Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Podium

Ujian Demokrasi Indonesia: Pilpres 2024 Kontestasinya para Elite

Satria Aji Imawan oleh Satria Aji Imawan
30 Oktober 2023
A A
elite politik mojok.co

Ilustrasi pilpres (Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pilpres 2024 tak lain adalah kontestasinya para elite politik. Jangan sampai terbawa arus dan lupa esensi memilih pemimpin. 

Dalam kurun waktu sekitar kurang lebih seminggu ini bangsa kita kena hantam berbagai fenomena politik. Mulai dari kontroversi putusan MK hingga panasnya tensi politik setelah Gibran resmi menjadi cawapres Prabowo.

Publik beranggapan Pilpres 2024 kental dengan nuansa politik dinasti. Ada nepotisme hingga hegemoni politik, apalagi Gibran merupakan putra sulung dari Presiden Jokowi.

Kecurigaan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, rentang waktu antara keputusan MK dengan majunya Gibran terbilang sangat singkat. Keputusan ini seperti sudah terskenariokan.

Rentetan peristiwa ini menyiratkan adanya “main mata” antara Gibran, Prabowo dan koalisi pengusungnya dengan pemerintah. Namun, di luar dari sorotan tajam ini, kalau kita perhatikan Pilpres 2024 sebetulnya tak lepas dari jeratan elite politik.

Semua paslon adalah elite politik

Jika melekatkan aktor politik dengan basis rekam jejak kepemimpinan, maka semuanya adalah elite. Ganjar adalah Gubernur Jateng selama dua periode. Satu dekade memimpin, tentu menempatkan Ganjar sebagai elite. Status elite ini tentunya berkorelasi dengan ketenangannya dalam menghadapi peristiwa politik.

Setali tiga uang, Mahfud MD adalah politisi gaek. Gaek artinya beliau sudah makan asam garam dalam bidang politik. Mulai dari menjadi pejabat di level eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Kelengkapan beliau tersebut menempatkannya tidak hanya sebagai elite namun juga senior.

Begitu pula dengan Anies dan Cak Imin. Anies adalah mantan menteri, rektor dan gubernur ibukota DKI Jakarta. Anies di masa lalu juga seorang penggagas Indonesia Mengajar. Senada dengan itu, Cak Imin pernah menjabat sebagai wakil ketua MPR dan DPR serta pernah menjadi menteri di era presiden SBY.

Rekam jejak seperti itu tentu tidak bisa dianggap enteng. Sehingga, menunjuk bahwa pasangan elite hanyalah Prabowo-Gibran tidaklah tepat karena masa lalu memperlihatkan bahwa semua paslon adalah elite.

Bila demikian, apakah Pilpres 2024 adalah kontestasinya para elite di tengah isu nepotisme dan hegemoni kekuasaan? Bisa jadi demikian mengingat tren peristiwa belakangan ini mengarah kepada hal tersebut.

Jika kita melepaskan kata elite dari perdebatan, maka sesungguhnya seluruh capres dan cawapres ingin melanggengkan kekuasaan. Entah itu lewat elevator kepemimpinan dari gubernur menjadi presiden atau dari menteri menjadi wapres.

Sinyalemen seperti ini seharusnya menjadikan publik tak lagi berfokus kepada soal-soal tersebut. Lantas, apa yang dapat perlu jadi fokus?

Periksa rekam jejak paslon

Teropong rakyat bisa mengarah kepada hal-hal yang substantif. Alih-alih memfokuskan diri kepada permainan elite, masyarakat bisa mengalihkan perhatian kepada rekam jejak semua capres dan cawapres.

Hal ini penting karena permainan elite hanya menempatkan masyarakat sebagai penonton. Sementara rekam jejak akan memposisikan rakyat sebagai subyek.

Iklan

Sorot mata kepada rekam jejak sangat bisa kita lakukan karena semua calon pernah menjadi pemimpin di berbagai level. Dengan histori dan dukungan jejak digital, tentu tak sulit bagi rakyat untuk menguliti kapabilitas para calon di dalam memimpin daerah atau institusinya di masa lalu.

Pelacakan rekam jejak seperti ini akan menyadarkan rakyat untuk lebih fokus kepada persoalan yang lebih penting. Inisiasi-inisiasi yang lembaga lakukan juga dapat jadi sebagai corong rakyat dalam melihat rekam jejak calon pemimpinnya.

