Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Podium

Presiden Nggak Boleh Suka Mabuk, Judi, dan Zina, Tapi Boleh Punya Riwayat Dugaan Kejahatan Kemanusiaan

Ada kok orang yang sadar tapi mabuk. Mabuk kekuasaan misalnya. Sampai ingin mengubah konstitusi demi bisa berkuasa 3 periode atas nama rakyat. Eh, rakyat yang mana, nih?

Arman Dhani oleh Arman Dhani
7 September 2022
A A
Presiden Nggak Boleh Suka Mabuk, Judi, dan Zina, Tapi Boleh Punya Riwayat Dugaan Kejahatan Kemanusiaan MOJOK.CO

Ilustrasi Presiden Nggak Boleh Suka Mabuk, Judi, dan Zina, Tapi Boleh Punya Riwayat Dugaan Kejahatan Kemanusiaan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apakah mereka yang pernah judi, mabuk, pecandu narkoba, dan zina itu lantas tidak kompeten menjadi presiden dan memimpin negara?

Ribut-ribut tentang Ferdy Sambo bikin kita abai dua hal. Pertama, Baim Wong kembali lagi dengan konten orang miskin. Kedua, pilpres sudah di depan mata. Meski perkara Baim Wong lebih penting dari pemilu, tapi kali ini kita perlu peduli. Mengingat kemarin selintas saya membaca aturan pencalonan presiden yang tak boleh amoral.

Iklan

Lha, kok nggak boleh amoral? Disebutkan para kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang hendak maju dalam Pilpres 2024 mendatang tidak boleh memiliki riwayat melakukan tindakan tercela. Hal itu diatur dalam Pasal 169 Huruf J Undang-Undang (UU) Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu. 

Pasal tersebut menjelaskan bahwa para calon presiden dan calon wakil presiden harus tidak pernah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, norma asusila, dan norma adat. “Seperti judi, mabuk, pecandu narkotika, dan zina,” bunyi bagian penjelasan Pasal 169 Huruf J tersebut. Wah, artinya, ada dong norma-norma lain yang berpotensi dilarang, tapi apa iya semua itu punya korelasi terhadap kemampuan calon presiden?

Peraturan ini mungkin indah belaka. Pemimpin memang sebaiknya sempurna, tak suka judi, menghindari mabuk, bukan pecandu, apalagi “suka jajan”. Seperti ajaran Moh Limo, tapi disahkan oleh konstitusi. Pertanyaanya kemudian, apakah mereka yang pernah judi, mabuk, pecandu narkotika, dan zina itu tidak kompeten memimpin negara?

Ingat ya, UU Pemilu mengatur tentang prasyarat seorang calon pemimpin negara, bukan modin masjid atau guru agama. Bagi saya, persyaratan yang didasarkan pada moralitas kerap kali luput. Padahal, keterampilan adalah dasar seseorang dipilih untuk satu pekerjaan, apalagi ini urusan banyak orang. Misalnya, dalam kampanye pemilihan kepala daerah, para calon lebih asik berusaha jadi tampak beragama daripada tampak kompeten.

Soal tidak berzina misalnya, apa urusan selangkangan seseorang dengan cara memimpin negara? Jika zina adalah keterampilan dasar memimpin, semestinya Selandia Baru bangkrut dan hancur sejak lama. Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru, tidak menikah tapi tinggal bersama dan memiliki anak dengan partnernya, Clarke Gayford.

Apakah cara memimpin Jacinda tidak bermutu? Justru sebaliknya. Selandia Baru sukses menghadapi pandemi dengan gemilang. Mereka bisa bersikap tegas pada pelaku terorisme tanpa harus menjual isu agama. Selandia Baru mampu mengatasi bencana dengan trengginas. Satu hal yang paling penting adalah pemimin mereka bisa menepati janjinya dengan baik. Bukan janji tidak menaikkan harga BBM, tapi pada akhirnya naikin juga. Mencla-mencle.

Lalu, bagaimana dengan suka mabuk? Pernah mabuk dan sedang mabuk adalah dua kondisi berbeda. Yang pertama menunjukkan bahwa seseorang sudah pengar (sober) dan mampu secara sadar bekerja. Yang kedua adalah kondisi tidak sadar karena pengaruh zat tertentu. Tapi, ada kok orang yang sadar tapi mabuk. Mabuk kekuasaan misalnya. Sampai ingin mengubah konstitusi demi bisa berkuasa 3 periode atas nama rakyat. Eh, rakyat yang mana, nih?

