Saya pernah memiliki Honda Astrea Grand selama tiga tahun, tepat sepanjang masa SMA. Tiga tahun itu cukup untuk membuat saya berani menobatkan Astrea Grand sebagai motor Honda dengan desain paling bagus sampai hari ini.
Setiap pagi, saya keluar dengan seragam putih abu-abu, lalu menginjak engkol starter Astrea Grand. Mesin kecil itu menjawab dengan suara halus khas motor Honda.
Saya lalu memasukkan gigi satu, melewati jalanan pagi di Jogja yang dulu masih begitu tenang, dan menuju sekolah. Astrea Grand membawa saya saat mengejar bel masuk, mencari fotokopi tugas kelompok, membeli bensin dengan uang saku yang serba pas, sampai mengantar teman pulang ketika hujan mengejar kami.
Astrea Grand adalah motor Honda dengan desain paling bersahaja
Honda memperkenalkan Astrea Grand pada 1991 sebagai penerus Astrea Prima. GridOto mencatat bahwa generasi awal memakai mesin satu silinder 97,1 cc, empat langkah, OHC, dengan pendingin udara.
Mesin itu memang penting, tetapi mata saya selalu lebih dulu menangkap bodinya. Honda memberi Grand wajah yang membulat, ramping, dan tenang. Tidak ada sudut yang memaksa orang menganggapnya garang. Tidak ada pula plastik besar yang menggelembung tanpa tujuan.
Dari depan, batok lampu Astrea Grand menyatu rapi dengan setang dan sayap. Lampu depannya memberi arah pandang yang jelas tanpa membuat wajah motor tampak galak.
Dari samping, garis bodi mengalir dari leher rangka menuju jok, lalu berakhir di buritan dengan gerak yang masuk akal. Desainer motor Honda satu ini seolah memakai satu garis pensil dan menolak mengangkatnya terlalu sering. Hasilnya menciptakan siluet yang orang kenali bahkan dari kejauhan.
Istilah: proporsi. Astrea Grand menyusun roda 17 inci, jok, mesin, dan setang secara serasi. Roda tidak tenggelam di bawah bodi, jok tidak menjulang, dan mesin tidak bersembunyi di balik panel plastik.
Setiap komponen menampilkan fungsi sekaligus membangun rupa. Karena itu, saya selalu menilai Grand lebih menarik daripada banyak motor Honda baru yang mengejar kesan agresif lewat lipatan bodi dan lampu tajam.
Bulus, sabit, dan detail motor Honda pujaan
Banyak orang memberinya nama memberi nama “Grand Bulus” untuk varian awal 1991-1993 karena stoplamp cembungnya mengingatkan mereka pada cangkang bulus. Carmudi mencatat bahwa Honda memberi buritan ducktail dan spoiler kecil pada penyegaran 1994. Penggemar lalu memakai nama “Grand Sabit”.
Saya suka keduanya. Tetapi, Grand Bulus selalu menang tipis di hati saya. Stoplamp cembung itu memberi karakter yang tidak motor lain miliki. Apalagi ketika kamu mengganti jok yang “rada gemuk” itu dengan jok tipis. Aduhai maksimal.
Detail kecil menguatkan desainnya. Sayap samping yang melengkung memberi kesan ringan. Spakbor depan yang ramping mengikuti diameter roda tanpa tampak kebesaran. Knalpot panjang menjaga garis bawah motor tetap lurus. Striping pabrik menambah warna, bukan menutup kekurangan bentuk. Banyak motor modern meminta grafis ramai untuk tampil berani, Astrea Grand cukup mengandalkan bodi dasarnya.
Saya sering mencuci Grand pada Sabtu sore. Saya menyiram lumpur di sepatbor, mengelap krom, lalu membersihkan sela blok mesin dengan kuas kecil. Setelah itu saya memarkirkannya di teras dan melihat keseluruhan bentuknya dari beberapa langkah.
Pada usia SMA, saya belum mengenal istilah desain industrial. Namun, kayaknya saya mengerti satu hal. Motor yang bagus membuat pemiliknya rela merawat detail kecilnya. Astrea Grand memberi saya rasa itu.
Tiga tahun bersama Astrea Grand
Tiga tahun bersama Astrea Grand juga mengajari saya bahwa desain baik harus melayani pengendara. Bobot kosong versi kick starter mencapai 89,2 kilogram, sedangkan versi electric starter mencapai 91,1 kilogram.
Carmudi merinci angka itu bersama tinggi jok 753 mm dan jarak terendah ke tanah 130 mm. Angka-angka tersebut menjelaskan pengalaman saya. Saya bisa menuntun motor keluar dari parkiran sempit, mengayunkan kaki ke jok, dan membelokkannya tanpa drama.
Rangka tulang punggung menjaga mesin dekat pusat motor dan membuat Grand lincah saat saya menyelip di antara sepeda dan becak. Suspensi depan teleskopik serta dua peredam kejut belakang cukup menyerap jalan rusak menuju sekolah. Rem tromol depan dan belakang menuntut tangan serta kaki yang lebih peka.
Carmudi mencatat mesin 97,1 cc menghasilkan sekitar 7,5 hp pada 8.000 rpm. Angka itu kecil untuk ukuran sekarang, dan saya tidak pernah mengajak Grand balapan.
Namun, transmisi rotary empat percepatan membuat saya cepat belajar ritme mesin motor Honda ini. Saya menurunkan gigi sebelum tanjakan, menjaga putaran mesin, lalu menikmati tarikan yang enak.
Teknologi bukan jawaban
Saya tahu Honda kini menjual motor dengan lampu LED, injeksi, rem cakram, layar digital, dan bagasi besar. Semua fitur itu memberi manfaat nyata. Saya juga tidak meminta Honda mengulang teknologi 1990-an.
Namun, kemajuan sering membawa bentuk yang terlalu chaos. Banyak desain baru seperti terlalu berusaha mengincar spotlight banget. Sementara itu, Astrea Grand mengejar hubungan panjang dengan mata pemiliknya.
Astra Otoshop menulis bahwa kolektor pada 2026 masih mencari unit original dan menilai tinggi keaslian komponen. Saya memahami alasannya. Orang tidak memburu Astrea Grand hanya karena umur atau kelangkaan. Mereka memburu sebuah desain yang menyimpan masa ketika motor bebek tampil bersih, ramping, dan jujur.
Saya tetap menempatkan Astrea Grand di puncak desain motor Honda karena motor ini tidak membutuhkan alasan rumit untuk tampil rupawan. Ia membawa garis yang tenang, detail yang punya tujuan, dan ukuran yang serasi.
Lebih penting lagi, bersama Honda C70, motor ini mengiringi 3 tahun masa SMA saya. Menemani saya di pagi yang terburu-buru, hujan di jalan pulang, uang bensin yang tipis, serta perasaan bebas saat tangan menggenggam setang.
Karena itu, setiap melihat satu Astrea Grand melintas, saya tidak hanya melihat motor lawas. Saya melihat standar kecantikan motor Honda yang belum ada tandingannya.
BACA JUGA Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
