Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik MOJOK.CO

Ilustrasi Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CODenza D9 datang dengan wajah penuh percaya diri. Ia memang berhasil mengusik kenyamanan sang raja bernama Alphard.

Saya masih ingat betul dulu, kalau ada Alphard lewat, orang-orang otomatis menoleh. Bukan karena suaranya, justru karena nyaris tak bersuara, tapi karena auranya. Mobil ini bukan sekadar kendaraan. Ia pernyataan: “Wah, orang penting,” bisik seseorang di parkiran hotel.

Selama hampir 20 tahun, Alphard menempati seperti kursi empuk. Mau acara pejabat, nikahan crazy rich, sampai jemput direksi di bandara, ya Alphard. Bahkan saking lamanya jadi market leader, kita seperti tidak pernah membayangkan ada yang benar-benar bisa mengganggunya.

Lalu datang Denza D9. Mobil China. Listrik lagi.

Reaksi awal? Bisa ditebak. “Ah paling juga cuma hype.” “Yaelah, China.” “Nanti juga resale-nya hancur.” Kita terlalu sering meremehkan sesuatu sebelum benar-benar melihatnya dekat-dekat. Dan ternyata, kali ini yang diremehkan datang bukan buat numpang lewat.

Kehadiran Denza D9 membuat orang kaya mulai menghitung

Ada anggapan lucu bahwa pembeli luxury MPV itu kebal harga. Seolah-olah selisih ratusan juta cuma angka kecil di grup WhatsApp keluarga. Ternyata tidak sesederhana itu.

Denza D9 masuk dengan harga yang lebih bersahabat dibanding Alphard Hybrid. Tapi yang bikin orang mulai melirik bukan cuma harganya. Melainkan pertanyaan sederhana yang mulai beredar di obrolan kopi: “Dengan uang segini, kok dapatnya lebih banyak ya?”

Captain seat pijat. Layar gede. Interior terasa futuristik. Kabin senyap khas mobil listrik. Pajak lebih ringan. Operasional lebih murah. Itu yang Denza D9 tawarkan.

Bukan berarti Alphard tiba-tiba jelek. Tidak. Tapi ketika ada opsi yang terasa lebih modern dengan banderol lebih masuk akal, wajar kalau orang mulai berpikir ulang. Dan dalam bisnis, begitu konsumen mulai berpikir, raja mulai tidak bisa santai.

“Mobil China” yang tidak datang minta restu

Yang menarik dari Denza D9 adalah sikapnya. Ia tidak datang dengan wajah minder. Tidak pakai strategi “kami murah kok”. Ia tampil percaya diri.

Desainnya berani. Interiornya serius. Build quality-nya tidak terasa main-main. Bahkan banyak yang setelah duduk di dalamnya langsung berkomentar pelan, “Lho, kok sebagus ini?”

Kita mungkin masih membawa trauma masa lalu tentang mobil China yang terasa eksperimen. Tapi generasi baru ini berbeda. Mereka datang dengan teknologi matang, terutama di sektor kendaraan listrik, yang justru belum lama dikuasai pabrikan Jepang. Dan di situlah permainan berubah.

Alphard selama ini kuat di reputasi dan jaringan. Tapi Denza D9 datang dengan momentum elektrifikasi. Pemerintah lagi dorong EV. Pajak mendukung. Infrastruktur mulai dibangun. Pasarnya memang belum matang, tapi arah angin jelas. Denza D9 membaca arah itu dengan cepat.

Alphard tidak salah, tapi terlalu lama nyaman

Saya menulis ini tidak untuk menjatuhkan Alphard. Jujur saja, mobil itu tetap nyaman, punya prestige, dan tetap punya resale value yang bikin tidur lebih nyenyak. Tapi mungkin justru di situlah masalahnya. Terlalu lama jadi raja bikin kita lupa rasanya terancam.

Selama hampir dua dekade, Alphard seperti main di liga tanpa lawan setara. Upgrade ada, tapi tidak revolusioner. Karena memang tidak perlu. Orang tetap beli. Sampai tiba-tiba ada yang datang dengan pendekatan berbeda.

Denza D9 tidak mencoba menjadi Alphard versi lebih murah. Ia menawarkan definisi kemewahan yang lebih digital, lebih senyap, dan terasa “masa depan”. Dan generasi pembeli baru ternyata tidak alergi dengan logo China.

