ADVERTISEMENT

Rosalia Indah vs Sinar Jaya: Perang 10 tahun di atas aspal panas yang belum juga ada pemenangnya

Rosalia Indah vs Sinar Jaya: Perang 10 tahun di atas aspal MOJOK.CO

MOJOK.CO – Netizen Indonesia cuma butuh satu pertanyaan untuk saling melempar bensin dan obor: “Kalau mudik, kamu lebih percaya Rosalia Indah atau Sinar Jaya?”

Semenit setelah pertanyaan itu nongol, grup bus mania panas seperti wajan gorengan pukul tujuh pagi. Kubu “Sultan Palur” dan kubu “Sinjay” saling sontek data, saling tempel screenshot kasus kemalingan dan kecelakaan, sampai debat bus berubah jadi debat aliran kopi. 

Saya memantau drama ini dari 2016 sampai sekarang, dan kesimpulan saya sederhana. Perang ini nggak akan pernah selesai, karena dua PO ini jago di hal yang beda. Dan, keduanya sama-sama jago di satu hal yang sama, yaitu bikin penumpang deg-degan.

Dua anak emas dengan DNA yang bertolak belakang

Rosalia Indah lahir di Palur, Karanganyar, pada 1983. Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni memulai bisnis ini cuma modal satu Colt Diesel rute Solo–Blitar. 

Yustinus memulai karier dari kernet sampai kondektur di PO Timbul Jaya. Lalu, dia menamai perusahaannya dari anak pertamanya, Yustina Anna Rosalia. 

Seiring melonjaknya kekayaan armada, komunitas bus memberinya julukan “Sultan Palur”. Kini, Rosalia Indah menggeber hampir 400 unit armada, 50 di antaranya bus tingkat, dan melayani lebih dari 250 rute sehari.

Sinar Jaya punya akar lebih tua. H. Rasidin Karyana dan Herman Rusly merintis grup ini sejak 1969. PO Sinar Jaya resmi turun ke jalan pada 28 Oktober 1982 dengan rute perdana Bekasi–Jonggol. Bisnis ini kemudian turun ke generasi kedua lewat Teddy Kurniawan Rusly. 

Media nasional memberi gelar yang jauh lebih merakyat: “bus sejuta umat”. Zaenal Arifin, Ketua Umum BisMania Community, menjelaskan ke detikOto pada 2021 bahwa penumpang awam memberi julukan itu karena “armadanya banyak, tarifnya murah, dan nggak naikin penumpang di tengah jalan.”

Nah, di titik ini, debat 2016-an sudah menemukan bentuk klasiknya. Netizen menyalahkan Rosalia Indah karena sombong, bus orang sultan, harga sultan, muji-muji terus. Sebaliknya, netizen menyindir Sinar Jaya sebagai bus rakyat yang reputasi sopirnya nggak karuan. 

Stigma “jago ngebut” itu tua banget. Arsip komunitas bus mania era 2000-an sudah nyimpen julukan itu buat Sinar Jaya, dan meme-nya masih hidup sampai era 2016-an. Komentar lama di blog komunitas bus bahkan menyindir. Sinar Jaya jagonya ngebut, tapi ngebutnya bikin penumpang sport jantung.

Sejak 2016, thread “Rosalia vs Sinar Jaya, mana lebih nyaman?” bermunculan rutin di grup Facebook dan forum otomotif setiap memasuki musim mudik. Netizen Solo dan Jogja membela Rosalia Indah, netizen Brebes dan Bekasi membela Sinar Jaya, dan keduanya datang membawa amunisi: foto armada baru, tangkapan layar tarif, cerita sopir, sampai kesaksian kemalingan. 

2019: Sinar Jaya menampar duluan dengan sleeper bus pertama

Tahun 2019 jadi titik balik yang bikin kubu Rosalia Indah mendadak ngompol.

Di GIIAS 2019, karoseri Laksana memamerkan Legacy SR2 Suites Class. Ini sleeper bus pertama di Indonesia. Dan pemiliknya bukan Rosalia Indah. Miliknya Sinar Jaya. 

detikOto mencatat bus ini kemudian melayani Jakarta–Surabaya sebelum pindah ke Jakarta–Jogja, dengan tarif Rp480 ribu dan Rp350 ribu. Armadanya memakai Mercedes-Benz OH 1626 bermesin OM 906 LA 6.374 cc.

Netizen otomotif langsung meledak. Forum dan grup WhatsApp bus mania ramai mengejek. Rosalia Indah katanya sultan, malah kalah duluan soal inovasi. Kubu sinar Jaya pamer foto kursi tidur 1-1 dengan box pembatas. Kubu Rosalia balas dengan senyum sinis: tunggu aja. Dan Rosalia memang datang membawa perang yang lebih mahal.

2021: Rosalia Indah membalas dengan senjata Swedia

Mei 2021, Rosalia Indah merilis empat unit bus tingkat baru dengan bodi Jetbus 3+ Super Double Decker dari Adiputro. KumparanOto membongkar spesifikasinya. Sasis Scania K410iB, mesin 13.000 cc enam silinder, daya 410 dk, torsi puncak 2.000 Nm, transmisi semi otomatis Opticruise, plus sasis 6×2 “trintin” yang rodanya bisa ikut belok. Kombinasi Scania-Adiputro ini menjadi standar baru bus AKAP premium.

Netizen otomotif membela gengsi Rosalia Indah dengan angka. Bandingin torsi Scania sama bus lain, nggak ada lawan. Itu bukan bus, itu gerbong kereta yang bisa nyelip. Begitulah kira-kira bunyi puja dan puji di grup-grup otomotif. Kubu Sinar Jaya langsung membantah dengan satu argumen sederhana. Bus keren tapi kemalingan terus, buat apa? Pertanyaan itu ternyata jadi ramalan yang sangat, sangat jelek.

