Safari Dharma Raya OBL: Bus Legendaris Kebanggaan Temanggung dengan Trayek Terjauh, Hingga Nusa Tenggara Barat

Ilustrasi Safari Dharma Raya: Bus Legendaris Kebanggaan Temanggung. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CONaik Safari Dharma Raya dari Jogja ke Jakarta memberi pengalaman yang menyenangkan. Ini adalah bus legendaris kebanggaan Temanggung yang mampu memberi kenyamanan kepada penumpang. 

Saya punya 2 alasan mengapa ingin sekali mencoba menjadi penumpang Safari Dharma Raya, bus kebanggaan Temanggung ini. Pertama, nama yang sangat kharismatik. Kedua, karena sedikit bosan dengan rute Jogja-Jakarta lewat tol Trans-Jawa via tol Colomadu.

Siapa sih (orang tua) yang nggak kenal dengan Safari Dharma Raya? Bus berkelir putih-biru dengan gambar gajah ini memiliki sejarah panjang sejak 1951. Trayek mereka juga terjauhnya, yakni hingga Nusa Tenggara Barat. 

Namun, saya tidak membahas sejarah, tapi berbagi pengalaman dengan PO di mana orang lebih sering menyebutnya OBL. Nama OBL sendiri merujuk pada Oei Bie Lay, yang merupakan pemrakarsa PT. Safari Dharma Sakti. Dulu, setelah berdiri, Safari Dharma Raya merupakan perusahaan angkutan hasil bumi dengan nama Perusahaan Truk Hien.

Sebuah usaha “membunuh” rasa bosan bersama Safari Dharma Raya

Berbekal rasa penasaran dan butuh hiburan naik bus, sambil rebahan, saya mencari jadwal dan memesan tiket melalui aplikasi RedBus. Aplikasi ini membantu saya menghemat waktu dan tenaga. Kamu tinggal mengisi data, membayar, kelar. Tiket dan PNR sudah keluar. Terakhir, saya tinggal memasang alarm pukul 05:00 pagi karena jadwal keberangkatan di 06:30. Pertaruhan yang cukup berat. 

Dan memang berat karena saya bangun agak telat. Setelah bangun, saya ganti celana, pakai baju tanpa mandi, menenteng tas, dan langsung memesan Gojek. Masih beruntung, saya sampai Terminal Jombor, Sleman, pukul 06:00 dan langsung menuju agen Safari Dharma Raya.

Seorang bapak setengah baya dengan kaca mata melorot hingga batang hidung menyambut saya. Saya menyerahkan kode booking dan data pesanan dari aplikasi RedBus. Si bapak, dengan kaca mata yang masih melorot memasukkan data, lalu selembar kertas A4 dibagi 2 yang penuh dengan tanda air “OBL” berwarna merah keluar dari mesin. Tiket ini sudah lengkap dengan data penumpang, nomor tiket, nomor kursi, syarat dan ketentuan, dan lain-lain. Mengamati tiketnya, ini “bus serius” bener.

Pukul 06:15, bus Safari Dharma Raya OBL tujuan Jakarta sudah nongol di depan agen Jombor. Saya melihat seorang kru turun dari bus lalu masuk kantor agen untuk mengurus administrasi dan serah-terima manifest penumpang. 

Sambil menunggu kru kelar mengurus administrasi, saya mengelilingi bus berbodi Grand Tourismo double glass buatan Karoseri Laksana. Ini sebuah karya seni! Setiap bentuk kendaraan besar, boxy, bagi saya itu sesuatu yang indah. Bus kebanggaan Temanggung ini ini benar-benar karya seni yang indah. 

Bus “kepala lele” berangkat menuju Jakarta

Karoseri Laksana merilis bodi Safari Dharma Raya ini pada 2017. Sudah tergolong lama, tetapi bus ini masih segar terawat dan bersih. Oya, bus ini sering kena face shaming teman saya, seorang sopir Sugeng Rahayu. Dia sering menyebut bodi bus ini dengan sebutan ndas lele (kepala lele). Padahal, kalau menalar, bus ini nggak punya sungut atau pati. Tapi yah, sudahlah.

