ADVERTISEMENT

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

3 hal yang membuat saya kaget

Jujur, saya tidak buta. Ada hal-hal yang bikin saya mengernyit waktu pertama kali pakai motor ini.

Pertama, ban dan velg-nya. Ukuran 70/90 depan dan 80/90 belakang di motor bermesin 124 cc itu seperti punya badan badak tapi kamu kasih sepatu anak kecil. Padahal, tenaga mesin Mio lebih besar dari Beat, tapi ban-nya malah lebih kecil. 

Entah apa alasan Yamaha tidak upgrade ini dari generasi pertama Mio. Efisiensi bahan bakar? Mungkin. Penghematan biaya produksi? Lebih mungkin lagi. Akhirnya hampir semua pengguna Mio M3, termasuk saya, upgrade ban minimal satu tik lebih besar. Bukan pilihan, tapi keharusan.

Kedua, suspensi motor Yamaha ini keras. Ini yang lumayan menyiksa kalau lewat jalan berbatu atau jalan rusak. Suspensinya baru terasa manusiawi kalau berboncengan atau bawa barang berat. Tapi kalau naik sendiri? Berasa naik motor trail yang lupa dikalibrasi.

Ketiga, tarikan bawah Mio M3 terasa kosong. Putaran atas lumayan, tapi awal gas itu seperti motor sedang mikir dulu sebelum jawab. Ditambah getaran dari CVT yang terasa sampai ke bodi depan dan ini yang bikin banyak pengguna akhirnya otak-atik roller, ganti per CVT punya Yamaha Xeon karbu, atau pasang kampas ganda NMAX. Ada trade off-nya tentu, yaitu tarikan bawah enteng, tapi top speed berkurang. Pilih mana, itu soal selera dan medan yang kamu taklukkan tiap hari.

3 hal yang membuat saya tetap loyal kepada Mio M3

Meskipun membawa tiga hal yang bikin kaget, saya tetap loyal kepada Mio M3. Pertama, bobot motor Yamaha ini enteng. Di tangan yang tepat, ini bukan kelemahan tapi keunggulan.

Mau manuver di gang sempit, keluar-masuk parkiran padat, atau sekadar putar balik di jalan kecil, semua lebih mudah. Memang, saya jadi harus sedikit mengorbankan stabilitas. Maka, upgrade ban adalah jawaban logisnya.

Kedua, harganya masuk akal. Di 2015, harga Mio M3 sekitar Rp15,2 juta, sedangkan Honda Beat Rp15,4 juta. Selisihnya tipis, tapi yang kamu dapat dari sisi mesin lebih besar. Dalam logika belanja yang waras, ini keputusan yang tidak perlu diperdebatkan.

Ketiga, dan ini favorit saya, desainnya timeless. Sejak launching sampai sekarang, desain Mio M3 tidak berubah signifikan kecuali decal-nya. Itu bukan kemalasan desainer, tapi konfirmasi bahwa desainnya memang sudah benar sejak awal. Tidak seperti beberapa motor lain yang tiap ganti generasi makin susah dibedain dari motor lainnya.

BACA JUGA: Mengenang Yamaha Mio, Seri Skutik Yamaha Terbaik yang Mengalahkan Dominasi “Supra Bapak” tapi Kini Semakin Terlupakan

Masa 10 tahun yang indah

Jalanan kota kecil, jalan provinsi berlubang, tanjakan ke ladang, sampai perjalanan panjang yang mestinya pakai kendaraan “lebih layak” menurut orang-orang di sekitar saya, semuanya bisa saya hadapi bersama Mio M3.

Begitulah. Banyak yang meremehkan motor Yamaha satu ini. Begitu banyak orang yang menyarankan saya ganti baru atau menyebutnya motor murahan.

Gini, lho. Saya tidak anti sama motor baru. Tapi, saya juga tidak mau pura-pura bahwa ganti motor adalah penanda naik kelas. Atau, bahwa nilai seseorang bisa kita baca dari plat nomor dan merek yang terpampang di bodi motornya. Itu bukan cara berpikir yang sehat, dan tentu bukan cara berpikir yang hemat.

Yang jelas, motor Yamaha saya masih jalan. Saya masih sampai ke tujuan. Dan setiap kali ada yang melirik dengan tatapan setengah meremehkan, saya ingat satu hal. Mereka tidak ikut membayar cicilan Mio M3 saya. Jadi, opini mereka, dengan segala hormat, tidak relevan.

Kalau kamu sedang mempertimbangkan motor tapi ragu karena takut diremehkan, ya kamu mungkin akan diremehkan. Tapi, motor yang tepat bukan yang paling bikin kagum di grup chat, melainkan yang paling setia menemanimu dari rumah sampai pulang.

Mio M3 saya sudah membuktikan itu. Lebih dari 10 bersama melewati hal-hal indah.

Penulis: Muhammad Syafrial

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Mio M3 Motor yang Paling Sempurna di Mata Yamaha, Sudah 11 Tahun Desain Tak Berubah karena Berkeyakinan Kesempurnaan Tidak Perlu Diubah dan pengalaman indah lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 7 April 2026 oleh .

Muhammad Syafrial

Orang Sulawesi Tengah yang pernah lama menjadi bankir, tapi hatinya tetap di sudut-sudut cerita yang belum banyak ditulis. Membaca adalah cara saya memahami dunia, menulis adalah cara saya membalas hutang pada cerita-cerita yang terlalu sayang untuk didiamkan.

Exit mobile version