Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mengakui Bakat Alam dan Berdamai dengan Privilege

Benarkah bakat alam itu ada? Atau semua kesuksesan itu hanya soal kerja keras semata?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
3 Oktober 2021
A A
privilege chairul tanjung putri tanjung mojok.co

privilege chairul tanjung putri tanjung mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bakat alam dan privilege kerap ditutup-tutupi karena seseorang enggan mendapat tanggung jawab dari keunggulan “natural”-nya.

“Menurutmu bakat alam itu ada nggak?” tanya seorang teman.

Iklan

“Ya ada laaah,” jawab saya.

“Wah, kuno banget cara berpikirmu,” komentar teman saya.

Kuno? Sek, sebentar, sebentar.

Oke baiklah, saya bisa jelaskan kenapa saya percaya kalau bakat alam itu ada. Begini.

Dalam khasanah berpikir masyarakat yang kompetitif seperti sekarang, pengakuan atas bakat alam seseorang memang kerap dianggap sebagai bagian dari cara berpikir primitif.

Bagi orang-orang seperti ini, termasuk teman saya tadi, kesuksesan seseorang bisa dicapai melalui kerja sungguh-sungguh dan kerja keras, tak lebih. Bakat alam tidak perlu menyumbang menjadi bagian dari kesuksesan atas hal itu.

Sebelum menjelaskan itu semua, saya perlu menjawab dulu kenapa saya percaya bakat alam itu ada, dan ia sedikit banyak mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan seseorang.

Secara sederhana, bakat alam yang saya maksud di sini adalah soal tingkat kemudahan suatu makhluk dalam bertahan hidup. Misalnya, seseorang bertubuh tinggi, lebih mudah memetik buah yang matang di dahan pohon ketimbang seseorang yang bertubuh pendek.

Pertanyaannya, memang orang yang bertubuh pendek tidak bisa memetik buah yang sama?

Oh, tentu saja bisa, hanya saja effort yang harus dilakukan orang yang bertubuh pendek mesti lebih banyak. Seperti ia harus “dipaksa” mahir memanjat pohon atau “dipaksa” untuk memanfaatkan tools seperti galah untuk menyamai kemampuan orang yang lebih tinggi.

Artinya, secara tingkat kompetisi bertahan hidup, orang bertubuh pendek bekerja dua sampai tiga kali lebih keras dari orang yang sudah dari sononya punya tubuh tinggi.

Dalam kacamata yang lebih luas, bakat alam seperti ini sebenarnya menjadi alasan kenapa dalam konsep survival primitif (terutama pada spesies makhluk hidup yang reproduksinya pakai cara seksual) betina akan memilih pejantan yang paling tangguh.

Misalnya, pada hewan bertanduk, pejantan yang paling besar, tanduk paling besar, dan paling kuat akan mendapat hak untuk kawin dengan si betina. Atau pada spesies ayam, ayam betina akan memilih kawin dengan ayam jago yang memenangi pertarungan dengan ayam jago lainnya.

Alasannya? Ya ini sebuah sistem agar si betina mendapatkan benih paling kuat. Sehingga anak-anaknya nanti dipercaya akan lebih punya kemampuan survival lebih tinggi. Dengan kemampuan survival lebih tinggi, maka tingkat superior spesiesnya bisa tetap terjaga sehingga tidak cepat punah.

Yak, dalam kacamata primitif, kira-kira itulah jawaban soal bagaimana bakat alam bekerja.

Nah, dalam kacamata manusia, bakat alam itu juga terjadi namun beralih rupa dalam bentuk yang lebih rumit. Karena manusia dibekali akal untuk merekayasa alam, maka konsepsi “alam” di sini pun menjadi lebih kompleks.

Iklan

Jika dulu, alam dimaknai sebagai sesuatu yang sifatnya natural, maka pada manusia modern saat ini, alam yang ada bisa direkayasa. Ibaratnya, makhluk primitif akan punya kemampuan beradaptasi dengan alam, maka manusia modern akan membuat alam berdaptasi dengan dirinya.

Misalnya, ingin makan apel lalu bikin perkebunan apel. Ingin makan daging sapi lalu bikin peternakan sapi. Ingin awet jadi pejabat lalu bikin perusahan tambang… yak, intinya ada macam-macam lah caranya.

Dari konteks semacam itulah kemudian kita mengenal bakat alam ini beralih rupa tidak hanya berupa pada tanda-tanda fisik. Tidak seperti makhluk primitif yang akan superior semata-mata karena lebih kuat dalam hal bertarung, berburu, atau menghindari bahaya, manusia modern membuat “bakat alam” ini berubah konsep (meski secara substansi ya sama).

Seperti dari tingkat kekayaan keluarga, jabatan bapak, status sosial yang dimiliki kakek, yang akhirnya membuat seseorang punya akses pendidikan/pengetahuan lebih baik dari orang-orang di sekitarnya. Hal yang bikin ia lebih mudah untuk jadi superior di komunitas spesiesnya.