Safari Dharma Raya si kepala lele, ledek teman saya. (Dokumen penulis)
Safari Dharma Raya si kepala lele, ledek teman saya. (Dokumen penulis)

Pukul 06:23 kru mempersilakan kami masuk bus. Dari Jombor hanya ada 2 penumpang yang naik termasuk saya. Setelah menemukan bangku 2D, saya duduk dan mengatur posisi sandaran kursi senyaman mungkin, lalu menghirup aroma bus yang menyenangkan dan menenangkan. 

Tepat pukul 06:25, bus Safari Dharma Raya OBL Edelweiss bergerak. Edelweiss adalah nama julukan unit bus yang terpampang nyata di kaca depan. Biasanya, sopir batangan yang memberi nama pada unit kesayangannya. Saya lupa kapan persisnya pemberian julukan ini mulai menjadi tren dalam dunia perbusan. 

Setelah keluar Jombor, bus langsung “berlari-lari kecil”. Jujur saja, saya tidak punya ekspektasi bagaimana nanti bus ini saat masuk tol. Jalan gaya kelinci atau lari ala kura-kura? 

Cahaya hangat mulai menerobos masuk jendela di seat 2D seiring semakin tingginya matahari. Hari yang cerah di Sabtu pagi. Sembari menikmati aroma bus Safari Dharma Raya dan matahari pagi, mata saya berkeliling melihat-lihat interior bus. Saya menempelkan punggung di kursi Rimba Kencana yang lekukannya pas sekali dengan postur punggung saya. Nyaman. 

Interior Safari Dharma Raya, bus kebanggaan Temanggung

Terdapat wadah botol dan pocket kecil untuk menaruh barang tepat di depan kursi, ditambah ada usb charger supaya gawai tetap terjaga. Leg rest-nya termasuk jembar membuat saya bisa meluruskan kaki dan tidak khawatir dengkul geser karena kepentok jok depan. Kamu bisa merebahkan sandaran sampai hampir rebah karena bus ini hanya berkapasitas 28 kursi. Kemungkinan ada konflik dengan penumpang belakang karena rebutan lahan akan sangat minim. Kecuali kamu memang suka mengajak ribut orang lain. 

Legrest lega, kaki bisa selonjoran. (Dokumen penulis)

Untuk yang punya kebiasaan beser, tenang saja. Safari Dharma Raya melengkapi busnya dengan toilet yang bersih, tapi memang sempit. Sampai saat ini, belum ada toilet bus yang benar-benar luas. 

Pukul 06:47, Safari Dharma Raya Edelweiss sampai di agen Tempel, lalu menaikkan beberapa penumpang. Setelah itu kembali berlari-lari kecil menuju utara dan pukul 07:03 tiba di Terminal Muntilan, Jawa Tengah. Kami berhenti sebentar di agen menaikkan untuk penumpang, lalu pukul 07:07 sudah keluar Terminal Muntilan. 

Menatap ke luar jendela bus bus kebanggaan Temanggung ini, saya menikmati mandi matahari yang makin lama makin hangat. Saya bisa menghayati deru mesin Mercedes Benz OH 1626 yang bikin ngantuk. 

Nggak terasa, bus sudah masuk Terminal Magelang. Saya perhatikan jam di gawai menunjukkan pukul 07:30. Setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi karena saya kembali memejamkan mata dan terbangun saat bus sedang parkir di Terminal Temanggung.

Masuk garasi di Dewi Sartika

Pukul 08:18, kami sampai di Terminal Temanggung untuk menaikkan penumpang dan pukul 08:21 sudah jalan lagi. Beberapa saat setelah bangun, yang terlintas di kepala saya adalah apa ya bus Safari Dharma Raya ini nggak ngasih snack. Jujur saja, dari pagi sejak berangkat saya belum sarapan. Berak juga belum. 

Tak lama berselang, bus masuk ke jalan yang tidak begitu besar. Semacam jalan desa. Tepat pukul 08:24, bus masuk garasi di Jalan Dewi Sartika. Sudah banyak penumpang menunggu di sana. Awak bus mengizinkan kami untuk turun kalau ada yang mau ke kamar mandi untuk kencing atau berak.

Garasinya di sini lumayan besar. Ada belasan, mungkin puluhan bus yang sedang parkir. Tampak ada kru yang sedang mencuci dan membersihkan bus untuk persiapan keberangkatan hari ini. 

