum bacaan Ikhfa.

Suka menyematkan huruf “M”, “N”, “Y” di beberapa kata

Entah diawali dari kebudayaan atau kebiasaan kayak gimana, kami orang Jogja, suka sekali membubuhi huruf “M” sebagai dengung ketika menemukan huruf “B”. Ada hukum bacaan Idgham Bigunnah di sini, alias memakai dengung, tapi kombinasi dengan Iqlab yang memakai huruf “mim” dalam pengucapannya.

Mengucapkan kata Bantul bahkan harus ada “M” di depannya, jadinya “Mbantul”, atau “bati” (untung) diucapkan jadi “mbati”.

Meski begitu, tidak di semua kata dengan huruf “B” selalu seperti itu. Misalnya untuk misuh, “Bajingaaan kowe!” itu nggak ada huruf “M”-nya. Soalnya, penggunaan huruf “M” itu bikin sebuah kata jadi terkesan lebih soft. Kan nggak asyik kalau lagi misuh malah jadi ada dengung yang bikin kalimat pisuhan jadilembut.

Selain huruf “M”, huruf “N” juga jadi favorit terutama kalau ketemu kata dengan awalan huruf “D”. Seperti kata “disek” (duluan) bakal diucapkan “ndisek” atau “dandutan” bakal diucapkan “ndangdutan”.

Selain kedua huruf tadi, huruf “Y” juga sering nyempil. Terutama untuk huruf setelah kata “D”. Seperti kata “madang” (makan) yang bakal diucapkan “madyang” atau kata “modar” yang bakal diucapkan “modyar”.

Kalau dua kata ini hukum bacaannya beda lagi. Hukum bacaannya adalah Mad Wajib Muttasil, dipanjangan 6 ketukan. Alias diucapkan seperti ini: “Madyaaaaaang” atau “Modyaaaaaar!”

Suka memotong/memendekkan kata

Dialek bahasa Jawa berikutnya yang khas Jogja adalah gemar memotong kata. Seperti penggunaan “po” yang berasal dari kata “opo” (apa). Biasanya dipakai kalau dalam percakapan seperti ini. “Emang ngunu po?” (Emang begitu ya?).

Selain itu ada juga kata “dhong” yang similar dengan kata “mudheng” (paham). Biasanya dipakai dalam dialog, “Dhong ora e?” (Paham nggak sih?)

Hukum bacaannya sih nggak ada untuk dua kata itu tadi, soalnya memang tidak ada pengucapan khususnya. Paling di konsonan saja yang perlu diperhatikan. Seperti “po” itu huruf “o”-nya sama seperti kamu ngucapin kata “motor” bukan diucapkan “Po” kayak nama jagoan di film Kung Fu Panda.

Kata pethuk, pekok, dan bajigur yang bukan wedhang

Terakhir, kata paling sering muncul adalah penggunaan kata “pethuk” (goblok) yang konotasinya lebih ke guyonan, bukan ungkapan serius. Misalnya, “Lah kowe yo pethuk, malah melu MLM.” (Lah, kamu ya goblok, malah ikut MLM)

Nah, kalau “pethuk” takarannya lebih rendah secara kadar kegobolokan, maka ada kata “pekok” untuk sesuatu yang sifatnya parah. Bisa diartikan sama seperti kata “tolol”.

Contoh: “IPK kok ngasi 0,5 ki kowe pekok opo piye-e?” (IPK kok sampai 0,5 itu kamu tolol atau gimana sih?)

Dan terakhir soal pisuhan. Ketimbang misuh pakai kata “bajingan”, orang Jogja lebih sering memakai kata “bajigur” sebenarnya.

Bukan apa-apa, kata “bajingan” itu kesannya kasar banget. Dan karena orang Jogja dikenal sering nggak enakan, maka pisuhannya pun disesuaikan dengan tone yang lebih soft.

Pisuhan ini pun bisa beralih rupa tergantung pergaulan. Ada “bajigur”, ada “bajindul”, ada juga “bajingsey”.

Sama seperti di atas tadi, beberapa kata ini tidak ada hukum bacaannya secara khusus. Soalnya pengucapannya biasa-biasa saja dan tidak butuh treatment khusus untuk mengucapkannya secara benar dan fasih.


BACA JUGA Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya dan tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2021 oleh

Tags: Bantuldialek bahasa jawailmu tajwidJogjasolo
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.