Nah, bakat alam yang saya jelaskan secara berbusa-busa inilah yang dikenal oleh masyarakat modern dengan istilah privilege.

Privilege inilah yang bikin seseorang yang lebih tinggi secara status sosial, akan lebih mudah memetik cita-cita di dahan pohon, ketimbang orang yang secara status sosial lebih rendah.

Pertanyaannya (sekali lagi), memangnya orang yang status sosialnya lebih rendah tidak bisa memetik cita-cita yang sama?

Oh, tentu saja bisa, hanya saja ia harus melakukan effort dua sampai tiga kali lebih berat. Seperti harus mahir memanjat pohon cita-cita itu, atau harus menguasai tools lain agar cita-cita itu bisa digapai.

Melihat dari kacamata tersebut, tentu saja kita akan merasa kalau alam ini tidak adil. Karena seseorang dilahirkan dari keluarga siapa bukanlah pilihan, itu adalah sesuatu yang sifatnya taken for granted. Apa alam sekejam itu terhadap manusia?

Nah, dari sinilah kemudian konsepsi equality pada ranah moral manusia bermain. Bahwa orang yang punya privilege pada dasarnya dibebani tanggung jawab lebih besar. Mirip-mirip seperti nasihat Uncle Ben ke Peter Parker, “With great power comes great responsibility.”

Agar gap antara yang lemah dan yang punya privilege kuat tak terlalu lebar, sehingga tidak terjadi iri-irian yang berpotensi bikin konflik, maka manusia dibekali emosi dalam bentuk empati dan simpati. Hal yang kemudian mewujud pada standar moral layaknya yang kerap nongol di buku-buku PPKn atau PMP.

Konsepsi-konsepsi ini yang pada praktiknya kerap muncul dalam anjuran agama, norma, bahkan aturan negara.

Misal, seseorang yang punya privilege, ia dibebani harus membayar zakat lebih banyak dan diwajibkan memiliki asas manfaat lebih besar untuk masyarakatnya. Atau dalam konsepsi negara, orang tersebut dibebani pajak lebih besar dari orang lain (secara normatif lho ya ini ya, bukan soal praktiknya yang embuh itu).

Nah itu tadi kalau dalam konsepsi idealnya, dan persoalan baru terjadi ketika banyak orang-orang yang tak mau berdamai dengan privilege yang ia punyai.

Misalnya, ia bisa jadi sekaya raya sekarang dan mendapat pendidikan begitu tinggi karena status sosial keluarganya, tapi koar-koar di publik bahwa itu semua ia dapatkan bukan dari siapa-siapa tapi dari kerja kerasnya sendiri.

Orang-orang inilah yang menafikan bahwa dirinya punya “bakat alam” atau privilege sehingga ia lebih mudah melakukan itu semua.

Dengan merasa bahwa ia melakukan itu karena kerja kerasnya sendiri, maka dalam tahap ekstrem berikutnya ia merasa tak perlu bertanggung jawab atas kesialan orang lain yang lahir bukan dari keluarga dengan privilege yang setara.

Dengan enteng ia bisa saja menganggap bahwa orang bodoh, miskin, pengemis adalah residu kebudayaan karena orang-orang itu tak mau bekerja keras seperti dirinya. Orang-seperti ini tidak hanya tak mau mengakui, tapi juga tak mau berdamai dengan privilege yang ia punya.

Dan jauh lebih menjadi masalah lagi, orang-orang seperti inilah yang kini cukup banyak mengisi pos-pos kekuasaan di negara kita. Orang-orang yang enggan mengakui bahwa “bakat alam” itu ada, hanya semata-mata agar mereka bisa “lari” dari tanggung jawab “natural”-nya.

Sesuatu yang kemudian juga dikenal dengan istilah sedikit lebih klasik lagi di praktik politik praktis kita, yakni: DINASTI.

BACA JUGA Santai, Kita Semua Bisa Punya Privilege Kok atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2021 oleh

Tags: bakat alamdinastipeter parkerprivilegezakat alam
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
privilege orang tua kaya mojok.co

Privilege Orang Tua Kaya Itu Nyata

5 Maret 2023
privilege tinggal bersama ibu kos

Privilege Tinggal Bersama Ibu Kos

8 Februari 2021
Kalau Indonesian Idol dan MasterChef Ratingnya Tinggi karena Settingannya, Kamu Mau Apa?

Kalau Indonesian Idol dan MasterChef Ratingnya Tinggi karena Settingannya, Kamu Mau Apa?

5 Desember 2020
Privilege adalah Perkara yang Tidak Sederhana tapi Diskusinya Itu-itu Aja

Privilege adalah Perkara yang Tidak Sederhana tapi Diskusinya Itu-itu Aja

8 Juli 2020
privilege chairul tanjung putri tanjung mojok.co

Santai, Kita Semua Bisa Punya Privilege Kok

25 November 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.