Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Perempuan yang Sekolah Tinggi Memang Tidak Berniat Menikahi Akhi-Akhi Cupet

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
8 Agustus 2017
A A
Perempuan yang Sekolah Tinggi Memang Tidak Berniat Menikahi Akhi-Akhi Cupet - MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Usia 25-an tahun buat perempuan Indonesia yang belum berpasangan memang bukan perkara mudah. Kalian yang telah berpasangan tapi tak kunjung dilamar, atau yang memang belum berpasangan baik karena belum ketemu laki-laki yang pas ataupun memang-males-aja-sih-punya-pasangan pasti jengah dengan lambe-lambe turah yang ada di mana-mana.

Ketika reuni SMA dan kamu baru pulang presentasi paper soal perkembangan ekonomi Indonesia pasca-MDGs, misalnya, pertanyaan pertama yang kamu dengar bahkan ketika baru salam-salaman adalah, “Kok calonnya nggak diajak?” Atau ketika lulus sumpah dokter dan kamu baru saja pulang dari pedalaman Nusa Tenggara buat mengabdi di sebuah puskesmas terpencil, para kanca tipis itu tetap akan bertanya, ”Terus kapan rencana nikah?”

Bahkan ketika kamu baru saja menandatangani kontrak dengan klien untuk proyek pertama yang akan jadi tambahan portofolio berharga buat hidupmu, bapak dan ibu di rumah dan selusin saudara yang telah sukses beranak pinak tetap saja menggugat, ”Nggak lebih baik nikah dulu aja?”

Kalian tidak sendiri. Saya juga punya tipikal teman-teman di media sosial yang tidak pernah mengapresiasi pencapaian saya sebagai penulis atau fasilitator. Ketika saya membagikan gagasan, mampir ngasih jempol saja ogah. Tetapi … jika saya sedang iseng nyetatus soal pernikahan, mereka cepet banget nyamber, ”Makanya, nikah dong! Biar ngerasain.” Ada juga yang bilang dengan lugas, ”Pokoknya kamu tetap belum keren kalau belum menikah.”

Dan yang paling menyebalkan adalah komentar semituduhan, “Galau ya …?”

Kadang-kadang saya ngebatin, Lu lagi galau ya gara-gara nikah tapi insecure sama suami sendiri, makanya hobi ofensif ke orang lain? *evil grin*

Rasa jengah semacam itu kadang-kadang harus banget ditambah dengan ceramah dari para ustadz yang berasal dari bagian bumi datar yang bilang kalau pakai sepatu hak tinggi dan pembalut bikin kita susah hamil, melahirkan caesar sama dengan bersekutu dengan jin, foto selfie haram, dan memakai parfum adalah tindakan melacur. Baiklah, anggap saja itu ujian kesabaran perempuan Indonesia yang kelak bisa membuat kita bebas masuk surga lewat pintu mana saja.

Tapi, meme soal laki-laki yang lari terbirit-birit dikejar perempuan dengan pendidikan S-2 dan S-3 itu bikin saya sungguh-sungguh ingin bertanya: jadi kalian yang takut sama perempuan berpendidikan tinggi itu maunya dapet pasangan yang lulusan apa? Sekolah Rakyat?

Yah … kan udah nggak ada, Akhi. Fujinkai, yang dibikin Jepang tahun ’40-an aja udah galakin program pemberantasan buta huruf dan ngedukasi macem-macem pekerjaan sosial. Gerwani, tahun ’60-an juga udah berorganisasi buat ningkatin kesadaran perempuan tani, kerja bareng Buruh Tani Indonesia (BTI), bahkan bikin banyak (((seminar nasional))) buat bahas pendidikan, hak kepemilikan tanah kaum perempuan tani, mendorong penghapusan rodi yang berlaku di desa-desa, membahas masalah pembagian harta waris, hak-hak perempuan untuk ikut serta dalam proyek-proyek masyarakat, dan menghapus sikap diskriminatif terhadap perempuan mandul.