Sekitar 20 menit bus Safari Dharma Raya Edelweiss parkir di garasi. Lalu, tepat pukul 08:43, kru meminta kami untuk naik kembali ke dalam bus, termasuk penumpang-penumpang yang baru akan naik. Setelah semua naik, menyusul seorang ibu-ibu berseragam OBL naik membawa papan klip memanggil nama kami satu per satu sesuai nomor kursi. Ya, mirip seperti anak-anak yang akan berangkat studi wisata. Sampai sini, saya masih kepikiran soal snack. Memang tidak dapat snack, atau bagaimana?

Persis pukul 08:47, bus keluar garasi melewati jalan yang tidak begitu besar tadi, lalu menuju Jalan Raya Temanggung-Parakan. Cuaca Temanggung cerah dengan langit biru nyaris tanpa awan. Jalan menuju Parakan juga ramai. Seperti biasa, saya menikmati deru mesin bus, merebahkan badan, dan melihat-lihat Temanggung, daerah penghasil tembakau Srintil yang terkenal itu. 

Akhirnya, snack time!

Di Temanggung, perjalanan mulai menanjak. Kota ini menyuguhkan pemandangan indah Gunung Sumbing yang megah dan Gunung Sindoro yang tampak agak jauh. Kami melintasi kebun-kebun sayur yang segar. Bus Safari Dharma Raya ber-chasis Mercy 1626 rasanya enteng-enteng saja melahap jalan yang landai menanjak. Dari deru mesinnya, terasa seperti tidak butuh banyak usaha dan tenaga melibas jalan ini.

Pukul 09:16, bus tiba di agen Parakan. Setelah menaikkan penumpang, bus masih berhenti sejenak. Lima menit berselang, bus meninggalkan Parakan. Tak lama setelah bus berjalan, kondektur mulai membagikan tas kertas. Saya menduga ini berisi snack dan minuman. Saya tambah bahagia karena dugaan saya tidak meleset.

Benar saja, isinya sebotol air mineral, roti lokal Temanggung, beberapa permen dan selembar tisu. Setelah itu, kondektur Safari Dharma Raya masih memberi sebotol teh kemasan Ichi Ocha dalam keadaan dingin. Lucu juga ini cara penyajian snacknya. Karena pada umumnya, snack menggunakan kotak dari karton tipis, tapi ini menggunakan paper bag. Yang menarik, rotinya enak. Ini entah karena saya yang lapar, atau memang rotinya enak. Tapi memang enak. 

Getaran Safari Dharma Raya yang terasa nyaman

Jalan menanjak, aspal kasar keriting , dan tikungan mendominasi perjalanan selepas Parakan. Kecepatan bus Safari Dharma Raya memang tidak memungkinkan untuk bisa lari kencang. Namun, dengan kondisi medan jalan yang seperti itu, pengemudi tampak berusaha membawa laju bus tetap cepat dan nyaman. Cepat yang berarti bukan ngebut, dan bukan “lepo” alias lemot. 

Aspal keriting sepanjang perjalanan lepas Parakan ternyata tidak membuat interior Grand Tourismo bergetar hebat, apalagi bergejolak. Bergetar wajar biasa, bukan bergetar layaknya plafon yang mau ambrol. Bergetar minimalis dan tidak berisik.

Saat manuver melahap tikungan rasanya juga masih nyaman. Ini ada 3 faktor yang mempengaruhi. Pertama, pengemudinya jago. Kedua, chassis-nya bagus. Ketiga, kualitas karoserinya bukan kaleng-kaleng. Saya kira, ketiganya sudah ada pada bus Safari Dharma Raya OBL yang saya naiki ini.

Setelah keluar Parakan, saya kira bus akan langsung menuju Weleri tanpa berhenti. Ternyata saya keliru. Setengah jam perjalanan dari Parakan, bus singgah di sebuah terminal kecil bernama Terminal Ngadirejo yang masih ikut wilayah Temanggung. Saya baru tahu ada terminal kecil di sini. Meski kecil, terminal ini disinggahi bus AKAP ke arah barat. Di terminal ini kami menaikkan 1 penumpang terakhir. 

