Banyak orang masih percaya Surabaya adalah “kota paling hidup” di Jawa Timur. Tidak salah. Tetapi hidup dan nyaman itu dua hal yang berbeda.
Kota Pahlawan sekarang tumbuh lebih sesak, tetap panas, dan malah gampang kebanjiran daripada ingatan para penghuni lamanya. Kenapa begitu ya?
Saya merangkum 10 alasan berikut. Seluruh datanya berasal dari rentang 2025 sampai 2026, lengkap dengan suara orang-orang yang menanggung langsung dampaknya.
#1 Kemacetannya makin panjang, waktu tempuh makin lama
TomTom Traffic Index edisi 2025 menaruh Surabaya di peringkat ke-164 kota termacet dunia. Tingkat kemacetannya menyentuh 43,7%, dan pengemudi membutuhkan 27 menit 54 detik hanya untuk menempuh 10 kilometer (detikOto). Artinya, hampir separuh waktu perjalanan habis untuk berhenti.
Tekanan di jalan terus bertambah. Saat arus mudik Lebaran 2026, Polda Jatim mencatat 1,93 juta kendaraan keluar-masuk Jawa Timur. Angka ini naik sekitar 18% dari tahun sebelumnya (Antara).
Kepada Suara Indonesia, Jeremy, seorang pengendara, mengaku masih merasa jalanan Surabaya “relatif lengang” dan macet “paling hanya satu jam atau dua jam” (Suara Indonesia). Namun, kurva datanya bergerak ke arah sebaliknya.
Peneliti BRIN/BRIDA Jawa Timur, Prof. Abdul Hamid, mendorong pemerintah memperkuat transportasi publik sebagai jalan keluar. Ya semata karena menambah jalan saja tidak akan pernah mengejar laju pertumbuhan kendaraan.
#2 Penduduk Surabaya paling padat se-Jawa Timur
BPS menghitung 2.931.611 jiwa menetap di Surabaya pada 2025. Dengan kepadatan 8.727 jiwa per kilometer persegi, Kota Pahlawan menyandang status kota terpadat di Jawa Timur.
Angka resmi itu belum menangkap gelombang penglaju dari Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Sebagai kawasan metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek, Gerbangkertosusila terus menyedot pendatang baru.
Setiap tambahan orang membawa tambahan kebutuhan. Mulai dari jalan, air bersih, lahan parkir, angkutan, dan layanan kesehatan. Kota yang tidak siap akan menjadi semakin sempit dari tahun ke tahun.
#3 Panasnya terus mencetak rekor baru
Warga Surabaya sudah lama akrab dengan keringat. Tetapi setahun terakhir, panasnya melewati batas kebiasaan. Peneliti klimatologi BRIN, Prof. Erma Yulihastin, menyebut panas ekstrem di wilayah Surabaya Raya berlanjut hingga akhir Oktober 2025 (WALHI Jatim).
Masuk 2026, rekor kembali pecah. Pada 11 sampai 12 Maret 2026, Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak mengukur suhu 35,4 derajat Celsius dan BMKG menetapkan Surabaya sebagai daerah terpanas se-Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa berakhirnya La Nina lemah pada Februari 2026 membuat cuaca bergeser ke fase netral dan mendongkrak suhu. Tim pendidik UNESA merinci penyebab hariannya.
Mulai dari posisi matahari yang nyaris tegak lurus di atas Jawa Timur, langit tanpa awan, dan efek pulau panas perkotaan yang membuat bangunan serta aspal menyerap lalu memantulkan panas (UNESA). Tirto melengkapi gambaran itu: urbanisasi dan permukaan beton memperkuat efek panas kota ini.
#4 Ruang hijau di Surabaya berkurang, beton terus bertambah
Panas ekstrem bukan semata urusan langit. WALHI Jawa Timur menilai panas dan banjir yang berulang sebagai bukti nyata krisis iklim sekaligus kegagalan tata ruang Surabaya.
Pemantauan mereka menemukan alih fungsi ruang hijau menjadi kawasan perumahan secara masif di sisi barat dan timur kota. Menurut WALHI, kota ini telah kehilangan fungsi ekologisnya karena orang memperlakukannya sebagai ruang ekonomi tanpa batas.
Peringatan paling keras datang dari riset BRIN yang WALHI kutip. Surabaya merupakan kawasan paling sensitif terhadap perubahan iklim di Jawa Timur. Suhunya berpotensi melonjak hingga 5 derajat Celsius pada 2050. Selama kota terus menukar ruang hijau dengan beton, angka di poin ketiga hanya akan terus naik.
#5 Air menyerang dari dua arah: hujan dan rob
Begitu November 2025 datang, genangan langsung menyebar. Hujan pada 5 November menggenangi tujuh titik, yaitu Injoko, Tenggilis, Jemursari, Prapen, Ngagel Madya, Tanjungsari, hingga kawasan utara.
Kepala DSDABM Syamsul Hariadi mengakui hujan datang berulang tiga sampai empat kali dan sebagian paket pekerjaan rumah pompa serta drainase belum selesai. Sehingga, semua pompa yang sudah menyala pun masih kewalahan. Wali Kota Eri Cahyadi yang turun sidak bahkan menemukan bangunan warga menutup saluran air dan memerintahkan petugas membongkarnya (Antara).
Di Sukomanunggal, pengujung Desember 2025 membawa air selutut masuk ke ruang tamu dan dapur warga. Juwariyah, warga setempat, sudah habis sabar. “Tiap hujan deras pasti banjir dan masuk rumah. Ini lebih parah dari sebelumnya,” keluhnya kepada Beritasatu. Padahal, pemerintah kota sudah melebarkan gorong-gorong di depan rumahnya.
