Prabowo Subianto memberhentikan Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan pada Senin, 14 September 2026. Keputusan Presiden 97/P Tahun 2026 itu memberhentikan Purbaya dan mengangkat Suahasil Nazara sebagai bendahara negara.
Jakarta Globe melaporkan bahwa beberapa jam sebelum pemberhentian, Purbaya masih mengikuti rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Daerah di Kompleks Parlemen Senayan. Dia baru meninggalkan ruang rapat untuk menjawab telepon.
Seandainya ceritanya berhenti di situ, publik akan memandang Purbaya sebagai pejabat yang tumbang. Namun, data yang hadir setelahnya bercerita lain.
Beberapa jam kemudian, Purbaya mengunggah foto di TikTok dengan latar suara “Wasap Mamen” dan satu caption pendek: “Udah siap belum?”
Fatahillah mencatat di unggahan X-nya bahwa postingan tersebut meraih 480 ribu suka dan 35 ribu komentar. Sang putra, Yudo Achilles Sadewa, memperkuat suasana lewat Instagram: “Guys, akhirnya bapak bisa tidur nyenyak guys. Jadi trader lagi guys bapak. Enggak jadi menteri lagi guys. Balik jadi trader.”
Reaksi keluarga mantan menteri ini tidak menyerupai duka. Reaksinya menyerupai lega. Dan psikologi punya nama untuk respons tersebut.
Tubuh Purbaya udah bicara duluan
Data personal yang paling jujur adalah tubuh Purbaya sendiri. Pada Selasa, 8 September 2026, sepekan sebelum pemberhentian, dia bercerita kepada media bahwa berat badannya jatuh dari 102 kilogram saat Prabowo melantiknya menjadi 88 kilogram di titik terendahnya.
“Beratnya pekerjaan membuat berat badan saya turun,” ujarnya, sebagaimana Liputan6 kutip. Pada Mei 2026 di Jogja Financial Festival, dia bahkan berkelakar: “Nyesel kenapa saya jadi Menteri Keuangan, jadi banyak kerjaan, harusnya kita santai di LPS.”
Penurunan 14 kilogram itu bukan angka kecil. Psikologi memasukkan penurunan berat badan sebagai salah satu gejala fisik stres berkepanjangan, bersama insomnia, ketegangan otot, dan imun yang melemah. Tubuh tidak pernah berbohong soal beban yang beliau pikul.
Teori bos toksik
Mengapa sebuah pekerjaan bisa menggerus tubuh kayak Purbaya? Pada 2014, para peneliti meneliti bagaimana 76 karyawan bertahan dari konsekuensi psikologis, emosional, dan fisik perilaku destruktif atasan mereka. Studi itu tersedia di PubMed.
Mereka menemukan bahwa salah satu respons paling umum adalah meninggalkan organisasi. Sumber stres yang terlalu berat pada akhirnya selalu menemukan jalannya keluar.
American Psychological Association (APA) memperkuat temuan ini pada 2023. Sebanyak 19% pekerja menyebut tempat kerjanya “toksik”, dan 52% di antara mereka mengaku pekerjaan merusak kesehatan mentalnya. Bandingkan hanya 15% di lingkungan kerja yang sehat.
Teori bos toksik tidak melabeli orang; teori ini meneliti perilaku: klaim atas pekerjaan orang lain, kritik di depan umum, intimidasi, micromanagement, dan ketidakterpredikasian. Apakah presiden seorang “bos toksik” buat Purbaya? Itu pertanyaan perilaku, bukan jabatan.
Yang penting di sini adalah bobot bukti yang Purbaya sendiri hadirkan. Misalnya, ritme kerja nonstop (sang putranya bahkan menulis “kerjanya nonstop ngurusin negara yang bawahan korup”), berat badan yang turun 14 kilogram, kalimat penyesalan, dan pemecatan mendadak tanpa aba-aba.
Seluruh elemen itu menggambar potret lingkungan berisiko tinggi dengan prediktabilitas rendah. Riset stres menunjukkan bahwa ketidakpastian justru mendorong respons stres tubuh ke puncaknya.
Kortisol butuh jarak
Tubuh menanggapi ancaman yang berkepanjangan lewat sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) yang memompa kortisol. Lonjakan kortisol sesaat membantu fokus. Namun, kortisol yang bertahan tinggi selama berbulan-bulan merusak tidur, mengikis memori, dan melemahkan daya tahan tubuh.
Studi terhadap 749 perempuan yang Kompas liput pada Mei 2025 menemukan bahwa perempuan yang jarang berlibur menghadapi risiko masalah jantung 8 kali lebih besar dibanding mereka yang berlibur 2 kali setahun. Intinya, tubuh butuh jeda berkala dari sumber stres.
Bagi Purbaya, jeda itu datang bukan sebagai cuti, melainkan sebagai pemberhentian. Fisiologi stres menyebut momen ini relief response yaitu ketika sumber stres hilang, sistem saraf parasimpatis mengambil alih dari mode fight-or-flight, detak jantung melambat, otot melonggar, dan tidur kembali.
Jajak pendapat Monster 2025 terhadap lebih dari 1.100 pekerja memperkuat logika respons ini. Sebanyak 57% pekerja mengatakan mereka rela berhenti kerja daripada bertahan di tempat kerja toksik, dan 43% bahkan rela menolak promosi demi melindungi kesehatan mental mereka.
Kelegaan Purbaya memang terasa banget
Riset klinis menunjukkan gelombang pemulihan pertama biasanya hadir dalam hitungan minggu. Misalnya, gejala stres akut, gangguan tidur, ketegangan yang tidak hilang. Umumnya mereda 4 hingga 12 pekan setelah seseorang keluar dari lingkungan toksik.
Studi dari Florida Atlantic University di jurnal Molecular Psychiatry pada 2020 memperlihatkan bahwa stres sosial kronis memicu sinyal inflamasi di neuron hipokampus, wilayah yang mengatur memori dan emosi. Kabar baiknya, saat sumber stres lenyap, tubuh mulai memperbaiki wilayah itu.
Kembali ke Purbaya. Ada 480 ribu orang yang menyukai TikTok-nya menjadi bukti sosial bahwa publik membaca sinyal yang sama. Ini bukan orang yang kehilangan jabatan, melainkan orang yang merebut hidupnya kembali.
Satu warganet yang Disway kutip menulis, “Tlg sampai kan ke bapak, terima kasih atas perjuangannya selama ini. Semoga segera pulih kembali kondisi kesehatan Pak PYS ya.”
Teori psikologi memprediksi fase berikutnya. Mungkin, tidur Purbaya akan membaik, nafsu makannya kembali, berat badannya perlahan naik kembali melewati 98 kilogram, dan suasana “Udah siap belum?” itu akan makin santai. Purbaya bukan lagi “pembantu presiden“, begitu candaan sang putra. Dia kembali menjadi trader dengan gaji “miliaran per bulan”.
Mungkin caption “Udah siap belum?” memang bukan pesan ambigu. Bacalah begini: siap untuk bebas lagi.
BACA JUGA Purbaya Dicopot dari Kemenkeu, Imbas Setoran Hasil Dividen BUMN Rp120 Triliun oleh Danantara? dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.