Makan siang singkat

Perjalanan melewati jalan naik, turun, dan tikungan, membuat saya mengalah pada keadaan. Nggak baik menahan rasa kantuk. Namun, pukul 11.12, bus masuk Rumah Makan Sendang Wungu, Gringsing, Batang. Masak ya saya tidur! 

Dari fasadnya, rumah makan ini tampak seperti rumah makan senior alias sudah lama berdiri dan ada di Jalur Pantura ini. Tampak tua di luar, namun di dalam terjaga kebersihannya. Tapi, selama saya naik bus jarak jauh, dalam benak saya, apa sih yang diharapkan dari sebuah rumah makan “umum” yang disinggahi PO bus yang fungsi utamanya untuk makan dan mampir buang air?

Setelah turun, melihat-lihat sebentar, saya masuk menuju ruang makan yang sudah disiapkan untuk Safari Dharma Raya OBL. Cukup menunjukkan tiket, saya bisa masuk ke ruang makan prasmanan yang diatur dengan dekorasi ala-ala prasmanan kawinan. 

Ada nasi ayam goreng, nasi rames, soto ayam, dan garang asem. Saya berpikir, dalam setiap perjalanan naik bus, nasi ayam, dan nasi rames juga soto, merupakan menu makanan yang biasa. Akhirnya, garang asem menjadi pilihan yang menarik untuk makan siang. 

Menurut saya, garang asem isian ayam ini enak. Segar dan gurih di lidah dengan bumbu yang tipis tapi terasa. Nasinya juga empuk, artinya si koki memasak dengan baik. Hanya, es teh mereka saja yang kurang mantap. Rasanya lebih mirip air gula daripada es teh. 

Sebuah karya seni kebanggaan Temanggung. (Dokumen penulis)

Momen pembuktian ketangguhan Safari Dharma Raya OBL

Pukul 11.57, bus bergerak keluar Sendang Wungu, kembali ke arah timur menuju Weleri, masuk tol Trans-Jawa melalui gerbang tol Weleri. Ini momen yang paling saya tunggu-tunggu, yaitu pembuktian setangguh apa bus OBL ini. 

Pukul 12.05, bus masuk Tol Weleri. Setelah tapping, pengemudi secara perlahan mulai main di RPM agak tinggi. Perpindahan gigi dari rendah ke atas nggak ada lompatan sama sekali, alias mulus. Manuver saat mendahului truk dan kendaraan yang bergerak lambat di sisi kiri juga lembut. Saya punya teori, yaitu semua orang bisa mengemudi, tapi tidak semua orang bisa “menjadi pengemudi”. Dalam hal ini, pengemudi bus yang sanggup mengemudi dengan kencang, namun tetap smooth

Tidak ada rasa kecewa perihal kecepatan menaiki Safari Dharma Raya ini. Tidak sekecewa saya saat naik Sinar Jaya dari Semarang ke Lebak Bulus waktu itu. Menengok aplikasi Speedometer, saya mendapati bus ini melaju dengan kecepatan 90an kilometer per jam. Tidak ngebut dan tidak “lepo” alias lemot seperti kura-kura di jalan tol. Yang paling penting, tidak menjadi lane hogger dan tetap berada di lajur kiri sebagaimana mestinya.

Rasanya baru tidur sebentar, eh saat melek, sudah sampai CIkampek Utama di pukul 15:34. Sisanya saya menikmati perjalanan, “nyore di jalan tol”. Saya mengamati kecepatan di Speedometer, masih di 90 kilometer per jam kurang sedikit. Hingga pukul 15:54, saya turun di Karawang Barat, Badami, yang tidak jauh dari kantor agen Rosalia Indah.

Menurut saya, rasa nyaman selama di dalam Safari Dharma Raya, kecepatan yang cukup bisa diandalkan, pengemudi yang berkualitas, snack dengan kemasan lucu dan roti yang enak, makan siang garang asem yang enak, tiket seharga Rp265.000 adalah harga yang cukup bersahabat untuk membayar sebuah pengalaman dan kebahagiaan. Enak dan nyaman itu memang tidak selalu harus baru, tetapi rasa bahagia itu yang membuat orang jadi nyaman. Eh.

Penulis: M. Mujib

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sinar Jaya: PO Terbaik di Pulau Jawa yang Menyimpan Beberapa Masalah dan analisis menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Exit mobile version