Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Motor Serba Bukan Itu Bernama Suzuki Bandit 150: Motor yang Lagi Krisis Identitas

Mita Idhatul Khumaidah oleh Mita Idhatul Khumaidah
19 April 2021
A A
Motor Serba Bukan Itu Bernama Suzuki Bandit 150: Motor yang Lagi Krisis Identitas

Motor Serba Bukan Itu Bernama Suzuki Bandit 150: Motor yang Lagi Krisis Identitas

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Suzuki Bandit 150 adalah motor yang serba bukan. Bukan dari seri GSX-S, bukan pula seri GSF. Bingung. Suzuki suka aneh-aneh soal desain.

Butuh ratusan purnama bagi jajaran direksi Suzuki untuk menyadari bahwa segmen naked-bike 150cc adalah salah satu segmen paling menjanjikan di Indonesia. Bertahun-tahun lamanya segmen ini cuma dihuni V-ixion dan CB150R, seolah segmen ini diciptakan hanya untuk mereka.

Iklan

Konsumen pun jemu. Konsumen butuh opsi lain. Opsi yang bukan hanya menawarkan sesuatu yang lebih baik, melainkan yang mampu memupus duopoli pabrikan “garpu tala” dan “sayap tunggal” selama ini.

Maka muncul Suzuki GSX-S150.

Motor ini adalah saudara kembar GSX-R150 yang terjun di segmen sport fairing. Jujur saja, motor ini adalah motor Suzuki tercakep yang pernah dibuat. Dilihat dari samping, depan, atau belakang, GSX-S150 adalah pengejawantahan terbaik dari peribahasa legendaris di buku tulis Sidu: Practice Makes Perfect. Semuanya sempurna.

Lihatlah desain headlamp-nya yang garang. Memang, sih, beberapa orang menyebutnya mirip lele, tetapi desain batok lampunya itu malah mengingatkan saya pada mimik Vino G. Bastian ketika sedang berakting ngamuk: ada agresivitas, maskulinitas, sekaligus kegantengan tiada tara di sana.

Desain samping dan belakangnya juga cakep gila. Mereka yang sirik memang menyebutnya cungkring, tetapi garis body-nya proporsional, tegas, dan serba runcing. Mirip Bruce Lee di masa jayanya.

Tak heran bila Suzuki GSX-S150 menjadi sepeda motor paling laris di dealer tempat saya bekerja, mengalahkan penjualan saudara kembarnya sekaligus Satria injeksi. Dealer kami yang biasanya semuram pemakaman kerabat tiba-tiba luar biasa ramai. Bos saya sampai merasa perlu menyewa terop agar para konsumen yang mengular tak kepanasan.

Namun, seperti kata pepatah lagi, tak ada gading yang tak retak. Desain cakep Suzuki GSX-S150 ternyata punya cacat kecil yang, sialnya, cukup menjengkelkan: desain jok penumpang. Entah kenapa bagian itu dibentuk terlalu kecil, sempit, tinggi, dan keras. Siapa pun yang pernah duduk sebagai pembonceng di GSX-S150 tentu tahu betapa traumatisnya pengalaman duduk di situ.

Jok penumpang GSX-S150, intinya, diciptakan untuk dinaiki siapa pun asal bukan manusia.

Maka mengadulah para konsumen ke pihak Suzuki. Keluhan mereka pun disimak, dicatat, lalu diteruskan ke meja desainer yang segera menggosok-gosok kedua telapak tangannya dengan mimik antusias. Dan beberapa bulan kemudian lahir versi perbaikan dari Suzuki GSX-S150, versi perbaikan yang, anehnya, malah membuat semuanya menjadi lebih runyam.

Sepeda motor tersebut dinamakan Suzuki Bandit 150.

Seri Bandit untuk Suzuki boleh dibilang sama tenarnya dengan seri Ninja untuk Kawasaki. Kesamaan kecil, keduanya sama-sama dibuat untuk membuktikan bahwa menunggangi motor bermesin sangar adalah kenikmatan surgawi yang sudah bisa dicicipi di bumi. Keduanya juga sama-sama menjadi parameter kualitas di segmennya masing-masing; Bandit di segmen naked-bike, sedangkan Ninja di segmen sport fairing.

Desain Suzuki Bandit juga ikonik dengan lampu bulat dan pelek tiga palangnya, sesuatu yang ditiru oleh Kawasaki ketika terjun ke segmen naked-bike 150cc 2-tak. Pokoknya, Suzuki Bandit adalah seri motor Suzuki yang paling tak bercela.

Iklan

Maka ekspektasi konsumen pun melambung tinggi ketika Suzuki mengumumkan rencananya untuk membuat Bandit versi lite. Dan kalau ekspektasi itu sesuai realita, besar kemungkinan bos saya perlu menyewa terop yang lebih jumbo.

Tak berapa lama kemudian, Suzuki Bandit 150 pun meluncur ke pasaran. Nama resmi motor tersebut adalah GSX150 Bandit, dan ia langsung menuai sukses dengan jalan yang berbeda: tak ada motor Suzuki lain yang mendapat hujatan sebanyak dan secepat Suzuki Bandit 150 sejak peluncurannya. Sektor desain lagi-lagi menjadi biang kerok. Namun, Suzuki Bandit 150 menderita dengan cara lain.

Kita sama-sama mafhum kalau desainer motor Suzuki punya pemahaman estetika yang berbeda, yang membuatnya kerap menelurkan motor-motor berdesain nyeleneh. Sebutlah Suzuki Shooter, Nex, Inazuma, atau—okelah—seri GSX.