Kemampuan memimpin negara seharusnya sih bukan diukur dari belum pernah mabuk, main judi, zina, atau memakai narkoba. Setiap orang punya kesempatan memperbaiki diri. Selama dia mau mengubah diri, berkomitmen tumbuh, dan bersedia bertemu tenaga profesional untuk memperbaiki diri dari dalam, dia boleh saja jadi presiden. 

Tentu ada beberapa kejahatan yang demikian berat dan pelakunya tak boleh diberikan kesempatan berkuasa. Melakukan kejahatan kemanusiaan, contohnya. Ada juga yang memberlakukan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh yang membunuh ribuan orang. Lalu, ada juga yang mengirimkan tentara ke Papua atas nama stabilitas dan keamanan. Para pelaku 2 kejahatan ini harus dicegah jadi presiden.

Menghukum orang mabuk dan judi bisa jadi adil apabila kelakuannya menyengsarakan orang banyak. Misalnya, anggota dewan yang menggunakan uang hasil korupsi untuk judi. Ada juga anggota dewan yang korupsi dana bansos untuk kepentingan pribadi. Nah, untuk yang terakhir, yang dihukum jangan hanya pelakunya, tapi juga partainya semestinya dihukum berat. Kok bisa sampe punya kader jadi bandit.

Di Inggris, perdana menteri Boris Johnson pernah dikritik keras karena berpesta saat pandemi. Tentu bukan soal konsumsi alkohol yang dikritik, tapi bagaimana bisa pemimpin negara berpesta di tengah larangan berkumpul. Tidak hanya itu, Boris berpesta di tengah meningkatnya angka kematian karena wabah. Di sini kita bisa melihat sumber kemarahan yang sangat berbeda. Marah karena mabuk dan marah karena tidak kompeten memimpin adalah 2 hal yang berbeda.

DI Indonesia, kata “ironi” semestinya dibikin bold dengan ukuran paling besar. Biar semua orang yang punya laku kelewatan bisa menyadari bahwa dirinya keterlaluan munafik atau kurang akal. Kita kerap terjebak pada isu sepele macam alkohol, zina, sampai judi, tapi nyaris diam saja jika capres dan cawapres terlibat pelanggaran HAM berat.

Kamu bisa terbukti bersalah melakukan penculikan aktivis dan tetap nyapres. Kamu juga bisa mendorong penerbitan SKB 3 Menteri yang menjadi dalil pengusiran dan pembunuhan Ahmadiyah, dan tetap bisa jadi cawapres. Jadi bandit dan koruptor pun bisa jadi anggota legislatif. Di kolong langit Nusantara ini, apa sih yang nggak bisa buat penjahat berdasi?

Nah ini ada yang lucu lagi, UU Pemilu Pasal 227 mengatur bahwa tiap capres dan cawapres wajib menyertakan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Mabes Polri ketika mendaftar ke KPU. Iya, Mabes Polri, lembaga yang pernah punya pemimpin kayak Ferdy Sambo. Mau minta SKCK ke mereka?

Apa ya nggak lucu?

BACA JUGA Capres 2024: Palagan Calon Presiden “Balung Gajah” dan analisis cerdas lainnya di rubrik ESAI.

Iklan

Penulis: Arman Dhani

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 5 Desember 2022 oleh

Tags: calon presidencapres 2024pemiluPemilu 2024pilpres
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Presidential Threshold, MK.MOJOK.CO

Penghapusan Presidential Threshold adalah Langkah Maju Bagi Demokrasi

3 Januari 2025
Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Jokowi Menyemai Dinasti Politik di Tingkat Daerah. MOJOK.CO

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Warisan Dinasti Politik Jokowi di Tingkat Daerah

26 November 2024
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Pemilu 2024 Selesai, Petugas KPPS Balik Setelan Pabrik: Jelas Mancing, Mabar, Slot! MOJOK.CO

Pemilu 2024 Selesai, Petugas KPPS Balik Jadi Kaum Korea: Jelas Mancing, Mabar, Slot!

15 Februari 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.