Saya Menemui Anak Muda yang Mengidolakan para Diktator, Ini Kata Mereka!

diktator mojok.co

Ilustrasi diktator (Mojok.co)

MOJOK.COAda fenomena anak muda mengagumi diktator. Mereka percaya bahwa semua problem kenegaraan hanya bisa diatasi oleh pemimpin-pemimpin yang berwatak keras.

Pandangan saya terhadap Raden (24) masih biasa-biasa saja sejak kami mulai mengenal pada 2018 lalu. Saya masih nyaman berdiskusi, adu argumen dengannya—yang biasanya kami sama-sama ngotot. Saya, kala itu, bahkan juga tak mempermasalahkan bahwa salah satu buku favoritnya adalah Katastrofi Mendunia karya Taufik Ismail. Ya, buku “yang itu”.

Namun, pandangan saya terhadap Raden mulai terasa berbeda saat di story Whatsapp-nya, ia mulai sering ngepost gambar-gambar Suharto. Lengkap dengan kutipan-kutipannya:

“Banyak berkarya, tanpa menuntut balas jasa, untuk menyelamatkan kesejahteraan manusia.”

“Prajurit yang mencintai rakyat jelata, akan disayangi rakyat dalam negara itu, dan membuat kokohnya negara dan menjadi perisai negara.”

Sekiranya, dua kutipan itu yang masih saya ingat.

Saya spontan mengernyitkan dahi. “Sarkas ‘kah dia?”, tanya saya dalam hati.

Perasaan tak biasa ini makin menjadi-jadi tatkala dia makin sering membagikan potongan video ceramah ustaz-ustaz yang menyanjung nama Presiden RI ke-2 itu. Akhirnya, semua jadi terang benderang. Yap, Raden Nggak lagi nge-jinx, kok! Dia ternyata memang fanboy Suharto.

Bahkan, belakangan sebelum saya kehilangan nomor WA-nya pada akhir 2020, Raden beberapa kali juga membagikan dan mengutip quotes dari Adolf Hitler. Hmmm…

Fanboy Pak Harto

Tak terasa, dua jam sudah obrolan ini berlangsung. Malam itu, harus saya akui, mata saya sudah lelah. Rahang saya, rasanya juga terlampau ngilu buat menanggapi fafifu wasweswos-nya—yang kebanyakan memuja-muji Suharto.

Namun, apa boleh buat, telinga ini seperti dipaksa untuk mendengar requiem-nya. Saat kopi di gelas tinggal tersisa ampasnya, puntung-puntung kretek menumpuk entah ke berapa, dan cak-cak penjaga coffe shop sudah bersiap menutup kedainya; Raden masih bersemangat membicarakan figur yang “konon” jadi Bapak Pembangunan itu.

Itu memang pertemuan pertama kami sejak terakhir pada 2019 lalu. Akan tetapi, tak ada yang berubah dari mahasiswa UII tersebut: kecintaannya atas “Si Bapak Pembangunan” itu tidak pernah hilang.

“Kalau mau diperingkatin, Hitler, Putin, Suharto, itu ada di satu kategori pemimpin-pemimpin yang menurutku paling ideal,” kata Raden kepada saya, Selasa (25/7/2023) lalu.

Dari nama-nama tokoh yang ia sebut saja, pembaca mungkin sudah bisa menebak, watak pemimpin seperti apa yang diidolakan Raden.

Tapi, berulangkali pria asli Sleman ini menegaskan, terlepas dari latar belakang orangtuanya yang merupakan ASN di masa Orde Baru, kekagumannya atas Suharto murni atas dasar pencapaian sang tokoh. Baginya, hanya di masa Suharto stabilitas keamanan terjamin dan perekomonian di Indonesia stabil.

Bahkan, penembak misterius alias petrus ia sebut sebagai sebuah keberhasilan. Swasembada beras—yang semu itu—pun, ia klaim sebagai kesuksesan yang tak bisa diulangi presiden lain setelahnya.

“Kalau mau jujur-jujuran, siapa lagi presiden lain yang berani menumpas pengkhianat negara selain beliau? Hanya Pak Harto, yang berani mengganyang habis, membabat habis para pengkhianat PKI pada masanya,” tegasnya, yang berbangga dengan tindakan yang sebenarnya dilabeli sebagai salah satu genosida tersebut.

“Kalau ada calon presiden lain yang mirip-mirip beliau, itu yang akan kupilih nanti.”

Kenapa mengagumi diktator?

Awalnya, saya sempat bertanya-tanya, mengapa masih ada orang yang mengagumi sosok diktator, seperti Suharto yang sebegitunya dielu-elukan Raden. Padahal, jika kita menengok rekam jejak mereka sebagai pemimpin, itu sangat berdarah-darah.

Namun, kalau kita menengok ke dunia luar, fenomena ini sebenarnya bukanlah hal baru. Penelitian di Proceeding of The National Academy (PNAS) pada 2017 lalu berjudul “When the appeal of a dominant leader is greater than a prestige leader” menunjukkan, bahwa dalam sedekade terakhir memang terjadi kecenderungan orang-orang memilih pemimpin otoriter ketimbang pemimpin demokratis.