2023–2024: Tahun-tahun kelam Rosalia Indah

Desember 2023, dunia maya berubah jadi pengadilan.

Widino Arnoldy alias Dino mendapati iPad Pro miliknya hilang di bus Rosalia Indah rute Wonosobo–Ciputat. Pelakunya mengganti barang itu dengan buku dan keramik. 

Kasus ini meledak, dan netizen lain ikut curhat. Laptop, ponsel, sampai koper lenyap dengan modus serupa. Oktober 2024, Rizqi Prasetiawan kehilangan laptop di rute Wonosobo–Bekasi, dan dia menuding pencurian itu berlangsung saat bus berhenti di Subang tanpa membangunkan penumpang.

Kompas pada 22 Desember 2023 mengundang Bayu Feng, Sekjen Bus Mania Community, untuk menyejukkan suasana. 

“Maling bus sekarang modal, ibarat modal Rp400.000 buat beli tiket bus yang kelas eksekutif tapi dapatnya tablet atau laptop yang jadi untung buat mereka. Makanya kita harus hati-hati di dalam transportasi umum, mau kelas ekonomi atau eksekutif wajib hati-hati.” Feng juga menolak tuduhan yang menyeret kru Rosalia Indah tanpa bukti. Menurutnya tuduhan begitu terlalu gegabah.

itu. Lalu langit membalaskan budi, dengan cara yang sama kejamnya.

Komentar tentang kecelakaan yang menimpa Rosalia Indah dan Sinar Jaya

Kalau netizen saling lempar data kecelakaan, saya rasa hasil akhirnya imbang. Dan itu yang paling menyedihkan.

Nah, di tengah fanwar yang makin ngawur, suara paling jernih justru datang dari luar lapangan. Djoko Setijowarno, pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, menolak jadi wasit antar merek. 

Kepada Kompas pada Februari 2024 dia menegaskan: “PO-PO itu harusnya tiru KAI, biar nyaman orang naik bus.” 

Menurutnya, pelayanan bus harus menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang. Dia mendorong pemasangan CCTV sebagai standar minimum, pencatatan identitas penumpang, dan penguncian pintu bus saat istirahat di rest area.

Djoko juga mengingatkan bahwa faktor manusia menyumbang 61% kecelakaan transportasi jalan. Jauh di atas faktor teknis kendaraan yang cuma 9%. 

Artinya, memesan Scania atau Mercedes-Benz sama saja membeli kompor mewah kalau juru masaknya ngantuk. Sopir boleh nyetir maksimal delapan jam sehari, tapi sistem bon armada sering menginjak-injak angka regulasi itu. 

Djoko bahkan berteriak “darurat keselamatan transportasi jalan” setelah Kemenhub mencatat sekitar tiga orang meninggal setiap jam di jalan raya Indonesia. Bagi saya, data Djoko ini adalah tamparan untuk semua kubu. 

Kamu debat Rosalia Indah versus Sinar Jaya, padahal pola kecelakaannya sama. Manusia lelah, sistem cuek.

2025: Kecoa berharga Rp400 ribu dan kursi rasa sultan

Tahun 2025 memberi amunisi segar buat kedua kubu.

Juni 2025, Denny Martin menemukan kecoa di kabin Super Top Double Decker Rosalia Indah. Harga tiketnya Rp400 ribu. 

Ke Kompas dia cerita: “Saya sudah lapor ke CS via WhatsApp dan telepon. Tapi bus tetap jalan tanpa tindakan nyata.” 

Juru bicara Rosalia, Sasangka Bayu, merespons dengan kompensasi pengembalian selisih tarif. Netizen Sinar Jaya langsung meledak. Mereka cuma mengembalikan selisih tarif? Kamu bayar Rp400 ribu buat jadi tetangga kecoa?

Tapi, kubu Rosalia punya peluru balasan yang nggak kalah tajam. Mojok sendiri menurunkan dua ulasan yang membuat FOMO kambuh. Erwin Setiawan menaiki Rosalia Indah First Class seharga Rp510 ribu dan menulis, “Baru kali ini saya merasakan hidup semewah ini. Sudah seperti menjadi sultan di film-film.” 

Sementara itu, Isidorus Rio, setelah naik Sinar Jaya Suite Class Rp395 ribu dari Madiun, malah menulis judul “Sleeper Bus yang Bikin Saya Menyesal“. Menyesal karena nggak cobain dari dulu. Dua penulis ini efektif membagi netizen jadi dua kubu panas. Tim sultan Palur versus tim maskulin Bekasi.

2026: Skor akhirnya sama-sama nol besar

Masuk 2026, perdebatan makin serius karena media mulai menghitung.

Jawa Pos pada Januari 2026 menempatkan Rosalia Indah sebagai bus AKAP favorit yang “hampir selalu full seat” berkat konsistensi armada dan kru. Sementara itu, media yang sama memuji Sinar Jaya sebagai “bus sejuta umat” yang unggul di jangkauan rute dan fleksibilitas titik naik-turun. 

Berbagai platform tiket masih mematok Rosalia Indah lebih mahal Rp70–Rp100 ribu dari Sinar Jaya untuk kelas tidur. Dengan kapasitas kursi lebih sedikit demi kenyamanan tentu saja.

Tapi, Juli 2026, bus Sinar Jaya kembali guling di Brebes. Debat langsung menyala lagi, dan kali ini kubu Rosalia tidak bisa banyak bicara. Luka Tol Batang mereka masih segar di kepala semua orang.

BACA JUGA Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan dan artikel seru lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.