MOJOK.CO – Kalau ada lomba ketekunan menciptakan produk gagal, Suzuki pantas naik podium berkat lahirnya si buruk rupa Suzuki Satria Pro.
Kalau ada lomba ketekunan dalam menciptakan produk gagal, saya rasa Suzuki pantas naik podium. Bukan karena mereka tidak bisa membuat motor bagus. Mereka ini terlalu percaya diri dengan desain, yang entah siapa yang mereka mintai pendapat sebelum dilepas ke pasar.
Dan kali ini, bintang utamanya adalah Suzuki Satria Pro. Motor ini adalah facelift terbaru dari Satria FU 150 yang dulu sempat jadi motor idaman anak muda berslogan “Ora FU Ora Love You”.
Namun, slogan itu tampaknya sudah bisa direvisi jadi “Ora FU Ora Masalah”. Sebab, begitu melihat wujud Satria Pro, masalah justru datang dari sisi desain yang bikin dahi berkerut dan tawa pecah bersamaan.
Suzuki Satria Pro malah mirip Jarjit Singh naik motor
Begitu foto resminya rilis, para warganet otomotif langsung ramai. Sebagian berusaha sopan dengan komentar halus seperti:
“Unik banget ya modelnya.”
Sementara sebagian lain langsung to the point: “Ini Suzuki apa Bajaj Pulsar?” Saya sendiri memilih jujur: motor ini kelihatan sangat India banget.
Dan saya tidak bermaksud menyinggung. Tapi, desain Suzuki Satria Pro betul-betul seperti hasil kawin silang antara motor sport touring India dan ayam jago yang habis begadang. Yang paling mencuri perhatian tentu bagian depan.
Lampu utamanya menonjol ke depan seperti tokoh Jarjit Singh di kartun “Upin Ipin”. Lengkap dengan tonjolan spidometer di atasnya. Begitu saya melihat, refleks kepala langsung bergumam, “Duh, Jaaaarjit.”
Bayangkan, Suzuki Satria Pro punya muka yang mirip tokoh paling bawel di dunia kartun anak-anak. Bukan kesan garang yang muncul, tapi seperti mau nyeletuk pantun dulu sebelum start drag race, ”Dua Tiga…”
Lampu sein menonjol, selera desain patut dipertanyakan
Selain lampu depan, lampu sein-nya juga dibuat menonjol ke luar, seolah Suzuki ingin bilang, “Lihat, ini sein, loh!” Padahal, di 2025 ini, semua pabrikan berlomba membuat motor yang lampunya menyatu rapi dengan bodi agar tampak modern dan elegan.
Tapi Suzuki?
Mereka malah kembali ke gaya lampu tonjolan era 2000-an. Sebuah keputusan desain yang justru bikin motor ini kelihatan mundur satu dekade.
Saya tahu, Suzuki sedang mencoba sesuatu yang berbeda. Tapi, berbeda itu ada dua jenis, yaitu berbeda yang keren dan berbeda yang bikin kita mikir, “Ini seriusan? Terlalu norak!” Sayangnya, Suzuki Satria Pro jatuh ke kategori yang kedua.
Performa Suzuki Satria Pro itu masih mantap, penampilan gagal total
Padahal kalau bicara performa, Suzuki Satria Pro dan Satria FU 150 masih sangat bisa diandalkan. Mesin DOHC 150 cc-nya bertenaga, enteng, dan irit. Transmisi 6 speed-nya juga tetap responsif. Tapi sayang, semua keunggulan itu tertutup oleh tampilan depan yang gagal paham.
Kalau melihat Suzuki Satria Pro ini dari samping sih masih oke. Tapi, begitu melihat dari depan, ya ampun, motor ini seperti belum siap difoto untuk ijazah.
Suzuki dan tradisi gagal yang konsisten
Suzuki tampaknya belum belajar dari pengalaman sebelumnya. Coba ingat Suzuki Gixxer 250. Ini motor yang sebenarnya punya mesin bagus, tapi gagal menarik perhatian karena desainnya terlalu tanggung. Gixxer nggak jelas mau tampil agresif seperti sport 250 cc lain atau kalem seperti motor touring.
Akhirnya, Gixxer cuma bertahan empat tahun saja bertahan di Indonesia. Setelah itu, menghilang pelan-pelan seperti mantan yang sudah bahagia dengan orang lain.
