MOJOK.CO – Toyota Avanza mungkin akan merusak gengsi. Namun, membeli mobil ini menjadi keputusan paling waras dalam hidup saya.
Saya membeli Toyota Avanza bukan karena ingin terlihat sukses. Jauh dari itu. Saya membeli mobil karena capek.
Ya, saya merasa lelah naik motor dan berangkat kerja sambil mikir, “Semoga sore nggak hujan.” Mendengar keluhan anak yang kepanasan dan kehujanan itu juga bikin capek. Dan yang paling melelahkan adalah capek pura-pura kuat waktu istri mulai bilang pelan-pelan, “Kayaknya kita sudah butuh mobil, deh.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi, buat saya yang harus selalu menghitung pengeluaran setiap bulannya dengan penuh kehati-hatian, kalimat istri saya seperti notifikasi realitas. Hidup sudah naik level. Kebutuhan bertambah. Tanggung jawab juga.
Baca juga: Toyota Avanza: Simbol Kejayaan para Bapak Indonesia dan Mobil Favorit Lintas Generasi
Gengsi membeli mobil
Sebelum membeli Toyota Avanza, dan tentu saja bekas, saya punya pikiran yang khusus soal mobil. Awalnya, saya seperti kebanyakan orang. Pasti melihat-lihat mobil baru dulu. Rasanya lebih mantap. Apalagi kalau dapat sales yang ramah dan simulasi kreditnya manis. DP bisa ditekan, cicilan katanya “ringan”.
Masalahnya, kata “ringan” itu relatif. Setelah saya duduk sendiri, membuka catatan keuangan, dan menghitung jujur tanpa bumbu marketing, angkanya bikin saya menelan ludah. Cicilan lima tahun. Asuransi all risk. Servis berkala di bengkel resmi. Pajak tahunan. Belum bensin, tol, parkir, dan pengeluaran tak terduga.
Secara teori, saya sanggup. Tapi secara mental? Belum tentu.
Saya tidak ingin lima tahun ke depan hidup dengan tekanan tetap setiap bulan. Tidak ingin setiap keputusan keuangan lain terasa berat karena ada satu kewajiban besar yang tak bisa ditawar.
Di situ saya mulai mempertimbangkan sesuatu yang sebelumnya terasa seperti penurunan kasta: mobil bekas. Khususnya Toyota Avanza.
Alasan saya memilih Toyota Avanza, yang bekas
Setelah banyak diskusi dengan teman, keluarga, dan tentu saja diri sendiri, saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke Toyota Avanza 1.3 G manual tahun 2015. Kenapa mobil bekas Toyota Avanza? Karena saya realistis.
Toyota Avanza mungkin bukan mobil impian anak muda. Ia bukan pula mobil yang menambah gengsi. Namanya saja mobil sejuta umat. Bahkan, saya yakin, tidak ada yang sejak kecil bercita-cita punya Toyota Avanza.
Namun, jangan pernah kamu membantah reputasi Toyota Avanza. Mesinnya bandel, suku cadang murah, bengkel ada di mana-mana, dan nilai jual kembalinya relatif stabil.
Saya sempat melirik mobil lain yang lebih stylish. Ada yang interiornya lebih modern, fiturnya lebih lengkap, desainnya lebih gagah. Tapi setiap saya tanya mekanik langganan atau teman yang paham otomotif, jawabannya hampir selalu sama, “Kalau mau aman dan gampang, ambil Avanza saja.” Dan dalam kondisi ekonomi saya waktu itu, kata “aman dan gampang” terasa jauh lebih penting daripada “keren dan beda”.
Unit Toyota Avanza bekas yang saya beli kilometernya sudah 100 ribuan. Bukan angka kecil. Tapi riwayat servisnya jelas, mesin masih halus, tidak ada bekas tabrakan besar, dan pemilik sebelumnya juga keluarga, bukan mobil rental.
Harganya? Hampir separuh harga barunya dulu.
Di situ saya mulai benar-benar memahami konsep depresiasi. Lima tahun pertama adalah masa paling kejam bagi mobil baru. Nilainya turun drastis. Dan saya masuk setelah fase itu lewat. Saya tidak membayar harga emosional sebagai pembeli pertama.
Saya membeli fungsi, bukan sensasi
Dan, akhirnya, saya membeli Toyota Avanza, bekas, manual. Keputusan memilih manual juga bukan tanpa alasan. Selain karena harganya lebih terjangkau dibanding matik, saya juga mempertimbangkan aspek perawatan.