Namun, sekonyol apa pun desain motor Suzuki, ia punya identitas unik yang memampukan kita membedakannya dari motor lain. Anda boleh merasa jengkel dengan desain Suzuki Shooter, tetapi Anda tak butuh kejelian tinggi untuk membedakannya dari Honda Revo atau Yamaha Vega. Sekali tengok, Anda tahu itu Shooter dan bukan yang lain.

Beda halnya dengan Bandit 150.

Motor ini tampaknya dibuat dengan tenggat waktu dan finansial yang terbatas sehingga desainernya, siapa pun dia, merasa amat frustasi sehingga melepas semua bilah keyboard-nya kecuali bilah “Ctrl”, “C”, dan “V”. Sektor sasis dan mesin, contohnya, adalah hasil copy-paste dari GSX-S150, dan begitu pula dengan desain body secara umum. Namun, lampu depan dan belakang mencomot kepunyaan Satria injeksi. Benar-benar plek sama persis.

Hasilnya adalah—tadaaa!—motor naked 150cc yang tampaknya sedang mengalami krisis identitas. Dilihat dari depan dan belakang, ia adalah versi jangkung Satria injeksi. Tapi dilihat dari samping, ia menjadi versi ramah penumpang GSX-S150. Bingung, pokoknya.

Penamaannya juga bikin bingung. Ia bernama Bandit yang pakemnya berseri GSF, tapi seri resmi motor ini adalah GSX, dengan garis desain yang tak menganut seri mana pun. Hal terbaik untuk meringkas ulasan motor ini, seperti kata Mahbub Junaidi saat mendefinisikan Indonesia, adalah sesuatu yang “serba bukan”.

Indonesia itu, kata Mahbub, bukan negara sosialis, tapi juga bukan liberalis; bukan negara sekuler, tapi juga bukan agamis. Sama kayak Suzuki Bandit 150: ini bukan motor GSX, tapi juga bukan motor GSF Bandit; bukan motor berdesain jelek, tapi juga bukan motor berdesain cakep.

Keserbabukanan tersebut membikin pegawai dealer Suzuki mana pun kelabakan saat menjelaskannya kepada konsumen. Tak sekali-dua saya mengalami percakapan ganjil berikut ini:

Konsumen: “Motor GSX-S baru nih, Mbak?”

Saya: “Oh, bukan, Mas, ini Suzuki Bandit 150.”

Konsumen: “Wah, kalau namanya Bandit, berarti masuk seri GSF, dong.”

Saya: “Oh, bukan, Mas, ini masuk keluarganya GSX.”

Konsumen dan saya: (saling pandang sambil garuk-garuk kepala) “Ehehehe.”

Suzuki Bandit 150 tetaplah motor yang tokcer, andai standar penilaian kita terbatas pada kualitas mesin. Ia tetap sangat kencang, tetap ringan, dan tampaknya tetap sanggup melaju hingga matahari terbit dari arah mana pun asal bukan timur, khas filosofi mesin motor Suzuki.

Namun, motor tetaplah motor; selama kegunaan motor tersebut bukan untuk mengikuti balap liar, sektor desain tetap menjadi variabel penilaian konsumen. Dan untuk urusan ini, Suzuki tak kunjung belajar dari pengalaman.

Lagi pula, GSX-S150 adalah motor berdesain cakep, dan Suzuki tak perlu merombak total desainnya hanya untuk menambal kekurangan kecil, apalagi sampai mengganti nama yang sama sekali lain. Kalau untuk sekadar menambal gigi gerahamnya yang bolong, Kim Kardashian tak perlu melakukan oplas dan cangkok jantung lalu mengganti namanya menjadi Kim Jong-un, kan?

Jadi, Suzuki, janganlah berlebihan.

BACA JUGA Kelebihan Sepeda Motor Suzuki yang Membunuh Bengkel Resminya Sendiri dan ulasan kegilaan pabrikan lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 19 April 2021 oleh

Tags: kawasaki ninjanaked bikesuzukiSuzuki Bandit 150Suzuki GSX-S150Suzuki Nex
Mita Idhatul Khumaidah

Mita Idhatul Khumaidah

Staf pengajar dan pelapak daring paruh waktu, ibu rumah tangga penuh waktu.

Artikel Terkait

Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Cinta dan Benci MOJOK.CO
Otomojok

Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Batas antara Cinta dan Benci

11 Juni 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO
Sehari-hari

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO
Otomojok

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO
Otomojok

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Dahlan Iskan, iklim investasi di Jateng sangat cocok bagi pengusaha untuk investasi MOJOK.CO

Iklim Investasi di Jawa Tengah Menarik Hati, Bikin Puluhan Pengusaha Melirik untuk Kolaborasi

19 Juni 2026
kambing yang tergencet dan gagal dalam upaya perlindungan hewan. MOJOK.CO

Ekspor Hewan Ternak Jarak Jauh Sama dengan Menyiksa Hewan Secara Perlahan hingga Mati

15 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) imbau masyarakat sambut baik petugas sensus ekonomi dari BPS MOJOK.CO

Imbauan ke Warga Jateng kalau Ada Petugas Sensus Ekonomi Datang, Penting untuk Program Ekonomi Masyarakat

15 Juni 2026
Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Lahirkan Pembalap Kelas Dunia, Tapi Jogja Tak Punya Sirkuit Balap Permanen

15 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.