Belum selesai kita berduka, Suzuki sempat mencoba peruntungan lewat Avenis, motor matik yang katanya sporty. Tapi, motor ini malah tampak seperti hasil tukar-tambah bodi dengan motor India. Nasibnya juga sama. Avenis nggak sampai tiga tahun sudah lenyap dari brosur resmi.
Dan sekarang, mereka kembali dengan Suzuki Satria Pro. Sebuah motor yang di atas kertas, seharusnya jadi puncak evolusi ayam jago legendaris mereka. Halah, tapi malah kelihatan seperti desain eksperimen yang lolos uji coba gara-gara staf R&D-nya salah klik file.
Kenapa Selalu India, Suzuki?
Saya paham, Suzuki mungkin mencoba menekan biaya riset dengan memanfaatkan basis desain dari pasar India, tempat mereka memang cukup kuat. Tapi sayangnya, selera fashion orang India dan Indonesia itu beda planet.
Kalau di India, motor dengan banyak tonjolan dianggap berani dan gagah. Tapi, di Indonesia, justru terlihat norak dan nggak banget, deh. Di sana, desain semacam itu dianggap berani dan futuristik. Sedangkan di sini, justru terlihat aneh dan kurang selaras dengan selera kita.
Kenapa Suzuki masih harus belajar dengan cara sekeras ini? Padahal mereka punya modal sejarah yang kuat banget di Indonesia. Satria FU, misalnya, dulu pernah jadi simbol status anak muda yang keren, cepat, dan ganteng.
Sekarang? Mungkin justru jadi bahan lelucon di grup WhatsApp alumni.
Satria FU: Dari simbol ganteng ke bahan guyonan
Saya nggak tahu siapa yang ada di ruangan rapat saat desain Suzuki Satria Pro ini disetujui. Mungkin salah satu manajer desain sempat nyeletuk, “Kita butuh yang beda!”
Lalu seorang desainer India mengangkat tangan, “Tenang, saya punya ide!”
Lalu semua tepuk tangan, dan… lahirlah motor yang tampangnya seperti Jarjit Singh naik kuda besi.
Apakah ini pertanda akhir dari garis keturunan Satria FU yang legendaris itu? Bisa jadi. Sebab pasar ayam jago sekarang memang sedang sekarat. Anak muda zaman sekarang lebih pilih motor matik yang praktis, atau sport fairing yang gagah buat konten TikTok. Di antara keduanya, ayam jago seperti Satria sudah mulai kehilangan habitatnya.
Suzuki seharusnya sadar, bahwa nama besar saja tidak cukup untuk bertahan. Satria FU dulu dicintai karena tampilannya sporty dan macho. Sesuatu yang kini justru hilang di versi Suzuki Satria Pro ini. Meski motornya bisa ngebut, kalau tampilannya bikin orang ketawa duluan, ya percuma.
Akhir yang tidak gagah untuk sang legenda
Dan, kalau memang ini adalah nafas terakhir Satria FU sebelum disuntik mati, maka sayang sekali. Ia tidak mati dengan gagah, tapi dengan wajah yang mirip karakter kartun yang suka berpantun.
Tragis, tapi agak lucu juga kalau dipikir-pikir. Mungkin Suzuki memang punya filosofi sendiri:
“Lebih baik gagal dengan gaya, daripada sukses tapi membosankan.”
Tapi sayangnya, gaya yang mereka pilih ini salah arah. Bukan gaya Indonesia, tapi gaya Bollywood yang kesasar di Bekasi. Sekarang tinggal satu pertanyaan besar yang menggantung di kepala saya dan banyak pecinta otomotif lainnya:
“Kenapa harus India, Suzuki? Why?”
Apakah kita kekurangan desainer lokal yang bisa membuat motor keren dan sesuai selera pasar? Apakah semua tenaga desainnya sedang cuti massal? Atau Suzuki memang sedang ingin membuktikan bahwa mereka benar-benar tak pernah gagal dalam menciptakan produk gagal bernama Suzuki Satria Pro?
Kalau iya, selamat.
Dengan Satria Pro ini, Suzuki baru saja memperkuat reputasi itu dengan sempurna.
Penulis: Alan Kurniawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Suzuki Satria Pro Punya Fitur Keren di Balik Bodi yang Tampak Payah dan catatan mengenaskan lainnya di rubrik OTOMOJOK.