Misalnya KPU dan Bawaslu bisa mengawal integritas calon yang akan maju. Kedua lembaga ini bisa memberikan informasi yang terpercaya tentang rekam jejak calon yang akan maju di pilpres.

Selain lembaga negara macam KPU dan Bawaslu, civil society juga bisa melakukan hal serupa. Misalnya lewat berbagai platform inisiatif masyarakat seperti bijakmemilih.id yang merupakan bagian dari upaya edukasi untuk para pemilih, terutama pemilih pemula. Lalu, informasi mengenai rekam jejak di media sosial yang masyarakat bikin.

Dengan interaksi yang inovatif, para calon dapat kita lihat rekam jejaknya secara komprehensif. Kepungan dua inisiatif, baik dari entitas negara maupun masyarakat dapat menjadi effort holistik agar masyarakat lebih rasional di dalam memilih pemimpin.

Kritisi program-programnya

Berbagai inisiatif tersebut tentu harus ditunjang dengan daya kritis masyarakat terhadap program-program yang para paslon tawarkan. Potensi daya kritis masyarakat ini tidak dari nol.

Banyak masyarakat yang sudah memiliki pengalaman panjang mengikuti pemilu. Apabila kita hitung sejak 2004 sebagai pertama kalinya terselenggaranya pemilu langsung, maka 2024 akan menjadi pemilu kelima bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Track record ini menjadi modal bagi masyarakat Indonesia bahwa mereka bukanlah pemilih kemarin sore. Pengalaman empiris tersebut semakin masif ketika ada dukungan teknologi. Dengan dukungan teknologi, masyarakat dapat saling berbagi tentang bagaimana cara mengkritisi program-program paslon utamanya program mana yang betul-betul menyentuh rakyat.

Bagi pemilih lama, mereka dapat share pengalaman personal mereka kepada pemilih pemula. Sebaliknya, pemilih pemula dapat pula bercerita kepada pemilih lama tentang metode penyampaian aspirasi dengan cara-cara kreatif sekaligus kritis.

Kombinasi pengembangan teknologi, mentalitas kepo dan pengalaman sejarah mengalami pemilu dari tahun ke tahun akan menjadi kolaborasi lengkap di dalam menegakkan integritas pemilu. Ketiganya akan menjadi mantra ajaib atas jebakan wacana bahwa pilpres atau pemilu 2024 adalah murni kontestasi para elite. Padahal, pemilu merupakan pesta demokrasi bagi seluruh pihak, termasuk dan utamanya adalah rakyat.

Pola pikir seperti ini akan mereparasi cara pandang publik terhadap pemilu 2024. Jangan biarkan ihwal kontes demokrasi yang menggembirakan justru menjadi menjemukan.

Esensi pemilu bukan hanya tentang menang-kalah. Jauh daripada itu, pemilu juga soal bagaimana memilih para pemimpin yang mempunyai rekam jejak bagus, penuh integritas dan memiliki visi ke depan.

Semangat seperti ini harus terus ada sampai waktu pemilihan nanti. Langkah demikian semoga dapat menjadikan pemilu kali ini dapat kembali ke akarnya, yaitu dari, oleh, dan untuk rakyat.

Penulis: Satria Aji Imawan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Mahfud MD Bertemu Relawan di Jogja, Umumkan Tagline Nama Kampanye

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2023 oleh

Tags: Anies BaswedanCak Imineliteelite politikganjar pranowoGibran Rakabumingjokowimahfud mdPemilu 2024Pilpres 2024
Satria Aji Imawan

Satria Aji Imawan

Dosen Administrasi Publik Universitas Diponegoro

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Prabowo-Gibran.MOJOK.CO
Aktual

7 Alasan Mengapa Satu Tahun Masa Kepemimpinan Prabowo-Gibran Layak Diberi Nilai 3/10

20 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
menulis di media, dahlan iskan.MOJOK.CO
Ragam

Menulis di Media adalah Cara Termudah Menjadi Terkenal dan Meninggalkan “Warisan”

17 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
wayang, plaza ambarrukmo.MOJOK.CO

Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal

8 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.