Salah satu faktor kenapa orang-orang memilih sosok diktator, adalah jaminan stabilitas ekonomi. Menurut penelitian ini, para responden percaya bahwa ketidakpastian ekonomi di masa depan, hanya bisa diatasi oleh pemimpin-pemimpin yang berwatak keras, mendikte, atau bersikap otoriter.

Raden pun, nyatanya memang bukan satu-satunya anak muda yang mengidolakan sosok diktator Orde Baru itu. Saya menemui dua orang lain yang mengaku sebagai fanboy Suharto. Mereka adalah Pras (20) dan Nanda (23), yang keduanya saya temui di Grup Facebook “Soeharto Idolaku”.

Member grup ini memang tak terlalu signifikan jumlahnya, kurang dari 10 ribuan. Namun, saya tak akan sulit untuk menemui orang-orang yang sebegitu militannya nge-fans Suharto, sebagaimana Pras dan Nanda.

Sama halnya dengan Raden, saat saya tanya siapa pemimpin lain yang “punya kharisma” seperti Suharto, keduanya kompak menjawab Hitler, Putin, hingga Prabowo (dalam konteks Pemilu nanti).

Halaman selanjutnya…

Nggak masalah walaupun diktator

Nggak masalah walaupun diktator

Baik Pras maupun Nanda, tak bersepakat dengan label Suharto adalah diktator. Bagi mereka, kata “diktator” itu sekadar ditempelkan saja ke Suharto untuk menghabisi citranya.

Pras, misalnya, yang menyebut seandainya “Reformasi 1998 tak ditunggangi PKI, Suharto tidak akan lengser”. Bahkan, Pras juga amat kesal kepada orang-orang yang menempatkan idolanya itu sebagai penjahat HAM.

“Apa-apa HAM. Ini HAM, itu HAM; 65 dibilang (kejahatan) HAM, petrus dibilang (kejahatan) HAM, aktivis hilang dibilang (kejahatan) HAM. Kalau ada yang mau ganggu pemerintah, yang memang harus disikat aja, kudu tegas,” kata Pras.

Saya kembali mengernyitkan dahi.

Sementara Nanda, mengaku Suharto memang seharusnya melakukan tindakan-tindakan yang diaggap menyalahi HAM itu. Baginya, “jika ada yang menyimpang, memang harus segera dibersihkan sebelum menjadi kekacauan di masyarakat”.

“Hitler berani membantai Yahudi. Pak Harto sikat habis pengkhianat PKI. Sekarang saya tanya, ada enggak presiden Indonesia yang berani gitu sekarang?” ujar Nanda.

Untuk kesekian kalinya, saya mengernyitkan dahi.

“Jadi keras itu memang penting buat memimpin negara. Setahu saya, cuman Pak Prabowo, Pak Andika (Perkasa), dan Pak Gatot (Nurmantyo) yang mendekati watak Pak Harto,” pungkasnya.

Yang muda, yang menyukai pemimpin diktator

Kecenderungan kembali naiknya pamor pemimpin diktator di hati anak muda memang sedang menjadi fenomena. Salah satunya, ini terlihat dengan elektabilitas Prabowo Subianto—eks perwira militer, orang dekat Suharto, dan dituding atas pelanggaran HAM di masa lalu—yang justru unggul di kalangan anak muda.

Saya pun menanyakan fenomena ini ke pakar politik UGM Mada Sukmajati. Kata dia, “ia bisa memahami mengapa profil pemimpin diktator lebih sreg di hati anak muda Indonesia hari ini,”.

Bahkan, ia tak menutup kemungkinan politisi yang punya atribut otoriter, misalnya Prabowo yang punya rekam jejak pelanggaran HAM di masa lalu, bakal tetap menang di kelompok pemilih muda.

“Anak muda itu ‘kan rasional-pragmatis,” jelas Mada.

“Artinya, mereka akan lebih mementingkan sosok pemimpin yang punya tawaran menarik untuk masa depan mereka, tanpa memandang itu diktator atau bukan,” sambungnya.

Menurut Mada, anak muda punya ketidakpastian ekonomi di masa depan. Seperti kemungkinan krisis, hingga kurangnya lapangan kerja.

Jadi, bagi Mada, kelompok pemilih ini akan cenderung memilih pemimpin yang bisa mengatasi problem itu daripada, katakanlah, menyelesaikan masalah pelanggaran HAM di masa lalu.

“Mungkin sebagian juga nggak relate dengan problem HAM di masa lalu. Tapi memang yang harus diakui, kecenderungan pemilih muda itu ya seperti itu, orientasinya ‘siapa presiden yang punya daya tawar terbaik buat masa depan saya nanti, itu yang saya pilih’,” pungkasnya.

Pada mulanya, saya sempat berpikir bahwa anak-anak muda seperti Raden, Pras, dan Nanda, sekadar beromantisisasi dalam mengagumi diktator idola mereka tersebut. Namun, yang mulai saya sadari dan mungkin jadi sebuah keniscayaan, mereka bakal mencari profil lain yang memiliki kesamaan dengan tokoh idola mereka.

Dengan demikian, selama pemujaan atas diktator itu masih ada, maka kemungkinan terpilihnya pemimpin diktator (lagi) pun juga tetap terbuka lebar.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Membongkar Stigma Perempuan Pelakor, kok Laki-laki Nggak Disalahin?

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version