Berkat Denza D9, muncul obrolan yang dulu tak pernah ada

Dulu, kalau seseorang mau beli luxury MPV, pilihannya sederhana. Alphard atau… Alphard tipe yang berbeda.

Sekarang obrolannya berubah. “Ambil Alphard lagi?” “Atau coba Denza D9 ya? Kayaknya menarik.” Kalimat kedua itu yang berbahaya. Karena sekali alternatif dianggap layak, dominasi tidak lagi absolut.

Saya pernah dengar seseorang bilang, “Kalau dulu beli Alphard itu aman. Sekarang kalau nggak lihat Denza D9 dulu rasanya kayak belum update.” Perubahan kecil dalam percakapan seperti itu sering kali jadi tanda besar di pasar.

Ini bukan soal Jepang vs China

Kalau mau dibikin dramatis, ini bisa disebut duel Jepang vs China. Tapi sebenarnya bukan itu intinya. Ini soal siapa yang lebih cepat membaca zaman.

Elektrifikasi bukan lagi wacana jauh. Ia sudah masuk parkiran mal, komplek perumahan, dan obrolan orang-orang yang dulu skeptis.

Denza D9 datang tepat ketika rasa penasaran publik terhadap mobil listrik sedang naik. Alphard datang dari era mesin bensin dan hybrid konvensional yang sudah mapan. Tidak ada yang salah. Hanya beda titik berangkat. Dan berangkat belakangan bukan berarti tertinggal.

Singgasana yang mulai terusik

Saya tidak akan lebay bilang Alphard tamat. Terlalu cepat. Ekosistemnya kuat. Jaringannya luas. Namanya sudah seperti merek air mineral, terlanjur identik dengan segmennya. Tapi satu hal jelas: sekarang ia tidak lagi sendirian. Singgasana itu mulai terasa sempit.

Denza D9 mungkin belum sepenuhnya menggusur. Tapi ia sudah cukup membuat orang berhenti menganggap tahta itu permanen. Dan mungkin, justru itu yang sehat.

Karena pasar tanpa gangguan itu membosankan. Inovasi tanpa tekanan itu lambat. Dominasi tanpa penantang itu membuat kita malas berkembang.

Kalau ada pelajaran dari kisah Denza D9 di Indonesia, mungkin ini: jangan terlalu percaya diri hanya karena sudah lama di puncak. Sebab di sudut lain, selalu ada yang sedang menyiapkan cara baru, tanpa banyak bicara, tanpa minta izin. Dan ketika ia datang, yang dulu terasa tak tergoyahkan bisa mendadak terlihat… sedikit tua.

Risiko yang ternyata layak diambil oleh Denza D9

Tapi ada satu hal lagi yang menarik dan jarang dibahas. Kesuksesan Denza D9 bukan cuma soal produk, melainkan soal keberanian konsumen Indonesia untuk mencoba sesuatu yang dulu dianggap “tidak aman”. 

Membeli Alphard itu seperti membeli deposito. Ia memberi tenang, stabil, bisa diprediksi. Membeli Denza D9, setidaknya di awal kemunculannya, terasa seperti membeli saham teknologi yang sedang naik daun. 

Ada rasa penasaran, ada sedikit deg-degan, tapi juga ada sensasi menjadi yang pertama. Dan ternyata, cukup banyak yang berani mengambil risiko itu.

Ini menandakan perubahan psikologis pasar. Bahwa status sosial tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh merek yang paling lama berdiri, melainkan oleh seberapa relevan produk itu dengan zaman. Denza D9 menang di narasi modernitas. Ia terasa baru, segar, dan berbeda di tengah lautan kemewahan yang polanya sudah kita hafal bertahun-tahun.

Bisa jadi lima atau 10 lagi peta ini berubah lagi. Bisa jadi Alphard membalas dengan lompatan besar. Bisa jadi muncul pemain baru yang lebih radikal. Tapi untuk saat ini, satu hal tak terbantahkan: Denza D9 sudah berhasil melakukan sesuatu yang dulu terasa mustahil, membuat raja lama menoleh ke samping.

Dan dalam dunia otomotif, membuat raja menoleh saja sudah sebuah kemenangan.

Penulis: Alan Kurniawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Mobil Toyota Alphard: Sudah Merepotkan, Mobil Ini Juga Memuat Kebohongan Besar Soal Privilege dan analisis menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Exit mobile version