“… adalah satu kenjataan bahwa partai2 Nasionalis dan Komunis di Indonesia tidak melakukan propaganda anti-agama; baik tentang al Qur’an, tentang mesjid, tentang isteri Nabi, tentang geredja, dan tentang hal2 agama pada umumnja” ~ Editorial Harian Rakjat/PKI, Februari 1965

Teror mengerikan yang menimpa tabloid Charlie Hebdo (CH) di kota yang melahirkan prinsip universil “Liberté, Egalité, Fraternité” menjadi frontpage dari 400-an koran di semua benua di muka bumi ini. Dengan mengusung jurnalisme satir, pemuatan secara berulang-ulang karikatur yang melecehkan keyakinan orang lain, para jurnalis “left wing” yang bekerja di belakangnya menerima serangan balik paling mematikan dan menggegerkan dunia.

Sayap-kiri dan anti-agama, begitu CH diidentikkan, kembali mengusik dan mengganggu ingatan historis kita. Di Indonesia, sayap-kiri paling gahar itu Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan mereka secara laten diidentikkan dengan rombongan besar yang menganut politik anti sila pertama Pancasila.

Untuk mengetahui sejarah sehari-hari PKI, terutama generasi ketiga di bawah kepemimpinan politbiro D.N. Aidit, saya membaca secara tekun koran yang mereka terbitkan. Koran itu merekam apa yang mereka kritisi, dan bagaimana mereka mengambil tindakan lewat ucapan propaganda terhadap masalah yang berada di depan mata.

Dari 12.500 halaman Harian Rakjat; dan ada 3.500 editorial Harian Rakjat yang sudah diketik ulang di Warung Arsip, saya masih belum juga menemukan bahwa PKI secara sengaja dan berulang-ulang dengan ekstase yang membuncah-buncah melecehkan agama atau figur yang di-suci-kan umatnya.

Ada memang drama “Matinya Gusti Allah” yang dipentaskan keliling di Jawa Tengah, tapi ini anomali di antara ribuan karya kreatif yang diciptakan PKI atau mereka yang merasa sreg dengan garis ideologi dan politik yang diusung partai ini.

Puisi, cerpen, novel, pidato, drama, lirik lagu, karikatur, dan lusinan statemen politik dalam debat dan demonstrasi hampir tidak berurusan dengan keyakinan agama yang disucikan penganutnya.

Kalaupun terarsir dengan kiai, ulama, Darul Islam, Masjumi, itu bukan karena perkara pokoknya pada sentimen anti-agama, melainkan relasi ekonomi-struktural dalam proyek rebutan konstituen dan agraria yang dicanangkan politbiro dan commitee central.

Bagi PKI dan fans-nya, mengolok-olok dan melecehkan agama lewat editorial dan pictorial bukan saja kontraproduktif bagi perjuangan politik, melainkan juga cari mati secara konyol. Selain itu, melecehkan agama adalah pelecehan pada iman konstituennya yang notabene kebanyakan beragama samawi.

Maka ketika pada Januari 1965 ada isu berhembus dari Kanigoro, Kediri—dan ini yang terpanas yang saya bisa temukan—bahwa PKI injak-injak Kitab Suci, masuk rumah yang di-suci-kan dengan memakai alas kaki, PKI dan Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Front Nasional Jawa Timur dengan sigap dan cepat melakukan investigasi. Hasilnya minor.

Tindakan PKI, untuk menjelaskan secara terbuka duduk perkara sebuah kasus, sama cepatnya ketika muncul isu Ketua Ranting Barisan Tani Indonesia (BTI) Jatiwates yang menyuruh dua bocah umur 6 dan 8 tahun berak di undakan kolam Masjid Jami, Jombang. Sebab jika dibiarkan, isu ini bisa membakar apa saja dengan daya rusak mengerikan.

Bagi PKI, melecehkan agama lewat produk jurnalistik (termasuk karikatur), karya kreatif, dan aksi-aksi demonstrasi adalah selera rendah dalam politik massa. PKI sadar melakukan tindakan itu adalah langkah bunuh diri yang konyol. Alih-alih menghina agama samawi, PKI justru habis-habisan di Sidang Konstituante 1957-1958 membela eksistensi keyakinan pribumi—yang oleh negara saat ini diringkus dalam frase: “aliran kepercayaan”.

Demikian itulah, namanya saja nasib sial, ia datang tanpa diduga skala rusaknya. Bahkan dengan tidak melecehkan agama pun, kaum kominis Indonesia ini dibantai, dan dikerangkeng dengan kuantitas bejibun-jibun, yang makin ke sini makin tinggal kenangan statistik.

  • Setuju, Bang. Yg menarik lagi, HR selalu menampilkan ucapan selamat bagi datangnya hari besar suatu agama. Yang saya pernah temukan: Idulfitri dan Natal. HR juga memberi maklumat tidak terbit dalam rangka menyambut hari besar itu. HR juga tidak segan menampilkan tulisan seorang tokoh kiai. Dan lagi, PKI-NU punya relasi yg cukup baik sebelum pemilu 1955. AgaknyaRelasi-relasi macam inilah yg jarang dipublikasi dan tidak diketahui khalayak ramai.
    Salam 🙂

  • Tiap orang punya kebenarannya tersendiri. Adalah wajar ketika seseorang mengkritik apa yang dianggapnya salah kemudian membuat produk bernama satire.