Hendro, tetangganya, menilai ketergantungan kota pada mobil pompa menandakan drainase belum tuntas dan meminta pemerintah mengevaluasi sisi hulu saluran (Beritasatu). Ironisnya, Eri sendiri pernah bercerita bahwa warga Sukomanunggal sempat menolak pembangunan saluran di wilayah mereka. Eh, banjir akhirnya datang juga.
Dari arah laut, rob ikut menekan. BMKG Maritim Tanjung Perak memprakirakan banjir rob melanda pesisir Surabaya pada 18-23 Desember 2025 dengan ketinggian pasang 130-150 sentimeter, dari Kenjeran sampai Benowo. Prakirawan Muhamad Biyadihie Adikuasa mengingatkan bahwa genangan rob dapat melumpuhkan transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, mengganggu petani garam, hingga perikanan darat (Kompas).
#6 Tahun berganti, banjir di Surabaya ikut bertahan
Tahun baru tidak memutus siklusnya. Hujan deras pada 4-5 Januari 2026 menggenangi sedikitnya 18 titik.
Air mencapai 60 sentimeter di sekitar RS Ubaya, Putat Jaya, dan Simo Hilir. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Laksita Rini Sevriani menceritakan bahwa petugasnya sudah bergerak memantau dan menyedot air sejak pukul empat sore dengan dukungan puluhan armada serta ratusan personel.
Enam bulan kemudian, banjir bahkan datang tanpa menunggu puncak musim hujan. Pada 23 Juni 2026, hujan dua hari berturut-turut melumpuhkan Surabaya Timur. Air setinggi 60-70 sentimeter merendam Medokan Semampir, Nginden Intan, Rungkut, Tenggilis, sampai Keputih, dan memaksa banyak pengendara menuntun motor yang mogok.
Sonny, pemilik bengkel las di Medokan Semampir, harus menghentikan seluruh usahanya. “Sudah dua hari terakhir hujan deras dan akhirnya banjir parah seperti ini. Saya sampai tidak bisa kerja,” ujarnya. Banjir sebelumnya bahkan belum surut ketika hujan berikutnya datang (Beritasatu).
#7 Kualitas udaranya berulang kali memuncaki daftar terburuk
Selain panas dan banjir, warga Surabaya juga harus menelan udara yang kotor. Pada 17 November 2025, IQAir menempatkannya Surabaya sebagai kota paling berpolusi di Indonesia dengan AQI 151. Ini masuk kategori tidak sehat (GoodStats).
Tujuh bulan kemudian, 18 Juni 2026, AQI melonjak ke 184 dan Surabaya kembali memimpin daftar kota berpolusi nasional. IQAir menyarankan warga membatasi aktivitas luar ruangan, sementara BMKG menganjurkan masker.
Jutaan knalpot dan cerobong industri di sekeliling kota memasok polutannya. Cuaca kering menahannya tetap menggantung. Mengajak anak bermain di luar pada pagi hari kini menuntut orang tua memeriksa angka AQI terlebih dahulu.
#8 Upahnya naik, tapi harga rumah di Surabaya melesat lebih cepat
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menetapkan UMK Surabaya 2026 sebesar Rp5.288.796. Ini yang tertinggi di antara 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Namun, upah itu tetap berlari di belakang harga hunian. Portal properti mencatat harga rata-rata rumah tapak di Surabaya berkisar Rp10-15 juta per meter persegi. Ini dua kali lipat harga Sidoarjo yang hanya Rp4-7 juta per meter persegi.
Akibatnya, banyak pekerja muda membeli rumah di kota-kota penyangga dan rela berangkat lebih pagi. Mereka kemudian bergabung dengan jutaan penglaju lain di jalur Waru, MERR, dan tol kota. Lalu, tanpa sadar, mereka ikut menebalkan kemacetan di poin pertama.
#9 Juru parkir liar masih berkeliaran
Urusan kecil yang satu ini paling sering merusak suasana hati warga. Pada Juni 2025, Wali Kota Eri Cahyadi sampai menyegel lahan parkir dua minimarket karena masih membiarkan juru parkir liar menarik uang dari konsumen.
“Saya minta sediakan tukang parkir, terserah mau dari mana, tapi ada tukang parkir yang pakai rompi dari tempat usahanya,” tegas Eri (detik).
Setahun lebih kemudian, masalahnya belum padam. September 2026, seorang jukir liar di depan minimarket Jalan Dharmahusada mengamuk, meludahi, bahkan memukul pengendara yang menolak membayar. Polisi menangkapnya setelah videonya viral.
Kepala minimarket, Anisa, menegaskan tokonya tidak pernah memungut biaya parkir. Pelaku beraksi atas inisiatif sendiri (iNews). Setiap kali keluar rumah, warga Surabaya kini tetap harus menyiapkan uang receh dan kesabaran ekstra.
#10 Surabaya yang dulu sedang menghilang
Saya harus mengakui satu hal. Tidak semuanya memburuk, kok. Fasilitas kota semakin lengkap, peluang kerja tetap melimpah, dan taman-taman masih berdiri di banyak sudut. Surabaya masih menjadi magnet bagi siapa saja yang ingin menata hidup.
Namun, warga yang sudah tinggal di sini belasan sampai puluhan tahun merasakan kota yang berbeda. Panasnya menembus rekor, macetnya memanjang, banjirnya datang nyaris sepanjang tahun, dan udaranya berulang kali masuk daftar terburuk nasional.
Bagi pendatang baru, Surabaya mungkin masih kota penuh kesempatan. Tetapi bagi mereka yang tumbuh bersamanya, Surabaya yang dulu kini tinggal kenangan. Benarkah demikian?
BACA JUGA Hal yang Bikin Saya Kecewa dengan Surabaya usai Merantau ke Jogja: Tak Ada yang Bisa Diromantisasi dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
