Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Podium

Membongkar Stigma Perempuan Pelakor, kok Laki-laki Nggak Disalahin?

Di tengah pusaran konflik perselingkuhan, lantas di mana posisi pelaku laki-laki berada? Laki-laki kerap terlupakan dan itulah masalahnya.

Ifah Magfirah oleh Ifah Magfirah
8 Agustus 2023
A A
stigma pelakor mojok.co

Ilustrasi stigma pelakor (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perempuan dalam kasus perselingkuhan sering kena “rujak” netizen. Mereka cenderung menyalahkan pihak perempuan, posisi laki-laki dilupakan. Kok bisa?

Beberapa kali topik perselingkuhan menjadi pembahasan di Twitter. Bersamaan dengan itu, istilah “Perebut Laki Orang” atau “Pelakor” biasanya melekat pada perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan. Sepanjang 2023, tagar terkait pelakor dan selingkuh muncul silih berganti. Cuitan komentar yang menanggapi topik itu punya corak yang sama, seksis nan misoginis.

Biasanya, setelah heboh kena hajar pengguna Twitter, berita akan mulai berseliweran di Instagram. Lalu, portal media arus utama muncul dengan narasi yang menempatkan perempuan pada posisi yang tak menguntungkan. Baik secara dialog, visual, dan judul yang bias. Semua ini berujung pada langgengnya konstruksi terhadap perempuan sebagai pihak paling bertanggungjawab dalam kasus perselingkuhan.

Dampak dari narasi yang tidak menguntungkan ini sudah bisa ditebak. Netizen akan menyerang perempuan pelakor dengan komentar-komentar yang berkutat pada objektivikasi atas penampilan, tubuh, warna kulit, atau kehidupannya. Semua hal bisa jadi bahan bakar untuk hujatan, diskriminasi, hinaan, kalimat seksis, serta pelecehan simbolis dan verbal. Padahal pelakor sebenarnya juga korban dalam kasus perselingkuhan.

Perempuan yang menjadi korban, dalam hal ini istri atau pasangan dari laki-laki yang diakui secara resmi oleh publik, tidak luput dari komentar seksis seperti: terlalu mandiri, lebih kaya/mapan, mendominasi, tidak menarik, terlalu tua, atau tidak bisa mengurus pasangan. Anggapan-anggapan yang membuat orang-orang kemudian menuliskan komentar “pantas saja diselingkuhi!”

Tak sedikit juga bermunculan komentar yang membandingkan kecantikan atau penampilan kedua perempuan. Pada akhirnya  hanya menjadi pertarungan perempuan dengan perempuan lainnya.

Di mana posisi laki-laki dalam kasus perselingkuhan?

Pada kasus perselingkuhan, dapat dilihat bahwa dua perempuan yang berhadapan sama-sama berada pada lingkaran setan yang sama. Apa yang membuat laki-laki kemudian memilih berselingkuh pasti karena kesalahan dua perempuan yang terlibat dalam relasi tersebut.

Di tengah pusaran konflik perselingkuhan, lantas di mana posisi pelaku laki-laki berada? Laki-laki kerap terlupakan dan itulah masalahnya. Kita lupa bahwa peran laki-laki dalam situasi perselingkuhan juga krusial. Mereka yang kerap mendominasi, mengatur kondisi perselingkuhan, sebab mereka juga yang mengenal kedua perempuan dalam relasinya.

Laki-laki yang merupakan subjek utama tidak boleh dipinggirkan begitu saja. Konstruksi tentang maskulinitas dan peran laki-laki dalam masyarakatlah yang memengaruhi alasan laki-laki kerap menjadi pihak pertama yang memulai perselingkuhan. Label bahwa laki-laki adalah manusia kelas pertama memainkan perannya.

Konstruksi itu yang juga mengasumsikan kepada laki-laki pelaku perselingkuhan bahwa mereka memiliki kuasa lebih besar dalam hubungan, termasuk hak pada ruang seksualitas. Kemudian, pada akhirnya menciptakan situasi bagi laki-laki untuk memiliki kebebasan berselingkuh dan memanipulasi perempuan  tanpa perlu menerima konsekuensi sosial.

Pada situasi berita tentang perselingkuhan, narasi yang dihadapkan media pada kita – sebagai pengguna dan masyarakat – jarang berdasarkan fakta. Narasi media mengandung muatan yang memperkuat stereotip gender, yang tentu saja tidak mendorong dialog sehat dari pembaca.

Halaman selanjutnya…

Istilah pelakor berakar dari struktur patriarki

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2023 oleh

Tags: pelakorPemilu 2024perempuanselingkuh
Ifah Magfirah

Ifah Magfirah

Ifah Magfirah lahir di Gorontalo. Kerap terlibat aktif dalam komunitas dan organisasi yang bergerak pada isu literasi, seni, dan feminisme. Beberapa tulisannya dapat ditemukan melalui blog dan Instagram pribadi (mgfiraaaah_). Saat ini Ifah sedang menyelesaikan studi di Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Aktual

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.