Transmisi manual relatif lebih sederhana. Kalau ada masalah, biaya perbaikannya biasanya lebih masuk akal. Buat saya yang ingin menekan risiko pengeluaran besar tak terduga, ini poin penting.
Memang, di kemacetan kota, kopling kadang terasa melelahkan. Tapi sejauh ini masih bisa saya toleransi. Dan setiap mengingat selisih harga yang bisa saya hemat, rasa pegal itu jadi terasa lebih ringan.
Uang sisa dari selisih harga manual vs matik langsung saya alokasikan untuk servis awal besar. Mulai dari ganti oli, cek kaki-kaki, ganti beberapa bagian aus, dan memastikan semua dalam kondisi prima. Saya ingin mobil ini memulai “hidup baru” bersama saya dengan kondisi sebaik mungkin.
Toyota Avanza dan pengaruhnya ke ekonomi rumah tangga
Inilah bagian yang paling terasa. Karena harga beli Toyota Avanza bekas jauh lebih rendah dari mobil baru, cicilan saya juga jauh lebih ringan. Bahkan bisa saya percepat jadi hanya dua tahun. Pajak tahunannya masih ramah. Asuransi cukup TLO, tidak perlu all risk mahal.
Biaya servis rutin juga tidak bikin jantung berdebar. Yang paling penting, saya masih punya ruang bernapas.
Saya masih bisa menabung, menyisihkan dana darurat, dan investasi kecil-kecilan tanpa merasa semua uang habis untuk kendaraan. Toyota Avanza bekas memang menguras biaya operasional, tapi tidak sampai membuat struktur keuangan goyah.
Kalau ada bertanya, apakah lebih “cuan” beli mobil bekas? Dalam konteks kondisi saya waktu itu, iya. Pemilik pertama sudah menanggung depresiasi besar.
Saya menikmati sisa umur pakainya dengan harga yang lebih rasional. Risiko tetap ada, tentu. Namanya juga barang bekas. Tapi selama kita membeli dengan teliti dan menyiapkan dana perawatan, risikonya masih terukur. Yang jelas, saya tidak merasa hidup saya dikendalikan cicilan.
Baca juga: Toyota Avanza Adalah Mobil yang Tidak Akan Pernah Saya Beli
Soal gengsi dan kedewasaan
Saya akui, ada momen ketika rasa minder muncul. Parkir di samping mobil-mobil baru tetangga yang lampunya sudah LED sipit dan desainnya lebih modern, Toyota Avanza saya terlihat biasa saja. Tidak ada fitur canggih, nggak punya layar besar, apalagi tombol start-stop.
Tapi, ketika hujan turun dengan deras, saya tetap bisa mengantar keluarga dengan tenang tanpa kehujanan seperti dulu. Jadi, saya tahu keputusan ini benar.
Mobil ini mungkin tidak menaikkan status sosial saya. Bahkan, pada titik tertentu, bisa merusak gengsi pemiliknya. Tapi, ia menaikkan kenyamanan dan keamanan keluarga saya. Dan makin ke sini saya sadar, gengsi itu mahal. Kadang jauh lebih mahal dari cicilan.
Saya memilih terlihat biasa saja, tapi finansial lebih stabil. Mobil yang masuk akal lebih bikin hati tenang, ketimbang harus memukau. Jelas, lebih enak tidur nyenyak tanpa dihantui angka-angka besar tiap bulan.
Toyota Avanza bekas ini bukan simbol kesuksesan. Ia simbol kompromi yang matang. Bahwa saya akhirnya belajar membedakan antara kebutuhan dan ego.
Mungkin suatu hari nanti saya akan membeli mobil yang lebih baru, modern, dan nyaman. Tapi ketika hari itu datang, saya ingin membelinya tanpa rasa terpaksa, tanpa mengorbankan kestabilan ekonomi rumah tangga.
Untuk sekarang, Avanza 2015 manual ini sudah lebih dari cukup.
Ia bukan mobil impian masa muda saya. Tapi, sejauh ini, ia adalah keputusan finansial paling waras yang pernah saya ambil sebagai orang dewasa.
Penulis: Alan Kurniawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Mobil Merek dan Jenis Baru Semakin Merajalela, tapi di Jalanan Toyota Avanza Tetap Jadi Primadonanya dan kisah bermakna lainnya di rubrik OTOMOJOK.