    Malah leceh melecehkan, itu standarnya subjektif. Sebagian besar muslim sekarang beranggapan bahwa menggambar wajar Muhammad dianggap pelecehan, tapi di zaman Abbasiyah justru banyak karya berupa gambar wajar Muhammad, artinya standar pelecehan muslim zaman dulu dan zaman sekarang pun berbeda, apalagi standar pelecehan antar agama.

    Kalau muslim (termasuk penulis) mau sadar, di Islam pun sebenarnya ada banyak pelecehan pada agama lain. Ambil contoh surat Bayyinah ayat 6, dimana disana non muslim disebut sebagai makhluk paling buruk. Non muslim dianggap lebih buruk dibanding spesies binatang lain.

    Dimana bijaknya kalimat itu? Ayat itu tidak lebih seperti ungkapan caci makinya Muhammad karena stress tidak berhasil mengislamkan non muslim. Belum caci maki yang ditunjukkan pada Kristen mengingat Islam adalah antitesis dari Kristen.

    Ketimbang fokus pada masalah pelecehan, saya melihat bahwa masalah utamanya adalah pada mental muslim yang punya masalah inferiority complex. Muslim selalu merasa dizolimi umat agama lain, hal itu ditunjukkan dengan keluh kesah muslim yang merasa dianiaya, membuat teori konspirasi tentang penghancuran Islam, hingga membuat cerita hoax tentang berbagai tokoh yang katanya masuk Islam.

    Dendam dan inferority complex, adalah akar masalahnya, pelecehan agama hanya alasan muslim untuk membenarkan aksi balas dendam dan pelampiasan stress mereka. Lebih gila lagi, muslim seperti penulis nampaknya begitu bahagia melihat aksi teror dan pembunuhan yang dilakukan atas nama agama itu, dan begitu bahagia melihat para pelaku pelecehan agama itu hancur, padahal lupa bahwa Islam pun sebenarnya penuh pelecehan pada agama lain.

    • kaktus

      sampean gak paham ya isi artikelnya ini mas? 🙂

      • Mungkin.
        Coba sampean tulis inti isi artikel ini dan inti komentar saya. 🙂
        Kali aja yang ga konek itu sampean.

        • kaktus

          Menurut pemahaman saya, terlepas dari penulis muslim atau tidak, penulis lebih menyoroti isu tentang PKI daripada isu Charlie Hebdo. Bagaimana PKI sebenarnya tidak pernah bernapsu untuk melakukan pelecehan agama, karena sesungguhnya fokus PKI adalah tentang relasi ekonomi-struktural. Menuduh PKI melakukan pelecehan agama adalah bunuh diri, karena seperti yang diutarakan penulis, anggota PKI sendiri adalah pemeluk agama samawi, disini penulis tidak menyatakan salah satu agama. Jadi kesimpulannya, pelecehan agama seringkali digunakan sebagai alat untuk menyerang kelompok tertentu, dalam era sejarah kita, itu dilakukan terhadap PKI, sedangkan sekarang terhadap Charlie Hebdo.

          Mungkin memang panjenengan dan penulis menyoroti isu yang sama, yaitu pelecehan agama. Tetapi menurut pemahaman saya, yang panjenengan soroti adalah salah satu agama dan bagaimana mereka merasa dilecehkan dan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Kemudian panjenengan juga mengklaim dengan pernyataan “Lebih gila lagi, muslim seperti penulis nampaknya begitu bahagia melihat aksi teror dan pembunuhan yang dilakukan atas nama agama itu, dan begitu bahagia melihat para pelaku pelecehan agama itu hancur, padahal lupa bahwa Islam pun sebenarnya penuh pelecehan pada agama lain.” Saya tidak paham bagaimana panjenengan sampai pada kesimpulan tersebut. Begitulah pemahaman saya.

          Terima kasih atas kesempatan untuk berdiskusi dan mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan.

          Salam

          • Terima kasih banyak atas koreksinya.
            Iya, setelah saya baca lagi, komentar saya tidak nyambung dan saya berburuk sangka pada penulis.

            Poin yang saya tangkap kemarin bahwa memang sebagian kecil PKI pernah melakukan kritik dan pelecehan pada agama dan oleh golongan kanan ini dimanfaatkan untuk memberangus PKI secara keseluruhan sekalipun dalam lingkup luas mereka justru membela kebebasan beragama dan saya hanya berusaha membalasnya dengan mengatakan bahwa masalah utamanya memang bukan pada ada tidaknya pelecehan tapi tentang inferiority complex sedang pelecehan hanya alasan untuk pembenaran saja. Ada atau tidak pelecehan, seandinya golongan kanan tidak memiliki inferiority complex maka stigma buruk dan pembantaian PKI tidak akan terjadi.

          • Ahmad Ainun Naim

            Islam adalah antitesis dari Kristen? what??

  • niceSky

  • ekágvz

    PKI adalah partai paling banyak pengikutnya kala itu, dan para fans PKi kala itu adalah orang orang yg menginginkan perubahan secara signifikan secara ekonomi dll.
    PKI adalah partai, bukan aliran kepercayaan. Jadi fans partai ini kala itu juga masih percaya atas Tuhan mereka masing.
    Jadi kalo PKI diberangus habis, ini hanya sebuah akal akalan dimana isu konflik agama jadi senjata ampuh untuk membunuh lawan politik.
    Ini yang saya tangkap dari penulis …

  • Pingback: Menjadi Muslim Pintar bersama Palu Arit – Pendar Kuning()

No more articles