Oh, cari contoh yang syar’i? Yawlaaa … tahun 1919, Nyai Ahmad Dahlan bareng Aisyiyah itu udah bikin TK alias busthanul athfal yang sampe sekarang jumlahnya sudah mencapai 5.865 buah. Dan sekarang, perguruan tinggi Aisyiyah itu di mana-mana. Baiklah, kali ini NU kalah karena Universitas Nahdlatul Ulama yang masih unyu-unyu itu belum punya Universitas Fatayat atau Universitas Muslimat.

Tapi, coba Akhi pikir, dosen-dosen perempuan itu apa nggak S-2 dan S-3? Apa mereka, para alimat alias para ulama perempuan itu, susah diatur seperti yang Akhi tuduhkan? Pikiran Akhi sepertinya yang susah diatur karena kebanyakan ngebayangin bidadari surga yang selalu perawan.

Terus, kalian mau dilempar ke masa kapan lagi? Nggak perlulah dilempar ke masa jahiliyah ketika para laki-laki tega mengubur hidup-hidup para perempuan lalu mengurungnya dalam rumah, tidak memfungsikan daya pikir, tangan, kaki, dan menjadikan perempuan barang pajangan kan?

Ngomong-ngomong, Akhi kok pikirannya bisa sama kayak Ibuisme Negara ala Orde Bau-nya Soeharto banget sih? Itu lo, saya jadi ingat sama Panca Dharma Wanita yang jadi hafalan wajib ibu-ibu PKK tempat ibuku hobi ikut arisan alat masak bulanan itu.

Poin-poin Panca Dharma Wanita: Pertama, wanita sebagai istri pendamping suami. Poin ini berakibat, pemimpin Dharma Wanita itu harus sesuai jabatan suami. Biasanya sih istri jenderal atau pegawai negeri tingkat tinggi. Perempuan mandiri lainnya, di zaman Orde Bau, mana boleh berkarya.

Iklan

Kedua, wanita sebagai ibu rumah tangga. Ketiga, wanita sebagai penerus keturunan dan pendidik anak. Poin-poin ini nih yang bikin laki-laki semena-mena seolah-olah tugas mendidik anak itu cuma tugas perempuan. Laki-laki yang menghasilkan uang lalu merasa berhak berbuat apa saja, termasuk melanggengkan kekerasan dalam rumah tangga.

Keempat, wanita sebagai pencari nafkah tambahan. Yah, hanya sekadar tambahan sehingga layak digaji rendah dan tidak layak punya jabatan setara dengan laki-laki meskipun punya kompetensi. Dan kelima, wanita sebagai warga negara dan anggota masyarakat, pilihan politiknya harus ngikut suami sehingga kalau suaminya pilih mencoblos pohon beringin, istri dan keluarga batih semua harus ikut pilih pohon beringin.

Saya sih yakin kalian para akhi yang takut perempuan dewasa nan berbinar cemerlang ini sebetulnya nggak ngerti-ngerti amat sama sejarah. Lha wong kalian ini aslinya cuma pecundang yang malu ngakuin kepecundangan kalian.

Lagian, kalau udah lebih dari 25 belum nikah terus kalian percaya diri nggak akan milih kami juga kenapa? Kalian nggak tahu aja kalau kami lebih milih berondong cerdas atau om-om bijak yang cinta perempuan matang, berkarisma, dan multitalenta.

Lekas menikah dan alhamdulillah bahagia itu jatah dari Yang Maha Kuasa, sebagaimana kelonggaran rezeki buat sekolah tinggi lalu berkiprah dan banyak bikin manfaat buat sesama.

Jadi, kenapa perkara jodoh pakai bawa-bawa urusan gelar sama umur ketuaan?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: AisyahDharma WanitaMuslimatperempuan
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO
Esai

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.